Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Tidak pantas berteman dengan putri nya


__ADS_3

Shinta jelas saja terkejut saat ibu Windi mencoba menghajar nya, memaki dan memarahi nya dan bahkan menghina nya. perempuan itu jelas kesal, dia pikir bagaimana bisa ada wanita yang begitu arogan memperlakukan dirinya.


"Bibi, hentikan apa yang bibi lakukan, oh ga tuhan bibi kau menyakiti ku," Shinta berteriak histeris dan dia sangat marah ketika wanita itu memukulnya tanpa perasaan untuk tidak menamparnya atau menjambak rambutnya.


Dia jelas aja sedikit ketakutan memilih untuk langsung memundurkan langkah dan berlindung pada orang-orang di sekitarnya yang dia bawa.


"Aku ini hanya berniat mengunjungi Windi, padahal aku tidak tahu apa-apa aku hanya berteman dengannya dan aku tidak tahu apa yang dia lakukan kepada Maya sehingga dia harus masuk ke penjara," pandai sekali perempuan itu bersilat lidah seolah-olah dia tidak bersalah pada situasi yang terjadi saat ini.


"Bagaimana bisa bibi menuduhku bahkan sekarang mencoba untuk memukulku dan menganiaya kau?," perempuan itu kembali bertanya, cukup takut jika wanita baru baya lebih itu memukulnya sekali lagi.


Dia sudah berpenampilan sebaik mungkin dan secantik mungkin mana mungkin harus rela jika tubuhnya atau bagaimanapun di dalam dirinya harus bapak belur diperlakukan oleh wanita tua yang tidak tahu diri itu.


"Kau pikir kau manusia baik? sejak berteman denganmu putriku jadi berubah drastis, bahkan dia menjadi memiliki tempramental yang buruk, lalu kini tiba-tiba dia dipenjara karena dia berurusan denganmu dan terlibat dengan mantan istri dari calon suamimu, jika bukan karena berteman denganmu, juga jika bukan atas perintahmu mana mungkin putriku harus melakukan kebodohan sehingga harus mendekam di jeruji besi dan dituntut oleh Maya." wanita paruh baya itu jelas saja histeris dia melampiaskan seluruh kemarahannya kepada Shinta, dia berteriak dengan kemarahan yang menggebu-gebu dan ingin sekali menjambak rambut perempuan yang ada di hadapannya tersebut.


Dia pikir bagaimana bisa Shinta tidak mau mengakui kejahatannya, padahal dia yakin putrinya berubah dan tertangkap karena Shinta.


Shinta yang melihat kemarahan dari wanita tua tersebut berusaha buru-buru untuk kabur dari sana, dia pikir daripada memperpanjang persoalan dan membuatnya kesulitan juga merasa terancam sebaiknya dia segera pergi dan menghindar dari ibu Windi. Jika tidak dia takut soal keterlibatannya yang akan terbongkar dengan cepat.


"Sialan, yakkkk perempuan tidak tahu malu...,"


Shinta jelas saja bergegas lari dari sana dan bergerak menuju ke arah mobilnya lantas langsung melesat pergi meninggalkan tempat tersebut.


******


Heri Jaya company,


ruang kerja Mawangsa.


Shinta pada akhirnya berhamburan masuk ke dalam kantor ruang kerja Mawangsa, setelah pergi dari pengadilan dan mencoba untuk menghindari ibu Windi, dia buru-buru bergerak menemui Mawangsa, hitung-hitungan mengadu dan pura-pura bersedih.. Menumpahkan kekesalan nya soal ibu Windi.

__ADS_1


"Sayang....hikss.....," Shinta memeluk laki-laki tersebut kemudian menangis tersedu di dalam pelukan Mawangsa dimana laki-laki itu tadinya fokus duduk di kursi kerjanya.


Mawangsa jelas terkejut saat Shinta masuk ke pelukan nya dan duduk dipangkuan nya, memeluknya erat sambil menangis sedih juga pilu.


"Ada apa?," laki-laki itu jelas saja bertanya sembari mengernyitkan keningnya.


"Ibu Windi membagiku dengan keadaan tidak jelas tadi padahal aku datang ke sana untuk mengunjungi Windi karena merasa kasihan dan berpikir bisa jadi mungkin sedikit membantu," perempuan itu sangat pandai sekali berkilah lidah dia bicara seperti itu meminta perhatian Mawangsa.


"Ibu nya saat melihat ku malah menuduhku yang tidak tidak, berkata jika aku ini hanya pembawa sial, padahal kan Windi yang bersalah terlalu usil urusan Maya, dan Maya yang menghukum Windi atas kesalahannya, lalu katakan padaku kenapa ibunya harus menyalahkanku seolah-olah aku ini yang membuat putrinya masuk ke penjara?," bola mata perempuan tersebut terlihat berkaca-kaca dia menetap ke arah mawangsa dengan ekspresi wajah yang begitu menyedihkan.


