
Restoran xxxxxxxxx,
pusat kota.
Maya menatap sepasang suami istri yang ada di hadapan nya tersebut untuk beberapa waktu, di samping sepasang suami istri tersebut terlihat seorang perempuan juga ikut duduk di sana sembari menundukkan kepalanya. Maya membiarkan netra nya terus memperhatikan ketiga orang yang duduk di hadapan ini tersebut, menunggu salah satu dari mereka untuk bicara kepada dirinya sejak tadi.
"Maafkan putri kami atas apa yang dia lakukan pada mu."
Dan pada akhirnya nyonya Dina berkata begitu membuka suaranya. Tuan Hertanto terlihat hanya bisa melirik kearah Shinta yang sejak tadi menampilkan ekspresi wajah sedihnya. Tulus atau tidak belum ada yang benar-benar mampu melihat nya, tapi yang jelas Shinta hanya mampu menundukkan kepalanya sejak tadi.
"Shinta sama sekali tidak berniat untuk melakukan hal tersebut tapi dia memiliki kepribadian ganda dan dokter telah menyatakan hal tersebut, karena itu kami pikir dia bukan disengaja untuk melakukan hal itu terhadap dirimu, Maya." lanjut wanita paruh baya itu lagi kemudian.
mendengar apa yang diucapkan oleh nyonya Dina membuat Maya menaikkan ujung bibirnya tipis, bukan tersenyum melainkan dia sedikit menghina.
Dia pikir jika bukan karena ajaran orang tua apakah mungkin anak akan menjadi seperti itu? dan lagi siapa yang akan percaya jika Shinta memiliki kepribadian ganda, bagi nya perempuan itu adalah seorang pendusta dan pembohong profesional, dia terlalu muda dan terlalu gampang untuk menipu siapapun orang di sekitarnya termasuk menipu Mawangsa.
"Oh aku cukup terkejut mendengar jika dia memiliki kepribadian ganda." nada bicara perempuan itu terdengar begitu santai, dia mengejek tapi tidak menampilkan raut wajah mengejeknya tersebut.
"Benar, maafkan kami jika Shinta sudah mencoba untuk mencelakaimu dan hampir melukai kamu."
Mendengar kata-kata nyonya Dina, Maya terlihat tertawa kecil.
"Hampir melukai?," dia menaikkan ujung alisnya.
"Apa dia tidak bilang kalau sebenarnya dia sudah melukai ku? bukan soal dia memerintah orang untuk merampas dan menjambret tas ku saja, sebelum nya dia mendorong ku dan berniat membunuh ku di rumah sakit." Maya langsung saja berkata tentang apa yang dilakukan oleh Putri wanita di hadapannya tersebut terhadap dirinya.
"dia hampir saja membunuhku di anak tangga dan menjatuhkanku, tahu nyonya siapa yang menyelamatkanku? Mawangsa." ucap Maya lagi kemudian.
"Jika anda berpikir aku berbohong maka anda bisa menanyakan langsung kepada calon menantu kesayangan Anda tersebut." dan setelah berkata seperti itu dengan gerakan yang begitu tenang tangan kanan Maya meraih minuman yang ada di hadapannya.
mendengar ucapan dari Maya jelas saja membuat tuan Hertanto dan nyonya Dina terkejut, mereka tidak menyangka Jika putri mereka mampu melakukan hal tersebut ditambah lagi mereka sama sekali tidak tahu jika sebelumnya Shinta juga hampir mencelakai Maya.
Nyonya Dina langsung menoleh ke arah putrinya tersebut, dia sebenarnya cukup marah tapi berusaha untuk tidak menampilkan amarahnya di sana, dia kemudian menatap ke arah Maya lantas berkata.
"Maafkan kami, ini benar-benar di luar apa yang bisa kami katakan, ini karena penyakit yang ada di dalam dirinya sehingga kami tidak bisa mengontrol sama sekali pelaku dari Shinta." ekspresi wajah wanita itu menampilkan sebuah penyesalan yang mendalam dia berharap Maya tidak akan melaporkan putrinya atas kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan oleh Shinta.
