Sang Dewi Pembalasan

Sang Dewi Pembalasan
Shion


__ADS_3

Kedua bola mata pria itu melebar ketika Krystal menyebut namanya, ekspresi wajahnya terlihat bingung lalu ia bertanya, “Dari mana Anda mengetahui nama saya?”


“Dari harmonika yang kau bawa. Di sana tertulis namamu.” Krystal menunjuk ke harmonika milik Shion yang ia taruh di atas meja samping kanan ranjang, “Jadi, kau bisa memainkan harmonika?” tanya Krystal kemudian.


“Harmonika adalah kekuatan saya, musik yang dihasilkan dari suara harmonika ini dapat menjadi senjata melawan musuh,” jelas Shion pelan.


“Menjadikan musik sebagai senjata? Apa kau berasal dari klan musik yang sudah punah itu?” tanya Krystal lagi.


“Klan musik? Klan musik itu benar-benar ada? Apa Anda mengetahui tentang klan musik?” Shion terperangah kaget, ia reflek bangun dari posisi tidurnya.


“Huh? Jadi, kau bukan berasal dari klan musik? Satu-satunya yang dapat mengubah musik menjadi senjata hanyalah klan musik. Kalau kau bukan berasal dari klan musik, mengapa kau mempunyai kekuatan itu di dalam dirimu?”


Shion tertunduk lesu, “Saya bukan berasal dari klan musik, orang tua saya manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan spesial. Saya pernah mencari tahu mengenai klan musik yang keberadaannya telah punah lebih 4000 tahun lalu, tapi tidak banyak info yang saya dapatkan. Bisakah Anda memberitahu saya tentang klan musik yang Anda ketahui?” Pandangan mata Shion penuh rasa penasaran, Krystal tidak bisa menolak permintaan Shion tersebut.


“Baiklah, aku akan memberitahumu tentang klan musik.”


Krystal mulai bercerita mengenai klan musik yang merupakan salah satu klan terkuat pada zaman itu. Namun, keberadaan klan musik perlahan dianggap sebagai ancaman karena kekuatan mereka yang dapat mengendalikan musik itu terbilang sangat mengerikan. Tidak ada orang yang berani mencari masalah dengan klan musik, termasuk Kaisar yang memimpin kala itu.


Pada suatu hari, tiba-tiba kekuatan klan musik semakin meningkat drastis sehingga Kaisar menganggap mereka sebagai ancaman besar bagi kekaisaran. Hingga terjadilan malam berdarah, klan musik dibantai habis oleh Kaisar, itulah mengapa klan musik lenyap dari sejarah kemajuan dunia ini dan tentang mereka hanya tertulis di beberapa buku saja.


“Rupanya begitu sejarah kehancuran klan musik, akhirnya rasa penasaran saya terjawab sudah. Tapi, kenapa Anda bisa tahu ceritanya selengkap itu?”


Senyum Krystal merekah, kemudian dia menjawab, “Aku hidup sudah lebih 4000 tahun.”


“Lebih 4000 tahun? Anda sedang bercanda?”


“Tidak, ini sungguhan. Aku akan memberitahumu nanti jika kau bersedia menjadi selir kelimaku.”


Akhirnya, penawaran yang sedari tadi ditahan oleh Krystal keluar juga dari mulutnya. Krystal melihat Shion sudah mulai menerima keberadaannya, jadi ini saat baginya menawari Shion posisi sebagai selir kelima. Shion pun kehilangan kata-kata dan bingung harus jawab bagaimana, namun terselip perasaan ragu-ragu karena mengingat hal buruk yang dia alami sebelumnya.


“Oke, aku paham. Tidak akan mudah menyembuhkan hati serta kepercayaan seseorang yang sudah hancur. Aku tidak akan memaksakan kehendakku padamu, aku akan menunggu sembari membantu menyembuhkan luka hatimu. Maka dari itu, tinggallah di sini sementara waktu, oke?”

__ADS_1


‘Ahh hatiku tenang sekali menatap gadis ini, aku tidak gelisah berada di dekatnya, bahkan rasa sakit akan pengkhianatan itu seolah tertutupi oleh suara lembutnya. Kalau begini, apa aku boleh mempercayai manusia lagi? Aku merasa gadis ini adalah seseorang yang tidak bisa aku hindari keberadaannya.’


Secercah kepercayaan memercik di tatapan Shion, Krystal menyadari hal itu dan dia bangga telah berhasil meruntuhkan tembok penghalang antara dia dan Shion.


“Beri saya waktu untuk memikirkannya,” ucap Shion.


“Oke, aku akan memberimu waktu untuk berpikir,” balas Krystal sembari mengecup singkat bibir Shion, terlihat mimik terkejut di raut wajah Shion kala itu.


Kemudian Krystal berdiri dari tempat duduknya dan hendak beranjak pergi dari kamar, namun tiba-tiba Shion menahan tangan Krystal.


“Tunggu!” cegat Shion, “Apa Anda kurang istirahat beberapa waktu belakangan ini?” tanya Shion.


