
"Aku cukup terkejut paman kembali tanpa memberikan kabar pada ku," ucap Maya pada laki-laki dihadapan nya tersebut.
Mereka berada di ruang rapat, semua orang sudah berkumpul di sana.
Maya menyimpan sebuah tatapan tidak suka secara diam-diam, menyelidiki siapapun yang ada di masa lalu dibelakang semua orang. Dia percaya apa yang terjadi pada ayahnya di masa lalu jelas bukan soal hal yang biasa, pasti ada sesuatu yang terlewatkan yang mungkin dia tidak dia ketahui karena dia masih terlalu muda pada masa itu.
Paman Xabai setidaknya harus menjadi salah satu orang yang harus diwaspadai.
"Kita akan memulai rapat pemegang saham, karena itu aku datang dan akan memimpin rapat nya," laki-laki tersebut bicara sambil menatap tajam kearah Maya.
"Kamu bisa beristirahat dan aku akan menyelesaikan seluruh urusannya," lanjut laki-laki tersebut lagi dan berharap Maya untuk tidak datang ikut serta dalam rapat kali ini. dia duduk di kursi tepat di sisi kanan Maya.
"aku tahu selama aku tidak ada kamu pasti lelah mengurus seluruh perusahaan,"
bisa-bisanya laki-laki tersebut bicara seperti itu padahal untuk membangun kembali perusahaan ayahnya jelas bukan hal yang mudah. Maya mencibir di dalam hatinya.
"Tentu saja aku tidak lelah, paman," Maya bicara dengan tatapan menantang, menatap tajam kearah Xabai.
"selama ini tanpa paman aku bisa menjalankannya dengan baik bahkan ketika perusahaan cukup sekarang aku bahkan mampu membangunkannya kembali jadi aku pikir sangat aneh sekali jika aku harus beristirahat di waktu yang tidak tepat," lanjut Maya lagi kemudian.
Semua orang terlihat terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Maya, cukup tidak menyangka jika perempuan itu berani menantang tuan Xabai untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"jika Paman terlalu sibuk punya urusan paman atau terlalu sibuk buktinya mengendalikan saham di perusahaan lainnya, aku mampu jalankan perusahaan ini sendiri tanpa bantuan siapa-siapa dalam kemandirian ku,"
dan semua orang pikir sepertinya mereka sedang berusaha untuk memperebutkan kekuasaan, tidak dipungkiri meskipun Maya membangun ulang perusahaan ayah nya dan memilih saham yang besar disana tapi tuan Xabai memiliki sedikit adi kuasa dalam penanaman saham di masa lalu. Namun sebenarnya hal tersebut masih cukup diragukan karena saham terbesar tersebut desas-desus nya adalah milik saudara nya yang tidak lain adalah ayah Maya.
"aku adalah pemeriksaan terbesar di perusahaan ini saat ini dan aku harap Paman tidak lupa, jadi tidak sewajarnya Paman mengaturku apakah aku harus beristirahat dalam rasa lelah atau tetap menghadiri rapat sesuai kemauanku," l
mendengar apa yang diucapkan oleh Maya seketika membuat Xabai terkekeh kecil.
"dari ucapanmu seolah-olah kamu mencurigai paman jika paman ingin menguasai perusahaan dan menyingkirkanmu, Maya," laki-laki itu menampilkan raut wajah yang cukup rumit.
"aku tidak menampilkan sebuah kecurigaan pada paman, hanya saja saat ini mempercayai siapapun di sekitarku sangat rumit setelah banyaknya pengkhianatan yang terjadi padaku termasuk dari mantan suamiku dan juga mantan mertuaku,"
Tuan Xabai terlihat diam, dia menatap Maya untuk beberapa waktu.
Tuan Xabai kembali tertawa dan dia pada akhirnya berkata.
"Baiklah, aku akan memberikan setengah dari kepemilikan perusahaan sepenuhnya kepada dirimu tapi dengan syarat," dia cara dengan ada yang begitu serius sembari menatap tajam bola mata Maya.
Maya langsung menaikkan ujung alisnya.
"Katakan,"
__ADS_1
"Kau tahu? terdapat sebuah program kerjasama teknis dari perusahaan xxxxxxxxx asing di Jepang, mereka membutuhkan 5 teman kerja sama," laki-laki tersebut bicara dengan nada yang begitu serius dan ditekan.
"Kau harus memastikan jika perusahaan ini termasuk menjadi salah satu perusahaan yang akan di gandeng oleh mereka,"
Dan jelas bukan tantangan yang mudah, seolah-olah laki-laki tersebut sengaja untuk membuat Maya ciut atas apa yang diucapkannya.
"Jika kamu berhasil maka aku akan memberikan setengah hak mengelola perusahaan sepenuhnya pada mu, tapi jika gagal maka kamu harus menyerahkan hak pengelola pada paman." laki-laki tersebut menutup ucapannya sembari menyeringai licik ke arah Maya.
Alih-alih takut Maya malah menjawab.
"Baiklah, aku setuju," ucap gadis tersebut dengan cepat.
*******
Beberapa jam setelah rapat.
"Bukankah itu seperti sebuah kepicikan dalam tekanan?," sekretaris Maya bertanya sembari melirik ke arah Maya untuk beberapa waktu.
Mereka bergerak masuk ke dalam sebuah hotel untuk kembali melakukan rapat teknis pada perusahaan yang berbeda.
Gadis tersebut bertanya pada Maya tentang apa yang ditawarkan oleh tuan Xabai.
__ADS_1
"aku tahu dia terlalu licik dan picik, karena itu kita juga akan bermain dengan cara yang jauh lebih licik," Maya menjawab dengan cepat.
Mereka bergerak masuk kedalam sebuah kamar elevator tapi begitu mereka berbelok masuk seketika bola mata Maya membulat saat dia menyadari terdapat sosok seseorang yang dia kenal dengan sangat baik sudah berada di dalam kamar elevator tersebut.