"Mungkin karena dia anak satu-satunya dari kami makanya dia begitu manja, sehingga tanpa sadar kami melepasnya begitu saja dan tidak mengontrolnya dengan baik dan benar." wanita itu kembali bicara sembari meraih telapak tangan putrinya, dia menatap Shinta dengan tatapan yang begitu hangat dan penuh dengan perasaan sayang.
Bohong jika Maya tidak merasa iri atas perlakuan nyonya Dina pada putrinya. dia pikir mungkin Jika dia masih memiliki orang tua pasti kedua orang tuanya pun akan melakukan hal yang sama, pembelanya jika melakukan kesalahan mencurahkannya kasih sayang dan cinta juga menatapnya dengan perasaan rindu yang mendalam. sayangnya dia sudah tidak memiliki lagi kedua orang tuanya tersebut dan itu tiba-tiba membuatnya sedih.
"karena itu sekali lagi aku katakan aku benar-benar minta maaf atas perlakuan putri kami." masih nyonya Dina berusaha untuk meminta maaf kepada Maya.
"lalu jika aku memaafkan anda akan berpikir aku akan mencabut laporanku terhadap Shinta?," perempuan itu jelas saja pertanyaan seperti itu karena sudah tahu jalan pemikiran dari wanita di hadapannya tersebut apalagi jalan pemikiran licik tuan Hartanto.
dia menaikkan ujung alisnya sembari menunggu jawaban dari kedua orang tersebut.
"kami akan menebus kesalahannya dengan cara apapun tapi kami mohon untuk agar kamu tidak melaporkannya ke polisi dan memenjarakannya." raut wajah penuh kekhawatiran tercetak jelas dari wajah nyonya Dina.
dan percayalah saat mendengarkan apa yang diucapkan oleh wanita di hadapannya tersebut seketika ingin membuat Maya tertawa terbahak-bahak, dia tidak menampilkan ekspresi dan emosinya sama sekali kemudian perempuan itu malah berkata.
"kalau begitu bagaimana jika aku melakukan hal sebaliknya aku akan coba untuk sedikit mencelakai putrimu hari ini dan bisakah kau tidak akan melaporkannya pada polisi?," dia bertanya pada pada perempuan yang ada di hadapannya tersebut kemudian menoleh ke arah tuan Hartanto dia ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh sepasang suami istri tersebut kepada dirinya.
ingin sekali rasanya dia mencoba untuk mencelakai Sinta balik dan dia ingin tahu apakah dia bisa bebas dari kejahatannya.
demi apapun saya mendengar apa yang diucapkan oleh Maya membuat Tuhan Hartanto sedikit berdeham dia mencoba untuk menarik kenapa kayaknya merasa sedikit panas dan gerah saat ini mencoba untuk menahan perasaannya yang berkacamuk menjadi satu.
"tidak seperti itu juga konsepnya Maya," nyonya Dina kembali bicara di mana bisa dilihat Shinta terlihat langsung menatap ke arah maya.
Perempuan itu terlihat tidak suka atas ucapan Maya.
"Huh." Maya terlihat mendengus.
"Konsep nya?," dia bertanya sembari manakah ucapannya.
"Terlalu lucu saat anda berkata bukan begitu konsep nya? apa kalian berdua tidak tahu dia hampir membunuh ku dua kali, bagaimana bisa kalian minta agar aku tidak melaporkan kejahatan putri kalian?," suara Maya sedikit meninggikan ini sangat tidak suka atas ucapan dari wanita di hadapannya.
Nyonya Dina mencoba untuk menarik nafasnya atas apa yang diucapkan oleh Maya, dia kemudian kembali berkata.
"bukankah kami sudah bilang jika putri kami terkena penyakit kepribadian ganda, karena itu rasanya sangat tidak mungkin jika kamu melaporkannya ke polisi ditambah lagi bukan sengaja melakukannya." wanita itu bersikeras berkata jika putrinya sakit dan tidak terima saat Maya berkata seperti itu.
