
Krystal kebingungan saat ia menoleh kembali ternyata batunya menghilang, hanya ada dinding kosong di depan matanya. Mencoba melihat lebih dalam lagi, batunya memang menghilang secara tiba-tiba ketika Vicenzo datang. Vicenzo menatap nanar Krystal yang tengah mencari-cari sesuatu, ia pun segera menarik tangan Krystal untuk keluar dari tempat tersebut.
“Ayo kita pulang, apa kau tidak khawatir dengan kondisi Shion?” ujar Vicenzo.
Krystal langsung mengesampingkan segala pikiran yang memberatkannya, kemudian ia berfokus untuk pulang dan menyembuhkan Shion. Mereka berdua keluar dari reruntuhan bangunan itu, tanpa berlama-lama lagi Krystal menggunakan teleportasi menuju Istana Primrose. Mereka tiba dalam beberapa detik saja, Heros juga menunggu kepulangan mereka di depan pintu kamar dengan ekspresi cemas.
“Heros, bagaimana kondisi Shion?” tanya Krystal.
“Akhirnya kalian pulang, apa kalian mendapatkan sesuatu? Shion kondisinya bertambah parah,” ucap Heros.
Kala mendengar itu, kepanikan luar biasa melanda diri Krystal, langkah kakinya tergesa-gesa masuk ke dalam kamar. Di sana selirnya yang lain juga ada menunggu kepulangannya, Cherry dan Bleas kehabisan akal untuk menekan suhu tubuh Shion yang kian panas.
“Yang Mulia! Apa Anda mendapatkan petunjuk?” tanya Bleas.
“Ya, aku sudah tahu melakukan apa.” Krystal mendekat ke arah gelembung air yang membalut tubuh Shion, ia menyentuh gelembung air yang ikut menjadi panas gara-gara suhu tubuh Shion, “Tolong aku untuk membaringkan Shion ke atas ranjang,” titah Krystal.
Mereka melakukan segera apa yang disuruh oleh Krystal, tubuh Shion dikeluarkan perlahan dari gelembung air lalu diangkut ke atas ranjang tempat tidur. Krystal membalikkan helai demi helai halaman buku bersampul putih, kemudian membaca sedikit lirik lagu yang tertoreh di sana.
__ADS_1
“Buku apa itu? Kita bisa menyelematkan Shion menggunakan buku ini?” tanya Austin.
“Ya, yang bisa menurunkan suhu tubuh Shion hanyalah nyanyian dari wanita yang memiliki aura suci. Lalu Krystal mempunyai aura itu, makanya sekarang dia akan bernyanyi untuk Shion,” jawab Vicenzo menjelaskan.
“Oke, aku akan memulainya.” Krystal menutup bukunya sebab ia telah menghafal seluruh lirik dari nyanyiannya. Sebelum itu, Krystal menarik napas panjang kemudian membuangnya perlahan, bernyanyi untuk Shion butuh konsentrasi yang sangat dalam.
Suara merdu nan indah terdengar di telinga menggema di ruang tempat mereka berpijak. Siapa saja yang mendengar suara nyanyian itu pasti akan hanyut di dalam lantunan syair yang berirama. Waktu seketika terhenti oleh suara Krystal, emosi yang terkandung di dalam nyanyian itu ikut membuat semua orang tersapu. Seisi ruang tak berkedip, siapa sangka Krystal ternyata mempunyai suara yang sangat indah untuk didengar. Akan tetapi, mereka tidak sadar bahwasanya lirik lagu Krystal berbahasa kuno, namun mereka bisa memahaminya dengan baik.
Nyanyian-nyanyian kepada dewa tersurat di lagu itu, sepertinya nyanyian ini memang dipersembahkan kepada dewa. Sebagaimana yang diketahui, dulu klan musik terkenal oleh ketaatan mereka menyembah dewa. Mereka mempercayakan segala sesuatu yang menimpa hidup mereka merupakan jalan yang ditetapkan oleh dewa untuk mereka. Meskipun nyanyiannya dipenuhi oleh perasaan sedih, tapi di sana disebut tentang klan musik yang bersyukur mengenai hidup mereka. Pancaran cahaya dari nyanyian Krystal menyelimuti tubuh Shion, perlahan cahaya itu memasuki tubuh Shion.
“Gelombang derita yang sedang kau rasakan akan lenyap bilang sang dewa merestui perjalanan kita.”
