Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Kekhawatiran Shinta


__ADS_3

"Apa kamu terlibat dalam semua nya? menyebarkan berita soal aku dan Maya di internet? bahkan menyinggung soal kecelakaan di masa lalu?," Tiba-tiba suara Mawangsa memecah keadaan ketika mereka sudah ada di atas mobil.


Mereka bergerak untuk kembali pulang setelah para wartawan pergi, cukup sulit untuk keluar dari kerumunan wartawan dan itu sangat menyulitkan Mawangsa. Laki-laki tersebut tidak ingin menunda-nunda pertanyaannya pada Shinta, memutuskan untuk bicara saat ini juga tanpa ingin memundurkan keinginan nya bertanya.


Mendengar hal tersebut membuat Shinta cukup terkejut, dia langsung menoleh ke arah Mawangsa dengan cepat.


"Apa?," tanya nya dengan perasaan gelisah, bola matanya tidak berani menatap bola mata laki-laki yang ada di hadapannya tersebut, takut jika kebohongan diketahui oleh laki-laki tersebut.


"Jangan membohongiku dan bicara dengan jujur Shinta, kamu tahu sendiri jika aku paling tidak suka dengan orang yang suka berbohong," Lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian sembari menatap tajam kepada Shinta.


"Tentu saja tidak, bagaimana mungkin aku melakukan hal bodoh seperti itu," Shinta jelas saja menjawab dengan cepat, terlalu sempurna untuk nya berkelit dan berbohong, memanipulasi keadaan atau bahkan membuat orang-orang percaya pada dirinya.


"Itu jelas saja bukan pekerjaanku, jangan menuduh ku seperti itu sayang," Shinta terus tidak mungkin mau mengakui kejahatannya, dia mencoba mengiba, menyakinkan Mawangsa, mengeluarkan ekspresi wajah sedih dan terluka nya.


"Kamu mengenalku dengan baik bukan?


selama bertahun-tahun? bagaimana bisa kamu tidak mempercayai dan lebih mempercayai gosip-gosip yang beredar? kamu tahu sendiri bagaimana aku selama ini, jangan kan untuk melukai Maya, bahkan seekor semut saja aku tak mampu membunuhnya."


Begitu pintar dia membuat Mawangsa mempercayai dirinya, menyakinkan laki-laki tersebut jika dia tidak terlibat, mengeluarkan sedikit air mata buaya nya.


"Kamu tega sekali mengatakan hal seperti itu kepada diriku seolah-olah aku adalah tersangka besar dalam semua keadaan," Dan kini Maya terlihat menatap Mawangsa dengan penuh kekecewaan peserta dia mengeluarkan air mata buayanya, perempuan itu menangis pura-pura dan sedikit meninggikan suaranya, hingga pada akhirnya membuat Mawangsa merasa cukup bersalah.


"Apa kamu masih mencintai Maya? hingga terlihat sekali kamu membelanya seakan-akan akulah yang bersalah di sini." tambah Shinta lagi kemudian.


Mawangsa pada akhirnya menghela pelan nafasnya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menuduh kamu, hanya saja keadaan ini membuat ku sedikit rumit Shinta," Mawangsa bicara dengan cepat, mencoba untuk meminta maaf kepada perempuan yang ada di hadapannya tersebut, dia tahu apa yang diucapkan nya mungkin membuat Shinta cukup tersinggung tapi tidak tahu kenapa dia cukup gelisah setiap kali menatap bola mata perempuan dihadapan nya tersebut.


Gelisah bukan berarti dia jatuh cinta atau mencintai Shinta tapi pada sesuatu yang aneh baginya saat ini terhadap perempuan yang ada di depannya itu. Tapi Mawangsa berusaha untuk tidur mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya saat ini. Memilih diam mungkin menjadi bagian paling bagus dan paling baik untuk dirinya daripada berkoar-koar atau berkoak-koak.


"aku sungguh-sungguh minta maaf atas samping aku ucapkan barusan dan bukan aku bermaksud untuk mencurigai kamu, aku benar-benar minta maaf." lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian sembari membujuk sang calon istrinya tersebut.


Shinta yang terus mengeluarkan air mata palsunya berusaha untuk terus pura-pura merasa bersedih dengan keadaan tapi dia cukup senang memangsa meminta maaf kepadanya dan mencoba untuk membuang kecurigaan kepada dirinya saat ini dan itu sangat melegakan hati.


sekarang aku mohon jangan bersedih seperti ini dan aku benar-benar minta maaf atas segala tuduhan yang telah aku berikan tadi." Ucap Mawangsa lagi.