"Kalau begitu seharusnya kalian memasukkannya ke rumah sakit dan membuatnya untuk menjalani terapi pengobatan agar dia sembuh dari penyakitnya dan jangan membiarkannya berkeliaran seperti itu, itu sangat menakutkan." dan kali ini Maya berkata seperti itu sembari mereka setiap kata-katanya seolah-olah dia berkata bagaimana bisa kedua orang tua tersebut sama sekali belum memasukkan putrinya ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan alternatif.
"sangat tidak masuk akal sekali Jika kalian sudah tahu dia memiliki penyakit kepribadian ganda tapi kalian membiarkannya saja bebas berkeliaran ke sana kemari sendirian tanpa pengawasan sehingga dia hampir mencelakai ku dan membuatmu nyaris mati sia-sia." lanjut perempuan itu lagi kemudian.
percayalah apa yang diucapkan oleh Maya membuat kedua orang tua Shinta terdiam.
"apalagi dia memerintahkan dua orang untuk merebut Pasco bukan itu sangat mengerikan sekali? membiarkan dua laki-laki untuk merebutnya dan bagaimana jika mereka mencelakaiku? dia memerintahkan dua orang merebut barang milikku dan kini bisa seenak perutnya meminta keringanan agar tidak dilaporkan?,"
Shinta yang mendengar apa yang diucapkan oleh Maya membuat perempuan tersebut langsung membulatkan bola matanya dan dia menatap ke arah Maya dengan perasaannya berkacamuk menjadi satu juga sedikit dongkal.
"Kau pikir aku memerintahkan mereka untuk merebut tasmu? aku meminta mereka mengambil rekaman bukti yang ada di dalamnya?," mungkin karena terlalu emosional dengan apa yang diucapkan oleh Maya membuat perempuan itu sedikit keceburhan tentang rekaman bukti di mana dia melakukan kejahatan pada Maya saat di rumah sakit tempo hari.
dan percayalah mendengar apa yang diucapkan oleh Shinta membuat Maya langsung menaikkan ujung alisnya.
"Oh look, kalian dengar? dia mengakui kejahatan nya bukan? aku hanya bilang soal tas, bagaimana bisa dia tahu soal rekaman yang ada di dalam tas ku? itu artinya dia memang sengaja membiarkan dua orang tersebut dan membayarnya untuk mencelakai diriku hanya untuk mendapatkan rekaman kejahatannya agar aku tidak melaporkannya pada polisi."
Kena kau.
Maya jelas saja langsung bicara menekan Shinta, dia bahagia karena memancingnya sedikit membuat perempuan itu terpancing dan mengakui perbuatan jahatnya.
Nyonya Dina dan tuan Hertanto cukup terkejut atas apa yang diucapkan oleh Putri mereka, dua orang tersebut langsung menoleh ke arah Shinta dan menatap putri mereka dengan tatapan tidak percaya.
******
Disisi lain,
Heri jaya company,
__ADS_1
ruang kerja Mawangsa.
Laki-laki tersebut terlihat gelisah sejak pagi, dia berkali-kali mencoba untuk menghela nafasnya jangan menunggu informasi dari Arif tentang keadaan Maya.
dia pikir laki-laki tersebut terlalu lama mendapatkan informasi soal Maya dan melaporkan kepada dirinya, terlalu lamban rasanya baginya Arif bekerja saat ini. laki-laki itu terlihat tidak sabaran dan kini mengambil handphonenya, berniat untuk menghubungi Arif saat ini juga. Tapi belum juga dia melaksanakan apa yang menjadi keinginannya tiba-tiba saja pintu depan ruangan kerjanya diketuk oleh seseorang.
bola mata mawangsa langsung menatap ke arah luar menunggu siapa yang akan masuk ke dalam ruangan nya tersebut.
