Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Seseorang yang bergerak diam-diam dibelakang nya


__ADS_3

Ditengah teriakan kemarahan Mawangsa Shinta yang mencoba melarikan diri jelas saja langsung menghentikan langkah kakinya karena gelagapan. Laki-laki tersebut terlihat begitu marah dimana wajah Shinta langsung pucat pasi di buat nya. Dia pikir bagaimana bisa Mawangsa ada di sana dan menemukan mereka.


Bukankah Mawangsa ada di perusahaan? bagaimana ada di rumah sakit? dia baru menghubungi Mawangsa sebelum masuk ke ruangan nenek, memastikan laki-laki tersebut tidak kemana-mana tapi kenapa sekarang laki-laki tersebut ada di sana bahkan melihat apa yang dilakukan nya pada Maya. Laki-laki tersebut tahu betapa picik dan mengerikan nya dirinya saat ini.


Dia memejamkan bola matanya dan kembali ingin beranjak pergi namun Mawangsa langsung bergerak mengejar langkah nya dan mencengkeram lengan Shinta.


"Apa kau gila? apa yang telah kau lakukan?," Mawangsa terlihat kecewa, marah, kesal bercampur aduk menjadi satu, tidak percaya jika Shinta bisa melakukan hal memalukan dan mengerikan seperti itu.


Shinta bisa melihat betapa bola mata Mawangsa dipenuhi kemarahan dan kebencian pada nya saat ini.


"Aku.. Mawangsa, aku-," dia bingung dan gelagapan, mencoba menyentuh Mawangsa dan memeluk laki-laki dihadapan nya tersebut


Alih-alih merespon, Mawangsa berusaha mendorong nya.


"Kau membuat ku terlalu kecewa," Mawangsa kembali bicara.


Shinta kehilangan akal, dia pikir bicara berarti habis dan dia artinya kalah total, dia pikir dia harus memikirkan sebuah strategi. Shinta langsung menangis dan mengeluarkan air matanya, berusaha kembali memeluk Mawangsa dan bersandiwara seperti biasanya.


"Maafkan aku, aku terpaksa melakukan nya, aku hanya merasa tidak aman saat bersama Maya, aku merasa dia menjadi ancaman dalam hubungan kita."


Maya menatap jijik akting Shinta, sambil memegang perutnya dia berkata.


"Aku memiliki rekaman percakapan kita tadi, aku pikir akan melaporkan nya ke polisi dan menyerahkan bukti kejahatan mu yang berusaha untuk membunuh ku pada pihak berwajib," ucap Maya dengan cepat.


Bayangkan bagaimana ekspresi Shinta, dia membulatkan bola matanya dan semakin panik dengan keadaan.


"No, Mawangsa katakan pada Maya jangan lakukan itu, aku khilaf, aku melakukan nya karena takut dia mengambil mu kembali, aku tidak benar-benar berniat melukainya." dia histeris, memeluk Mawangsa dan meminta Maya tidak melakukan nya.


Mawangsa terlihat diam, sepertinya terlalu gamang, ini bukan soal laporan tentang hari ini, tapi dia pikir masih ada yang harus dilakukan, melakukan nya sekarang terlalu dini, ada hal lain yang mesti dia selesaikan lebih dulu untuk membuka sesuatu. Menjebloskan Shinta ke penjara bukan pilihan yang tepat, ini soal Hertanto dan rahasia di balik semuanya.


"jangan lakukan itu dulu-," dia belum bisa mengatakan alasan nya, menjeda ucapan nya.


"Aku tidak peduli, aku akan melaporkan semuanya pada polisi." Maya tetap bersih keras, segurat kecewa terlihat di balik wajahnya saat Mawangsa tidak mendukung nya dan tidak setuju dengan keputusan nya.


"Maya dengarkan aku-,"

__ADS_1


Brakkkkkkk.


Oh shi-t.


Dia belum menyelesaikan ucapannya saat tiba-tiba Shinta jatuh pingsan begitu saja, membuat Mawangsa cukup terkejut di buat nya.


"Shinta?," dia panik, berusaha memeluk Shinta dan menoleh kearah Maya.


"Aku pikir ini bukan waktu yang tepat untuk melaporkan nya ke polisi Maya, dia pingsan.


"Kau percaya di benar-benar pingsan?," Maya mengintimidasi Mawangsa, dia jelas tidak percaya pada Shinta.


