
Setelah 30 menit berlalu,Mary Card pun menyudahinya.Ia juga kasihan melihat putranya yang sudah kesakitan.
"Kau duduk disitu......Karena sudah pukul 08:00 malam,jadi hukumanmu akan berlanjut esok pagi"ucap Mary Card.
Sedangkan Ricard hanya mengangguk patuh saja,telinganya sudah sakit dan panas.Apalagi pantatnya sudah terasa sangat perih akibat pukulan rotan ibunya.
"Kenapa disaat ibu marah,kekuatanku semua menghilang......Apalagi tubuhku terasa seperti manusia biasa disaat ibu memukulku.."Pikir Ricard dengan bingung sambil menahan sakit.
Tapi Ricard tak terlalu memikirkan itu,ia hanya berdiri disamping ayahnya sambil menunduk.
"Sebernarnya apa yang sudah Ricard perbuat"Tanya Rimark Stive ke Mary Card dengan penasaran.
Begal Linu dan Carissa Stive yang tidak tau ceritanya pun juga penasaran.
"Putramu ini sudah memaksa Chika untuk berbuat me.sum dikamar mandi,yang lebih parahnya lagi,Ia mengunci pintu dan menaruh tanda wc rusak didepan pintu"ucap Mary Card dengan kesal.
Sedangkan Chika hanya diam saja,ucapan Mary Card memang benar.Tapi masih ada yang kurang,Chika juga menikmati sentuhan Ricard.
Mereka semua pun membuka mulutnya lebar lebar,mereka juga tidak percaya kalau Chika mau berbuat seperti itu.Mereka semua hanya memiliki satu pemikiran,sama seperti Mary Card.Chika pasti dipaksa oleh Ricard.
"Apa benar kau sudah dile.cehkan oleh adikku"ucap Carissa dengan lembut,tapi Chika hanya diam saja dengan tertunduk sambil meremas ujung bajunya.
Ia tak tau mau membalas ucapan Carissa dengan apa.Tapi Carissa yang melihat Chika hanya diam,ia pun hanya menghela nafas berat.
"Pasti ia takut untuk mengatakan yang sebenarnya"pikir Carissa.
Padahal saat Ini Chika juga sedang memikirkan kondisi Carissa saat ini.
"Carissa sudah sembuh,tapi kenapa cepat sekali.Padahal baru 5 hari lalu aku menjenguknya......Sudahlah,yang penting aku bahagia kalau sabahatku sudah sembuh"Pikir Chika saat ia baru menyadari kalau Carissa sudah sembuh.
"Sudalah,kita nikahkan saja dia sama Ricard......Apa kau setuju Chika,tapi jika kau tak setuju.Paman Juga tak tau mau apa lagi"ucap Rimark Stive sambil melihat Chika.
"Itu benar juga.....Apa Kau setuju Chika"Tanya Mary Card dengan lembut.
Chika Lauren pun dengan cepat mengangguk dengan malu malu.Dalam hatinya,ia sudah sangat bahagia bisa bersama Ricard.
Melihat Chika mengangguk,Rimark Stive dan Mary Card pun sangat senang.
"Baguslah kalau begitu......"ucap Mary Card dengan lega.
Sebenarnya Mary Card takut jika Chika membenci keluarganya.Ia juga sudah menyayangi Chika seperti anaknya sendiri.Makanya ia berharap juga kalau Chika menjadi Kekasih putranya itu.
Sedangkan Ricard,tadi ia sangat ketakutan jika Chika melaporkan dirinya,kalau ia tadi memaksa Chika Ke wc wanita lalu memperko.sanya.
Tapi sekarang ia bisa bernafas lega,Chika tidak melaporkannya.Ditambah lagi Chika setuju menjadi kekasihnya.Ricard pun langsung memasukkan tangannya kesaku celananya dan berdiri sambil membusungkan dadanya.
"Hahaha......Ketampanan memang bisa membawa berkah.....Walaupun badan sakitTapi tidak apa apa,asal mendapat satu keindahan"ucap Ricard dalam hatinya.
Tapi,disaat Ricard sedang menampilkan wajah bangganya.Mary Card pun melihatnya dan bertambah kesal.Ia berfikir jika Ricard tak merasa bersalah dengan kelakuannya.
__ADS_1
"Ricard apa kau mau ditambah pukulan Rotan kecil ini"ucap Mary Card sambil menunjukkan rotan kecilnya
Mendengar ancaman ibunya,Ricard pun dengan cepat menggelengkan kepalanya lalu menunduk lagi.
Semua orang pun tertawa melihat kelakuan Ricard.
"Baiklah....Karena sudah malam,sebaiknya kita pulang.....Chika kau menginap saja dimassion kami....Kau juga Ricard dan Sheila"ucap Rimark Stive,mereka semua pun mengangguk.
