
Zeta tidak terima dirinya ditampar oleh Krystal, lalu kini dia berniat membalaskan tamparan itu.
“SIALAN KAU! PADAHAL KAU CUMA TUAN PUTRI RENDAHAN SAJA, TAPI—”
“AAARRRGHHHH!”
Bahana pekikan kesakitan dari Julian bergema seketika, niat Zeta untuk menampar balik Krystal terpaksa dia hentikan karena suara Julian memekakkan pendengarannya. Krystal segera melepaskan alat kekangan di tangan dan leher Julian, dia membawa Julian yang mengerang sakit ke pelukannya.
“Julian, sadarlah! Apa yang terjadi padamu? Aku mohon buka matamu,” ujar Krystal seraya menepuk pipi Julian.
Saat ini gendang telinga Julian seakan pecah, bahkan detak jantungnya tidak lagi memiliki iraman yang teratur, suara napasnya berat, serta pandangan mata yang sayup. Suara Krystal tidak bisa mencapai pendengar Julian, walau berapa kali pun dia berteriak di samping telinga Julian, tidak ada respon yang ia peroleh.
“S-sakit… j-jantung s-saya sakit, Yang Mulia…,” lirih Julian teramat pelan.
Krystal mencoba menyentuh dan memeriksa jantung Julian, rupanya memang benar bahwa ada mantra pengendali yang terpasang di jantung Julian. Zeta serta orang-orang yang berada di sana terlihat puas menyaksikan Julian yang tak berhenti meringis sakit di dipelukan Krystal. Mantra yang tertanam cukup kuat, sehingga butuh waktu yang tidak sebentar untuk melepaskan mantra tersebut.
“Jangan khawatir, aku akan melepaskan mantra ini dari tubuhmu,” kata Krystal yang berupaya menekan kecemasannya melihat kondisi Julian kian parah.
“Melepaskan mantra kau bilang? Mana mungkin kau bisa melakukannya, jangan membuatku tertawa, hahaha.” Zeta tertawa meledek Krystal, dia tidak mempercayai Krystal akan melenyapkan mantra tersebut.
“DIAM!” sergah Krystal, ia mengayunkan kipas merahnya dan menghempaskan semua orang ke belakang, “Suara kalian membuatku jijik.”
__ADS_1
Ketika Krystal hendak memulai pelepasan mantranya, tiba-tiba saja suara erangan Julian tidak lagi terdengar, kedua matanya tertutup rapat, alangkah paniknya Krystal kala itu. Dia coba untuk mengecek denyut nadinya, tapi tak terasa, lalu coba untuk mengecek hembusan napasnya, tapi juga tidak ada. Krystal terpelenting oleh kenyataan di depan mata bahwa dia terlambat untuk menyelamatkan Julian.
“Julian… bangun! Hey, jangan seperti ini padaku… JULIAN! BANGUUUNN! AKU BELUM MENGIZINKANMU PERGI, CEPAT BANGUN SEKARANG JUGA!” teriak Krystal histeris sembari mengguncang-guncang badan Julian. Namun, nyawanya seutuhnya telah meninggalkan dirinya, Krystal mengeratkan pelukannya pada Julian.
“Bangun, Julian… Jangan bercanda, padahal aku sudah datang menjemputmu. Maafkan aku, maaf aku terlambat, tapi jangan pergi dulu. Aku mohon…”
Krystal ingin menangis, tapi air matanya tak bisa untuk keluar, betapa rapuhnya diri Krystal kala itu, bahkan dia tak sanggup untuk mengontrol getaran tubuhnya.
“Aku tidak akan pernah merelakanmu pergi, aku akan memutar waktu untuk menyelamatkanmu. Tenang saja, aku tidak akan terlambat lagi menyelamatkanmu, jadi tolong jangan berangkat dulu ke surga, temani aku sebentar di dunia ini.”
Krystal memutuskan untuk mengambil keputusan yang beresiko untuk tubuhnya sendiri, ia berencana membalikkan waktu ke dua puluh menit sebelumnya. Dengan kekuatan yang kian melemah, Krystal memaksakan diri untuk menggunakan sihir waktu, ia tak akan menyesalinya asal Julian bisa selamat dari kematian.
Perlahan Krystal menaruh tubuh Julian yang telah mati di atas lantai, dia bersiap-siap untuk memutar waktu ke dua puluh menit sebelumnya. Hanya butuh hitungan detik, kini Krystal telah kembali di saat ia baru memasuki ruang tersembunyi. Para selir Krystal yang bertarung di luar menyadari bahwa Krystal baru saja menggunakan sihir waktu, sesaat kekhawatiran teramat luar biasa melanda perasaan mereka masing-masing.
