Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
laki-laki mesum


__ADS_3

Maya terlihat menatap sebuah bangunan megah yang menjulang tinggi hampir menembus langit cakrawala, dia tanpa sedikit ragu-ragu untuk keluar dari mobilnya saat ini karena hujan turun begitu deras.



Vegalta company.


itu adalah perusahaan yang menjadi tujuannya saat ini.


dia bertekad untuk menyelesaikan semua urusan perusahaannya sendiri tanpa harus meminta bantuan kepada orang lain, selain karena dia takut merepotkan orang lain dia berpikir sudah sepantasnya sebagai seorang CEO dia harus bisa mandiri dan melakukan segala sesuatu tanpa harus bergantung kepada orang lain.


hingga akhirnya di sinilah tempatnya, dia harus menyelesaikan kontrak kerjasama yang bermasalah.


hujan deras yang mengguyur ibukota sejak tadi membasahi setiap sudut jalanan, pada akhirnya membuat Maya dengan cepat keluar dari mobilnya dan melangkah menuju ke arah gedung yang ada di hadapannya tersebut.


dia yang tidak membawa payung jelas langsung basah kuyup karena hujan begitu deras tanpa memberikan jeda waktu sedikit pun untuk mengguyur bumi.


begitu dia tiba di dalam gedung tersebut gadis itu langsung mencoba untuk menahan rasa dingin yang menyelimuti dirinya, dia pikir setelah urusannya selesai dia harus segera pulang untuk berganti pakaian.


Maya secepat kilat langsung masuk ke dalam gedung itu tanpa berpikir dua tiga kali, dia tahu hari sudah cukup gelap dan para karyawan jelas telah kembali sejak tadi, namun yang ingin dia temui jelas bukan karyawannya melainkan sang pemilik perusahaan tersebut.


dia harus dengan cepat menyelesaikan seluruh urusan tanpa mesti mengulur waktu lebih lama lagi.


gadis itu terus melangkah menyusuri gedung besar tersebut dan mencari sosok CEO Vegalta company, sebab sebelum dia datang ke perusahaan tersebut dia telah melakukan janji temu dengan laki-laki tersebut.


ketika Maya terus menyusuri gedung tersebut dan mencari ruangan di mana dia harus mencari laki-laki itu seketika dia menghentikan langkahnya saat dia melihat beberapa orang tampak duduk mengelilingi sebuah meja mendominasi berwarna hitam.


Maya terlihat mengurutkan keningnya ketika dia sadar siapa saja yang ada di sana.


terdapat empat orang pria yang tengah tertawa sambil bermain Mahyong, dan bisa ditebang salah satunya adalah CEO Vegalta company.


pada akhirnya mau tidak mau Maya menghampiri 4 orang tersebut yang sibuk bermain Mahyong itu.


begitu tiba di hadapan keempat laki-laki tersebut Maya langsung menundukkan tubuhnya dan memberikan sedikit penghormatan kepada empat laki-laki tersebut yang usianya jelas sudah cukup tua.


"Oh... apakah ini adalah putri Bambang?"


seorang laki-laki bertanya ke arah Maya sembari menelusuri seluruh anggota tubuhnya.


Maya langsung menatap ke arah laki-laki tersebut kemudian mengerutkan keningnya, dia baru sadar siapa laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Paman Sam?"


Maya bertanya Sembari mencoba untuk bertanya karena takut dia salah.


yang dipanggil sama seketika terkekeh dia kemudian menjawab.


"aku pikir kau lupa denganku, aku dan ayahmu berteman cukup lama dulu"

__ADS_1


Maya tahu laki-laki itu sering mondar-mandir ke rumah mereka di masa kejayaan ayahnya, dia paling gampang menghafal seseorang bahkan mengingat soal seseorang.


"Yah tentu saja aku ingin betul dengan paman"


jawab Maya yang kemudian.


"Bahkan dua paman yang lainnya pun aku ingat betul"


Tambah Maya lagi.


mendengar jawaban Maya mereka mengganggu-ganggu kan kepalanya hingga akhirnya satu laki-laki yang tidak Maya kenal berkata.


"Bergabung lah kemari, Mari bermain Mahyong bersama kami untuk beberapa waktu"


ajak laki-laki tersebut dengan cepat.


Maya jelas langsung bisa menebak siapa laki-laki, dia adalah CEO Vegalta company, laki-laki yang seharusnya dia temui empat mata untuk membahas soal perusahaan mereka.


"kita akan membicarakan soal perusahaan setelah bermain mahyong"


lanjut laki-laki tersebut kembali.


Maya jelas saja menolaknya karena dia tidak pernah bisa dan tidak pernah pandai dalam permainan Mahyong.


