Sang Pemandu

Sang Pemandu
Mei'er Menggoda Sheila


__ADS_3

Sementara didalam Mansion Ricard,kini terlihat Sheila didalam kamar dengan wajah yang murung.


Ia lagi menjalani hukuman dari Mary Card untuk tidak boleh keluar dari kamar.


Sheila pun hanya menuruti hukumannya itu dengan sangat patuh.Ia tak berani membantah ucapan Mary Card.


Padahal kalau ia ingin,bisa saja dirinya keluar secara diam diam dari kamarnya itu.


Tapi ia tidak berani melakukannya,ia juga sudah menganggap Mary Card sebagai ibunya.


Sheila terus menatap cermin yang ada dihadapannya itu dengan sangat murung dan lesu.


Apa lagi ia juga merasa bersalah karena sudah membuat Mary Card marah,tapi terkadang wajahnya juga menampilkan kemerahan dan malu malu.


Ia teringat momen dirinya dan Ricard sedang melakukan kegiatan panas tadi malam.


"Aku sudah dewasa sekarang,itu artinya aku bisa bersama Tuan terus....Awalnya memang sakit,tapi lama kelamaan kok bisa enak ya"Pikir Sheila dengan polos.


Tapi diwajahnya juga terpancar raut kebahagiaan seorang gadis saat mengingat momen itu.


"Aaaa....Apa aku sudah menjadi cabul karena memikirkan kejadian malam itu ya,bagaimana kalau Tuan tau aku sudah cabul,pasti ia marah"pikir Sheila dengan sedikit panik.


Andai ia tau kalau Ricard menyukai gadis cabul,pastinya ia akan sangat malu.


"Kenapa juga aku tadi malam bisa mengeluarkan suara aneh itu,padahal aku tak pernah mengeluarkan suara seperti itu"Pikir Sheila lagi,ia pun beranjak ketempat tidur untuk menyembunyikan wajah malunya.


Ia tak tahan melihat wajahnya sendiri dicermin yang tampak sangat memerah dan malu malu.


Namun,saat Sheila hendak ingin tidur.Ada suara ketukan dari balik pintu kamarnya.


Tok...


Tok....


Ia pun turun dari atas kasur dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.


"Saudari Mei'er,ada apa kau mengunjungi ku"Tanya Sheila dengan bingung.


Mei'er pun sedikit cemberut.


"Tak bisakah aku mengunjungi saudariku sendiri hah!"Jawab Mei'er dengan ketus.


"Xixixi maaf saudari,ayo masuk kedalam dulu....Aku hanya penasaran saja kenapa Saudari datang kekamarku"Ucap Sheila sambil menutup pintunya kembali.


Mereka berdua pun duduk dipinggir kasur sambil bergandengan tangan.


"Aku hanya ingin bertanya,bagaimana rasanya semalam bersama Tuan.Dan aku juga mengucapkan selamat karena sudah menjadi gadis Dewasa Saudari"Ucap Mei'er dengan tersenyum.


Mei'er mengucapkan itu hanya ingin menggoda Sheila saja.


"I....tuuu....akuu tak tau apa yang saudari katakan"Jawab Sheila dengan wajah yang tersipu malu.


Mei'er pun sedikit tersenyum melihat respon Sheila yang malu malu itu.


"Tapi kenapa dengan pipimu ini,ia tampak memerah Saudari"Tanya Mei'er sambil mencubit pipi kirinya Sheila.

__ADS_1


"Ti...dakkk....Itu tak memerah kok"Jawab Sheila dengan gugup.


"Ayo dong Saudari,bagaimana rasanya semalam.Dan kenapa saudari bisa bersama dengan Tuan tadi malam"Tanya Mei'er dengen penasaran.


Sheila pun akhirnya menjawab pertanyaan Mei'er itu,tapi dengan wajah yang sudah memerah.


"Itu....awalnya aku hanya ingin tidur sama Tuan saja,tapi aku tak tau kalau Tuan akan memaksaku melakukan itu"Jawab Sheila dengan senyum malu malunya.


"Dan Suadari mau melakukan itu"Tanya Mei'er,dan Sheila pun membalasnya dengan mengangguk.


"Kenapa mau?"Tanya Mei'er lagi.


"Rasanya enak"Jawab Sheila dengan polos.


Mei'er pun tak habis pikir mendengar ucapan polos saudarinya ini.


"Padahal dalam segi usia,saudari Sheila ini jauh lebih tua dariku.Tapi kenapa ia sangat polos sekali"Pikir Mei'er.


