Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Kemarahan Mawangsa


__ADS_3

Maya pada akhirnya mencoba untuk masuk kedalam mobilnya, dia pikir dia tidak mungkin berhasil mengejar para penjambret tersebut ditambah lagi keadaan perut nya tidak baik-baik saja, perempuan tersebut memilih untuk duduk di kursi mobil nya sambil mencoba untuk menarik nafas nya yang tidak baik-baik saja karena efek habis di jambret dan untuk melihat kondisi perut nya saat ini.


Di luar sana dalam beberapa waktu sebelumnya tanpa dia sadari jika Arif sekretaris dari Mawangsa melihat Maya dan beberapa orang yang baru menjauh dari Maya. Dia pikir apakah dua laki-laki yang menggunakan motor tersebut baru saja berlaku tidak baik pada mantan istri bos nya tersebut.


Dia bergerak dengan cepat mendekati Maya untuk melihat apa yang terjadi dan bertanya pada perempuan tersebut, nyatanya saat dia mendekat Maya langsung menutup pintu mobilnya dan perempuan itu langsung menundukkan kepalanya di atas setir mobil miliknya. Arif yang mendekat mengintip dari kaca jendela.


Tokkkkk.


Tokkkkk.


Tokkkkk.


"Nona?," Arif bicara dengan cepat, mencoba terus mengetuk jendela mobil dan mengintip ke arah dalam untuk melihat apa yang terjadi pada Maya.


Maya cukup terkejut saat kaca jendelanya diketuk oleh seseorang buru-buru dia menoleh sembari mengerutkan keningnya, begitu menyadari siapa yang datang dia langsung membuka kaca jendela mobilnya lantas berkata.


"ada apa?," perempuan itu bertanya sembari menetap ke arah Arif.


"Apa Anda baik-baik saja nona? aku melihat dua orang mencoba untuk menarik sesuatu tadi dan aku pikir apakah mereka mengambil barang anda?," Arif bertanya sedikit khawatir.


"Aku melihatnya dari jauh jadi tidak begitu bisa melihatnya dengan jelas, saat aku mencoba untuk mengejar langkah mereka sudah bergerak cukup jauh dari nona." lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.


mendengar ucapan Arin Maya terlihat berpikir Apakah dia harus menjawabnya atau tetap memilih untuk diam, hingga pada akhirnya perempuan itu menjawab.


"mereka merampas tas milikku, bukankah yang sangat kebetulan sekali karena kau ada di sini? Apakah dua laki-laki tadi adalah komplotanmu dan Mawangsa? sengaja untuk merampas tasku dan mengambil bukti yang ada di dalam tas untuk melaporkan kejahatan Shinta?," Maya berkata seperti itu dalam prasangka buruknya karena dia pikir sangat kebetulan sekali dua laki-laki tadi merampas tasnya dan Arif tiba-tiba datang mendekati dirinya.

__ADS_1


Mendengar apa yang diucapkan oleh Maya jelas saja cukup membuat Arif terkejut, dia jadi bingung harus menjawab apa.


"aku pikir ada sedikit salah paham dengan segalanya, aku sama sekali tidak mengenal mereka berdua nona." jawab laki-laki tersebut kemudian.


dia merasa cukup tidak enak karena ditulis seperti itu dan terlalu kebetulan sekali juga dia ada di sana, berada di waktu yang tidak tepat di antara orang yang tidak tepat juga hingga membuat Maya berpikiran buruk tentang dirinya.


"ini hanya sedikit kesalahpahaman aku pergi ke perusahaan xxxxxxxx, baru saja ingin berbelok dan melihat nona karena itu aku langsung berhenti dan melihat kebetulan sekali melihat dua laki-laki yang berlarian seperti mendapatkan sesuatu dari tangan nona karena itu langsung datang kemari dan bertanya," dia mencoba untuk menjelaskan agar tidak terjadi kesalahan pahaman di antara mereka di mana pandangan Maya jelas menatapnya penuh dalam kecurigaan.


