
"Yakkkk kenapa kau ingin tahu sekali dengan seluruh urusanku brengsek?"
rupanya saat ini Maya telah mabuk parah, dia sudah tidak bisa membedakan siapapun yang ada di hadapannya, bahkan saat mawangsa bertanya kepada dirinya perihal soal kenapa dia mengalah dalam permainan kartu, dia pikir itu hanya halusinasinya dan seseorang yang terlalu ingin ikut campur dengan urusannya.
"Heiii pergilah menjauh bodoh"
tiba-tiba Maya menarik kerah baju Mawangsa, gadis tersebut berusaha untuk membiarkan bola mata mereka saling menatap antara satu dengan yang lainnya di mana saat ini wajah mereka nyaris bertemu dengan jarak yang hanya bisa diukur dengan jari.
"kau....yah kamu, kenapa kamu sangat mirip sekali dengan laki-laki sialan itu? Ohhh bahkan di dalam keadaan aku mabuk pun wajah laki-laki itu benar-benar membuatku stress parah"
ucap Maya kemudian sembari mencoba menggeleng-gelengkan kepalanya, dia kemudian kembali berkata.
"karena kau mirip dengannya maka aku akan mengatakan sesuatu kepadamu, kau tahu orang yang mirip denganmu itu adalah mantan suami ku"
saat Maya terus bicara ngelantur, mawangsa mengerutkan keningnya sembari berpikir jika gadis yang ada di hadapannya tersebut benar-benar mabuk parah.
"Baiklah aku mirip mantan suami mu"
Ucap Mawangsa kemudian, laki-laki tersebut menelisik bola mata Maya untuk beberapa waktu, entahlah rasanya tiba-tiba dia merasa berdebar-debar saat melihat bola mata gadis tersebut saat ini.
"aku akan memberitahukanmu satu rahasia besar soal mantan suamiku"
Maya bicara cepat sembari terkekeh kecil kemudian dia melirik ke arah bawah milik mawangsa.
"apa kau percaya jika miliknya sama sekali tidak hidup? dia itu impoten....catat IMPOTEN"
bisa-bisa nya gadis itu berkata begitu dihadapan Mawangsa, Bahkan saat mengatakan kata impoten, Maya sengaja menguatkan suaranya kemudian kembali terkekeh mengejek.
"Apa?"
Mawangsa jelas terkejut dan kesal.
"Kau bilang apa?"
"Bayangkan saja 6 tahun menikah dia tidak menyentuh ku bahkan tidak disini.."
Teetttt.
seketika tangan kanan Maya menyentuh kasar Dada Mawangsa, dia sengaja melebarkan telapak tangan nya kemudian memelintir dada laki-laki tersebut, Membuat Mawangsa membulatkan bola matanya sembari laki-laki tersebut berusaha untuk sedikit menahan gerakan tangan Maya yang memelintir dadanya.
"Disini"
lagi Maya tiba-tiba menyentuh bagian perut mawangsa.
"Kau.."
lagi laki-laki tersebut terkejut, bola matanya semakin membulat.
Dan tiba-tiba bisa dia lihat telapak tangan Maya ingin melesat menyentuh dengan kasar junior nya.
"Yakkk hei...Maya"
Buru-buru laki-laki tersebut menahan telapak tangan Maya.
Fuhhh.
Nyaris saja.
Batin Mawangsa.
__ADS_1
"Bayangkan dia sama sekali tidak pernah menyentuhku dari dari dada bahkan sampai ke bawah sana, bahkan dia juga tidak pernah menciumku"
Maya terus bicara ngelantur.
"jika bukan impoten memangnya apa lagi? aku ini gadis polos yang bahkan masih perawan, catat Perawan dan bodoh nya laki-laki itu tidak pernah memuaskan ku"
setelah berkata begitu Maya tertawa terbahak-bahak.
"ya tentu saja dia seorang laki-laki impoten, jika dia pria normal mana mungkin dia menahan nya hingga 6 tahun, ckckckck aku benar-benar tidak beruntung menikah dengan nya itu bodoh"
Mawangsa jelas mendengus tidak percaya, kemudian dia berkata.
"Yang benar saja"
"Kau tahu? saat ini aku sedang berpikir untuk mencari laki-laki yang bisa memuaskan ku"
setelah berkata seperti itu Maya terlihat mencoba untuk memejamkan bola matanya, dia nyaris terjatuh namun dengan cepat Mawangsa memeluk dirinya.
"Kau jangan bicara aneh-aneh, kau pikir aku impoten? aku akan membuktikan nya jika kamu memang menginginkan nya, Maya tapi kamu harus siap menerima konsekuensi nya"
ucap Laki-laki tersebut cepat sambil mengencang kan pelukan nya.
di ujung sana teman Shinta melihat adegan dimana Mawangsa memeluk Maya, dia buru-buru langsung memotret nya dan mengirimkan foto tersebut kepada Shinta
******
Disisi lain.
Mansion utama keluarga Umbrella.
Shinta seketika mengeram dan dia menggenggam erat telapak tangannya dengan perasaan kesal, perempuan itu memukul meja yang ada di hadapannya dengan jutaan rasa benci yang mendalam, beberapa waktu kemudian perempuan itu memejamkan bola matanya.
temannya baru saja mengirimkan dia sebuah foto dimana Mawangsa memeluk erat Maya.
Seketika ingatan masa lalu menghantam Shinta, dimana 8 tahun yang lalu dia dan Maya tengah berada di kamar Maya dan terlihat akrab berdua.
"Kamu tidak ingin bertemu sahabat pena mu di dunia nyata?"
