
Julian melewati hutan belantara melalui udara, di malam yang dingin dan tubuh hanya dibalut oleh busana tipis tanpa memberi efek menghangatkan, Julian terbang dengan kecepatan tinggi. Sesekali dia meringis kesakitan di bagian kepala serta jantungnya. Satu persatu hutan pemisah antar kekaisaran dilewati oleh Julian dalam waktu singkat. Pikirannya kalut, dia tak dapat berpikir jernih selama beberapa waktu, hingga akhirnya pada saat fajar terbit, ia mendaratkan langkah di gerbang masuk Kekaisaran Midland.
Di sinilah tempat tujuan Julian sebenarnya, sisa-sisa trauma yang dia dapatkan dari keluarganya belum sembuh sepenuhnya. Kekaisaran Midland yang dipenuhi dengan orang-orang pembenci Julian, mereka menekan Julian dari segala arah, menyalahkan Julian bahwasanya kelahiran dia ke dunia ini membawa bencana bagi Kekaisaran Midland.
Kekaisaran yang dulunya damai, tenteram, dilimpahi kekayaan, tiba-tiba berubah sesaat Julian lahir. Perang antar pewaris bangsawan, musim kemarau yang panjang, musim hujan yang berketerusan, kesenjangan ekonomi yang curam, serta bangsawan yang tidak memikirkan nasib rakyat biasa, inilah penyebab kemerosotan Kekaisaran Midland. Menyalahkan segalanya kepada Julian – anak yang tidak tahu apa-apa mengenai dunia ini adalah hal paling tidak masuk akal.
Baru saja Julian berjalan satu langkah masuk ke gerbang, memori kelam langsung menghujani hati dan pikiran. Mengingat bagaimana dulu dia kelaparan saat dikurung di gudang, disiksa sampai sekarat, dicaci maki penghuni istana, tidak dipedulikan keberadaannya, dan masih banyak hal buruk yang menimpa diri Julian. Oleh sebab itu, bertemu Krystal adalah suatu bentuk rasa syukur mendalam untuknya, kebahagiaan singkat yang diperoleh ketika bersama Krystal setidaknya mampu menyingkirkan beberapa titik kegelapan di hatinya. Krystal suatu anugerah yang turun menyelamatkan hidupnya dari kesengsaraan.
Namun, dengan berat hati Julian harus meninggalkan Krystal demi menyelesaikan urusan yang belum beres di istana Midland. Julian menutupi wajahnya menggunakan tudung jubah, badan jalan menuju istana dipenuhi oleh gelandangan, banyak preman yang memalak orang-orang kecil. Angka pengangguran yang tinggi menyebabkan rakyat terpaksa harus bersusah payah melawan nasib buruk.
‘Sudah berapa lama aku tidak melihat pemandangan seperti ini? Selama di Albertine aku hidup serba berkecukupan, melihat rakyat kecil yang kelaparan, menderita, dan mati dalam kesengsaraan membuat hatiku sakit. Padahal Midland dulu terkenal oleh pengrajin dan penempa senjata, tapi ke mana semua orang berbakat itu Mengapa mereka tiba-tiba menghilang hingga membuat negeri ini merosot jatuh ke bawah?’
Banyak pertanyaan yang bergelut di pikiran Julian, begitu pula dengan kekaisaran lain yang kehilangan pasokan senjata bagus dari Midland. Begitu Julian tiba di gerbang tengah yaitu gerbang pemisah antara pemukiman rakyat kecil dan pemukiman bangsawan, dia melihat jurang perbedaan yang cukup besar di antara keduanya, para bangsawan hidup dengan serba kemewahan seolah tidak ada masalah yang terjadi di sana.
__ADS_1
Kedatangan Julian di istana tidak mendapat respon yang baik, di kursi singgasana duduk seorang pria paruh baya yang terlihat mirip dengan Julian, lalu di sisi kiri dan kanan berdiri saudara laki-laki Julian, serta di singgasana Permaisuri diduduki oleh Ibu kandung Julian sendiri. Mereka tidak menunjukkan kesenangan atas pulangnya Julian.
“Apa yang kau lakukan selama di Albertine? Padahal aku memerintahkanmu menjadi mata-mata untuk mencari kelemahannya agar kita dapat menjatuhkan Albertine, tapi kabar macam apa yang aku dapatkan? Tanpa sepengetahuanku, kau malah menjadi salah satu selir Putri yang terlahir dari rahim wanita penghibur itu!”
