
Shion telah kembali sadar, Krystal mengucap syukur ketika Shion membuka matanya dan mulai terdengar lagi suaranya. Shion masih belum paham kenapa dia bisa siuman dengan mata yang bisa melihat jelas, padahal beberapa waktu lalu dia yakin kalau matanya nyaris buta akibat tekanan dari mata aura yang berlebihan ia gunakan. Perlahan Shion bangkit dari posisi tidurnya, Krystal yang terlampau senang refleks memeluk tubuh Shion.
“Apa yang terjadi? Kenapa saya masih bisa melihat?” tanya Shion kebingungan.
“Yang Mulia menemukan solusi untuk mengatasi masalah itu, sekarang kau tidak perlu khawatir lagi soal mata auramu,” jawab Lucio.
“Ya, Yang Mulia menyembuhkanmu dengan sebuah nyanyian, itu ditemukan dalam buku yang menceritakan tentang klan musik,” imbuh Julian.
Shion menoleh ke arah Krystal, “Buku? Bagaimana Anda bisa menemukan buku tentang klan musik? Bukankah semua bukunya telah dilenyapkan dari lama?”
“Sebenarnya reruntuhan bangunan tempat klan musik bermukim dulu masih ada, bahkan masih utuh sampai sekarang. Aku dan Vicenzo pergi ke sana lalu menemukan buku ini,” jelas Krystal sembari menjangkau buku bersampul putih di meja samping tempat tidur dan memberikannya kepada Shion.
“Yang Mulia! Tolong bawa saya ke sana juga, saya ingin melihatnya langsung. Selama ini saya selalu mencari tahu soal klan musik, tapi tidak pernah saya mendapat info yang lengkap dan jelas. Kalau memang reruntuhannya masih ada, saya mau melihat seperti apa tempat tinggal dari klan musik dan seperti apa mereka dulunya,” pinta Shion memohon kepada Krystal.
“Baiklah, tapi sebaiknya kau istirahat terlebih dahulu, setelah tubuhmu membaik seperti biasa aku akan langsung membawamu ke sana,” ujar Krystal.
Wajah Shion berubah sumringah, sungguh besar rasa ingin tahunya tentang klan musik, lalu kini segala rasa penasarannya akan terjawab. Tak hentinya Shion menatapbuku bersampul putih yang diberikan Krystal tadi, ia membalikkan halamannya satu persatu untuk melihat apa yang tertulis di dalamnya. Kemudian terdengar suara helaan napas dari Krystal, dia tampak diberatkan ole sesuatu, seluruh pandangan para selir pun teruju padanya.
“Ada apa? Apa ada yang Mengganggu pikiran Anda?” tanya Austin.
Krystal mengacak-acak rambut, ia mulai mengedarkan pandangan untuk melihat keberadaan Fergus, ternyata pria tua itu sedang tidak bersamanya. Sejujurnya, Krystal merasa terbebani oleh fakta tentang identitas dirinya serta identitas kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Aku sudah mengetahui siapa orang tuaku,” ungkap Krystal dengan wajah sendu.
“Lalu kenapa? Bukankah kau harusnya senang kalau identitas orang tuamu terungkap?” tanya Vicenzo.
Krystal menatap mereka satu persatu menggunakan mata yang redup, Krystal bingung harus mulai dari mana dia bercerita. Jemari Krystal saling bertautan satu sama lain, ia berpikir untuk membagi masalah ini dengan yang lain agar hatinya terasa lebih lega. Kepalanya penuh serasa akan pecah menyimpan begitu banyak permasalahan yang selalu datang bertubi-tubi tanpa henti.
“Itu yang jadi masalahnya, orang tuaku identitasnya terlalu sensitif.”
Heros tampaknya paham, Krystal terasa berat untuk mengungkapkannya dan itu berarti bahwa identitas orang tua Krystal sangatlah penting serta mengejutkan.
“Siapa sebenarnya orang tuamu?” tanya Heros, mereka merasa tegang sekaligus juga ingin tahu tentang orang tua Krystal.
Krystal menegakkan kepala dan menatap lurus ke depan, tidak selamanya Krystal bisa menyembunyikannya, setidaknya para selir itu juga harus mengetahuinya.
Deg!
Hening. Seketika udara sekitar terasa berkurang sehingga membuat mereka kesulitan untuk bernapas saat mendengar siapa orang tua Krystal. Tubuh mereka menegang, mata mereka tak mengerjap sedikit pun, jantung mereka seakan copot saat itu juga. Krystal sudah membayangkan sebelumnya respon seperti apa yang akan dia dapatkan, bayangannya pun menjadi kenyataan dan persis terjadi seperti itu.