"Maaf tuan, aku sama sekali tidak pandai cara bermain Mahyong, takutnya malah akan kalah dan mempermalukan diriku sendiri di hadapan kalian"


namun alih-alih mendengarkan penolakan dari Maya, CEO Vegalta company malah bersikeras mengajak Maya untuk terus bermain mahyong.


"Ini tidak akan memakan waktu terlalu lama, aku akan mengajarkanmu untuk bermain mahyong"


"Tapi tuan...?"


"Baskoro, kau bisa memanggilku Baskoro"


Ucap laki-laki pemilik Vegalta company tersebut.


"Maaf tuan Baskoro, aku benar-benar tidak bisa bermain Mahyong"


ucap Maya lagi.


"Ayolah, anggap saja ini adalah jalan menuju kerjasama kita berdua, menyetujui untuk bermain mahyong akan semakin mempercepat urusan kerjasama kita"


mendengar ucapan laki-laki tersebut seketika membuat Maya terdiam untuk beberapa waktu, akhirnya demi kontrak kerjasama gadis tersebut menganggukan kepalanya disetuju untuk mengikuti permainan Mahyong, meskipun tidak dipungkiri dia sebenarnya sama sekali tidak begitu pandai dalam permainan tersebut.


akhirnya gadis itu duduk tepat di samping tuan Baskoro, mereka memulai permainan mahyong dengan sangat rapi dan teratur, awalnya nyaris tidak ada obrolan yang terjadi di antara Maya dan semua orang, hanya orang-orang itu yang saling mengobrol antara satu dengan yang lainnya sedangkan Maya hanya mengangguk-anggukan kepalanya atau tersenyum.


__ADS_1


hingga beberapa waktu berlalu Tuhan Baskoro tiba-tiba bertanya soal dirinya dan pernikahannya dengan Mawangsa.


"katakan padaku apa alasan kalian memilih untuk bercerai?"


tuan Baskoro tiba-tiba langsung bertanya pada intinya soal hubungan dirinya dan memangsa dan apa alasan dirinya yang bercerai.


mendapatkan pertanyaan dari laki-laki tersebut seketika Maya menghela Pelan nafasnya.


"Kami memutuskan bercerai karena hubungan kami tidaklah sebaik pertama kali kami bertemu"


jawabnya dengan nada begitu santai dan ramah, Maya mengembangkan senyumannya kemudian kembali berusaha untuk melihat permainan Mahyong nya.


sebenarnya dia cukup risih saat orang-orang bertanya soal perceraiannya dengan Mawangsa.


mendengar ucapan Maya tuan Baskoro seketika merapatkan tubuhnya ke arah gadis tersebut, dia menyumbangkan senyumnya yang penuh dengan tanda tanya.


Maya masih tetap fokus dengan permainannya sama sekali tidak menaruh sedikitpun kecurigaan, hingga akhirnya dia merasa seseorang mencoba meraba pahanya.


Maya jelas langsung menghentikan gerakan tangannya bermain Mahyong, dia mengurutkan keningnya lantas langsung menoleh ke arah kanannya di mana tuan Baskoro tengah duduk di sampingnya.


gadis tersebut langsung melihat ke arah pahanya, di mana dia bisa melihat laki-laki tua tersebut mencoba untuk meraba-raba pahanya.


ini memang soal kerjasama tapi bagi Maya ini jelas adalah harga dirinya, dia langsung marah dan merasa tidak terima.


"Apa yang kau lakukan tuan?"


Maya langsung meninggikan suaranya, orang-orang lain langsung menoleh ke arah dirinya.


"Kau mencoba untuk melecehkan ku?"


ucap Maya lagi dengan wajah penuh kemarahan.


Alih-alih merasa bersalah laki-laki tersebut malah terkekeh dan berkata,


"Kau tidak usah jual mahal"


What?!.


bayangkan bagaimana perasaan Maya saat dia mendengar ucapan laki-laki yang ada di sampingnya tersebut.


tanpa berpikir dua tiga kali maya langsung mengambil sebuah teko yang sejak tadi memang diletakkan di dekat meja permainan mahjong.


gadis tersebut telah bersiap untuk memukul kepala laki-laki itu dengan teko air yang kini berpindah di tangannya.


namun belum juga dia bisa melancarkan aksinya di tengah kemarahannya tersebut, tiba-tiba saja terdengar suara seorang laki-laki dari belakangnya.


"Jangan melakukan itu"

__ADS_1


seketika Maya menghentikan gerakan tangannya, dia pikir dia mengenal betul suara seseorang dibelakang nya Tersebut.


__ADS_2