
“Apa yang terjadi di pemukiman ini?”
Alangkah terkejutnya Krystal saat mendapati pemukiman yang terdapat di perbatasan kekaisaran hancur tak bersisa. Mereka tadi mendapatkan info bahwasanya para pengurus panti asuhan tinggal di daerah perbatasan kekaisaran sejak berita kehilangan anak-anak tersebut menyebar. Namun, saat ini yang mereka temukan hanyalah daerah tak berpenghuni seolah tempat itu dihancurkan belum lama sebelumnya.
“Sepertinya seseorang menghancurkan tempat ini sebelum kita datang kemari,” ucap Lucio.
Mereka mengedarkan pandangan untuk melihat lebih dekat lagi situasi sekitar, Krystal mencoba melangkah dan mencari satu persatu petunjuk yang tersisa. Akan tetapi, tidak ada yang bisa dia dapatkan bahkan tidak ada manusia satu pun di sana. Kemudian Krystal menemukan darah manusia yang berceceran di atas tanah, dia berjongkok lalu menyentuh sisa-sisa darah itu.
“Darah segar, tampaknya seluruh penghuni pemukiman ini telah dibawa pergi belum lama ini,” ujar Krystal.
“Mungkinkah ini ulah dari komplotan berjubah putih itu lagi?” terka Julian.
“Iya, tidak salah lagi, memang mereka pelakunya. Mereka terlihat membutuhkan tumbal yang sangat banyak dan mereka memilih orang-orang dari tempat ini sebagai tumbal sebab mereka tahu kalau kita akan pergi kemari mencari si pengurus panti sialan itu.” Krystal mengepalkan tangannya, amarah di dalam diri Krystal hampir mencapai puncak.
“Bahkan tidak ada jejak yang mereka tinggalkan, apa sebenarnya tujuan mereka menumbalkan manusia?”
Tidak ada yang mengetahui alasan di balik penumbalan yang dilakukan oleh orang-orang itu. Krystal menelusuri lebih jauh untuk melihat pemukiman yang sudah hancur lebur, tidak ada bukti apa pun yang ditinggalkan.
“Kita pulang dulu sekarang, masalah ini tidak sesederhana yang terlihat.”
Mereka memutuskan untuk kembali ke istana dan memikirkan masalah ini lebih lanjut nanti, sebab tidak akan ada jawaban yang tepat meski mereka memikirkannya berulang kali. Setibanya di istana, Krystal langsung menuju ke ruang pribadi Fred, dia ingin menanyakan ini secara terang-terangan karena dia berfirasat kalau Fred tahu mengenai komplotan berjubah putih tersebut.
“Katakan padaku, kenapa kau mengatakan anak-anak di panti asuhan itu menghilang?” tanya Krystal yang menerobos masuk begitu saja ke ruangan Fred.
Fred terperanjat kaget akibat pertanyaan yang dilayangkan oleh Krystal, raut mukanya seketika panik, beberapa orang yang berada di sana juga turut panik. Krystal mendesak Fred untuk segera menjawab serta memberi penjelasan terkait masalah ini.
__ADS_1
“Krystal, tenanglah dulu. Masalah anak-anak panti menghilang itu memang benar adanya, para detektif pun sudah melakukan pencarian. Berdasarkan penyelidikan, anak-anak itu menghilang karena diculik oleh para iblis,” kilah Fred.
Krystal menyeringai seraya menarik napas panjang, kepalanya serasa akan pecah sebentar lagi.
“Iblis kau bilang? Seumur hidupku, aku bahkan belum pernah bertemu iblis! Kalian mengatakan mereka dibawa oleh eksistensi yang tidak terlihat itu? Haha tidak masuk akal! Mereka itu mati di ruang tersembunyi panti asuhan. Apa kau masih mengelak lagi?”
Kedua bola mata Fred melebar, dia tergagap sesaat Krystal memaparkan mengenai kematian anak-anak panti asuhan.
“B-b-bukan, mereka s-sungguh menghilang. Aku tidak tahu kalau mereka mati, detektif memberitahuku tentang menghilangnya mereka.” Sekali lagi Fred berdalih, sorot matanya sudah jelas kalau dia tahu tentang kematian anak-anak itu.
“JANGAN BERBOHONG LAGI KAU BAJ*NGAN!” sergah Krystal.