"Apakah nona baik-baik saja aku pikir sepertinya nona sakit, wajah nona terlihat pucat apa tidak sebaiknya nona memeriksakan diri nona ke dokter saat ini? rumah sakit tidak begitu jauh dari sini aku bisa mengantar nona saat ini juga." laki-laki itu pikir gue aja maunya terlihat sedikit pucat dan bisa dilihat tangan Maya memegangi perutnya sendiri sembari sedikit meringis.


kekhawatiran tercetak jelas di wajahnya dan Arif pikir dia mungkin harus cepat-cepat menghubungi memangsa saat ini juga dan melaporkan apa yang terjadi saat ini.


Maya yang mendengar ucapan Arif jelas saja langsung menolak dengan ekspresi wajah sedikit tidak suka karena baginya Mawangsa ataupun orang-orang di sekitarnya tidak pantas untuk sok-sokan memperhatikan dirinya karena kini rasa benci yang ada di dalam hatinya untuk Mawangsa sudah mendarah daging, sangat menggunung dan besar. Bagi Maya tidak ada lagi toleransi untuk laki-laki itu ataupun orang-orang di sekitarnya saat ini karena baginya melihat Mawangsa seperti melihat bongkahan sampah dan juga sangat menjijikkan untuk dirinya.


"Tidak usah, pergilah, aku bisa mengurus diriku sendiri." Maya menolak, dia buru-buru langsung menutup jendela mobilnya dengan cepat kemudian mengabaikan laki-laki tersebut.


pada akhirnya dalam balutan kekhawatiran ketika mobil yang dinaiki Maya sudah beranjak pergi, Arif secepat kilat menyambar handphonenya kemudian dia langsung menghubungi Mawangsa.


Cukup lama hingga akhirnya panggilan di ujung sana terhubung.


"Tuan."


*****


Disisi lain,

__ADS_1


Heri jaya company,


ruang kerja Mawangsa.


Mawangsa terlihat fokus pada berkas-berkas yang ada di hadapannya, sesekali zaman-zaman di tangan yang bergerak memegang sebuah pulpen dan terlihat mengkoreksi beberapa berkas yang ada di atas meja tersebut.


hingga pada akhirnya tiba-tiba saja handphone miliknya yang ada di atas meja berdering, membuat laki-laki tersebut mengerutkan keningnya dan melihat ke arah layar handphonenya tersebut.


"Arif?," dia bergumam di dalam hatinya saat menyadari siapa yang menghubungi dirimu karena dia pikir laki-laki itu seharusnya pergi ke perusahaan xxxxxxxx untuk menyerahkan sebuah berkas penting. Biasanya Arif tidak pernah menghubungi dirinya setiap kali keluar melainkan langsung kembali ke perusahaan telah menyelesaikan tugas-tugasnya.


"halo." Mawangsa mengangkat panggilan tersebut dengan cepat.


"Ada apa?," dia bertanya ingin tahu.


Laki-laki tersebut diam, mencoba mendengarkan apa yang diucapkan oleh sang sekretaris nya di seberang sana, pada akhirnya Mawangsa cukup terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Arif pada dirinya.


"Apa?," laki-laki tersebut bertanya sedikit terkejut.


"Bagaimana bisa?," dia panik, bertanya dengan Arif dalam kepanikan mendalam.


"Bawa kerumah sakit dan lihat apa yang terjadi pada nya, ingat pastikan dia baik-baik saja." Mawangsa berpesan dengan cepat.


"Aku belum bisa meninggalkan pekerjaan di sini, pastikan dia baik-baik saja dan terus pantau perkembangan nya." Mawangsa terus bicara.


Cukup lama hingga akhirnya dia mematikan panggilan nya. Mawangsa terlihat mengeratkan rahang nya, dia terlihat benar-benar marah saat ini, secepat kilat langsung menghubungi seseorang diseberang sana.

__ADS_1


"katakan pada ku dimana Shinta?," dan Mawangsa bicara dengan seseorang di seberang sana.


"Jangan buat aku mulai membencinya, katakan pada nya apa yang telah dia lakukan pada Maya?," lanjut Mawangsa lagi kemudian.


__ADS_2