
Depertemen xxxxxxx
Pusat kota.
Dalam sebuah ruangan mendominasi berwarna putih terlihat beberapa orang bicara dengan begitu serius sembari menatap antara satu dengan yang lainnya sejak beberapa waktu yang lalu, mungkin tepatnya waktu hampir melewati jam makan siang mereka mendiskusikan dan saling menyepakati kerjasama sejak pukul 8.30 pagi.
cukup lama hingga pada akhirnya tiba pada sebuah kesepakatan yang luar biasa di mana Maya dan beberapa orang yang ada di hadapannya pada akhirnya saling menyalami antara satu dengan yang lain.
"senang bisa bekerja sama denganmu nona Maya, Kami harap kerjasama ini akan berlangsung lama dan tidak ada keluhan yang akan terjadi kedepannya dan kami jamin kami akan membantu hingga selesai proses pembangunan perusahaan yang anda inginkan"
salah satu laki-laki bicara dengan cepat sembari mengembangkan senyumannya ke arah Maya, berita sampai pada kesepakatan bersama di mana pihak departemen pemerintah akan menggunakan setengah lahan daripada tanah yang dimiliki oleh the Malaka company, setengah tambahin lagi akan dibangun pada perusahaan baru dan departemen akan membantu pembangunan tersebut.
mereka saling menerima keuntungan antara satu dengan yang lainnya di mana Maya jelas membutuhkan sokongan dana dan juga perlindungan dari pemerintah dan di mana pemerintah membutuhkan tanah untuk membangun departemen terbaru mereka hingga pada akhirnya mereka benar-benar mencapai kesepakatan bersama antara satu dengan yang lainnya.
"Tentu saja pihak perusahaan juga merasa sangat senang karena bisa bekerja sama dengan departemen pemerintahan, ini pasti akan berjalan dengan lancar dan kita akan terus bekerjasama untuk saling mencapai keuntungan antara satu dengan yang lainnya"
Maya menjawab dengan cepat sembari dia mengembangkan senyumannya hingga pada akhirnya mereka saling menyalami antara satu dengan yang lainnya.
setelah itu gadis tersebut beranjak pergi dari sana dan memilih untuk turun menuju ke arah area parkiran departemen tersebut.
jangan ditanya bagaimana perasaan Maya saat ini karena dia benar-benar tidak menyangka apa yang disarankan oleh bebek sangat berarti dan menguntungkan dirinya, dia pikir berteman dengan orang asing terkadang sama sekali tidak merugikan.
begitu tiba di area parkiran Maya memilih langsung naik ke dalam mobilnya dan melesat pergi dari departemen tersebut, membawa mobil yang melaju dari sana menghubungi Julian, Maya pikir dia perlu merayakan kebahagiaan ini bersama Julia, laki-laki itu selalu ada di sampingnya selama ini, sebenarnya Dave juga, tapi nyata nya Dave terlalu sibuk dengan urusannya dan pekerjaannya di luar kota atau bahkan luar negeri, sehingga membuat dia sulit untuk bertemu dengan laki-laki tersebut belakangan ini.
"Halo?"
Dia bicara dengan nada suara riang begitu mendengar jawaban dari seberang sana.
"oh god katakan padaku apakah kita berhasil? aku menunggu dengan was-was di perusahaan Maya, ini benar-benar membuat jantung ku tidak baik-baik saja"
Dave bicara dengan cepat dari seberang sana saat dia tahu Maya menghubunginya, dia bertanya dengan begitu antusias dan ingin tahu apa yang terjadi pada kesepakatan antara perusahaan The Malaka dan departemen pemerintahan.
"apakah kita berhasil atau gagal?"
dia ingin tahu apakah mereka berhasil atau gagal saat ini, Julian jelas tidak bisa menemani Maya untuk pergi ke departemen, dia harus mewakili Maya untuk mengurus perusahaan Maya di mana gadis tersebut harus membuat kesepakatan dengan departemen pemerintahan, ingin sekali rasanya dia menemani gadis itu, lihat aja keadaan membuat mereka tidak bisa saling berada pada posisi atau tempat yang sama secara bersamaan.
hingga pada akhirnya Julian pasrah menunggu di perusahaan dan menunggu kabar apa yang akan terjadi berikutnya.
"kita berhasil, Julian"
Maya menjawab dengan cepat dalam nada penuh kebahagiaan sembari tangannya sibuk mengendalikan stir mobilnya dan tatapan bola matanya terus fokus ke arah depan.
dan tebak bagaimana ekspresi Julian ketika dia mendengar Maya berkata mereka berhasil.
"Oh my god, Maya'
suara penuh kebahagiaan jelas terdengar di seberang sana, Julian jelas saja menyambut dengan rasa bahagia yang sangat luar biasa, tidak percaya jika Maya mendapatkan kesepakatan kerjasamanya.
"ini benar-benar luar biasa dan membuatku terkejut"
laki-laki itu menjawab dengan cepat.
Maya terkekeh kecil kemudian gadis itu berkata.