"aku tidak akan pernah mencurigaimu lagi."


Mendengar apa yang diucapkan oleh laki-laki di hadapannya tersebut seketika membuat Shinta langsung menghapus air matanya secara perlahan kemudian dia buru-buru mengembangkan senyumannya sangat senang saat tahu Mawangsa berjanji tidak akan mencurigainya lagi, perempuan itu langsung memeluk Mawangsa dengan manja kemudian berkata.


"tentu saja aku memaafkanmu jadi jangan menjerithiku lagi, sayang." ucapkan dengan gaya yang begitu centil dan genit.


Mawangsa memilih untuk diam dan tidak lagi mengeluarkan suaranya, laki-laki itu fokus menatap ke arah jalanan dan tidak melanjutkan obrolan dengan perempuan di sampingnya itu. pikiran laki-laki tersebut berkacamuk menjadi satu.


*******

__ADS_1


Heri Jaya company,


ruang kerja Mawangsa.


Shinta memilih mengikuti Mawangsa, dia tidak ingin pulang ke rumah atau pergi kemanapun saat ini, lebih memilih untuk pergi bersama Mawangsa dan berada di perusahaan laki-laki tersebut saat ini, perempuan itu membiarkan Mawangsa sibuk dengan urusan pekerjaannya sedangkan dia lebih memilih untuk duduk bersantai di kursi sofa sembari memainkan handphonenya.


Entah sudah berapa lama dia ada di sana hingga pada akhirnya Shinta menggeser handphonenya dari hadapannya dan meletakkannya ke atas meja, bola mata perempuan itu kini menatap ke arah Mawangsa untuk beberapa waktu. Shinta seolah tengah memikirkan sesuatu sejuk tadi hingga pada akhirnya dari arah pintu masuk tiba-tiba datang seseorang.


Itu adalah Arif, sekretaris Mawangsa.


"Tuan," Begitu Arif sudah ada di hadapan Mawangsa laki-laki tersebut bicara sambil menundukkan kepalanya.


Mawangsa yang tadinya masih sibuk dengan pekerjaannya kali ini langsung menghentikan gerakan tangannya sembari dia menatap ke arah Arif dan menunggu laki-laki dihadapan nya tersebut bicara.


"Katakan," ucap Mawangsa cepatnya.


"proyek terbarunya berjalan dengan baik sesuai dengan keinginan tuan dan kita akan menandatangani pada esok hari," Arif memberikan laporan awal pekerjaan yang dikerjakannya saat ini.


Mawangsa terlihat menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"kamu bisa membuatkan jadwal untuk penandatanganan kerjasamanya besok," Mawangsa menjawab dengan cepat ucapan dan laki-laki di hadapannya tersebut.


"Baik tuan." Arif kembali bicara sembari menundukkan kepalanya.


"Coba selidiki siapa yang mencoba untuk menyebar gosip dan membuat berita di Instagram hari ini soal aku dan Maya." tiba-tiba saja Mawangsa meminta hal tersebut kepada sekretarisnya.


"Baik tuan," paham dengan apa yang dimaksud oleh sang tuannya, Arif kembali mengganggukan kepalanya dan menundukkan sedikit tubuhnya ke arah Mawangsa.


kemudian laki-laki tersebut dengan cepat langsung bergerak menjauh dari hadapan Mawangsa, bergerak keluar dari tempat tersebut.


Shinta sendiri yang melihat dan mendengar obrolan Mawangsa seketika cemas, menatap Arif yang menjauh dan keluar dari sana kemudian melirik kearah Mawangsa. Shinta memejamkan bola matanya sejenak sambil mencengkeram ujung pakaiannya, dia mencoba bergerak dari posisinya kemudian berusaha mendekati Mawangsa.


Didetik berikutnya setelah berada di samping Mawangsa, perempuan itu menghela kasar nafas nya lantas dia berkata.


"Sayang katakan pada ku, apa yang akan kamu lakukan jika menemukan dalang dan pelaku penyebar berita nya?," dia bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi pada laki-laki yang ada di sampingnya tersebut.


Mawangsa yang kembali ingin melanjutkan pekerjaannya seketika langsung menoleh ke arah Shinta, dia menatap perempuan tersebut untuk beberapa waktu hingga pada akhirnya dia berkata.


"Semua tergantung-," laki-laki itu sengaja menjeda kalimatnya sembari bola matanya terus menetap bola mata cinta tanpa ingin melepaskan pandangannya.


Shinta terlihat mengerutkan keningnya untuk beberapa waktu.


