Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Terlalu Manipulatif


__ADS_3

Maya mencoba memijat-mijat kepalanya untuk beberapa waktu, berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum nya.


"Berapa lama aku pingsan?"


Pada akhirnya dia bertanya pada Julian sambil menggerutkan keningnya.


"Beberapa hari, semua pekerja tertunda dan keadaan kamu membuat ku sangat khawatir"


Julian menjawab dengan cepat.


"Aku mencoba memeriksa kamera CCTV tapi hasil nya nihil, percayalah seperti nya ada beberapa bagian yang sengaja di buang dan di edit oleh seseorang, aku kehilangan pelaku nya dan itu membuat ku geram, aku tahu kamu tidak akan menjatuhkan diri kamu sendiri pada lingkaran kematian"


Saat Julian berkata begitu, Maya terlihat mencoba untuk berpikir dan mengingat.


"Aku sedang menikmati mandi setelah berendam agak sulit mengingat nya karena kepala ku berdenyut-denyut saat ini tapi....."


Maya mencoba kembali ke masa kemarin, mengingat apa yang terjadi sebelum dia jatuh.


"Aku mencium aroma sabun yang cukup wangi, berpikir seseorang mendekat dan mandi dikamar mandi berbeda, tapi nyatanya aku ..... tunggu dulu, ada Shinta bersama ku"


Dan saat Maya berkata begitu jelas saja Julian terkejut setengah mati.


"Apa?"


Dia membulatkan bola matanya.


"Ja..lang kecil itu"


Julian mengeram, dia berdiri dari posisi nya dan berpikir untuk mendatangi Mawangsa juga Shinta, dia pikir harus membuat perhitungan pada perempuan sialan itu.


"Aku yakin dia pelaku nya, dan itu tidak mungkin salah lagi"


Ucap Julian sambil menggenggam erat telapak tangan nya, dia benar-benar marah, kesal dan ingin sekali mendepak Shinta saat ini juga.


Tapi Maya langsung menghentikan Julian,dia menarik lengan laki-laki tersebut dengan cepat.

__ADS_1


"No.. ini belum waktunya"


Yah dia pikir ini belum waktunya, menghadapi perempuan licik dia harus bergerak licik juga, mungkin sedikit main tarik ulur persis seperti kelakuan Shinta sendiri.


Dikala mereka mencoba untuk berdiskusi siapa sangka seseorang mengetuk pintu depan, membuat Maya menaikkan ujung alisnya, dia menoleh saat pintu di buka dan tebak siapa yang hadir kehadapan mereka?!.


Ja..lang kecil dan CEO tolol nya


Batin Julian, dia tidak habis pikir bagaimana bisa dunia ini lahir laki-laki pintar tapi se idiot Mawangsa dalam melihat cinta.


Menjijikkan.


Lagi Julian membatin.


"Ahhh kebetulan sekali, aku cukup terkejut kau masih punya nyali datang kemari nona muda umbrella"


Julian pikir kemarahan nya kali ini cukup menggebu-gebu.


"Aku cukup terkejut kau ada bersama Maya pada hari itu dimana kalian melakukan sesi berendam air panas di tempat yang sama, hah... bagaimana bisa kau diam dan tidak mengatakan nya pada kami saat aku mencari Maya seperti orang gila?"


Melihat kemarahan Julian, Shinta langsung terkejut, dia menelan salivanya, bergerak berlindung di belakang Mawangsa.


"Kau tahu? kau bisa dituntut karena berbohong pada hari kejadian perkara"


"Aku tidak berani bicara, takut menjadi tersangka, aku benar-benar tidak tahu apa-apa"


Shinta berusaha untuk membela diri, berpegangan pada Mawangsa, mencoba berlindung dibelakang punggung nya.


Oh god.


Maya pikir bagaimana bisa Mawangsa jatuh cinta pada perempuan seperti itu? dia benar-benar buta.


Batin Maya.


"Kau pikir aku percaya? kau pandai bersilat lidah bahkan bermuka dua, aku pikir kau sedang berusaha melindungi diri mu sendiri dari kejahatan fatal mu"

__ADS_1


Ucap Julian lagi.


Maya menatap Shinta sambil menaikkan ujung alisnya, setuju dengan ucapan Julian, dia menatap wajah Shinta dengan cara mengintimidasi.


Melihat ekspresi Maya seketika Shinta mengeram, dia pikir sungguh sial kedatangan saat ini, seharusnya dia tidak datang ketika Mawangsa mendesak nya datang.


"Aku benar-benar tidak melakukan nya, aku takut mengatakan nya karena kalian akan berpikir yang tidak-tidak"


Shinta berusaha untuk membela diri.


"Kau sengaja menumpahkan sabun di kaki ku hingga aku terjatuh bukan?"


Maya berusaha menebak-nebak.


"Aku tidak sengaja melakukan nya, sungguh"


Daebak, Shinta mengakui nya tapi masih berkilah.


Cih...


Maya berdecih didalam hati nya.


"Berhentilah bicara omong kosong, berapa tahun aku mengenal mu Shinta? kau pikir aku tidak tahu bagaimana sifat mu selama kita berteman bersama?"


Maya menekan tiap Kalimat nya, menatap Shinta dengan cara Mengejek, cukup muak dengan sandiwara Shinta.


"Jangan menekan nya, Shinta benar-benar tidak bermaksud berbohong, dia tidak sengaja, takut bicara karena mencoba untuk melindungi dirinya dari pemikiran buruk orang-orang"


Tiba-tiba Mawangsa berkata begitu, membuat Maya langsung mencibir dibuat nya.


Gadis tersebut membuang pandangannya, kecewa melihat cara Mawangsa yang membela Shinta. Dia pikir laki-laki itu benar-benar buta, banyak berubah, cinta benar-benar bisa membuat seseorang gila.


"Katakan pada ku bagaimana cara ku menembus kesalahan Shinta? aku akan melakukan apapun untuk menembus kesalahan nya pada mu"


Dan dengan gampang nya laki-laki tersebut berkata begitu.

__ADS_1


Maya langsung menoleh kearah Mawangsa, dia menatap laki-laki tersebut untuk beberapa waktu.


__ADS_2