
“Pilihanku tidak pernah salah, kalau begitu sekarang… ehh? AAAHHHH!”
Salju menumpuk di atas permukaan tembok sehingga Krystal tidak sengaja tergelincir saat memantau Lucio dari kejauhan. Badan Krystal terjun bebas dari tembok yang sangat tinggi, di bawah tembok itu banyak semak belukar. Namun, ketika tubuhnya nyaris mendarat di permukaan tanah, terasa sepasang tangan besar menangkap Krystal.
“Kenapa rasanya tidak sakit? Bukannya tadi aku terjatuh?” Mata Krystal yang terpejam, ia buka perlahan. Dia mendapati diri tengah berada di dalam pelukan Lucio, rupanya dia diselamatkan oleh Lucio saat terjatuh.
“Penyusup.” Lucio menuding Krystal sebagai penyusup dengan ekspresi datar. Sedangkan Krystal hanya tertawa kecil menatap Lucio.
“Halo Lucio,” sapa Krystal dengan muka tak berdosa.
Bola mata Lucio melebar seketika Krystal menyebut namanya, ia segera menurunkan Krystal dari gendongannya. Tanpa sengaja netranya menangkap ada luka goresan di pergelangan tangan Krystal akibat duri dari semak belukar. Lucio menggenggam tangan Krystal lalu menariknya masuk ke dalam mansion.
“Hangat.” Krystal merasakan kehangatan dari tangan Lucio yang penuh dengan bekas luka, meski tidak terbalut oleh pakaian, tapi badannya mengeluarkan suhu hangat.
Setibanya di dalam mansion, Lucio menyuruh Krystal untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Pandangan Krystal mengedar, ia tidak menemukan siapa pun di sana, hanya ada Lucio ditemani dinginnya udara malam. Tidak ada pelayan atau penjaga, Lucio tinggal sendirian tanpa ada bantuan dari orang lain. Di dalam mansion tidak ada penerangan yang cukup, tidak ada lampu yang terang dan hanya ada lilin di sepanjang dinding terpajang.
“Apa kau benar-benar tinggal sendirian di sini?” tanya Krystal.
Lucio datang membawa sebuah kotak obat, dia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Krystal. Sebenarnya, Krystal sendiri tidak menyadari adanya luka goresan di pergelangan tangan kirinya sehingga dia bingung saat Lucio mengulurkan tangan meminta Krystal untuk memperlihatkan tangan kirinya untuk diobati.
“Tangan.”
“Ya?”
“Berikan tangan.”
__ADS_1
Lucio berucap sepenggal-penggal, Krystal sulit memahami apa maksud Lucio, ia pun memberikan tangan kanannya. Kemudian Lucio menghela napas, terpaksa dia yang harus bertindak langsung dan menarik tangan kiri Krystal.
“Ada luka,” ujar Lucio.
“Aku baru sadar ternyata tanganku terluka, ini tidak sakit sama sekali,” ucap Krystal tersadar.
“Walau tidak sakit, tetap harus diobati.”
Lucio teramat berhati-hati mengoleskan obat di permukaan luka goresan Krystal, wajah Lucio setiap waktu memang selalu serius tapi itu yang menjadi daya tarik dari dirinya. Tangan kanan Krystal tanpa sadar menyentuh puncak kepala Lucio lalu mengusapnya pelan. Saat sentuhan tersebut dilayangkan, Lucio termangu, dia menghentikan sekejap aktivitasnya. Telapak tangan Krystal nan lembut membuat dirinya nyaman di antara remang-remang cahaya dalam ruang itu.
“Maaf, aku tidak bermaksud,” kata Krystal menjauhkan tangannya dari kepala Lucio. Krystal merasa kalau Lucio tidak suka dengan sentuhannya, namun sesungguhnya
bukan itu yang Lucio rasakan.
“Hmm?”
“Nama Anda?” tanya Lucio.
“Oh iya, aku belum memperkenalkan namaku padamu. Aku Krystal, putri kedua Kaisar Albertine, pasti kau pernah mendengar tentangku bukan?”
“Ya, saya pernah mendengarnya beberapa kali.”
Lucio sering mendengar kabar angin tentang Krystal yakni putri kedua yang keberadaannya dianggap aib kekaisaran. Namun, sekarang dia bertemu Krystal secara langsung, menurutnya rumor yang beredar itu tidaklah benar.
“Semua orang di kekaisaran ini memang tahu mengenai aku, ya itu sudah biasa karena orang-orang akan lebih cepat mengenal kita dari kabar buruk,” tutur Krystal.
__ADS_1
“Jadi, itulah mengapa Anda mengajak saya menjadi selir Anda karena Anda merupakan keturunan kaisar langsung.”
