Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Pengawasan Hukuman


__ADS_3

Krystal bangkit dari posisinya, Austin segera menutupi tubuh Krystal yang masih telanjang menggunakan selimut.


“Yang Mulia, siapa pria itu?” tanya Julian seraya menunjuk ke arah Ash yang masih tertidur.


Kemudian Krystal menoleh ke sisi kiri, nyaris saja lupa kalau semalam dia menghabiskan waktu dengan Ash.


“Dia Ash, selir keempat,” jawab Krystal dengan santai.


Mereka langsung tertegun saat mendapat jawaban dari Krystal, ini terlalu cepat bagi mereka untuk menambah selir baru lagi. Namun, mereka tidak bisa berkomentar lebih jauh sebab keputusan Krystal sudah bulat dan tidak dapat diganggu gugat. Mereka hanya bisa menghembuskan napas berat, meluaskan dada untuk menerima keputusan Krystal terkait selir baru. Sesaat kemudian, Ash terbangun karena mendengar suara yang cukup mengganggu tidurnya.


“Berisik sekali, ini masih pagi,” ujar Ash langsung bangun dari posisi tidurnya, lalu Ash melihat Krystal di samping kanan, dia tersenyum hangat kepada Krystal.


“Selamat pagi, Yang Mulia.” Ash memberi sapaan selamat pagi terhadap Krystal sembari mengecup pipi Krystal secara terang-terangan di hadapan ketiga selir lainnya.


“AAAHHH KURANG AJAR! BERANINYA KAU MENCIUM YANG MULIA DI HADAPANKU!” teriak Austin murka.


Austin menyembur Ash dengan beberapa kata-kata umpatan kasar, Lucio dan Julian menahan Austin supaya tidak membuat keributan besar di kamar Krystal pagi ini. Austin tidak dapat menerima Ash sama sekali sebagai selir keempat, dia tidak ingin menambah lebih banyak saingan lagi.


“Kau jangan iri, malam tadi aku melewati waktu yang begitu indah dengan Yang Mulia. Benar kan, Yang Mulia? Anda puas oleh pelayanan saya?” Ash memanas-manasi mereka bertiga, Krystal menggeleng-geleng harus menghadapi perdebatan mereka yang dirasa tidak diperlukan untuk saat ini.


“Huh? Tentu saja Yang Mulia lebih puas denganku!” lawan Austin.


“Tidak, Yang Mulia lebih puas bersamaku,” timpal Lucio.

__ADS_1


“D-d-denganku juga! Lebih puas.” Julian mengatakannya dengan suara cukup lantang dan terkesan masih malu-malu.


“Cukup! Aku baru bangun tidur dan kalian sudah mencari masalah di kamarku. Keluar dari kamarku! Se-ka-rang!” usir Krystal, ia menekankan agar mereka keluar dari kamar itu sesegera mungkin sebab Krystal akan bersiap-siap untuk segera pergi mengantarkan serta mengawasi penjalanan untuk Kepala Akademi dan Profesor Tesya.


Mereka pun keluar bersama dengan hati yang panas, sedangkan Austin masih bersitegang dengan Ash. Bersamaan kala itu, Olin masuk ke kamar membawakan satu nampan sarapan untuk Krystal hari ini. Dia masuk sambil menggerutu marah, tampaknya ada seseorang yang membuatnya marah pagi ini.


“Ada apa, Olin? Apa ada seseorang yang membuatmu marah pagi ini?” tanya Krystal turun dari tempat tidurnya.


“Yang Mulia, pelayan di istana ini sungguh baj*ngan semua! Saya tidak menyukai mereka! Ketika aku pergi mengambilkan sarapan, mereka berkata buruk soal Anda. Tidak sedikit di antara mereka yang menghina Anda, bahkan tadi mereka menghalangi saya mengambil sarapan. Lalu lihatlah ini!”


Olin menyodorkan nampan sarapan kepada Krystal, di atasnya hanya ada sepotong roti yang keras, satu mangkuk sup yang sudah dingin, dan segelas air putih. Krystal mengerti kenapa Olin bisa sampai semarah itu, kalau dia menjadi Olin pasti dapurnya sudah hancur ia buat.


“Buang saja makanannya,” titah Krystal.


“T-tapi sayang kalau dibuang,” ujar Olin menekuk ekspresi wajahnya.


Ekspresi tertekuk Olin segera berubah, makanan yang di atas nampan langsung habis dimakan oleh Olin.


“Lain kali, kalau mereka berani kurang ajar lagi, kau pukuli saja atau bunuh sekalian. Kematian mereka tidak akan dipermasalahkan oleh Kaisar, maka dari itu tidak usah pikirkan aku dan terjang habis mereka yang berani menghinaku atau menghinamu. Jangan pernah beri ampun pada musuh yang lancang menginjak-injak hidup kita,” pesan Krystal kepada Olin.