"Apakah saudariku sudah ketagihan dengan benda Besar Tuan itu"Tanya Mei'er dengan senyum yang menggoda.


Sheila pun tak menjawab ucapan Mei'er,ia hanya menunduk karena sudah sangat malu dan memerah.


Ia memang sudah ketagihan dengan tongkat panjang Ricard.


Mei'er pun tersenyum karena ia sudah menebak kalau Sheila sudah ketagihan akan tongkat Ricard yang perkasa itu.


"Ternyata Saudariku sudah Cabul ya,aku akan memberitau Tuan nanti"Ucap Mei'er dengan main main.


Tentu saja Sheila langsung panik.


Mei'er pun terkekeh dengan respon dari Sheila itu.


"Xixixi....Saudari tenang saja,aku tadi hanya becanda saja kok.Tapi apa memang benar kalau saudari sudah ketagihan dengan benda besar Tuan"Tanya Mei'er lagi.


Sheila pun mengangguk dengan wajah yang menunduk malu.


"Tapi saudari janji kan tidak memberi tau Tuan"Tanya Sheila dengan ekspresi cemberutnya.


"Tentu saja tidak,tapi asal saudari tau Tuan juga menyukai gadis cabul seperti mu saudari"Ucap Mei'er.


Sheila pun sedikit tak percaya akan ucapan Mei'er.


"Saudari pasti bohong"Ucap Sheila.


"Aku tak bohong Saudari,kalau tak percaya Saudari bisa memulainya duluan bersama Tuan nanti"Ucap Mei'er dengan santai.


"Itu tak mungkin,aku sedang dihukum oleh ibu untuk tidak keluar dari kamar sampai ibu selesai menghukumku"ucap Sheila dengan wajah yang lesu kembali.


Mei'er pun langsung tersadar kalau Sheila sedang dihukum oleh Mary Card.


"Maaf Saudari aku kelupaan"Ucap Mei'er dengan terkekeh bodoh.


"Ya tak apa kok saudari,awalnya aku tadi sangat bosan.Tapi rasa bosanku hilang karena suadari menemaniku"Ucap Sheila dengan tersenyum tulus.


~

__ADS_1


Sementara disisi Ricard...


Ricard telah mengantar Clara pulang kemansionnya dan bergegas menuju keperusahaan Pencitra Skin.


Ia berniat untuk menyelesaikan urusan tentang produk yang lagi ditawarkan oleh pihak Amerika.


Tak butuh waktu lama,ia pun sampai diperusahaan dan segera memarkirkan mobilnya ditempat parkiran.


Ia lalu turun dari mobil dan berjalan kedalam Perusahaan dengan santai.


Banyak orang yang membungkuk dan memberi hormat saat melihat kehadiran Ricard,itu karena semua pegawai Perusahaan mengetahui kalau Ricard adalah pemilik Perusahaan Pencitra Skin.


Sekaligus pemilik Perusahaan No 06 Dichina ini,Perusahaan Hotela Com.


Namun saat hendak berjalan kedalam ruangannya,ia tak sengaja melihat kesalah satu ruangan dimana ada anak kecil didalamnya.


"Ruangan Interview,kenapa anak kecil ini bisa ada disitu"Pikir Ricard saat melihat tanda tulisan diatas pintu.


Saat seorang Manager Kepala Staf masuk keruangan itu,Ricard pun memanggilnya dan bertanya.


"Kenapa ada anak kecil didalam ruangan itu"Tanya Ricard kewanita itu.


"Itu Tuan Muda,dia sedang melamar pekerjaan disini"Jawab Manager kepala Staf itu dengan gugup.


Ia sangat tersanjung dan mengagumi akan ketampanan Ricard.


Tapi Ricard malah mengkerutkan keningnya saat mendengar ucapan Manager Kepala Staf itu.


"Apa kau akan menginterviewnya saat ini"Tanya Ricard.


"Benar Tuan.Saya....."


"Cukup,kau bisa pergi sekarang...Biar aku saja yang menginterviewnya"ucap Ricard dengan memotong ucapan wanita itu.


Ricard sedikit penasaran kenapa ada anak kecil yang melamar pekerjaan.


"apa ia kekurangan uang jajan"Pikir Ricard.


~


~


~


( Bersambung )


~


~


~


Ayo dukung karya ini dengan Like dan Vote ya teman teman🄰


Dukungan kalian semangatku😘

__ADS_1


__ADS_2