“Uhukk.” Krystal tanpa sengaja batuk darah, rasa sakit mencabik-cabik dirinya dari dalam tubuh, namun dia bersikeras tetap melanjutkan pelepasan mantra itu. Pandangan Krystal berkunang-kunang seketika, tapi dia memaksa dirinya terlalu jauh demi menyelamatkan Julian dari kematian.
Para penyihir yang belum sempat dikalahkan oleh Krystal, mereka menyiapkan ancang-ancang untuk menyerang Krystal yang terfokus pada pelepasan mantra pengendali Julian. Akan tetapi, Krystal terburu menyadari niat mereka, tatapan Krystal ke arah para penyihir terlihat sangat menyeramkan.
“Mati kalian! MATI! MATI! MATI! MATI KALIAN SEMUA YANG MENYAKITI JULIAN! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KALIAN BERNAPAS LAGI. MATIIIII!!!”
Kekuatan Krystal meledak-ledak keluar, suara gemuruh petir menggelegar di luar istana, satu persatu halilintar menyambar semua bangsawan hingga penyihir yang selama ini selalu menghina dan melayangkan perkataan menyakiti hati Julian. Seluruh penghuni istana mengalami kematian secara mendadak, termasuk seluruh keluarga Julian. Tak sedikit dari mereka yang tubuhnya hancur berkeping-keping, semua ini akibat dari luapan kemurkaan Krystal terhadap semua orang yang berani menggores luka di hati Julian.
__ADS_1
Pada hari itu, Kekaisaran Midland menjadi lautan mayat manusia, langit yang cerah pun berubah mendung. Akhirnya, air hujan turun mengguyur daratan dan membasuh noda-noda darah yang memercik ke mana-mana.
“Ini adalah kekuatan Krystal, sepertinya terjadi sesuatu yang buruk dengan Krystal. Lebih baik kita pergi memeriksanya sekarang,” ujar Heros, para selir bergegas masuk ke dalam istana dan mencari di mana keberadaan Krystal kini.
Napas Krystal tersengal-sengal, darah yang keluar dari sela mulutnya tak kunjung berhenti, pandangan matanya semakin samar-samar. Namun, Krystal bersyukur karena berhasil menyelamatkan Julian dari kematian, secara perlahan detak jantung Julian kembali normal seperti biasa. Tidak lupa pula Krystal menyembuhkan luka di sekujur badan Julian sebelum pada akhirnya para selir berdatangan masuk memastikan keadaan Krystal.
“Oh k-kalian s-sudah datang… apa kalian a-ada y-yang terluka?”
Suara Krystal terputus-putus, kedua matanya tak mampu menangkap bayangan kedatangan seluruh selirnya. Krystal tengah terduduk sembari memangku Julian, tampak semakin lemah dan rapuh. Aliran kekuatan di tubuhnya berkecamuk lalu saling menghantam satu sama lain, sungguh badannya teramat tersiksa oleh hal ini.
“Krystal! Apa yang sudah kau lakukan? Padahal kau tahu kalau kekuatanmu sedang berada di dalam kekacauan, tapi mengapa kau nekat menggunakan sihir waktu? Mengapa kau menggunakan kekuatanmu untuk membunuh semua orang?”
Krystal hanya tersenyum tipis melihat garis kekhawatiran di wajah mereka, dia tak bermaksud membuat semua orang cemas akan dirinya. Hanya saja dia tak bisa membiarkan Julian mati begitu saja, setidaknya dia tidak ingin berkorban menyelamatkan orang yang dia sayangi.
“Julian tadi mati.” Mata para selir membulat sempurna, “Aku terlambat menyelamatkannya, jadi aku memutar waktu ke dua puluh menit sebelumnya untuk menyelamatkan Julian dari kematian. Maafkan aku sudah membuat kalian khawatir,” ucap Krystal memaksakan diri untuk tersenyum.
Hati mereka tersayat menyaksikan Krystal yang semakin melemah, lekas Heros membantu menumpu tubuh Krystal yang hampir terhempas ke lantai. Julian yang berada di pangkuannya ditarik menjauh oleh Austin dan Lucio. Kemudian Heros menggendong tubuh Krystal untuk membawanya ke tempat yang lebih lapang dan nyaman untuk tidur.
“Heros, tadi aku bertemu cerberus, sepertinya dia tersesat ke dunia manusia. Apa kau sudah… uhukkk.”
Semburan darah dari mulut Krystal bertambah parah, jumlah darah yang menyembur juga tidak sedikit. Bagian dalam tubuh Krystal makin serasa terkoyak-koyak, seolah dia merasakan kematian mendekat ke arahnya.
__ADS_1
“Yang Mulia, bertahanlah!”
“Krystal, tolong bertahanlah sedikit lagi. Aku tidak akan merelakanmu mati begitu saja, aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu terus hidup. Jadi, aku mohon padamu untuk bertahan, ya....”