Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Dia sama sekali tidak terlibat


__ADS_3

Disisi lain,


Heri jaya company,


ruang kerja Mawangsa.


Mawangsa baru saja kembali dari ruang rapat menuju ke arah ruang kerjanya di mana dia melihat beberapa panggilan terjadi di handphonenya dari sang adik perempuannya. Laki-laki tersebut mengerjakan kedua untuk beberapa waktu dia fikir dengan Elsa menghubunginya di jam segini dan bahkan bukan hanya satu dua kali melainkan hingga puluhan kali.


Pada akhirnya buru-buru lagi lagi kerja buat menghubungi balik sang adiknya itu dan ingin tahu apa yang terjadi, seketika dia merasa sedikit cemas takut jika hal buruk terjadi kepada adiknya tersebut.


cukup lama dia mencoba untuk menghubungi Elsa, beberapa kali panggilan tidak juga diangkat hingga pada akhirnya panggilannya diangkat dari arah seberang sana.


"Halo?."


"Kak." bisa dia dengar sahutan dari arah seberang sana gimana suara adiknya terdengar cukup cemas dan juga penuh getaran kekhawatiran seperti habis menangis.


"Ada apa?, apa hal buruk terjadi padamu?, atau kau kecelakaan berkendaraan dengan ibu?." dia pikir itu adalah pertanyaan paling lazim yang biasanya dipertanyakan oleh anggota keluarga ketika keluarga lainnya menghubunginya dalam keadaan panik.


Mawangsa cukup takut jika Elsa mengalami kecelakaan di jalan karena seingatnya tadi ibunya berkata dia akan pergi minta di antar oleh Elsa.


"Ini jauh lebih buruk lagi." dan Elsa tiba-tiba menjawab dari arah seberang sana menyampaikan satu berita yang membuat Mawangsa cukup terkejut.


"Apa?." Dia mengernyitkan dahinya untuk beberapa waktu.


"Ibu membuat kacau di kediaman kak Maya, dan ibu kini berada di kantor polisi kak," Elsa mulai bercerita kepada memangsa dengan cepat dan dengan suara yang sedikit terburu-buru.


Mawangsa jelas saja terkejut setengah mati mendengarkan penjelasan dari adik perempuannya tersebut, dia langsung menyambar kunci mobilnya dan berkata.

__ADS_1


"Katakan di kantor polisi mana aku akan menyusul kalian saat ini juga." Ucap Mawangsa cepat.


Begitu mendapatkan informasi di mana ibunya berada bersama Elsa laki-laki tersebut langsung melesat turun dari ruangan kerjanya menuju ke arah lantai bawah dan bergerak menuju ke area parkiran tanpa berpikir dua tiga kali.


"Tuan?." Sekretaris Mawangsa bertanya sembari mengerutkan keningnya dia pikir apa yang terjadi kepada atasannya tersebut.


"Batalkan rapat berikutnya dan cukup tinggalkan berkas-berkas nya ke atas mejaku, aku akan memeriksanya nanti setelah kembali ke perusahaan lagi." Mawangsa bicara cepat kearah sekretaris nya, mengabaikan semua orang dan melesat pergi dari sana tanpa berpikir dua tiga kali.


*******


Kantor polisi xxxxxxx.


Mawangsa hanya bisa menghela nafasnya saat melihat ibunya yang berada di balik jeruji besi.


"Kau lihat?, perempuan laknat itu menyeret ibu ke penjara dan menjebloskan ibu tetap seperti ini." Masih juga wanita tersebut tidak kapok-kapok atas apa yang terjadi pada dirinya, dia masih memaki Maya bahkan mencoba untuk membela dirinya dihadapan putra nya.


"Ibu cukup mengacaukan keadaan dan juga cukup mengancam keberadaan kak Maya, ibu bilang jika kak Maya yang terlibat dalam penculikan Shinta." Lanjut gadis tersebut lagi kemudian.


Mendengar apa yang dijelaskan oleh Elsa jelas saja membuat Mawangsa menatap kearah ibunya tersebut.


"Tentu saja dia terlibat dalam penculikan Shinta." Ibu nya masih bersikeras berkata Maya terlibat.


"Bu Maya sama sekali tidak terlibat dalam penculikan Shinta, berhentilah memikirkan hal yang tidak tidak dan membual seolah-olah dia adalah orang yang jahat," Dia bicara sambil memijat-mijat kepalanya.


"Jika ibu terus menuduh hal yang tidak tidak dan nyatanya hal itu tidak terbukti maka ibu sendiri yang akan mendapatkan akibat yang buruk atas apa yang ibu katakan." Lanjut Mawangsa lagi.


"Tapi Mawangsa, ibu-,"

__ADS_1


"Dia tidak terlibat sama sekali, berhentilah bersikap seperti itu, apa ibu lupa, selama ini kita lah yang begitu buruk memperlakukan dirinya." Kali ini Mawangsa meninggikan suaranya, dia terlihat kesal menatap kearah ibunya tersebut.


"jika ibu terus-terusan seperti ini aku yakin ibu tidak akan bisa keluar dari penjara jika Maya tidak mencabut laporan nya atas apa yang ibu lakukan padanya pagi ini dan juga tuhan-tuduhan tidak berdasar ibu."


Dan mendengar hal tersebut seketika membuat nyonya Dina terdiam.


Mawangsa beranjak dari sana, dia fikir kepalanya benar-benar terasa ingin pecah ini atas apa yang selalu dilakukan ibunya di luar batasan pemikirannya.


"Lalu apa yang akan kakak lakukan pada Maya?," Elsa pada akhirnya mengikuti langkah kaki kakaknya dan bertanya apa yang akan terjadi selanjutnya dan apa yang akan kakaknya lakukan kepada mantan kakak iparnya tersebut.


"Apakah ibu akan selamanya dipenjara?." kembali Elsa bertanya cemas.


"Kakak akan mengatur semuanya, kakak akan minta maaf pada nya dan menyelesaikan semuanya." Jawab Mawangsa pelan.


Elsa terlihat diam.


"Jaga ibu, kakak akan pergi mengurus semuanya." Setelah berkata begitu, Mawangsa bergegas pergi dari sana dan bergerak menyelesaikan urusan ibunya di kantor polisi. Dia mencoba untuk menghubungi Maya dan menyelesaikan semua kesalahpahaman ini.


Laki-laki tersebut berusaha untuk menelpon Maya untuk beberapa waktu, cukup lama panggilan nya di abaikan hingga akhirnya bisa dia dengar sahutan dari sana.


"Halo?."


"Halo, Maya." Mawangsa langsung ingin bicara dan mengajak Maya bertemu, tapi gadis tersebut tiba-tiba berkata.


"Ini siapa?."


Dan Mawangsa mengernyitkan dahi nya.

__ADS_1


__ADS_2