
Ricard pun mulai menjelajahi lembah sempit Sheila dengan intens,sesekali ia juga akan menghisapnya dengan kuat.
"Tu...annnn.....geli...emm."Erangan Sheila sangat merdu ditelinga Ricard.
Ia pun bertambah semangat menghisap Lembah sempit itu.
Hingga tak lama kemudian,Sheila pun mulai merasakan akan mau keluar.
"Emmm....Tuan...Aku mau pipis"Erang Sheila dengan nikmat,ia juga mengapit dan menjambak rambut kepala Ricard dikedua pahanya.
Ricard tentu saja menikmati itu,hingga air suci Sheila pun langsung keluar dengan sangat deras.
Slurrr...
Ricard menelan semua air suci itu hingga tak bersisa setetes pun.
Setelah beberapa saat,Sheila mulai melepaskan kepala Ricard dipahanya.
Nafasnya juga sudah terdengar sangat lelah,apa lagi wajahnya juga tampak memerah.
Ia juga tak menyangka akan merasakan kenikmatan hanya dijilat saja.
"Hah...Hahh....Tuan maaf tadi aku menarik Rambut Tuan dengan kuat"ucap Sheila dengan sedikit takut,ia takut jika Ricard marah akan perbuatannya tadi.
Ricard pun tersenyum lebar,ia tentu tak mempermasalahkan itu.Malahan ia juga sangat menikmati air sucinya yang harum itu.
"Tak apa apa,tapi apa aku boleh memasukkan bendaku dilembah sempitmu ini"Tanya Ricard sambil memamerkan Tongkat panjang dan tebalnya diatas perut Sheila.
Sebenarnya Ricard tak perlu izin seperti itu,ia hanya bertanya sekedar basa basi saja.
Namun disisi Sheila,ia sedikit takut akan kebesaran tongkat Ricard.Ia bertanya tanya apa benda besar itu bisa masuk nantinya.
Tapi ia juga tak berani menolak keinginan Ricard,ia sangat ingin menyenangkan Ricard.Bahkan tubuhnya juga menikmati setiap sentuhannya.
Ia pun mengangguk dengan malu malu walaupun didalam hatinya sedikit takut dengan tongkat Ricard.
Ricard pun membentuk kaki Sheila dengan huruf M dan mulai memasukkan tongkat panjangnya dengan pelan pelan.
Ia tau kalau Sheila masih perawan,bahkan lembahnya juga terlihat sangat sempit.
Saat ujung tongkatnya telah masuk,suara lirih Sheila pun terdengar.
"Ahh..Sa...kitt Tuan....hiks..."ucap Sheila dengan menahan perih,padahal baru ujung tongkat Ricard.
Namun,lembah sempitnya masih belum bisa menahan ketebalan dari tongkat Ricard,wajar ia merasakan sangat perih.
Bahkan darah segarnya keluar sangat banyak dari lembah sempitnya.
Sementara Ricard,ia memahami keperihan dari Sheila.Ia pun memajukan pinggulnya dengan sangat pelan dan tak memasukan seluruh tongkatnya.
__ADS_1
Saat Sheila sudah rileks dan mulai menikmatinya,Ricard pun sedikit menambah kecepatan goyangan pinggulnya.
"Ahhh....emm..Tuann....aahhh"erangan Sheila dengan nikmat pun sudah mulai terdengar cukup keras ditelinga Ricard.
Mendengar erangan Sheila yang sudah cukup keras,ia pun senang dan mulai menindih tubuhnya.
"Apa kau menikmatinya sayang"ucap Ricard sambil mengenj0t lembah sempitnya.
Sheila pun mulai tersipu malu,ia sedikit demi sedikit memahami kalau ia dan Ricard telah melakukan hal hal orang dewasa.
Ia mengangguk untuk membalas ucapan Ricard,terlihat juga kalau bibirnya tersenyum bahagia.
"Ternyata salah satu gadisku ini sudah cabul ya"ucap Ricard sambil menambah ritme goyangannya lagi.
Sheila pun bertambah keras mengerang.
"Ahhh.....Tu....annn.....itu...tidak benar..... ahhh....emmm"erang Sheila dengan berbohong.
Ia sebenarnya sudah merasakan nikmat duniawi itu,bahkan bola matanya juga terlihat sedang melihat keatas.
"Apa gadisku ini sudah pandai berbohong denganku"Tanya Ricard dengan main main.