Praanggg
Cedro – Kaisar Midland, melentingkan gelas kaca ke bawah kaki Julian sebagai bentuk luapan amarahnya kepada Julian. Reaksi Julian terlihat tenang seakan dia sudah terbiasa dengan yang dilakukan oleh sang Ayah padanya. Ibu atau pun saudaranya tidak menunjukkan tanda pembelaan untuk Julian.
“Julian, harusnya kau sadar akan posisimu, kami dengan berbaik hati membiarkanmu hidup sampai sekarang karena kekuatanmu cukup menguntungkan bagi kekaisaran. Lalu kau malah menyia-nyiakan kesempatan yang kami berikan untukmu menebus kebaikan hati kami selama ini,” ucap Eneas – Putra Mahkota Midland.
Julian menggigit bibir bawah sambil menunduk, tangannya terkepal kuat, dia tidak tahan mendengar Krystal dihina oleh mereka.
“Jangan pernah kalian menghina Putri Krystal, cukup hina saja aku, tapi jangan pernah sesekali kalian membuka mulut menghina orang yang paling aku hormati!” tegas Julian akhirnya buka suara.
__ADS_1
“JULIAN!” sergah Zeta – Permaisuri, “Beraninya kau menjawab perkataan Ayah dan saudara-saudaramu!” omel Zeta.
“Kalau begitu jangan pernah kalian menghina orang yang paling aku sayang, setidaknya Putri Krystal memberiku tempat untuk bernaung dan tempat untuk mencari kebahagiaan. Tidak seperti tempat ini hanya bisa memberiku neraka penderitaan, tapi Putri Krystal berbeda, dia memberi kebebasan untukku berekspresi. Jadi, tolong tutup saja mulut kalian dan jangan pernah arahkan kalimat penghinaan untuknya,” ujar Julian meninggikan nada suaranya.
Tiba-tiba saja dada Julian merasa sesak dan sakit, kepalanya seolah mau pecah, debaran jantung yang menusuk membuat Julian tidak mampu menopang beban tubuhnya. Badan Julian meluruh ke atas lantai, keringat dingin mulai mengucur deras melalui celah kulitnya. Seluruh keluarganya tertawa melihat Julian merasakan sakit luar biasa.
“Hahaha bagaimana? Bagaimana rasanya disiksa oleh mantra pengendali? Kau tahu kan sejak awal bahwa di tubuhmu sudah dipasang mantra pengendali? Mengapa kau masih saja bersikap lancang kepadaku? Inilah balasan yang akan kau terima bila kau berani melawan,” ucap Cedro tertawa puas.
Sedari dulu di tubuh Julian telah terpasang mantra pengendali yang kuat sehingga apa pun perintah dari Cedro, harus ia turuti. Apabila Julian melawan perintahnya, maka mantra pengendali ini akan menyiksa tubuh Julian. Hal inilah yang dia rasakan akhir-akhir ini hingga dia harus mengambil resiko untuk meninggalkan Krystal.
Julian ditugaskan menjadi mata-mata di Albertine untuk mencari kelemahan paling menonjol di sana supaya Midland dapat mengerahkan serangan untuk menjatuhkan Albertine. Akan tetapi, Julian melupakan tujuan awal dia datang ke Albertine semenjak bertemu Krystal, ia memutuskan untuk mengabaikan perintah Cedro dan memilih menetap di samping Krystal. Namun, mantra pengendali rupanya masih bekerja sehingga mantra itu menyiksa tubuhnya dari dalam.
“Bawa anak ini ke ruang penyiksaan! Jangan beri dia makan dan jangan biarkan dia untuk tidur! Siksa sampai dia mengakui kesalahannya sendiri!” perintah Cedro.
__ADS_1
Beberapa orang ksatria menyeret Julian masuk ke dalam ruang tersembunyi yang disebut sebagai ruangan penyiksaan. Di sini Julian akan kembali disiksa seperti di masa lalu, trauma akan penyiksaan itu kembali bangkit di diri Julian. Secuil harapan di diri Julian terpancar jelas bahwa yang dia inginkan saat ini hanyalah bertahan hidup dan bertemu Krystal kembali.
‘Dapatkah aku bertahan sampai akhir? Mantra ini sangat menyiksaku, aku tidak bisa melepaskan mantranya, tapi yang aku inginkan hanyalah bertahan hidup. Aku ingin bertemu Yang Mulia lagi, aku tidak mati sia-sia di sini. Namun, kekuatanku tidak merespon sedikit pun akibat mantra pengendali yang terpasang kuat di tubuhku.’