Perempuan manipulatif yang pandai membohongi semua orang.


"Dia benar-benar pingsan." jawab Mawangsa, dia tidak bisa melepaskan Shinta, berpikir harus meminta bantuan dan mengangkat nya ke dalam rumah sakit.


"lepaskan dia dan tinggalkan dia, dia hanya pura-pura pingsan," ucapan Maya terdengar egois, dia tahu perempuan itu sedang berpura-pura.


Mawangsa terlihat ragu, menatap kearah Shinta untuk beberapa waktu.


"Maya?,"


Melihat Mawangsa begitu peduli dengan Shinta membuat nya begitu marah, Maya langsung membalikkan tubuhnya dan bergerak pergi dari sana. Mawangsa jelas tidak bisa memilih, mengejar langkah Maya atau meninggalkan Shinta yang tidak baik-baik saja.


Oh shi-t, bajingan.


Mawangsa mengumpat kesal diiringi suara sesuatu yang memekakkan telinga dari arah belakang. Siapa sangka Shinta benar-benar pura-pura pingsan, dia mencengkeram tangan nya sendiri dan berusaha untuk bertahan agar tidak bangun saat ini juga.


Setidaknya dia tidak dilaporkan ke polisi hari ini oleh Maya, itu pikir nya.


Mawangsa mau tidak mau mengangkat tubuh Shinta, membawa nya ke ruang UGD untuk diperiksa.


*****


Maya bergerak kesal ke arah depan, dia pikir dia harus memeriksa keadaan nya dan,

__ADS_1


Tiba-tiba dia menyentuh lembut permukaan perutnya, dia pikir apakah mungkin? kejadian malam itu dengan bebek?.


"Oh bagaimana jika aku benar-benar hamil?," tiba-tiba dia bergumam khawatir, ingat soal kejadian malam itu di hotel xxxxxxxxx.


Tapi ... tunggu dulu.


Maya juga merasa tidak baik-baik saja, dia ingat sebuah ingatan kain mengacaukan ingatan nya. Kenapa ketika dia demam, pulang dari bermain kartu dengan salah satu pengusaha gatal waktu itu yang berusaha melecehkan nya, Mawangsa Mambawa nya pulang dan membantu nya, dia memiliki ingatan acak laki-laki tersebut mencium bibirnya, menyentuh nya dan..


"Ohhh akhhhh." entahlah Maya merasa kepalanya berdenyut-denyut tidak menentu.


Apa yang terjadi malam itu pada mereka? bagaimana ada ingatan Mawangsa bersama nya, mencium nya, menyentuh dirinya dan ada di atas tubuh nya.


"Hahhh?," ditengah pemikiran kalut nya, Maya dikejutkan oleh handphone nya sendiri yang berdering tiba-tiba.


Dia buru-buru mengangkat panggilan nya dimana Julian mengubungi diri nya.


"Ada apa?," dia buru-buru bertanya.


"Apa kamu tahu siapa yang memberikan kesempatan membebaskan tuan Hertanto?," tiba-tiba Julian bicara langsung pada intinya.


"Siapa?," Maya mengerutkan keningnya.


"ini terlalu kebetulan sekali," ucap Julian cepat.


"Dia adalah keluarganya W, bahkan mereka tengah berebut posisi dengan keluarga Julian saat ini." ucap Julian lagi.


Maya jelas langsung menghentikan langkah kakinya, dia jelas tahu siapa Keluarga W saat ini.


"Dan yang lebih mengejutkan, Shinta menemui nya secara pribadi, menawarkan sesuatu yang entah itu apa, bukankah itu terdengar aneh dan mencurigakan?," Julian menghentikan kata-katanya.


Maya diam, menatap lurus kearah depan untuk beberapa waktu.


"Ini bukan soal cara Shinta mendapatkan nya apakah dengan cara baik atau menjual' diri nya." dan tiba-tiba saja Maya bicara, tatapan nya terlihat penuh dengan kilat kemarahan.


"Tapi aku pikir sepertinya aku tahu siapa yang sedang bermain di balik belakang semua ini sejak dulu di mulai dari kematian ayah ku," ucap nya tiba-tiba.

__ADS_1


"Dan Shinta bergerak atas dasar perintah dari nya, aku yakin itu."


__ADS_2