Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Jatuh pingsan


__ADS_3

Maya jelas saja terkejut setengah mati saat dia menyadari Mawangsa telah berdiri tepat di hadapan, laki-laki tersebut terlihat basah kuyup mengingat cuaca saat ini jelas tidak baik-baik saja dan hujan deras turun di luar sana.


"kenapa kau ada di sini?," Maya jelas saja bertanya sembari mengerutkan keningnya, perempuan itu terlihat begitu ancang-ancang untuk berusaha menutup pintu rumah nya.


Dia juga tidak sudi laki-laki tersebut bertandang dan bertamu ke kediamannya di jam yang tidak masuk akal seperti ini.


Alih-alih menjawab ucapan Maya, ini bola mata mawangsa tertuju pada perut perempuan tersebut, kegelisahan mengancam dirinya dan terlihat jelas di balik bola mata laki-laki tersebut betapa dia terus memperhatikan perut Maya.


tidak tahu kenapa jutaan rasa bersalah tiba-tiba menghantam dirinya, di mana laki-laki terpikir apakah mungkin itu benar-benar bayinya. Menunggu Arif untuk memeriksa tentang siapa ayah biologis anak di kandung Maya jelas saja bukan pilihan yang mudah.

__ADS_1


Dalam lamunan panjangnya tiba-tiba membuat Mawangsa sedikit terkejut mendengar ocehan Maya, di mana dia tahu perempuan itu seolah-olah menunggu waktu untuk mengusirnya.


Mawangsa pada akhirnya mencoba untuk menjawab ucapan dari Maya, dia menatap wajah perempuan tersebut untuk beberapa waktu.


"Maya aku pikir aku tidak baik-baik saja." Mawangsa tiba-tiba saja bicara seperti itu membuat Maya mengurus mengerutkan keningnya.


Perempuan tersebut pikir Apakah ada sesuatu yang salah pada Mawangsa, sebab dilihat wajah laki-laki tersebut cukup pucat dan keadaannya jelas basah kuyup serta tidak baik-baik saja.


Mawangsa bahkan merasa suhu tubuhnya sedikit tinggi, dia mungkin butuh tempat untuk istirahat siang ini dan mungkin pilihannya berada di depan emaknya sebenarnya kurang baik tapi dia tiba-tiba merasa merindukan perempuan tersebut dan mencoba untuk mengunjungi ayah kemudian berpikir ingin sekali bicara panjang lebar dengan Maya.

__ADS_1


Maya yang melihat Mawangsa memajukan tubuhnya jelas membuat dia cukup terkejut, dia sedikit memundur kan langkahnya. Tapi biasanya saat dia mengundurkan tubuhnya tiba-tiba saja memang meraih tangan nya dengan cepat dan laki-laki tersebut tahu-tahu langsung terjatuh ke arah tubuh Maya dan laki-laki tersebut nyaris ambruk ke lantai.


Maya kening Mawangsa menyentuh permukaan kulit wajahnya membuat Maya mengerutkan keningnya dalam. Bisa dia rasakan jika tubuh laki-laki itu tidak baik-baik saja alias panas, dia pikir sepertinya Mawangsa demam. Maya jelas saja langsung berkata.


"Apa kau baik-baik saja? aku rasa tubuhmu cukup panas, sebaiknya pulang lah dan segera pergi ke dokter." Maya bicara dengan cepat menyarankan laki-laki itu agar segera ke dokter.


Mawangsa sama sekali tidak menjawab ucapan perempuan tersebut sebab dia merasa kepalanya sangat pusing saat ini, dia meminjamkan bola matanya secara perlahan dan membiarkan dirinya dipeluk oleh perempuan di hadapan tersebut.


Rasa panas memang menyelimuti tubuhnya saat ini, dan dia pikir dia hanya butuh sedikit istirahat saja setelah itu dia pasti baik-baik saja.

__ADS_1


Namun siapa sangka tiba-tiba saja Mawangsa jatuh ambruk tidak sadarkan diri.


"Akhhhhh Mawangsa?." Maya jelas saja panik setengah mati, dia tidak mampu menopang tubuh laki-laki tersebut di mana pada akhirnya tubuh laki-laki itu melorot dan jatuh ke lantai.


__ADS_2