
Krystal langsung memanggil keluarga Duke Salvatore ke istana, mereka tampak bingung saat Krystal memanggil mereka secara tiba-tiba. Krystal menyuruh mereka menunggu di ruang tamu, tidak berselang beberapa menit, Krystal pun datang bersama Brielle. Namun, mereka tidak dapat melihat Brielle di samping Krystal. Saat ini ruangan itu ada Duke Salvatore bersama istri dan anak laki-laki pertamanya.
“Salam kepada Yang Mulia Putri Krystal,” ucap mereka serentak membungkuk memberi salam.
“Tidak perlu memberi salam, duduk saja.”
Mereka bertiga duduk kembali, Krystal mengamati kondisi putra sulung Duke Salvatore yang bernama Filbert. Sekilas tampak Filbert tenggelam di kegalauannya setelah mengetahui bahwa tunangannya mati di tangan Arsen. Duchess Salvatore menatap sendu anaknya yang tidak memiliki semangat hidup. Brielle sedih menyaksikan tunangan tercintanya harus terpuruk setelah ditinggalkannya.
“Maaf, kenapa Anda memanggil kami kemari, Yang Mulia?” tanya Duke Salvatore.
“Saya ingin mempertemukan Anda semua dengan seseorang,” jawab Krystal menggunakan bahasa formal.
‘Tuan Putri Krystal menggunakan berbicara formal?’ batin Duke dan Duchess Salvatore.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Krystal sebelumnya, dia hanya akan berbicara formal kepada orang yang pantas untuk dia hormati, salah satu orang yang pantas untuk dia hormati adalah mereka. Krystal menyukai keluarga Salvatore karena sebelumnya mereka melindungi Krystal dan sikapnya tidaklah berpura-pura. Keluarga bangsawan pertama yang ditemui oleh Krystal tanpa menatapnya rendah, biasanya para bangsawan akan menatap rendah Krystal yang terlahir dari rahim wanita penghibur.
“Siapa yang akan bertemu dengan kami, Yang Mulia?” tanya Duchess Salvatore.
“Mungkin Anda akan terkejut, tapi aku memang memiliki kemampuan seperti ini.” Krystal menjentikkan jemari, dalam satu kejap mata, mereka bertiga bisa melihat jelas Brielle yang berdiri di sisi kiri Krystal.
“Filbert, lihat! Itu Brielle!” seru Duchess Salvatore membangunkan Filbert dari lamunannya.
Filbert mengangkat kepala, dia terpaku begitu mendapati tunangannya berada di hadapannya saat ini. Filbert langsung beranjak dari tempat duduknya dan mendekap erat Brielle, mereka berdua sama-sama menangisi pertemuan yang dirindukan selama beberapa waktu ini.
__ADS_1
“Brielle, maafkan aku. Maafkan aku tidak bisa melindungimu, aku pria yang tidak berguna sama sekali. Maafkan aku Brielle,” lirih Filbert berulang kali mengucapkan kata maaf.
“Tidak, Anda tidak perlu meminta maaf. Justru saya ingin berterima kasih karena berkat Anda, saya dapat merasakan kebahagiaan walau hanya sesaat. Tolong maafkan saya, maafkan saya meninggalkan Anda begitu saja,” ujar Brielle terisak.
“Aku hancur dan terpuruk setelah kehilanganmu, tidak bisakah kau hidup kembali? Tidak bisakah kau tetap tinggal di sisiku? Aku mohon Brielle, jangan pergi meninggalkanku sendiri di dalam rasa sakit ini. Aku ingin kita menikah lalu hidup bersama anak-anak kita, tolong jangan menghilang lagi. Aku membutukanmu mengisi kekosonganku….”
Teramat pedih hati Brielle melihat Filbert memohon-mohon untuk tidak ditinggalkan, tapi dia tidak dapat mengabulkan permohonan dari sang tunangan. Waktu Brielle untuk menikmati dunia ini telah berakhir, dia telah berbeda alam dengan Filbert.
“Maafkan saya, saya tidak bisa mengabulkannya. Saya tahu ini menyakitkan untuk Anda, tapi asal Anda tahu, saya selalu hidup di dalam lubuk hati terdalam Anda. Saya tidak pernah mati selagi Anda selalu ingat dengan saya. Oleh sebab itulah, saya ingin Anda kembali ceria seperti dulu, saya tidak sanggup melihat Anda tenggelam di dalam penderitaan kehilangan saya. Saya mohon sekali, tolong jangan menyiksa diri Anda lagi, karena itu akan menyakiti saya.”
