
Heri Jaya company.
Mawangsa terlihat hanya mampu mengalah kasar nafasnya saat dia mendengar Maya sangat marah dengan cara dan perhatiannya, tidak dia pungkiri seperti apa yang diucapkan Maya semuanya sudah terlambat, dan dia pikirkan apa sekarang baru mau memberikan perhatian sedangkan saat mereka masih menjadi suami dan istri dia mengabaikannya dan menganggapnya tidak penting. 6 tahun bukan waktu sebentar untuk Maya merasakan sakitnya penderitaan atas apa yang dilakukan olehnya belum lagi oleh adiknya dan juga ibunya.
Seharusnya dia cukup tahu diri.
"Semua baik-baik saja?." Arif sudah ada dihadapan nya.
"Dia mengirim balik vitamin dan obat herbal nya," Ucap Mawangsa pelan.
Arif terlihat diam.
Mawangsa kembali ingin bicara tapi tiba-tiba saja seseorang mengejutkan dirinya.
"Kau kenapa masih disini?," dia pikir bukankah seharusnya Shinta sudah kembali ke rumah.
"Aku tidak jadi pulang, ibu ingin aku mampir ke kediaman kalian." Shinta bicara dengan cepat, menatap Mawangsa dengan penuh cinta.
Mendengar ucapan Shinta Mawangsa terlihat diam, dia kemudian menghela nafasnya namun kembali seseorang mengejutkan dirinya.
"Tuan?," seseorang masuk ke dalam ruangan.
"Ada kiriman-," seorang laki-laki masuk dan membawa sebuah paper bag yang tidak lain obat dan herbal yang dikembalikan Maya.
"Letakkan di atas meja sana.". Mawangsa memotong cepat, tidak ingin laki-laki tersebut kebablasan dan berkata jika kiriman itu dari Maya, sebelum ada sinta di sana dan itu akan membuat rumit keadaan.
__ADS_1
Karena itu dia langsung meminta laki-laki tersebut untuk meletakkan paper bag tersebut di atas meja. Laki-laki itu patuh, meletakkan paper bag itu ke atas meja kemudian langsung keluar dari sana.
Arif Yang tahu betul situasi saat ini hanya bisa diam, dia memilih menundukkan kepalanya dan beranjak dari ruangan tersebut, meninggalkan kedua orang yang membuatnya sakit kepala belakangan.
Shinta cukup penasaran atas yang diberikan oleh karyawan Mawangsa, dengan rasa penasaran yang tinggi perempuan tersebut buru-buru menyambar paper bag tersebut dan mengintipnya.
"Obat herbal dan vitamin? sayang apakah kamu ingin mengirim nya untuk ayah? sebagai bentuk perhatian? ohh ini sangat manis sekali, ayah ingin membeli obat ini, sangat mahal dan sulit, rupanya kamu memberikan nya perhatian lebih dulu," Dengan tatapan tidak percaya Shinta bicara, dia terharu atas apa yang dilakukan Mawangsa.
Laki-laki tersebut diam untuk beberapa waktu, pada akhirnya berkata.
"Aku akan minta seseorang mengirimkan nya pada ayah." ucap Mawangsa cepat.
Shinta merasa sangat beruntung karena baginya memang sangat pengertian dan juga tidak pelit terhadap keluarganya, dia seketika mengembangkan senyuman terbaiknya kemudian berkata.
Dan Mawangsa terlalu naif, memilih bungkam atas tindakan palsunya. Meskipun tidak dipungkiri dia harus menyadari saat ini seharusnya fokus nya pada Shinta bukan pada Maya.
"Ada apa dengan mu, Mawangsa?." Dia terlihat kesal dengan keadaan.
*******
Kediaman Heri Jaya, Mawangsa.
"Oh lihat siapa yang datang?." Nyonya Dina terlihat bahagia saat melihat kehadiran Mawangsa dan Shinta, dia masih mengurus makanan di dapur saat mendengar suara deru mobil Mawangsa, tahu Shinta ikut serta jadi buru-buru keluar dari sana.
Posisi tangan masih basah, aroma ikan tercium dari tubuhnya.
__ADS_1
Shinta turun dari mobil dan mendekati ibu Mawangsa, tapi raut wajahnya langsung berubah saat dia melihat sosok calon ibu mertuanya, bau ikan membuat dia mual, tangan yang bisa membuatnya sedikit jijik saat ini namun apa boleh buat dia tidak bisa menampilkan rasa jijiknya karena dia harus menyalami wanita yang akan jadi ibu mertuanya tersebut.
Dia pikir karena belum jadi ibu mertua maka bersikap lah baik dan manis, jika sudah menikah dengan Mawangsa, dia pasti akan protes dan memaki wanita itu karena kondisi kacau dan bau nya.
"Menjijikkan." Batin Shinta.
"Ibu baik-baik saja? senang sekali bisa bertemu ibu lagi hari ini." ucap Shinta sambil mengembangkan senyuman terpaksa nya.
Ekspresi wajah nya dan hati nya sangat berbeda. Shinta benar-benar Perempuan culas, lain di wajah pula di hati.
Dia memeluk ibu Mawangsa dengan terpaksa, menahan nafasnya atas aroma menjijikkan tersebut. Selama hidupnya dia tidak pernah mau ada di dapur mengurus pekerjaan seperti itu, jadi jelas saja dia merasa sangat jijik dengan semuanya. ibu nya bahkan tidak mengizinkan dirinya untuk melakukan pekerjaan memalukan seperti itu, bukankah ada pembantu? kenapa harus repot-repot melakukan hal memalukan seperti itu. Apalagi bukankah ada makanan online? kenapa wanita bodoh itu harus repot-repot memasak?.
Setelah melepas kan pelukan nya, Shinta berkata.
"Aku harus segera pergi ke kamar mandi." Dia mual ingin muntah.
Mawangsa menganggukkan kepalanya, dia pikir mungkin Shinta tidak bisa menahannya sejak tadi.
Ibu Mawangsa terlihat berseri-seri, anak orang kaya yang sangat baik dan manis, mau datang kembali bertamu ke rumah mereka dan dia memasak untuk menghidangkan makanan untuk perempuan baik hati tersebut.
"Dimana Elsa?." Mawangsa bertanya pada ibunya yang menatap punggung Shinta yang menjauh dari hadapan mereka.
"Mengurung diri di kamar, aku meminta nya berhenti bermain basket, dia pikir punya masa depan dengan kegiatan seperti itu? sangat memalukan." ibu nya bicara dengan cepat, mengganti ekspresi nya saat Mawangsa bertanya soal Elsa.
Mendengar ucapan ibu nya, Mawangsa hanya diam dan bergegas untuk menemui adiknya.
__ADS_1