Shinta bertanya sembari memicingkan bola mata nya, menatap Maya yang terlihat fokus dengan Laptop nya.
"Aku belum memikirkan nya, kamu tahu tugas kuliah masih cukup banyak, dan ayah ku juga saat ini meminta ku untuk belajar di perusahaan nya, aku pikir aku belum memiki waktu untuk pergi"
Jawab Maya dangan cepat.
"Apa kamu suka dengan laki-laki tersebut?"
Shinta mencoba mengorek informasi.
mendengar pertanyaan Shinta, Maya terlihat mengembangkan senyuman nya.
"Aku masih menganggap nya sebagai sahabat pena terbaik ku"
jawab nya lagi.
Maya tiba-tiba berdiri, dia mencoba beranjak dari posisi nya dan berkata pada Shinta.
"Aku akan membuatkan minuman, aku pikir aku akan meminum jus mangga, katakan pada ku kamu ingin minum apa?"
"Selain mangga, kamu tahu aku alergi mangga"
__ADS_1
Jawab Shinta cepat.
"Baiklah, bagaimana jika melon?"
"Itu jauh lebih baik"
Maya secepat kilat langsung belanja pergi meninggalkan dirinya dari kamar tersebut, bola mata Sinta menata punggung Maya yang semakin menjauh dan mulai menutup pintu kamar itu.
kini buru-buru perempuan tersebut berdiri dari posisi duduknya lantas mendekati meja di mana Maya sibuk dengan tugas-tugasnya tadi.
dengan sedikit tergesa-gesa Sinta menarik salah satu laci dari meja tersebut, dia mencari tumpukan surat pena milik Maya bersama sang laki-laki kebanggaannya, perempuan itu sifat kilat mengambil satu suara dengan cepat kemudian langsung memasukkannya ke dalam kantongnya, detik berikutnya dia mengambil handphone Maya lantas mencoba untuk mencari nomor handphone sang sahabat pena teman nya itu.
seulas senyum licik mengembang dari balik bibir Shinta, dia buru-buru menyalin nya ke handphone nya dan menyimpan nya dengan cepat.
Ditengah ingatan Shinta seketika suara panggilan di handphonenya mengejutkan dirinya, Perempuan tersebut langsung membuka bola matanya dan menyadarkan ingatan nya dimasa lalu.
dia buru-buru mengangkat panggilan yang masuk ke handphonenya, perempuan itu langsung menjawab dengan cepat.
"Halo"
sejenak dia terlihat dia udah menunggu balasan dari ujung sana.
"aku akan membuat sebuah cerita, katakan pada Mawangsa jika aku mengalami kecelakaan jatuh dari tangga dan aku membutuhkan dirinya saat ini juga"
setelah berkata seperti itu perempuan itu langsung menutup panggilannya, beberapa waktu kemudian dia berjalan menuju ke arah anak tangga, Shinta tanpa telah bersiap untuk menjatuhkan dirinya dengan cepat dari tangga tersebut.
Kau tahu Maya? Mawangsa hanya milikku, jika dia tidak jadi milik ku, maka aku pastikan kau pun tidak akan mendapat kan nya.
*****
Kembali ke Mawangsa dan Maya
Kamar hotel xxxxxxx
Mawangsa menatap dalam wajah Maya untuk beberapa waktu, setelah meletakkan tubuh gadis tersebut laki-laki itu terlihat diam tidak bergeming, sejenak Mawangsa mengehela kasar nafasnya.
Dia pikir kenapa dia membawa gadis tersebut ke sini?!.
tapi entahlah dulu saat sebelum bercerai dia tidak pernah seperti ini, tidak pernah kehilangan kontrol atas dirinya bahkan dia tidak pernah menjadi segila ini berhadapan dengan Maya.
kini dia merasa gadis itu menjadi sebuah ancaman besar yang berdirinya di mana saja berhadapan dengan Maya ada satu Hasrat yang tidak bisa dia bendung di dalam dirinya.
Ada apa ini?!.
laki-laki tersebut membatin, dia kemudian menyalakan rokok nya dengan cepat, menghisap nya dengan perasaan gusar.
Ditengah pemikiran berat nya dimana dia berulang kali menyesap rokok nya tiba-tiba seseorang menghubungi nya.
"Halo?"
laki-laki itu buru-buru mengangkat panggilan nya.
awalnya laki-laki tersebut tidak menampilkan ekspresi apapun namun di detik berikutnya tiba-tiba dia langsung terkejut dan membulatkan bola matanya.
"Apa?"
wajah mawangsa langsung membeku, dia pikir kenapa lagi dengan Shinta?!.
seketika mawangsa langsung mencari handphone Maya, dia mencoba untuk mengecek apakah nomornya ada di sana, rupanya sudah tidak ada lagi nomor nya disana, pada akhirnya dia mengetik nomor handphonenya secara perlahan, dia tidak memberikan nomor kantor nya, itu adalah nomor handphone pribadi nya, dia terpaksa meninggalkan Maya saat ini dan berharap besok saat sadar Maya segera menghubungi Dirinya.
__ADS_1
Dengan gerakan terburu-buru laki-laki tersebut langsung melesat keluar dari kamar tersebut, namun tidak lama kemudian tiba-tiba seorang laki-laki terlihat berdiri di depan pintu, menatap punggung Mawangsa yang telah masuk ke dalam elevator, selang beberapa waktu, laki-laki tersebut menunggu seseorang menyerahkan kartu kamar hotel tersebut dan secara perlahan laki-laki itu masuk kedalam kamar dimana Maya berada.