“Baik, Yang Mulia. Saya akan melakukannya sesuai apa yang Anda katakan.”


Selepas itu, Krystal menyuruh Olin untuk membantunya mandi, terlihat jelas Olin belum terbiasa dengan pekerjaannya sebagai pelayan. Namun, Krystal akan terus mengajarkannya sampai dia pandai dan terbiasa melakukan pekerjaan sebagai seorang pelayan pribadi.

__ADS_1


Seusai berias, Krystal segera berangkat menuju alun-alun kota bersama Austin, Lucio, dan Julian. Sementara itu, Ash tidak pergi karena dia mesti melakukan beberapa pekerjaan di markas dunia bawah. Saat ini, mereka berempat mendampingi dua tahanan untuk dibawa ke daerah perbatasan monster. Sedari tadi, Kepala Akademi bersama Profesor Tesya tidak henti-hentinya berteriak meminta pengampunan, namun tidak ada yang menghiraukan mereka.


“TIDAK! SAYA TIDAK MAU MATI! TOLONG AMPUNI SAYA! SAYA BERJANJI AKAN BERUBAH. TOLONG AMPUNI NYAWA SAYA!”


“SAYA BELUM SIAP BERTEMU NERAKA! SAYA MOHON PENGAMPUNAN ATAS NYAWA SAYA! TOLONG, SAYA AKAN MELAKUKAN APA SAJA ASALKAN SAYA TIDAK DIBERI HUKUMAN MATI.”


Merasa geram dengan mereka berdua yang berteriak-teriak di balik kurungan besi, Austin pun menendang kurungan tersebut dan membuat mereka diam.


“Diam! Kalian sudah menyakiti hati Yang Mulia. Hukuman mati dengan melempar kalian ke kawasan monster itu masih belum cukup sebenarnya. Jadi, berbahagialah karena Yang Mulia memberi hukuman yang sangat ringan kepada kalian,” gertak Austin.


Setibanya di perbatasan, kurungan besi tersebut diturunkan pelan-pelan dari atas tembok perbatas ke bawah ke kawasan monster. Di bawah sana, telah banyak monster menunggu mereka melempar bahan makanan yang sangat lezat.


“TIDAK! TOLONG, SAYA TIDAK MAU MATI! TOLONG SAYA! YANG MULIA PUTRI KRYSTAL, SAYA MOHON AMPUNI NYAWA SAYA. BERI SAYA KESEMPATAN SATU KALI LAGI UNTUK MENEBUS KESALAHAN SAYA.”


“BENAR, YANG MULIA. HARAP AMPUNI KESALAHAN SAYA, JIKA ANDA MEMAAFKAN SAYA DAN MENOLONG SAYA DARI HUKUMAN MENGERIKAN INI, SAYA AKAN MENGABDIKAN DIRI SEBAGAI BAWAHAN ANDA.”


Krystal mengerutkan kening, dia tidak mau menerima permintaan maaf itu sebab orang yang seharusnya menerima maaf itu tidak lagi di sini. Mereka yang menyiksa Krystal selama ini harus mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan mereka.


“Aku tidak akan memaafkan kalian, sudah terlambat bagi kalian saat ini. Aku tidak akan memberi ampunan kepada orang yang dengan beraninya menyakiti diriku. Siapa pun kau, aku tidak melepaskan kalian dari maut. Terima saja nasib hidup kalian dan menarilah saat berada di neraka nanti, Raja Neraka paling suka menyiksa orang seperti kalian. Oh iya, kirimkan salamku kepada Raja Neraka saat kalian berada di sana nanti.” Krystal tersenyum kejam sembari melambaikan tangannya ke arah keduanya, tidak ada lagi harapan hidup bagi mereka saat ini.


Begitu kurungan besi tersebut mencapai permukaan tanah, monster-monster langsung menyerbu mereka dan mencabik-cabik daging mereka. Saksi mata yang berada di sana merasa ketakutan dengan hukuman mati yang ditetapkan oleh Krystal langsung. Sebagian dari mereka memilih untuk tidak terlibat lebih jauh lagi dan tidak ingin menghina Krystal lagi seperti dahulu.


Ketika Krystal memastikan hukumannya selesai dijalankan, Krystal pun memutuskan untuk kembali lagi ke istana. Akan tetapi, di saat ia hendak melangkah menuju istana, Cleon bersama Cherry dan Bleas datang tergesa-gesa menghampirinya.

__ADS_1


“Kak, kakak harus memeriksa sisi timur kota!” ujar Cleon.


“Iya, Yang Mulia. Anda harus segera pergi ke sebelah timur kota, ada pancaran energi yang aneh dari sana.”


__ADS_2