
Mendengar ucapan Adams seketika membuat Mawangsa membulatkan Bola mata karena terkejut, didetik berikut nya laki-laki tersebut menampilkan wajah penuh penyesalan nya, dia pikir bagaimana bisa ibu nya berlaku sangat tidak adil dan tidak sopan kepada Maya.
bahkan dia tidak menyangka ibunya akan datang ke perusahaan Maya dan mencari masalah dengan perempuan tersebut.
Mawangsa menghela kasar nafas nya, dia langsung mengendurkan dasi kerja nya dengan perasaan kacau dan kesal.
Kemudian laki-laki tersebut memijat-mijat kepalanya yang tiba-tiba sakit, dia memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu.
setelah itu memangsa kembali membuka bola matanya lantas dia bertanya kepada Adams.
"jadi katakan padaku bagaimana dengan proyek yang kamu tawarkan kepada Maya? apakah dia tertarik pada program yang kamu ajukan pada perusahaannya?"
Saat mawangsa bertanya seperti itu, Adams terlihat menghela pelan nafasnya kemudian laki-laki tersebut menetap ke arah mawangsa untuk beberapa waktu.
"aku hanya sedikit heran kamu memilih menceraikan Maya tapi kenapa malah memilih untuk membantu perusahaan nya?"
laki-laki tersebut bertanya sembari menaikan ujung alisnya.
mendengar pertanyaan dari sahabatnya tersebut seketika mawangsa diam untuk beberapa waktu.
entahlah dia juga tidak tahu kenapa dia melakukan hal tersebut, seolah hatinya terus mendorongnya untuk terus berada di sekeliling Maya dan menolong gadis tersebut, seakan-akan ada yang belum tuntas di antara mereka meskipun mereka telah bercera hingga hari ini.
selain itu dia hanya tidak suka saat tuan Baskoro mencoba untuk melecehkan mantan istrinya tersebut, dia tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata tentang kemarahannya, jadi dia pikir dia hanya ingin agar Maya melepaskan kerjasama bersama tuan Baskoro dan menjalin kerjasama lain dengan perusahaan orang lain yang bisa menguntungkan perusahaan milik mantan istrinya tersebut.
"anggap saja ini adalah kompensasi yang aku berikan pada Maya karena dia menolak rumah pemberianku ketika kami bercerai"
Mawangsa bicara sembari menatap ke arah Adams.
"dia tidak pernah meminta apapun kepadaku bahkan harta gono gini sedikitpun, aku hanya merasa selama pernikahan kami aku sangat tidak adil kepadanya"
setelah berkata begitu laki-laki tersebut meraih gelas coffee yang ada di hadapannya.
Adams yang mendengar ucapan mawangsa terlihat ikut diam, meskipun ucapan sabarnya itu cukup masuk akal tapi dia sedikit meragukan maksud dari apa yang laki-laki tersebut lakukan untuk Maya, seolah-olah dia meragukan hati mawangsa terhadap Sinta saat ini, dia pikir apakah mungkin laki-laki tersebut masih mencintai mantan istrinya.
lupakan saja.
batin Adams kemudian.
"Jangan pernah membicarakan soal ini pada Maya"
Mawangsa bicara pelan.
"Kau tahu? biarkan ini menjadi rahasia, karena setiap orang berhak memiliki rahasia"
Ucap Mawangsa lagi.
__ADS_1
mendengar ucapan laki-laki itu Adams terlihat diam, dia mengangguk kan kepalanya.
"Kau berhak atas itu"
Jawab nya cepat.
"kamu belum menjawab pertanyaanku tadi"
Mawangsa buru-buru mengalihkan pembicaraan, dia langsung bertanya pada Adams.
"ya dia menerima proyek kerjasama yang aku tawarkan"
dia menjawab dengan begitu antusias sembari mengembangkan senyumannya.
"kau tahu bagiku dia merupakan gadis yang begitu hebat, dia langsung cepat tanggap dengan proyek yang aku ajukan, bahkan dia sangat tertarik dengan program yang kami buat saat ini, dia mengerti program tersebut pasti akan menguntungkan dirinya dan juga perusahaannya sendiri"
laki-laki tersebut terus bercerita kepada mawangsa, mereka menghabiskan waktu makan siang sembari minum kopi lantas bercerita beberapa hal soal Maya.