Di Kekaisaran Albertine beredar sebuah peraturan bahwa yang bisa mempunyai suami atau istri lebih dari satu hanyalah orang yang memiliki garis keturunan kaisar.
“Ya, aku tertarik padamu untuk menjadikanmu selir keduaku. Aku tidak ingin kau menolak, makanya aku datang kemari,” jawab Krystal.
“Kenapa Anda ingin saya yang menjadi selir? Bukannya masih banyak pria lebih tampan dan lebih kuat yang bisa menjadi selir Anda? Saya dibuang oleh Ayah saya kemari sebab saya dianggap monster berwujud manusia oleh keluarga saya. Semua orang ketakutan melihat saya, tapi mengapa Anda biasa saja saat menatap saya?”
Ekspresi Lucio nampak terluka, dia menyimpan banyak kesakitan di sela relung hatinya, Krystal dapat dengan mudah membaca seberapa besar rasa sakit yang ia tumpuk sendirian. Tidak ada tempat bernaung dan tempat bercerita berbagi duka lara, keberadaan dirinya seolah dianggap sebagai masalah besar. Betapa sepinya ia selama ini menghadapi kegelapan tanpa ada yang memberinya cahaya untuk menempuh jalan yang dia inginkan.
Kebahagiaan tidak berpihak kepada Lucio, sejak kecil dipaksa bertahan hidup dengan menjadi mesin pembunuh monster. Krystal memahami dengan jelas bagaimana luruhnya dinding hati Lucio, sudah berkali-kali runtuh tapi dia mencoba membangun kembali dinding itu. Di balik ekspresi dinginnya, sejuta jarum selalu siap merajam jantung dan hatinya berulang kali tanpa henti.
“Karena itu dirimu, aku memahami seberapa besar penderitaan yang kau rasakan selama ini. Aku melihat diriku di dalam dirimu. Terkurung di balik tembok yang gelap dan dingin sendirian tanpa ada yang menemani, dipaksa bertahan hidup di ambang kematian, serta tatapan mengerikan selalu diarahkan padaku setiap saat. Aku lupa kapan terakhir aku tersenyum begitu bahagia, aku rasa mungkin itu tidak pernah terjadi.”
“Hidup sangat kejam, tapi kau telah berjuang dengan baik selama ini. Selamat, karena kau berhasil bertahan hidup walau ujian kematian kerap datang mengunjungi. Mungkin tidak ada orang yang mengatakan seperti ini padamu, tapi aku bahagia kau dapat menetap sejauh ini. Tidak memiliki alasan untuk hidup itu sangat menyakitkan bukan?”
Kata-kata Krystal terdengar dalam dan menyentuh sanubari Lucio, senyum tipis terukir di bibir tipis itu. Lucio tercenung oleh Krystal, selama ini tidak pernah ada orang yang berbicara sehangat dan selembut ini kepada dirinya. Jangankan berbicara, tatapan bersahabat dari orang lain saja tidak pernah ia dapatkan.
“Yang Mulia, apabila saya bersama Anda, apakah saya bisa menemukan alasan saya untuk hidup? Seumur hidup, tidak pernah ada orang yang menginginkan saya, mereka selalu menyumpahi saya untuk mati. Mereka mengatakan bahwa kelahiran saya adalah sebuah dosa, berulang kali mereka mencoba membunuh saya, tapi itu tidak pernah berhasil. Sebenarnya kenapa saya hidup? Kenapa saya dilahirkan? Saya ingin mencari jawaban atas pertanyaan saya selama ini. Jika saya tidak begitu diinginkan, mengapa saya dibiarkan hidup di dalam rasa sepi dan derita?”
Perkataan Lucio mengiris hati Krystal, lukanya terlalu dalam untuk ditutupi, Lucio berjuang sendirian untuk memerangi segala rasa kacau dan beban yang silih berganti mengoyak dirinya. Bahu Lucio perlahan bergetar, tak terasa air mata bergulir jatuh dari pelupuh mata hijau emerald itu. Kepala Lucio bersandar di dada Krystal, kedua tangan Krystal melingkar di tubuh Lucio lalu mengusap punggungnya pelan.
“Dapatkah saya menghapus segala kesedihan yang bersarang di dalam diri saya? Bisakah segala sedih itu saya ganti menjadi tawa? Saya ingin menghalau rasa sakit ini pergi dari hati saya, Yang Mulia.”
“Kau bisa melakukannya, sebab aku bersamamu mulai sekarang. Ingatlah, tidak ada monster di dalam dirimu, aku dapat melihatnya dengan jelas. Tidak ada yang perlu kau takutkan, aku akan membantumu melakukan apa yang selama ini tidak bisa kau lakukan, aku akan menemanimu mencari kebahagiaanmu sendiri.”
__ADS_1