Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Mencoba melenyapkan nya


__ADS_3

Maya cukup terkejut sebenarnya mendengar ucapan Shinta, dia agak memundurkan langkah kaki nya saat melihat ekspresi Shinta yang berubah begitu mengerikan.


Shinta tanpa terduga mencengkeram lengan nya, menyeret nya dengan cepat menuju ke bagian tangga, hal tersebut membuat Maya membulatkan bola matanya karena terkejut.


Shinta pikir dia harus melenyapkan anak yang ada di perut Maya saat ini juga, jika tidak itu akan menyulitkan dirinya. Dia takut jika Maya akan merusak hubungan nya dengan Mawangsa saat laki-laki tersebut tahu Maya hamil saat ini.


"Apa yang kau lakukan?," tanya gadis tersebut dengan cepat ke arah Shinta.


Dia mencoba untuk membuat Shinta melepaskan cengkraman tangan nya pada pergelangan tangan nya, nyatanya alih-alih melepaskan perempuan itu semakin keras mencengkeram nya dan menyeretnya dari posisi mereka ke tangga.


"Kau benar-benar ingin mencoba membunuh ku?," Maya jelas saja bertanya dengan tatapannya sedikit ular yang melihat apa yang dilakukan Shinta pada nya.


"Yah, aku berharap kamu mati dengan cepat." dan tanpa terduga tiba-tiba saja Shinta mendorong Maya dari arah tangga dengan sengaja dan berusaha untuk membuat gadis tersebut celaka.

__ADS_1


Maya spontan terkejut, dia kehilangan pegangan di mana Shinta melepaskan cengkramannya dan mendorongnya dengan cepat ke tangga, dia memejamkan bola matanya, berpikir mungkin dia akan mati setelah ini.


Maya memejamkan bola matanya dan pasrah, namun siapa sangka pula saat Maya terjatuh kemudian berpikir Mungkin dia akan mati terhampar sehingga ke lantai, namun siapa sangka jika tiba-tiba saja seseorang menangkap tubuhnya dan itu membuat Maya terkejut.


Brakkkkk.


"Oh shi-t," dan terdengar sebuah umpatan di mana bisa bayar rasakan tubuhnya ditahan oleh seseorang dan dipeluk oleh seseorang, dan itu membuat Maya langsung membulatkan bola matanya.


Satu sosok seseorang melindungi dirinya dengan cepat dengan tubuhnya, tubuh laki-laki tersebut langsung terhempas ke dinding dengan sempurna.


"Mawangsa?," Maya agak tercekat.


Alih-alih menjawab pertanyaan dari Maya, Mawangsa seketika langsung balik bertanya.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa hmmm?," laki-laki itu bertanya dalam balutan wajah cemas menatap bola mata Jessica.


"Aku baik-baik saja, lalu bagaimana dengan dirimu sendiri," Maya pada akhirnya bertanya pada Mawangsa, bertanya dalam balutan kecemasan sembari bola mata gadis tersebut bertemu pada bola mata Mawangsa.


Laki-laki di hadapannya tersebut memberikan jawaban dengan cepat pada Maya, dalam balutan kecemasan dan kekhawatiran menatap gadis itu untuk beberapa waktu.


"Aku baik-baik saja," ucap Mawangsa cepat.


Mungkin Mawangsa bisa mengabaikan keadaan nya sendiri saat ini, namun tiba-tiba dia pikir siapa yang mendorong Maya untuk beberapa saat hingga pada akhirnya laki-laki tersebut langsung menoleh ke sisi kanannya.


Shinta tampak bergerak dengan cepat mencoba untuk melarikan diri dari sana.


"Shinta-," dan suara Mawangsa seketika memecah keadaan, laki-laki tersebut terlihat marah dan mengeram dengan sempurna.

__ADS_1


dan bayangkan bagaimana ekspresif Shinta, dia baru saja ingin melarikan diri dari sana dengan wajah pusat pasi nya ketika Mawangsa meneriaki namanya.


__ADS_2