"Padahal aku tidak pernah memprovokasinya atau mengajarinya untuk membenci Maya atau mengintimidasi adalah kau selalu berkata kepadanya agar berbuat baik kepada Maya, lalu kenapa karena ulahnya aku malah disalahkan oleh orang dari sisi kiri dan kanan bahkan oleh ibu Windi sendiri?," dia kali ini mengeluarkan air mata buaya nya di hadapan laki-laki di hadapannya tersebut.


Mendengar apa yang dikeluhkan oleh Shinta kepada dirinya membuat Mawangsa diam sejenak, kemudian laki-laki itu berkata.


"jangan menangis dan bersedih lagi mulai hari ini berhenti berteman dengan Windi agar kamu tidak disalahkan baik dari sisi kiri dan kanan," pada akhirnya Mawangsa bicara dengan cepat, mencoba bergerak, meminta Shinta untuk duduk di kursi yang berbeda.


Shinta pada akhirnya secara perlahan menyebabkan air matanya dengan tisu yang diberikan oleh laki-laki tersebut, cukup kecewa sebenarnya karena dia berharap seperti di adegan-adegan drama-drama atau film-film yang dia tonton atau bahkan di novel-novel ketika laki-lakinya menyentuh pipinya dan menghapuskan air matanya nyata yang tidak terjadi pada Mawangsa, laki-laki tersebut sama sekali tidak menampilkan sisi romantis nya, dia jadi kesal dengan keadaan.


"Akhhhh aku cukup frustasi dan stress dengan keadaan," dia tidak mungkin marah jadi mencoba untuk berteriak sedikit melampiaskan kekesalannya pura-pura frustasi karena keadaan.


"Mari pergi jalan-jalan di akhir minggu, sayang," perempuan itu pada akhirnya mengajak laki-laki di hadapannya itu untuk pergi di hari Minggu, dia pikir mungkin mereka butuh waktu berdua bersama dan mengalami romantika cinta di mana mungkin dia akan menjebak Mawangsa agar mereka semakin memperdalam cinta dan bisa jadi mereka tidur bersama berdua.


Mendengar permintaan Shinta sejenak Mawangsa diam, dia menatap dalam wajah Shinta untuk beberapa waktu, entah apa yang tengah dipikirkan oleh laki-laki tersebut.


"Baik, mari pergi menaiki kuda di akhir Minggu, kamu sering berkata kamu suka menaiki kuda dan mendaki gunung, kita pergi untuk menaiki kuda dan menaiki gunung bersama." anak Mawangsa kemudian.


Mendengar apa yang diucapkan oleh laki-laki tersebut jelas saja membuat Shinta terkejut.


"Apa?,"

__ADS_1


"aku ingin kita mencoba untuk melakukan apapun yang pernah kita bicarakan di dalam surat-menyurat di masa lalu," Ucap Mawangsa lagi, lagi-lagi itu bicara sembari menatap bola mata Shinta, sengaja memilih hal seperti itu untuk menghabiskan waktu.


Entah apa yang dipikirkan oleh laki-laki tersebut tidak ada yang tahu.


Shinta jelas saja cukup gelagapan atas apa yang diucapkan oleh Mawangsa dan permintaan nya, dia ingin menolaknya tapi terlalu sering dia menolak apa yang diinginkan oleh Mawangsa selama ini, hingga pada akhirnya dengan perasaan tidak baik-baik saja dia menganggukkan kepalanya dan menjawab.


"Ah iya, itu, baiklah,"


Shinta pikir bagaimana ini, dia sama sekali tidak berpengalaman untuk berpacu kuda.


*******


Pengadilan xxxxxxxx,


pusat kota.


Setelah menyelesaikan sidang pertama tuntutan kepada Windi, Maya dan Julian terlihat bergerak keluar dari sana dengan cepat, sengaja untuk menghindari ibu Windi agar tidak memperpanjang persoalan.


"Mari pergi untuk menikmati makan malam hari ini," Julian bicara pada gadis yang ada di sampingnya tersebut ketika mereka sudah ada di mobil.


Mendengar apa yang diucapkan Julian, Maya terlihat berpikir sejenak hingga pada akhirnya dia menganggukkan kepalanya.


"Itu bagus," Julian mengembangkan senyuman di balik wajahnya saking semangatnya saat mendengar jawaban Maya.


"Aku sangat senang kamu mau ikut dan tidak menolaknya," Ucap laki-laki tersebut dengan cepat kemudian dia melajukan mobilnya, namun tiba-tiba handphonenya berdering membuat laki-laki tersebut langsung menoleh ke arah handphonenya yang terdapat di atas dashboard mobil.


Dia mengernyitkan keningnya.


"Itu ibu ku," Julian bicara cepat kearah Maya.

__ADS_1


__ADS_2