
Sudah dua hari berlalu, tapi Krystal masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadarkan diri, sedangkan Julian sudah sadar di hari Krystal menyelamatkannya. Krystal masih terlelap di bawah alam sadarnya, kekhawatiran para selir kian menjadi. Denyut nadi, detak jantung, deruan napas, semuanya perlahan normal, hanya saja Krystal masih belum bisa membuka matanya.
Krystal yang terlelap memasuki alam mimpi, mimpi yang tenang dan dipenuhi cahaya berwarna putih. Krystal terus berlari di ruang tak berbatas, ujung dari ruang tersebut tak terlihat sehingga Krystal harus mencari sendiri di mana jalan keluarnya.
“Di mana aku? Kenapa ruang ini tidak ada ujungnya? Aku berlari selama lebih dua puluh jam tapi tak kunjung aku dapatkan pintu keluarnya,” ujar Krystal, ia berhenti sejenak mengamati tempat sekitarnya berdiri.
Tak ada siapa pun di sana selain dirinya, kemudian Krystal menoleh ke sisi kiri, sebuah cermin besar terpampang dan di cermin itu, terpantul diri Krystal. Akan tetapi, ada hal yang membuat Krystal terkejut yaitu dia mendapati dirinya berubah menjadi anak kecil. Krystal pun mendekati cermin itu, memang benar wujudnya sekarang adalah dirinya kala umur lima tahun.
“Ini aku? Kenapa aku berubah menjadi kecil?”
Tringgg
Bunyi lonceng berdenting, semakin lama suaranya makin membesar, gaungan lonceng tersebut memekakkan telinga Krystal.
“Ikuti suara lonceng itu.” Terdengar suara seorang laki-laki menyuruh Krystal untuk mengikuti sumber lonceng berdenting. Jika Krystal menunda lebih lama lagi, bahana loncengnya akan menyakiti pendengarannya. Akhirnya, tanpa berpikir siapa orang yang memberi perintah kepadanya, ia segera mengikuti arah lonceng itu berada.
Tringgg
Sekali lagi lonceng itu berdenting, suaranya kembali bergema di ruang nan panjang dan luas. Krystal menutup rapat pendengarannya, dia terus berlari sampai akhirnya menemukan lonceng raksasa dan di bawah lonceng tersebut tertancap sebuah kunci berukuran cukup besar. Begitu Krystal tiba di depan itu, loncengnya tak lagi berdenting mengeluarkan bunyi yang memekakkan. Krystal tertegun sesaat menyaksikan lonceng yang berwarna putih keemasan, seumur hidupnya baru kali ini dia melihat lonceng seindah itu.
“Ambil kunci yang tertancang di bawah lonceng itu.” Lagi-lagi terdengar suara pria tak dikenal, Krystal merasa bingung dan mendongakkan kepalanya ke atas.
“Siapa kau? Tunjukkan wujudmu!” Krystal memutar pandangannya, menyusuri setiap titik penglihatan, tapi tidak ia temukan siapa-siapa selain dirinya sendiri.
“Astaga anak ini, bisa-bisanya kau lupa dengan suara Ayahmu sendiri.”
Krystal tersentak, ia terdiam beberapa detik, “Ayah? Aku tidak ingat rupa Ayahku seperti apa, jangan membohongiku! Kalau kau memang Ayahku, perlihatkan wujudmu padaku.”
__ADS_1
“Aku belum bisa bertemu denganmu, karena kekuatanku belum pulih tapi akan ada waktu di mana nanti kita akan bertemu kembali. Ibumu juga selalu mengawasimu, jadi jangan pernah merasa sendiri, sebab selama ini kami memperhatikanmu dari jauh. Walaupun tidak dapat membantumu secara langsung, setidaknya kamu berhasil bertahan dengan kekuatanmu sendiri.”
Krystal coba mengingat-ingat kembali, memang suara pria itu mirip dengan suara Ayahnya yang bertemu di mimpi jauh sebelumnya.
“Siapa identitas Ibu dan Ayah sebenarnya? Kenapa aku tidak bisa mengingat wajah kalian? Kenapa aku tidak punya ingatan tentang kalian? Apakah sesuatu terjadi dengan ingatanku?” Krystal melontarkan pertanyaan yang beruntun.
“Itu karena kamu mengunci sebagian ingatanmu di masa lalu, ingatan tentang kami hingga ingatan tentang selir-selirmu, kau mengunci ingatan itu karena menurutmu itu sangat menyakitkan. Makanya aku suruh kau mengambil kunci di bawah lonceng itu, kunci yang akan membuka ingatanmu nanti.”