"Maksudnya," tanya perempuan tersebut cepat.


"Karena ini bukan kasus ku, dan ini adalah kasus Maya, maka aku akan membiarkan Maya yang memutuskan hukuman nya." Jawab Mawangsa cepat.

__ADS_1


Mendengar apa yang di ucapkan Mawangsa, seketika Shinta terdiam, dia mencoba menahan jantung nya yang tiba-tiba berdetak dengan kencang.


"Kamu kenapa bertanya seperti itu?," Mawangsa bertanya, menatap dalam wajah Shinta.


Melihat tatapan dari memangsa dan pertanyaan dari laki-laki tersebut jelas saja membuat Shinta agak gelagapan.


"Ah...aku hanya bertanya, tidak lebih. Ingin tahu keputusan apa yang akan kamu buat saat mengetahui siapa pelaku dari penyebar gosip dan berita di Instagram tersebut." Dia sedikit gugup dan mencoba untuk berkeliling membuang pandangannya kemudian kembali berkata.


"Aku harus segera pergi ke kamar mandi sekarang." Ucap Shinta dengan cepat.


Pada akhirnya Shinta bergerak ke arah kamar mandi dengan perasaan khawatir, perempuan tersebut cukup gelisah dengan keadaan di mana dia tahu Mawangsa saat ini tengah menyelidiki siapa dalang di balik semua penyebar berita di Instagram. Hal ini jelas tidak membuat Shinta baik-baik saja karena dia pikir jika laki-laki tersebut mengetahui tentang dirinya yang terlibat dalam hal tersebut dan juga kisah masa lalu 6 tahun yang lalu ini pasti tidak baik-baik saja untuk hubungan mereka.


Perempuan tersebut terlihat mengencangkan pegangannya pada sisi kiri dan kanan wastafel yang ada di hadapannya tersebut, pikirannya melanglang buana kemana-mana dan mencoba untuk menenangkan dirinya sejenak atas rasa khawatir yang terus menghantamnya.


"Tenang dan jangan gegabah." dia mengeratkan rahang sambil bicara di dalam hatinya untuk beberapa waktu.


Ditengah berbagai macam pemikiran yang menghantam dirinya seketika perempuan itu terkejut setengah mati saat handphone yang berdering, Shinta nyaris melompat dan terjatuh di kamar mandi tersebut, membuat jantung Shinta berdetak begitu kencang dengan keadaan.


"Sial." perempuan tersebut mengumpat didalam hatinya.


Buru-buru dia menyambar handphonenya lalu mengangkat panggilan tersebut secara perlahan, Shinta menatap ke layar handphone nya ingin melihat siapa yang menghubunginya.


"Windi?" dia mengernyitkan dahinya, mengangkat panggilannya dengan cepat melalui headset bluetooth-nya.


"Ada apa?," perempuan itu bertanya.


"Shinta celaka," Bisa didengar suara Windi di seberang sana yang terlihat panik dan juga gelisah.


"Bantu aku, Shinta." kembali terdengar suara Windi yang mengiba meminta bantuannya.


"Ada apa?," Shinta jelas saja bertanya sedikit heran dia terkejut karena perempuan di sebelah sana terdengar begitu panik.


"Aku pikir aku nyaris ketahuan." ucap Windi lagi kemudian.


"Apa?," dan mendengar ucapan Windi jelas aja membuat Shinta terkecil setengah mati.


"Mereka mulai meng'tag nama ku jika aku yang menyebarkan kasus di Instagram soal Maya dan Mawangsa."


"Oh sial." Shinta hanya bisa mengumpat didalam hati nya.


Yah saat ini Mawangsa jelas sedang mencari tahu tentang seluruh keadaan melalui sekretarisnya, dia pikir penyelidikan mungkin akan memakan waktu yang cukup lama tapi siapa tahu dan siapa sangka tidak butuh waktu yang cukup lama hanya dalam beberapa jam saja Arif sudah berhasil menguasai keadaan, seolah-olah tahu dengan baik jika Windi pelakunya.


"Katakan pada ku, apa yang harus aku lakukan? bagaimana jika penyelidikan mereka berhasil dan membuatku tersenyum dengan keadaan?," Windi jelas aja sangat panik di seberang sana dia mencoba bertanya dan meminta Shinta untuk membantunya.


"jika aku benar-benar ketahuan maka bantu aku untuk keluar dari keadaan,"

__ADS_1


Shinta sama sekali tidak menjawab ucapan dari perempuan di seberang sana dia memilih diam sembari memfokuskan pandangannya ke arah kaca yang ada dihadapan nya.


__ADS_2