Wajah penuh ketidak sabaran dan juga berbagai macam ekspresi yang terdapat di balik wajah laki-laki tersebut seketika berubah saat dia menyadari siapa yang masuk ke dalam ruangan nya tersebut, dan itu adalah Arif sang sekretarisnya.
laki-laki itu dengan tidak sabaran langsung berkata.
"katakan padaku Apakah kamu mendapatkan informasinya dan bagaimana keadaan Maya saat ini?," dia bertanya cepat pada laki-laki yang ada dihadapannya itu.
Arif padahal masih menggerakkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya ke arah memangsa tapi dia langsung diserang dengan pertanyaan, dia hanya bisa menghela nafas nya dan begitu dia tiba di hadapan mawangsa laki-laki tersebut berkata.
"Ini laporan yang cukup akan mengejutkan anda, tuan." ucap Arif kemudian.
mendengar apa yang diucapkan oleh Arif membuat mawangsa menaikkan ujung alisnya.
"Katakan?," dia jelas aja penasaran dan yang tidak sabaran ingin mendengarkan apa yang diucapkan oleh Arif berikutnya tentang Maya.
"Keadaan nona Maya hingga sejauh ini baik-baik saja, perutnya sedikit terbentur pada bagian mobil, aku cukup khawatir tapi untungnya dokter berkata semua baik-baik saja hanya sedikit benturan kecil dan itu tidak akan mencelakai nona Maya." dan Arif mulai membuka ceritanya dan membuka suaranya dia bicara pada laki-laki di hadapannya tersebut dengan ada yang cukup serius.
Mawangsa mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan oleh sekretarisnya, meski sebenarnya dia tidak sabaran tapi dia mencoba untuk menahan pertanyaan berikutnya dan membiarkan Ari bercerita.
"dua orang mencoba untuk mencelakai dan saat aku menyelidikinya mereka benar-benar suruhan Maya."
Yah yah dia tahu itu dan dia telah melaporkannya pada tuan Hertanto dan juga nyonya Dina, menurut Mawangsa seharusnya Arif tidak perlu lagi bercerita tentang hal tersebut, tapi dia berusaha untuk tetap mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh laki-laki tersebut berikutnya.
"kemudian apalagi yang terjadi?," Mawangsa kembali bertanya kepada Arif.
"Ini tentang sesuatu yang cukup penting soal nona Maya, tuan." dan kali ini ekspresi wajah Arief sangat begitu serius.
"nona Maya, hamil, tuan." ucap Arif kemudian.
Dan percayalah mendengar apa yang diucapkan oleh Arif membuat mawangsa membulatkan bola matanya.
"Apa?," dia jelas saja terkejut mendengar apa yang diucapkan laki-laki tersebut saat ini.
"Kau bilang apa?," tanya laki-laki itu lagi kemudian.
*******
catatan \=
Mak mau novel udah ending? coba mampir ke sini yah Mak.
******
******
Lapangan golf pribadi The king khan's
pusat kota
Paris.
Khan meletakkan bola golf dengan tangan kiri nya, kemudian dia terlihat mulai fokus menatap kearah depan, memainkan stik golf nya secara perlahan untuk beberapa waktu kemudian,
Takkkkkkkkkkk.
Bola menggelinding secara perlahan ke arah depan dalam jarak yang cukup jauh, di mana beberapa orang yang berdiri di sisi kiri kanan dan belakang kanan terlihat menatap fokus ke arah mana pun bola tersebut bergerak hingga pada akhirnya.
"Perfect"
Seseorang bicara kemudian suara tepuk tangan terdengar memenuhi keadaan.
Khan sama sekali tidak menampilkan ekspresi bahagian nya, dia memberikan tongkat golf nya pada seseorang lantas laki-laki tersebut secara perlahan melepaskan sarung tangan miliknya dan bergerak menuju ke arah belakang diikuti oleh seseorang di sisi kanannya.
"Gagal lagi?"
Laki-laki di samping Khan bicara, tidak lama kemudian terdengar derai tawa dari laki-laki tersebut dimana tawa itu terdengar seperti sebuah ejekan.
Cih.