****
The Malaka company
Perusahaan Maya
lewat jam makan siang
siang ini dia terlalu fokus dengan pekerjaannya dan tidak mempedulikan gosip serta obrolan dari karya karyawan di perusahaannya yang terus membicarakan soal nyonya Dina ibu mawangsa.
tidak dia pungkiri tindakan dari wanita tersebut memicu banyak sekali pembicaraan-pembicaraan negatif tentang mantan ibu mertuanya itu.
sikap arogan pada akhirnya merugikan wanita itu sendiri.
Maya sama sekali tidak ingin bergubris gonjang-ganjing pembicaraan soal mantan mertua nya itu, dia terus fokus pada pekerjaannya hingga sore hari.
begitu dia telah menyelesaikan pekerjaannya banyak memilih untuk langsung turun dari perusahaannya bergerak untuk kembali ke tempat tinggalnya.
entah kebetulan atau tidak begitu dia keluar dari perusahaannya tiba-tiba saja tanpa sengaja dia bertabrakan dengan ibu Shinta.
Maya pikir kenapa dalam beberapa hari ini hidupnya selalu bertemu dengan orang-orang yang tidak ingin dia temui dan selalu terasa sedikit sial.
dia ingin menghindar untuk segera pergi dari hadapan ibu Shinta, namun rupanya wanita tersebut langsung berkata.
"entah bagaimana caraku memperingatimu tapi aku harap perempuan sepertimu sedikit tahu diri"
Nyonya umbrella berkata dengan cepat ke arah dirinya.
__ADS_1
"seharusnya kau tidak lagi mendekati mawangsa saat kau laki-laki itu telah memilih putriku"
Ucap nya sambil menatap jijik kearah Maya.
Maya terlihat hanya dia dan menunggu wanita itu untuk meneruskan seluruh kata-katanya.
"kau tahu ketika laki-laki telah membuang wanitanya itu berarti dia sudah tidak mencintai lagi dirimu"
lanjutnya lagi sembari sedikit mencibir ke arah Maya, seolah-olah dia berharap Maya sadar dengan posisinya saat ini.
setelah dia meyakini ibu Shinta telah selesai berbicara, Maya meletakkan kakinya mendekati wanita tua tersebut kemudian berkata dengan nada yang begitu Santai.
"seharusnya nyonya bukan menasehatiku, namun nyonya seharusnya menasehati calon menantu nyonya agar tidak lagi mengejarku"
ucapan dari Maya jelas saja membuat wanita itu membulatkan bola matanya.
"ketika seorang laki-laki masih mengejar mantannya aku pikir itu berarti dia belum bisa move on dari ku"
Kata-kata Maya bener-bener membuat wanita itu merasa tensi darahnya tiba-tiba naik tanpa bisa dicegah.
"Kau..."
"Dan katakan pada Putri nyonya agar dia bisa merayu dan menari calon suaminya agar tidak berpaling Dari dirinya"
setelah berkata begitu Maya menaikkan ujung bibirnya kemudian gadis tersebut langsung berbaling lantas berjalan mendekati mobilnya dan dengan cepat, dia naik ke atas mobilnya tersebut kemudian meninggalkan nyonya umbrella di tengah perasaan tersinggung dan marah atas ucapan nya.
wanita itu ingin sekali mengumpat dan dia pikir apa dia perlu melempar mobil tersebut dengan sepatu heels nya?!.
namun belum juga dia bisa melakukan hal tersebut tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya, itu adalah suaminya.
pada akhirnya wanita itu memilih untuk menghela kasar nafasnya, dia dengan cepat langsung naik ke mobil tersebut mencoba mengembangkan senyuman terbaiknya untuk sang suaminya.
namun saat dia akan duduk tepat di samping kursi suaminya yang tengah mengemudi seketika senyuman wanita tersebut menghilang diiringi dengan bola matanya menata barisan bunga yang ada di bagian atas kursi yang akan diduduki.
dia langsung meraih bunga tersebut kemudian duduk di atas kursi itu dengan perasaan yang berkacamuk menjadi satu.
"Hari ini adalah perayaan kematian Reina (kakak Shinta)"
Suami nya berkata pelan, nada suaranya terdengar lirih penuh kesedihan.
"Yah kamu benar, sayang"
Wanita itu menjawab dengan nada bergetar, bola matanya terlihat berkaca-kaca.
"Aku hampir melupakannya"
__ADS_1
ucapnya sembari memeluk bunga tersebut dengan hati yang hancur.