“Ya, aku sedikit sibuk beberapa hari ini, makanya waktu tidurku berkurang banyak akhir-akhir ini,” jawab Krystal.


“Izinkan saya memainkan musik yang bisa membuat Anda tertidur, setidaknya istirahatkan badan Anda sejenak sebelum melakukan aktivitas lain.”


Krystal mengizinkan Shion memainkan harmonikanya, ia kembali duduk di kursi samping tempat tidur. Shion meraih harmonikanya, dia meniup pelan hingga keluar suara merdu dari sana. Alunan musik mulai mengalun lembut dan masuk ke pendengaran Krystal. Musik yang dihasilkan dari harmonika Shion benar-benar seperti sihir, kelopak mata Krystal mulai terasa berat. Beberapa detik berselang, Krystal akhirnya tertidur di dalam posisi menekuk kepala di tepi tempat tidur Shion. Wajah Krystal yang tertidur dapat disaksikan dengan jelas oleh Shion, bahkan di saat tidur, ia masih tampak cantik menawan.


‘Tampaknya aku menemukan gadis yang menarik. Haruskah aku menerima tawarannya untuk menjadi selir? Apabila aku ingin terus berada di sampingnya, tentu saja menjadi selir adalah jalan satu-satunya.’


...***...


Matahari berganti bulan, siang berganti malam, Krystal masih terlelap di alam tidurnya. Saat ini, ia sedang tertidur di atas tempat tidur Shion. Sementara itu, Shion tengah duduk seraya membaca buku. Akan tetapi, mulai waktu ini, Shion melihat ada yang salah dari Krystal, sebab Krystal menunjukkan kegelisahan besar di tidurnya. Langsung saja Shion mendekati Krystal untuk mengecek keadaan Krystal.


“Ughh ….”


Krystal tampak menahan sakit sehingga membuat keringat dingin bercucuran deras di dahinya. Shion mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Krystal demi membangunkannya, tapi tak ada jawaban ia dapatkan darinya.


“Yang Mulia, sadarlah! Astaga, apa yang terjadi pada Anda?” Kecemasan Shion meningkat kala Krystal menjerit sakit, pada saat itu pun keempat selir berdatangan masuk ke dalam kamar.


“Apa yang terjadi dengan Yang Mulia?!”

__ADS_1


Shion tersentak oleh kedatangan mereka yang menerobos masuk ke kamar.


“Yang Mulia sepertinya sedang bermimpi buruk,” jawab Shion.


“Bermimpi buruk? Kau pria yang dibawa oleh Yang Mulia bukan? Apa yang terjadi sampai Yang Mulia bermimpi buruk seperti ini?” Ash kehilangan kendali amarahnya, ia mengarahkan prasangka buruk pada Shion.


“Sudah Ash! Bukan itu yang harus dipermasalahkan sekarang. Lihatlah kondisi Yang Mulia sekarang!” ujar Julian menenangkan amarah Ash.


Lucio dan Austin menggenggam tangan lalu memangku tubuh Krystal, mereka mencoba meneriaki nama Krystal berulang kali, namun tak ada respon dari Krystal. Rintihan, erangan, hingga pekikan sakit saling terhubung, Krystal tidak bisa terbangun dari mimpi buruknya.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Yang Mulia tidak menjawab panggilan kita.”


Sementara itu, Krystal terjebak di alam mimpi yang tidak bisa ia hindari atau lawan sedikit pun. Tubuhnya seakan terkoyak di bawah alam sadar, rasa sakit di sekujur tubuh membawa pedih ke tubuh di dunia nyata.


“Yang Mulia, saya bersumpah bahwa saya tidak melakukannya. Tolong percayalah kepada saya.”


“DIAM, KRYSTALIA! Jangan menunjukkan muka meminta belas kasihanmu itu. Aku tidak mempercayai apa pun yang kau katakan!”


“Saya mohon, Yang Mulia. Bukankah Anda berjanji akan menikahi saya? Tolong selidiki lagi masalah ini, saya tidak melakuka—”


“Menikah? Hahaha. Aku tidak akan menikahimu karena aku telah memilih calon Permaisuriku sendiri.”


“Apa? PENGKHIANAT! PADAHAL AKU SUDAH MELAKUKAN SEMUANYA UNTUKMU, KENAPA KAU MALAH MEMILIH WANITA LAIN SEBAGAI PERMAISURIMU? PEMBOHONG! KAU PEMBOHONG!”


“Apa yang kau katakan, Krystalia? Sejak awal kau hanya aku manfaatkan untuk meraih tahta ini. Jangan mengharapkan hal lebih dariku.”


“Jadi, Anda tidak mencintai saya?”


“Mimpimu ketinggian. Pengawal! Bawa gadis ini ke ruang penyiksaan. Siksa dia sampai mati!”


“Tidak! Aku tidak mau mati! Dasar kau pria baj*ngan! Aku akan membalasmu! Aku akan menjadi dewi pembalasan dan membawamu ke neraka. AKU AKAN MEMBUNUHMU! AKU TIDAK AKAN MATI! TIDAK AKAN PERNAH!”

__ADS_1


__ADS_2