Tubuh Filbert merosot ke atas lantai, dia menangis sesenggukan, rasa sakit di hatinya seakan mencekik dirinya kala ini.
“Kenapa? Kenapa hal buruk ini harus menimpamu? Padahal kau tidak salah apa-apa. Mengapa takdir begitu jahat padamu?” lirih Filbert.
“Terima kasih kepada Duke dan Duchess yang telah memperlakukan saya seperti anak sendiri. Saya sungguh bahagia, meski saya seorang anak yatim piatu dan bukan berasal dari kalangan bangsawan, tapi Anda semua tidak mempermasalahkannya sama sekali. Sekali lagi terima kasih karena sudah membuat saya merasakan apa artinya sebuah keluarga, tanpa Anda saya tidak akan memperoleh takdir membahagiakan ini,” ungkap Brielle dengan kesungguhan hati.
Duke dan Duchess Salvatore tidak kuasa menahan tangis mendengar ucapan Brielle, selama ini mereka memperlakukan Brielle seperti anak kandung mereka sendiri. Bahkan mereka akan membela Brielle bila ada bangsawan yang mencoba merendahkannya.
“Brielle anakku.” Duchess Salvatore memeluk Brielle, dia ingin memberi pelukan terakhir untuk Brielle, “Terima kasih juga telah hadir di hidup kami, sungguh kau adalah gadis yang baik. Sampai kapan pun kami akan mengingatmu sebagai bagian dari Salvatore.”
Brielle tersenyum di dalam dekapan Duchess Salvatore, kemudian mengatakan, “Karena itulah, tolong ikhlaskan kepergian saya. Tolong berbahagialah sampai waktu di mana kita akan dipertemukan kembali.”
Mereka berbicara selama hampir satu jam, kini saatnya Krystal memulangkan Brielle ke alam akhirat. Kepergian Brielle ditemani oleh isak tangis dari keluarga Duke Salvatore, mereka menyayangi Brielle dengan tulus, itulah alasan mengapa mereka masih sulit menerima kematian Brielle.
__ADS_1
“Yang Mulia, terima kasih telah memberi saya kesempatan berbicara dengan mereka. Semoga Anda segera temukan kebahagiaan Anda dan segera menyelesaikan masalah yang mengejar Anda selama ini,” tutur Brielle.
“Ya, berhati-hatilah dan semoga kau juga akan bertemu lagi dengan cintamu.”
Brielle pun masuk ke dalam pintu akhirat dan menghilang bersamaan daun pintu yang tertutup rapat. Krystal akhirnya menyelesaikan masalah ini, Duke Salvatore juga mengucapkan terima kasih kepada Krystal. Kini mereka ingin pulang, dan mereka berkata akan menemui Krystal lagi esok setelah kesedihannya mereda.
Krystal langsung menuju kamarnya, dia kelelahan setelah beraktivitas tanpa henti sejak tadi pagi. Ketika Krystal hendak merebahkan tubuh di atas tempat tidur, ia tanpa sengaja melihat ada kedipan cahaya ungu di balik sebuah lukisan besar yang terpajang di dinding kamar.
“Cahaya apa itu barusan?” Krystal mendekati lukisan tersebut, kemudian dia menyentuh lukisannya. Tiba-tiba saja lukisannya bergeser ke samping, di balik lukisan itu tersimpan sebuah kotak berwarna putih.
“Kotak apa ini?” Karena penasaran, akhirnya Krystal membuka tutup kotaknya. Di dalam kotak itu terdapat sebuah kalung permata berwarna lilac dan batu sihir berwarna hijau emerald.
“Batu sihir jiwa? Mengapa ada batu sihir jiwa di tempat ini?” bingung Krystal.
Ketika Krystal menyentuh dan mengamati batu sihir jiwa itu, sinar terang menyilaukan mata keluar dari batu sihir tersebut. Kemudian kala Krystal membuka mata, dia melihat sosok perempuan cantik bersurai pink sakura berdiri di hadapannya sembari tersenyum ramah.
“Siapa kau?” tanya Krystal.
“Halo, Yang Mulia, saya Erlena – Ibunya Krystal.”
Krystal terkesiap seketika mendengarnya, Krystal melirik wanita bernama Erlena itu lekat dan memang terlihat mirip dengan Krystal, hanya saja Erlena mempunyai mata berwarna coklat cerah. Saat Krystal mengamati sekali lagi, dia baru sadar rupanya ada sayap putih di belakang punggung Erlena.
“Sayap itu… apakah kau adalah malaikat surgawi?”
__ADS_1