"Mari mendapatkan makan malam bersama untuk merayakan keberhasilan kita"
ucap gadis tersebut dengan cepat.
dan hal itu sontak saja membuat Julian langsung menyetujuinya.
"tentu saja kita bisa pergi makan malam malam ini dan menghabiskan waktu bersama"
laki-laki itu berucap dengan cepat penuh kebahagiaan.
__ADS_1
hingga pada akhirnya obrolan mereka berakhir dan Maya menutup panggilan mereka.
******
Restoran xxxxxxxx
pusat kota.
Maya dan Julian memilih sebuah restoran dengan tema klasik, mereka memilih tempat tersebut karena dirasa sangat nyaman dan baik untuk menyantap makan malam bersama dalam momen yang tepat pula.
"kau terlihat cantik malam ini, baby"
Julian memuji penampilan dari Maya, bola matanya menatap kagum ke arah gadis yang ada di hadapannya tersebut.
mendapatkan pujian seperti itu seketika membuat Maya mengembangkan senyumannya.
"terima kasih banyak dan pujian ini membuatku hampir lupa diri"
gue di situ tergede kecil kemudian dia menggandeng lengan Julia dan masuk ke dalam restoran yang ada di hadapan mereka. kedua orang itu terlihat seperti dua sejoli ia melakukan kencan bersama dan ingin menikmati makan malam bersama pula.
ketika mereka melangkah masuk ke dalam restoran tersebut percayalah Julian dan Maya cukup terkejut saat dia melihat sosok Mawangsa dan Shinta berada di ujung sana.
"Oh shi .t kenapa kita selalu bertemu dengan mereka?"
Julian terlihat mengumpan dengan kesah dia menatap ke arah mawangsa dan Sinta yang rupanya telah menangkap kehadiran mereka berdua lebih dulu.
"kita bisa berbelok dan menghindari mereka"
Maya bicara dengan cepat dan berniat untuk membawa Julian berbelok menuju ke arah sisi kirinya, udah punya tanya belum sempat gadis tersebut melakukannya tiba-tiba saja suara Shinta memecah keadaan.
"Kalian disini juga rupanya?"
Benar-benar sial.
pada akhirnya mau tidak mau mereka mengurungkan niat untuk pergi ke sisi yang berbeda di mana rupanya Shinta menarik Mawangsa untuk menyapa mereka.
Julian menggenggam arah telapak tangan Maya, menatap ke arah mawangsa dengan tatapan penuh ketidaksukaan, tidak tahu kenapa dia hanya tidak suka di manapun mereka berada bertemu dengan kedua cecunyuk sialan itu.
dia terpaksa menampilkan ekspresi wajah penuh senyuman menyapa Shinta yang telah menyapa mereka lebih dulu.
"kebetulan sekali bertemu di sini? dua calon pengantin baru yang fenomenal"
Julian bicara, lebih tepatnya dia sedikit mengejek dan tidak percaya jika kedua orang tersebut ada di sana, nyatanya Shinta memang selalu tidak pernah punya rasa malu atas sindiran orang lain.
"oh my God jangan bicara begitu, bukankah kebetulan bertemu? kita bisa memilih tempat duduk bersama dan menikmati makan malam berempat, kita menjadi pasangan couple yang pantas dan sesuai untuk makan malam kali ini"
Demi apapun Julian pikir kenapa perempuan yang ada di hadapannya itu selalu tidak tahu malu.
Mawangsa mengabaikan pembicaraan antara Julian dan Shinta, dia melirik ke arah telapak tangan Julian yang terus menggenggam telapak tangan Maya, laki-laki tersebut terkadang melepaskan genggamannya dan memeluk tubuh Maya dengan cara mengelus bahunya, dimana Maya terlihat biasa-biasa saja dan sama sekali tidak merasa risih atau marah.
Laki-laki tersebut seketika merasa wajahnya sedikit memerah dan dia menata dengan tatapan sangat tidak suka atas perlakuan Julian terhadap Maya, tidak tahu kenapa tapi hatinya terasa bergemuruh, ingin sekali rasanya dia membentak laki-laki di depannya itu, dia benar-benar tidak suka apa yang dilakukan oleh Julian terhadap gadis dihadapannya itu.
Nyata nya dia tidak memiliki daya kemampuan untuk melakukan hal tersebut, lebih memilih untuk diam dan pada akhirnya membuang pandangannya.
"kita bisa makan bergabung bersama, tidak perlu sungkan malam ini aku yang akan mentraktir kalian"
pada akhirnya mawangsa bicara dengan cepat, dia menawarkan kedua orang tersebut untuk duduk di meja sama dengan meja mereka, menikmati makan malam dalam 2 couple bersama.
Maya jelas saja ingin menolaknya dan merasa tidak nyaman jika mereka harus bergabung bersama, nyata nya Julian menyetujui apa yang ditawarkan Mawangsa, seolah-olah sengaja ingin menampilkan keromantisan dihadapan Mawangsa antara diri nya dan Maya.