Krystal melirik kunci berwarna perak, kunci yang tersimpa energi spiritual yang kuat di dalamnya. Lalu ia mendekati kunci itu, namun wujud anak kecilnya tidak bisa menggapai kunci yang terletak agak tinggi dari tubuhnya.
“Bagaimana caraku mengambilnya? Lagipula mengapa tubuhku berubah menjadi kecil seperti ini?” heran Krystal.
“Kau terlihat imut saat kau masih kecil, jadi aku mengubahmu menjadi wujud semasa kecil. Aku sangat merindukan putriku yang berlari sambil memanggilku Ayah, tidak bisakah kau reka adegan itu kembali?”
Krystal mengatur irama napasnya yang sesak akibat melompat-lompat menggapai kunci itu, dia jadi sebal dengan Ayahnya sendiri.
“Kalau terus begini, bagaimana cara aku mengambil kuncinya? Tubuhku pendek, kekuatanku juga tidak bisa dipakai di sini, cepat kembalikan aku seperti semula!” ucap Krystal merungut kesal.
Tubuh Krystal langsung berubah menjadi dewasa, kini ia bisa meraih kunci tersebut. Pada awalnya memang agak susah menarik kunci itu, tapi dicoba berulang kali, akhirnya ia bisa menarik kuncinya.
“Setelah ini harus bagaimana lagi?” tanya Krystal.
“Berjalanlah ke ujung itu, kamu akan menemukan sebuah pintu besar, kamu masukkan kuncinya ke sana.”
Krystal mengikuti sesuai perintah sang Ayah, tidak jauh ia berjalan, dia pun menemukan pintu besar yang dimaksud oleh Ayahnya. Tanpa menunggu lebih lama, Krystal menautkan kuncinya di pintu itu, kemudian dia putar perlahan.
“Apa yang berada di balik pintu ini?” tanya Krystal.
__ADS_1
“Ingatanmu. Setelah pintu ini dibuka, seiring berjalannya waktu ingatanmu yang terkunci akan mengalir dengan sendirinya ke dalam memorimu. Sekarang coba buka pintu itu, lihat apa yang berada di sana.”
Krystal menekan gagang pintunya, di balik pintu tersebut tersimpan pecahan ingatan Krystal yang melayang-layang di udara. Namun, ia tak dapat menggapai ingatan itu, dia harus menunggu waktu untuk ingatan itu masuk ke memorinya.
“Dengan begini aku berhasil membuka ingatanku yang terkunci, aku juga penasaran sebenarnya jenis ingatan apa yang aku kunci dulunya,” gumam Krystal.
“Keluarlah dari sini, para selirmu tengah menunggumu sadar, aku akan membantumu keluar dari tempat ini.”
Krystal menganggukkan kepalanya, “Apakah kita nanti sungguh akan bertemu?” tanya Krystal sekali lagi.
“Ya, kita akan bertemu nanti di takdir yang tepat.”
“Baiklah, sampai jumpa lagi, Ayah.”
Saat ini di tempat Krystal berbaring, ada Julian berada di sampingnya lalu ada Shion yang duduk sambil membaca buku. Kelopak mata dan tangan Krystal bergerak, perlahan matanya terbuka seraya mengerjap beberapa kali.
“Di mana aku?” tanya Krystal pelan.
“Yang Mulia! Anda sudah sadar?” Julian dengan mata berkaca-kaca refleks menggenggam jemari Krystal. Shion pun menutup bukunya dan menghentikan aktivitas membacanya sejenak, ia juga mendekati ranjang tempat Krystal terbaring.
“Julian, bagaimana keadaanmu? Apa tubuhmu sekarang baik-baik saja?” Krystal segera bangkit dari posisi tidurannya.
“Saya baik-baik, saja, Yang Mulia. Maafkan saya, karena saya Anda menjadi seperti ini.” Julian meminta maaf, di sudut matanya mengalir bulir-bulir air mata.
“Aku tidak menyalahkanmu, aku seperti ini juga bukan karenamu. Terlalu ceroboh diriku sampai kejadian seperti ini saja tidak dapat aku tangani dengan sempurna.”
Kemudian Shion menyodorkan segelas air minum kepada Krystal, pas sekali tenggorokannya terasa kering.
__ADS_1
“Minum ini, Yang Mulia, agar tubuh Anda membaik lebih cepat,” ucap Shion.
“Baiklah, tapi di mana kita sekarang? Apa kita belum pulang ke Albertine?”