
Mawangsa cukup terkejut saat menyadari begitu pintu elevator terbuka Maya belaka masuk bersama sekretaris nya ke dalam sana. Sebenarnya lebih tepatnya kedua orang tersebut sama-sama terkejut atas keberadaan masing-masing.
Maya jelas cukup terkejut dengan keberadaan Mawangsa, tapi dia jelas bukan ayah yang dulu ya harus jatuh cinta dan begitu mencintai Mawangsa, dia kali ini mengabaikan laki-laki tersebut di mana dia masuk ke dalam kamar elevator, memilih berdiri dengan laki-laki tersebut juga sekretaris Mawangsa serta beberapa orang yang ada dalam lift itu di mana beberapa orang tersebut juga akan menghadiri rapat di perusahaan yang berbeda di mana rapat tersebut merupakan harapan gabungan perusahaan untuk mendapatkan proyek yang dimaksud oleh tuan Xabai.
Beberapa orang yang ada di dalam kamar elevator jelas saja mengerutkan kening mereka, bayangkan bagaimana tidak mereka berpikir jika seharusnya perusahaan Maya akan segera bangkrut. Mereka rasa perusahaan yang didirikan Maya jelas dalam keadaan yang cukup tidak stabil saat ini maka mereka berpikir bagaimana mungkin Maya bisa masuk ke dalam rapat tersebut untuk bersaing mendapatkan kesempatan dari perusahaan nya.
Mereka tahu perusahaan utama yang akan menggali mereka dan memilih kawan pada salah satu perusahaan yang akan ikut rapat perusahaan tidak mungkin akan memilih perusahaan the Malaka group. Mereka tidak akan pernah mau menggambar risiko besar untuk menggaet perusahaan Maya, jadi itu mungkin kamu jadi sia-sia menurut mereka.
Di kamar elevator pada akhirnya semua orang terlihat dia mendarat satu dengan yang lainnya dan tidak saling tertarik untuk menyapa, termasuk Maya dan Mawangsa.
Mereka pada akhirnya keluar dari kamar elevator tersebut dan bergerak menuju ke arah ruang rapat, Maya membawa langkah diri nya dan sang sekretaris
"Kau?," begitu mereka masuk ke dalam ruangan rapat tersebut tiba-tiba satu suara mengejutkan mereka.
"Kenapa kau ada di sini?," dan kembali pemilik suara tersebut bertanya sembari mengerutkan keningnya.
Itu adalah tuan Hertanto, dia Joker terkejut saat menyadari jika Maya juga ikut bergabung dalam rapat perusahaan tersebut di mana dia pikir itu artinya Maya cukup memiliki kesempatan untuk bersaing bersama semua orang.
__ADS_1
"Halo paman," dan Maya langsung menyapa laki-laki tersebut dalam balutan senyuman picik nya.
Entah kenapa tuan Hertanto melihat Maya seolah-olah melihat sosok tersebut pada satu sosok perempuan yang jelas tidak asing di dalam ingatan nya dimasa lalu.
"Aku cukup terkejut kau juga ada di sini," ucap tuan Hertanto dengan suara dingin nya.
"Bukankah hanya top 20 perusahaan terbaik yang bisa ikut pada rapat pemilihan di sini?," lagi-lagi itu kembali menerapkan keningnya karena dia pikir bagaimana bisa perusahaan Maya ikut serta di dalam rapat tersebut dan diberi kesempatan untuk mendapatkan proyek itu.
Mawangsa terlihat mulai membuka suaranya gimana semua orang telah berkumpul di mana dia nyatanya menjadi orang yang bertanggung jawab pada rapat perusahaan itu yang menjadi pihak pertama dalam program kerjasama itu.
Maya cukup terkejut di buat nya, dia pikir bagaimana bisa Mawangsa menjadi orang yang penting sebagai penanggung jawab utama dalam rapat perusahaan tersebut.
Hal itu membuat Maya terlihat bergetar, dia terlihat marah tapi berusaha untuk menahan nya. Mana mungkin kesempatan ini datang dari Mawangsa.
"Tentu saja tidak," Mawangsa menjawab dengan cepat.
"Aku juga cukup terkejut saat tahu the Malaka group ikut serta," jawab laki-laki tersebut cepat.
__ADS_1
"Ini atas dasar kesepakatan cabut undi," sekretaris Maya menjawab dengan cepat, dia menatap tajam kearah tuan Hertanto.
"Cabut undi?," laki-laki tua itu mengerutkan keningnya.
"Aku harap kau berlaku adil dan tidak memberikan kesempatan hanya karena dia adalah mantan istri mu," lanjut laki-laki tersebut lagi.
Maya menaikkan ujung alisnya.
" Dan aku harap kau juga tidak memberikan kesempatan pada tuan Hertanto hanya karena dia adalah ayah dari calon istri mu, tuan Mawangsa,"
entah kenapa suasana menjadi tidak naik saat ini, Mawangsa mengerutkan keningnya. Mungkin ucapan tuan Hertanto bukan persoalan untuk nya, tapi mendengar ucapan Maya dia agak tersinggung. entah Kenapa hanya merasa tidak senang mendengar nya.
"Apa di mata mu image ku saat ini seperti laki-laki yang bodoh yang bisa tunduk hanya karena cinta, Maya?,"
Laki-laki tersebut tiba-tiba bertanya dengan nada penuh penekanan.
"Kau pikir aku sedang dimabuk cinta hingga harus kehilangan akal waras untuk memutuskan sesuatu didalam perusahaan? kau pasti bercanda," lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.
__ADS_1
Dan kembali situasi terasa semakin memanas dan tegang, ruangan tersebut sebenarnya cukup dingin karena terpaan AC tapi tiba-tiba menjadi panas dan gerah untuk semua orang. Tuan Hertanto terlihat mengeratkan rahangnya saat mendengar ucapan Mawangsa, Maya tampak mendengus dan menatap dingin kearah Mawangsa sedangkan Mawangsa berusaha untuk mengontrol kemarahan nya atas ucapan Maya.
Dia benar-benar tidak suka.