"itu bagus aku suka kita terlihat akur dan bisa duduk dihadapan meja yang sama"
Maya sejenak memejamkan bola matanya, dia pikir ini benar-benar tidak bagus.
__ADS_1
"kita ada di meja sebelah sini, mari bergabung bersama dan jangan sungkan"
Shinta menyambut dengan antusias langsung menunjuk ke arah meja mereka dan mengajak bergabung Julian juga Maya.
Percayalah makan malam kali ini terasa sangat tidak nyaman untuk Maya di mana dia pikir Mawangsa terus saja melirik karena dirinya dan menatap Julian dengan tatapan yang sedikit mengintimidasi.
Mungkin Julian dan Shinta tidak menyadarinya tapi Maya jelas saja tahu jika Mawangsa seperti nya kurang suka dengan Julian.
"Aku harus pergi ke toilet"
Pada akhirnya Maya bicara dengan cepat, memilih untuk sedikit membebaskan diri dari orang-orang yang ada di hadapannya, dia duduk di dalam toilet untuk beberapa waktu dan memilih untuk menenangkan pikirannya.
Nyata nya merayakan keberhasilan mendapatkan bagian kerjasama dengan departemen pemerintahan tidak berjalan lancar, baginya kedatangan kedua orang tersebut membuat dia kehilangan mood booster nya.
setelah cukup lama berada di dalam toilet Maya langsung keluar dari sana dan berpikir untuk membenahi penampilannya, nyatanya bola matanya sedikit terbelalak kaget saat dia menyadari Shinta rupanya berada di sana tengah membenahi riasannya.
"kau baik-baik saja?"
Shinta yang menyadari kehadirannya seketika langsung bertanya sembari melirik ke arah Maya dari cermin yang ada di hadapannya.
Mendengar pertanyaan dari Shinta jelas saja membuat Maya menaikkan ujung alisnya, dia pikir Perempuan tersebut benar-benar tidak tahu malu.
"aku cukup khawatir dengan keadaanmu saat jatuh di kamar mandi tempo hari, apakah ada cedera kepala atau cedera tubuh lainnya yang masih terasa saat ini?"
perempuan itu sengaja bertanya, selalu berharap jika ada cedera yang tidak diketahui terjadi pada tubuh Maya saat ini setelah jebakan yang dia ciptakan.
"Jika ada bagian yang sakit kalau bisa berkata pada kami, aku akan membayar biaya pengobatannya dengan cuma-cuma"
bisa bisa jadi bicara dengan tidak tahu malu terhadap Maya, membuat Maya seketika mencibir dan mendengus kasar.
"tentu saja aku baik-baik saja jangan khawatir, kau tahu tanah yang kudapatkan menjadi salah satu obat yang membuat tubuh sakitku menghilang begitu saja"
Dan Maya bicara dengan nada sedikit angkuh, dia tertawa kecil, seakan-akan menertawakan kebodohan Shinta yang hampir membunuh nya namun memberikan dia keuntungan besar yang cukup tidak terduga.
"Kau benar-benar membuatku bahagia saat ini, Shinta"
Lanjut Maya lagi.
"tapi aku ingin memberikan sedikit peringatan jika sekali lagi kamu lakukan hal tersebut..."
Dan Maya kembali bicara, di memajukan tubuhnya semberi berbisik ke arah Shinta.
"aku jamin kali ini kaulah Yang akan masuk rumah sakit dengan cara ku sendiri"
dan percayalah ucapan yang dilontarkan oleh Maya seketika membuat Shinta membulatkan bola matanya.
Setelah Maya berkata seperti itu dia langsung mengedip kan sebelah matanya, gadis tersebut berbalik sembari melambaikan tangannya dan keluar dari kamar mandi tersebut dengan ekspresi bahagia, Shinta jelas saja merasa kesal dengan ekspresi yang ditampilkan oleh Maya dan marah besar atas apa yang diucapkan oleh gadis tersebut.
Dia menggenggam erat telapak tangan nya sembari mengeram.
"Kita lihat saja nanti"
Ucap Shinta dengan cara yang licik, di keluar dari toilet secara perlahan , namun sayangnya baru saja dia keluar dari sana tiba-tiba saja dari arah belakangnya seseorang membekap mulutnya dan hidungnya.
Shinta jelas saja terkejut setengah mati dan mencoba untuk memberontak, nyatanya saat dia memberontak tiba-tiba kesadarannya menghilang dan di titik berikutnya dia benar-benar menutup bola matanya secara perlahan.
Disisi lain Maya bergerak keluar, nyata nya semua orang telah selesai dengan kegiatan makan malam mereka dan siap untuk membayar makanan, tapi tiba-tiba saja Maya mengerutkan keningnya saat Mawangsa tahu-tahu bergerak mendekati nya dan laki-laki tersebut bertanya.
"Kamu melihat Shinta?"
Cihh se khawatir itu Mawangsa pada Shinta pikir nya.
"Aku tidak melihat nya"
__ADS_1
Jawab Maya dengan abai dan cepat.