“Bernapaslah! Jangan sampai kalian kehilangan napas karena rahasiaku ini nanti,” ucap Krystal membuat rasa tegang mereka mengendur sesaat.
“Dewi iblis dikatakan sebagai dewi yang memiliki kekuatan hampir setara dengan Kaisar Langit, mereka berdua menikah dan lahirlah dirimu. Hei, Krystalia! Kau mewarisi darah dari dua eksistensi yang luar biasa,” tutur Heros.
__ADS_1
“Kaisar Langit terdahulu, itu artinya Kaisar Langit yang terkuat sepanjang sejarah, banyak yang mengatakan bahwa kekuatan Kaisar Langit terdahulu bisa membuat langit dan dunia ini terbelah menjadi dua bagian hanya dengan satu sentilan saja. Apakah ini nyata? Kau adalah bentuk dari dua kekuatan dahsyat bila digabungkan.” Vicenzo terlihat sangat syok.
“Woahh apa yang baru saja saya dengar? Orang tua Anda benar-benar sangat luar biasa, Yang Mulia. Satu anak yang lahir dari dua kekuatan setara namun berbeda,” kata Ash.
Krystal tersenyum kecil, dia tidak tahu sekarang harus bahagia ataukah menangis? Bahkan Krystal belum bisa mengingat seperti apa wajah orang tuanya.
“Aku juga tidak percaya, tapi sepertinya itu memang benar. Seorang Kaisar Langit dikatakan belum sempurna jika tidak memiliki berlian kepemimpinan yang mengalir kekuatan besar di dalamnya, lalu berlian kepemimpinan itu berada di dalam tubuhku, tepatnya di jantungku. Ayahku menukar jantungku dengan berlian kepemimpinan, inilah alasan mengapa seluruh dewa mengejarku. Mereka ingin merebut berlian kepemimpinan sekaligus membunuhku yang merupakan keturunan dari dewi iblis dan Kaisar Langit.”
Lalu Krystal melanjutkan ceritanya, dia menceritakan semuanya secara detail tanpa terlewatkan satu pun. Alangkah tegangnya tubuh mereka hingga tak bisa digerakkan ketika Krystal bercerita, alasan kenapa Krystal diincar oleh para dewa kini telah terungkap sepenuhnya. Sepanjang cerita juga suasana ruangan terasa mencekam dan mencekik mereka.
“Astaga, saya tidak menyangka eksistensi suci tapi mereka berkelakuan seperti iblis, apa yang berada di pikiran mereka? Haus akan kekuasaan, melakukan apa saja demi ambisi tak berbatas, rupanya mereka sama saja dengan manusia,” ujar Austin.
“Mereka yang menciptakan kehidupan, justru kini ingin menghancurkan kehidupan? Tampaknya mereka sungguh dibutakan oleh kekuasaan,” timpal Shion.
Vicenzo kembali mengingat kenangan pahit bagaimana ia melihat kehancuran yang terjadi kepada bangsa spirit, dia yang saat itu masih kecil tidak dapat berbuat banyak demi mempertahankan negeri spirit yang selalu dilindungi oleh Ayahnya – Raja Spirit.
“Aku masih mengingat jelas bagaimana brutalnya mereka memporak-porandakan negeri spirit, entah mengapa saat itu aku bisa selamat dan bertemu dengan Krystal. Aku sangat membenci mereka hingga rasanya sekarang aku ingin menghancurkan mereka tanpa ampun.” Vicenzo menyimpan dendam begitu besar kepada para dewa, dia belum memaafkan kematian orang tua hingga negerinya yang hancur tak bersisa.
“Jangan sedih begitu, Vicenzo. Nanti jika semua ini selesai, kita akan membangun negeri spirit itu kembali,” kata Julian, “Benar kan, Yang Mulia?” Julian melirik Krystal.
“Benar, kita akan membangun negeri spirit, kau boleh memerintah di sana menggantikan Ayahmu nanti,” balas Krystal seraya tersenyum.
__ADS_1
Lalu mendadak mereka terdiam karena merasakaan keberadaan asing dan membahayakan mendekati mereka. Segera pikiran beserta pandangan mereka berubah waspada, mereka mewaspadai terjadinya serangan beruntun dari musuh.
“Wah wah… sepertinya kalian sedang menceritakan sesuatu yang menarik ya.”