"Ayo kita pulang,gadis kecil,Chika,Carissa kalian bersama ibu saja"Ajak Mary Card dan mereka juga mengangguk paham.
Mereka semua pun pulang kemassion Rimark Stive,kecuali Begal Linu.Ia pulang kemassionnya sendiri.
~ pukul 10:00 malam
Saat ini,Ricard sedang berada didalam kamar Massion Rimark Stive atau ayahnya.Ia juga sudah menelepon semua kekasihnya untuk pulang esok sore.
Ia sudah 2 hari berada dikota Beijing,jadi ia akan pulang esok sore.
"Cang'yi....Apa kau sudah menemukan keanehan yang terjadi padaku....."
"Tidak mungkin juga aku bisa merasakan sakit hanya sebuah rotan kecil"Tanya Ricard ke Cang'yi lewat pikirannya.
Sebenarnya ia masih tak habis pikir,kenapa kekuatannya mendadak hilang hanya karena ibunya marah.
"Saya juga tidak tau Tuan kenapa itu bisa terjadi"ucap Cang'yi yang juga tidak tau.
"Saya tidak berani berbohong Tuan"ucap Cang'yi.
"Lalu kenapa kau tidak menjawab panggilanku sebelum aku kena pukul oleh ibuku"Tanya Ricard.
"Hehehe......Cang'yi pengen liat Tuan kesakitan saja"ucap Cang'yi dengan terkekeh.
Mendengar ucapan Cang'yi,Ricard pun bertambah kesal.
"Aku akan meng......"ucapan Ricard pun terhenti saat ia mendengar ketukan dari balik pintu kamarnya.
Tok.....
Tok.......
Tok.....
"Siapa lagi itu....."Pikir Ricard dengan kesal,ia pun berdiri dan membuka pintu.
Tapi saat ia melihat Qin Sheila,ia pun tersenyum dan dengan cepat menarik tangannya untuk masuk kedalam kamarnya.
Ricard lalu mengunci pintu,ia membaringkan Sheila dikasur sambil menindihnya.Ia juga menatap Sheila sambil tersenyum,lalu memegang kedua tangannya dengan tangan kiri Ricard dan menaruhnya diatas kepalanya.
Qin Sheila pun juga gugup dengan posisinya saat ini,ia sebenarnya tak memikirkan hal begini.Ia hanya ingin menghampiri Ricard dan meminta maaf karena sudah membawa ibu ke Wc.
__ADS_1
"Tu....annn.....ada apaa...."ucap Sheila dengan gugup.Ia juga sudah merasakan ada benda keras di depan lembah surganya.
Ricard pun tersenyum lalu tangan kanannya mengelus Buah kenyal Sheila.
"Aku akan menghukummu,dan hukumannya harus dengan tubuhmu"Bisik Ricard sambil mengelus buah kenyal Sheila.
Mendengar bisikan Ricard,ia pasti paham akan maksud Ricard.Tapi ia masih malu dan gugup,ia tak pernah memikirkan sampai sejauh ini.
Ia hanya pernah memikirkan ia dan Ricard tidur bersama,tapi tidak sampai memikirkan berbuat yang tidak tidak.
"Itu.....Tu.....ann......Kita tidak boleh melakukan itu"Ucap Sheila dengan gugup,tapi jauh dari lubuk hatinya.Ia juga gembira karena Ricard juga menyukai tubuhnya.
Mendengar ucapan Qin Sheila,Ricard berpura pura marah dan ingin mengerjai Sheila.
Ricard pun melepaskan kedua tangan Sheila dari tangannya dan berdiri.
"Keluarlah aku ingin tidur"ucap Ricard dengan dingin,dalam hatinya ia juga sudah tertawa melihat ekspresi Sheila saat ini.
"Tuan maafkan aku,aku tadi berbohong padamu.....Aku juga mau itu kok"ucap Sheila dengan mata berkaca kaca.
Ia sangat sedih dan merasa bersalah karena membuat Ricard marah lagi pada dirinya.Padahal Ricard hanya berpura pura marah.
"Aku tidak marah,jadi keluarlah..Aku ingin istirahat dulu"ucap Ricard dengan datar.
"Tapi Tu......"
"Apa kau tidak mendengarnya,aku ingin istirahat"ucap Ricard yang langsung memotong ucapan Sheila.
"Baik Tuan.......Saya permisi dulu"ucap Sheila dengan sedih,ia rasanya ingin menangis saat itu juga.
Melihat Qin Sheila pergi dengan sedih,ia pun senang karena sudah mengerjai Sheila.
"Untuk saat ini biarlah dia seperti itu,sekarang aku mau tidur dulu"ucap Ricard lalu tidur dikasurnya.
~
~
( Bersambung )
~
~
~
Ayo dukung karya ini dengan Like dan Vote ya teman temanš„°
Dukungan kalian semangatkuš
__ADS_1