Khan terlihat berdecih, dia melirik ke arah laki-laki disamping nya dan menatap laki-laki tersebut dengan tatapan tidak suka.
"Kau sangat menjijikkan mengeluarkan ekspresi dan ejekan seperti itu"
Khan terlihat kesal, dia terus bergerak ke depan lantas memilih untuk berbelok ke sisi kanan nya.
"Maafkan aku Khan, aku hanya tidak bisa menahan tawa ku"
Pada akhirnya laki-laki disamping Khan menghentikan tawanya, dia tahu seperti nya mood Khan tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Apa perlu aku carikan dokter khusus? aku pikir mungkin kamu terkena penyakit lemah syahwat"
Ucap laki-laki tersebut cepat.
mendengar ucapan laki-laki disamping nya yang sedikit tidak berperasaan membuat Khan menghentikan langkah kakinya dengan cepat.
"Apa kau pikir aku seburuk itu?"
Khan benar-benar tersinggung mendengar ucapan laki-laki di sampingnya itu.
__ADS_1
Pada akhirnya laki-laki tersebut menatap Khan dengan tatapan serius, kali ini dia tidak terlihat main-main.
"Aku benar-benar serius kali ini, Khan...aku pikir pasti ada yang salah dengan milik mu"
Nada bicara laki-laki tersebut benar-benar serius, dia melirik kearah milik Khan untuk beberapa waktu kemudian kembali menoleh kearah Khan.
"32 tahun tapi tidak pernah berdiri sekalipun, apa kau pikir itu baik-baik saja? bagi ku itu benar-benar menjadi masalah yang terlalu serius untuk ku jika itu berlaku pada diriku"
Dan Khan terlihat diam mendengar apa yang di ucapkan oleh laki-laki tersebut.
"Kau punya segalanya, bahkan kau bisa memilih perempuan atau gadis manapun yang kamu sukai, kau tampan dan tidak kekurangan apapun, tapi ketika di bawah sana bermasalah dan tidak pernah bangun, semua yang kamu miliki menurut ku benar-benar sia-sia dan kehidupan mu aku pikir sangat bermasalah"
Kembali laki-laki tersebut bicara, membuat Khan sejenak gelisah.
Orientasi seksual nya benar-benar dipertanyakan saat ini.
"The king of mafia, semua orang takut pada mu, tapi kau......"
Laki-laki tersebut menggeleng-gelengan kan kepala nya khawatir.
"Aku pikir kamu benar-benar butuh dokter khusus untuk saat ini, aku bisa merekomendasikan kamu pada...."
Dan ditengah pembicaraan mereka tiba-tiba saja suara seseorang memutus pembicara, dimana seorang perempuan bicara tergopoh-gopoh dan membuat Khan mengerutkan keningnya.
"Celaka tuan"
Ucap perempuan yang ada dihadapan nya tersebut.
Khan langsung menaikkan ujung alisnya.
"Seseorang membuat kekacauan di depan, dia ingin bertemu anda dan membuat mobil anda terluka parah"
Dan bahasa yang digunakan oleh perempuan tersebut seketika membuat Khan menaikkan ujung alisnya.
"Apa?"
Kata mobil yang terluka seketika membuat bola mata Khan menggelap.
Mobil nya? apa yang terjadi pada mobil kesayangan nya?!.
******
Ruang khusus
Bagian lain lapangan Golf pribadi Khan.
Kemarahan laki-laki tersebut membuncah saat tahu bagian-bagian tubuh dari mobil kesayangan nya terluka para karena seorang gadis muda yang wajah nya sedikit tidak asing untuk nya, kini di sebuah ruangan berukuran tidak lebih dari 4 x 6 meter, Khan terlihat duduk dengan angkuh menaikkan sebelah kaki nya ke atas, menatap gadis di hadapannya tersebut sembari kedua tangan nya naik ke atas tangan kursi sofa.
Laki-laki tersebut menaikkan ujung alisnya sambil menatap tajam ke arah gadis yang kini berdiri sambil menenteng sesuatu di tangan nya.