Bara api menyala di kedua sisi netra Krystal, napasnya menggebu-gebu keluar, serta rahangnya menegang kala itu.
“Kau bilang, kau tidak tahu? Apa kau tahu karena kematian anak-anak itu pemukiman sekitar panti asuhan menjadi korbannya? Kau nyaris membunuh banyak orang! Kaisar macam apa kau? Mereka sudah mengirim pesan meminta tolong agar kau membantu mereka tapi kenapa kau tidak segera turun tangan? Kalau saja aku tidak ada di sana, pasti tidak akan ada seorang pun dari mereka yang selamat. Kau ini gila ya? Turun saja kau dari tahtamu.”
Brakkk
Krystal menghancurkan meja kerja Fred, kemarahan di antara keduanya saling beradu, urat leher Fred mencuat keluar ketika dia melampiaskan amarahnya.
“Hei kau brings*k, bukankah kau sendiri yang menghamili Ibuku? Lalu kau mencaci maki aku seenaknya. Kau yang tidak sadar diri, harusnya kau bersyukur aku membiarkanmu hidup sampai hari ini. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai Ayah, kau membuatku muak. Tidak hanya kau, aku juga membenci Permaisuri dan sepasang anak yang kau banggakan itu.”
“Aku tidak pernah sesabar ini sebelumnya, kau berhasil berhasil membuatku merobohkan tembok kesabaranku. Aku datang kemari untuk menanyakan perihal kasus hilangnya anak-anak panti asuhan, atau jangan-jangan kau memang berniat menjadikan mereka tumbal untuk komplotan berjubah putih itu?”
Deg!
__ADS_1
Fred menganga kaget, luapan emosi yang tadi ia keluarkan sejenak dia lupakan, dari ekspresinya terlihat kalau dia memang mengetahui mengenai komplotan berjubah putih. Namun, Fred tampak enggan untuk memberitahukan Krystal.
“Bicara apa kau? Komplotan berjubah putih? Aku tidak tahu apa pun tentang mereka,” dalih Fred mengelakkan pandangan matanya dari Krystal.
Kemudian Krystal menarik secara paksa kerah baju Fred, kala itu tak ada satu pun orang yang berani menghentikan perbuatan brutal Krystal.
“Jawab dengan jujur! Apa kau mau aku antar ke neraka sekarang?” gertak Krystal.
Fred menelan salivanya, dia tak punya kekuatan lebih menghadapi Krystal. Semenjak kejadian Krystal mengacau di pesta, Fred tidak lagi berani mencari gara-gara.
“Aku akan menjawabnya, tapi sebelum itu lepaskan dulu kerah bajuku,” ucap Fred dalam keadaan badan gemetar.
Krystal melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Fred sembari mendorong tubuh Fred dengan kasar.
“Katakan!” desak Krystal.
“Komplotan berjubah putih itu adalah orang-orang yang menyem … uhukkk.”
Saat Fred hendak membeberkan identitas asli dari orang-orang itu, Fred tiba-tiba muntah darah dan pada akhirnya dia terjatuh tidak sadarkan diri. Seketika semua orang panik bukan main, mereka berduyun-duyun untuk memeriksa keadaan tubuh Fred.
‘Sial! Mereka memasang sihir pembungkam pada Fred. Rupanya mereka cukup pandai membuat emosiku terombang-ambing. Tidak ada pilihan lain lagi, aku harus mencari tahu semuanya sendirian.’
Krystal pun hengkang dari ruangan yang ramai orang berdatangan kini, ekspresi Krystal menunjukkan bahwa dia nyaris tenggelam di dalam api kemarahan tak berdasar. Di saat Krystal akan menuju ke Istana Primrose, secara tak disengaja dia berpapasan dengan Arsen, sang Putra Mahkota. Arsen menghalangi jalan Krystal, sekilas tergambar mimik wajah nakal di balik senyum yang merekah itu.
“Minggir! Aku tidak ingin bercanda sekarang,” tekan Krystal.
__ADS_1
Lalu Arsen dengan lancang merengkuh pinggang Krystal, dia memang tampan tapi tidak setampan selir-selir Krystal. Wajah mereka berjarak terlalu dekat, Krystal mencoba memberontak dan meloloskan diri dari rengkuhan itu.
“Adikku, kau semakin hari semakin cantik saja. Bagaimana kalau kau meminjamkan tubuhmu padaku?”