“Yang Mulia, bila nanti saya sudah dewasa, saya berjanji akan menikahi Anda karena Anda telah menyelamatkan saya dari kehancuran klan musik. Jadi, tolong tunggu saya menjadi pria dewasa yang tampan, saya akan melindungi Anda jika ada manusia yang berani menyakiti Anda.”
Setelah itu, empat orang anak laki-laki juga menghampiri mereka berdua, anak-anak itu tampak seperti Austin, Lucio, Julian, dan Ash. Kepala Krystal serasa akan pecah kala itu juga, bayangan itu semakin lama semakin jelas. Krystal tak kuasa menahan pusing di kepalanya, untung saja waktu itu suhu tubuh Shion telah kembali normal.
“Ada yang aneh dari Yang Mulia, cepat topang tubuh Yang Mulia sebelum terjatuh!”
__ADS_1
Austin yang berada paling dekat dengan Krystal, langsung menangkap tubuh Krystal yang oleng ke samping. Nyaris saja Krystal terjatuh dari atas tempat duduk, pandangannya masih kunang-kunang dan samar-samar melihat wajah Austin yang mendekapnya khawatir. Suara para selir serta dua spirit yang memanggil nama Krystal, kini tak lagi sampai ke pendengarannya.
‘Apa dulu mereka pernah bertemu denganku? Anak-anak kecil itu adalah mereka berlima? Tapi, mengapa aku bisa mengunci ingatan seindah itu? Apa yang sebenarnya terjadi di 4000 tahun lalu pada saat hari kehancuran Ezoria? Aku ingin segera mengingatnya kembali.’
Krystal jatuh pingsan di pelukan Austin, kekhawatiran mewarnai kamar Krystal, para selir bergegas menaruh Krystal ke atas tempat tidur. Syukurnya ketika Cherry mengecek kondisi tubuh Krystal, semuanya normal dan tidak ada tanda-tanda Krystal akan berada dalam keadaan berbahaya.
Krystal lagi-lagi memasuki alam mimpi, mimpi di mana kehancuran Kerajaan Ezoria berada di depan matanya. Krystal berdiri di atas bara api yang sangat panas, suara teriakan minta tolong bergaung di mana-mana. Langit Ezoria yang selalu cerah kini berubah gelap akibat kepulan asap hitam hasil pembakaran bangunan. Kerajaan yang terkenal oleh keindahan hancur terkena serangan dari para dewa yang mengejarnya.
“Kenapa aku harus bermimpi tentang kehancuran ini lagi? Padahal aku tidak mau mengingatnya,” gumam Krystal tersirat ekspresi sendu di wajahnya.
Krystal terus berjalan menyusuri jalan yang berapi sambil berharap ia akan segera terbangun dari mimpi buruk ini. Seiring badan jalan hanya ada pemukiman yang terbakar, semua orang berlari kian kemari menyelamatkan diri sendiri. Kemudian Krystal tiba di depan istana megahnya yang sudah dijalar oleh api. Krystal mematung sesaat menyaksikan dirinya sedang menyeret sebilah pedang tajam. Ia mencoba untuk melihatnya lebih dekat, namun ketika ia melangkah lagi, betapa terkejutnya Krystal kala itu menemukan Ash yang tergeletak bersimbah darah dan tak bernyawa lagi.
“Ash! Bangun! Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa dia bisa tidak bernyawa? Apa seseorang mencoba membunuhmu?”
Percuma saja dia bersuara, karena suaranya tidak akan direspon oleh Ash, Krystal pun bangkit kembali dan menghadap ke arah dirinya yang sedang berhadapan dengan Julian. Mimik wajah Julian terlihat tidak baik, dia menangis dan ketakutan menatap Krystal yang membawa pedang mendekat kepadanya.
“Apa y—”
__ADS_1
Dari jauh Krystal menyaksikan dirinya di masa lalu mengarahkan pedang dan menikam tepat di jantung Julian. Krystal syok bukan main saat melihat hal itu secara langsung, ia menggelengkan kepala menolak untuk mempercayainya.
“Tidak, tidak mungkin aku yang membunuh mereka, mimpi ini tidak benar. Mustahil aku melakukannya, benar itu mustahil. Aku tidak pernah membunuh mereka, TIDAAAAKKKK! AKU TIDAK MEMBUNUH MEREKA!”