"Ahhh...Tuan....iya...aku menikmati ini Tuan....ahhh..."erang Sheila,ia sudah tak bisa berbohong lagi.
Tubuhnya sudah memanas dan mulai menikmati genj0tan Ricard.
"Aku akan membuatmu menikmati ini hingga kau tak akan bisa melupakannya sayang"ucap Ricard sambil menambah lagi genj0tannya.
Lidahnya juga tak tinggal diam dan mulai menjelajahi setiap sudut leher Sheila yang halus dan harum itu.
Jari jarinya juga mulai memencet pu.ting Sheila yang bewarna Pink itu dengan sangat kuat.
Ricard ingin sedikit lebih intens dan keras lagi bersama Sheila.Sementara Sheila pun lagi lagi berteriak dengan sangat keras.
Ia bahkan sudah kehilangan akal sehatnya karena kenikmatan dari Ricard,dirinya juga mulai melingkarkan tangannya dileher Ricard.
Tapi,suara Sheila yang mengerang cukup keras itu sebenarnya sudah terdengar ditelinga 2 wanita yang lagi menonton televisi.
Mereka berdua adalah Mei'er dan Ling'er yang lagi menonton bola Piala dunia sekarang,mereka juga sudah terbiasa tidak tidur semalaman hanya untuk menjaga Mansion.
Karena mereka seorang kultivator,tentu saja mereka tahan begadang dalam seminggu penuh,dan juga pendengaran mereka berdua sangatlah tajam dibandingkan manusia biasa.
Jadi jeritan nikmat Sheila pun langsung terdengar jelas ditelinga Mei'er dan Ling'er.
"Astaga.....Saudari Sheila yang sangat polos itu sekarang telah resmi menjadi gadis dewasa,bahkan suaranya juga sangat merdu"ucap Mei'er dengan sedikit terkejut juga.
Ia mengira kalau Qin Sheila tak bisa mengerang dengan merdu,tapi ia salah dalam prediksinya.Bahkan suara merdu Sheila mengalahkan dirinya.
Disisi Ling'er,ia sedikit iri karena Sheila yang lebih dulu menjadi gadis dewasa.
__ADS_1
Sebenarnya ia dan Sheila masih gadis polos yang ingin menuju dewasa,tapi mereka berdua maunya hanya Ricard yang boleh melihat tubuh telan.jang mereka.
Tapi tingkat kepolosan Sheila sangatlah tinggi,ia bahkan tidak tau apa apa tentang tongkat pria dan kegunaannya.
Berbeda dengan Ling'er yang polosnya masih tingkat rendah,ia masih tau kegunaan dari tongkat Pria.
"Aku kalah dari Saudari Sheila"ucap Ling'er dengan cemberut.
Mei'er malah terkejut mendengar ucapan Ling'er yang mau juga bersama Ricard.
"Oh apa saudari Ling'er juga ingin melakukan kegiatan panas bersama Tuan juga"ucap Mei'er dengan tersenyum.
Ling'er pun bertambah cemberut.
"Tentu saja aku juga mau bersama Tuan,aku sudah memantapkan hatiku kalau tubuhku hanya boleh Tuan yang memilikinya"Jawab Ling'er dengan serius.
Kembali ke Ricard.....
Saat ini Ricard lagi mengatur nafasnya,ia mau bersiap siap untuk melanjutkan kegiatan panasnya lagi.
Ia merasa terlalu dini kalau baru sekali Cr00**,jadi ia pun berniat untuk cr00ttt sampai ia puas atau sampai Sheila lemas.
"Hahh....hah....Cairan Tuan sangat hangat dan kental,itu bahkan terasa hingga keperutku Tuan"ucap Sheila dengan polos dan tersipu malu,bahkan nafasnya juga tersengal.
"Aku nanti akan memasukkan lagi sayang"ucap Ricard dengan lembut.
Tapi Sheila langsung membulatkan matanya,ia sedikit tak yakin kalau tubuhnya bisa menahan tongkat Ricard lagi.
Ia sebenarnya sudah sangat lelah dan masih merasa perih dibagian lembah sempitnya.
Tapi disisi lain tubuhnya malah memanas kembali,dan seakan meminta Ricard untuk segera memasukkan tongkatnya.
~
~
~
( Bersambung )
~
~
~
Ayo dukung karya ini dengan Like dan Vote ya teman temanš„°
Dukungan kalian semangatkuš
__ADS_1