"Kau ingin cari mati?"
Laki-laki tersebut bicara, menatap tajam kearah gadis dihadapannya tersebut, dia berusaha mengingat wajah tidak asing dihadapan nya, berpikir dimana dia melihat sosok itu sebelum nya. Dia memiliki ingatan yang cukup tajam, butuh waktu beberapa waktu untuk mengingat-ingat.
Bagaikan sebuah gerakan percepatan jarum jam, memutar menyusuri lorong waktu dimulai dari saat ini hingga ke masa kemarin, bergerak cepat bagaikan kaset kusut yang terus merekam memori yang ada di kepala nya, cukup cepat dari beberapa kejadian yang terus berada dalam ingatan nya di
dalam peperangan antar mafia, pertemuan dengan beberapa orang di sekitar nya, klub malam hingga pada akhirnya dia menemukan dimana pernah melihat gadis dihadapannya tersebut.
Gadis yang di buang oleh suami dan kekasih nya.
Dia?!.
Khan mengerutkan keningnya, ingat dengan sosok yang ada dihadapan nya tersebut.
"Menikah lah dengan ku, Mr. Khan"
Alih-alih mendengar Jawa atas kekesalan Khan yang berkata kau ingin cari mati, gadis tersebut tiba-tiba bicara tentang sesuatu yang terdengar sangat tidak masuk akal.
"Apa?"
Khan jelas saja sedikit terkejut, dia menaikkan ujung alis nya sembari berpikir jika gadis dihadapannya tersebut telah melampaui batasan nya saat bicara.
"Apa kau sudah gila?"
Dia bertanya, mendengus kemudian mengejek.
"setelah kau membuat mobilku terluka parah, alih-alih mengganti kerugian nya, kau menawarkan pernikahan pada ku?"
Laki-laki tersebut terlihat mengeram, menjentikkan jemari nya ke arah depan, dimana dua sosok laki-laki dibelakang nya langsung bergerak cepat menuju kearah gadis yang berdiri dihadapan nya, dengan cekatan meraih tubuh gadis tersebut dengan cara yang kasar dan menarik nya kemudian memaksa nya untuk berlutut dihadapan Khan.
Didetik berikut nya gadis tersebut seketika terduduk saat kedua orang itu memaksa nya berlutut di hadapan Khan.
"Apa kau tidak tahu siapa yang kau hadapi saat ini, nona?"
Laki-laki tersebut mencengkeram wajah gadis dihadapannya itu dengan tangan kokoh dan besar nya, mencengkeram nya tanpa ampun dengan sejuta kemarahan nya, dia bertanya dengan bola mata menggelap penuh kebencian saat ingat bagaimana gadis tersebut membuat mobil kebanggaan nya kehilangan bagian kharismatik nya, nada suara Khan terdengar begitu datar, dingin dan lantang, menatap tajam kearah lawan nya dimana dia tidak memiliki kepedulian soal gender sosok yang ada dihadapan nya tersebut.
Dia tidak pernah suka berlaku manis dan baik kepada siapapun meskipun sosok tersebut seorang perempuan sekalipun.
Alih-alih takut mendapatkan tatapan mengerikan dari laki-laki yang ada di hadapannya tersebut, gadis itu malah berkata.
"tentu saja aku tahu, karena itu aku datang sengaja membuat kekacauan hanya untuk membuat sebuah kesepakatan"
Ucap gadis tersebut dengan suara dan tatapan penuh tantangan.
Dan Khan jelas saja cukup terkejut mendengar jawaban apa yang diberikan gadis itu untuk dirinya.
"Kau bilang apa?"
__ADS_1
"Mari membuat kesepakatan pernikahan, aku akan memberikan keuntungan besar untuk mu Mr. Khan, termasuk membuat milik mu menginginkan aku pagi, siang sore dan malam"
Dan nada bicara gadis tersebut penuh dengan keyakinan, menatap tajam balik bola mata Khan dengan penuh tantangan.