Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Bermain licik


__ADS_3

"Aku tidak berpikir ingin berdamai, ini menyangkut soal nyawa ku, aku pikir mari kita langsung menghubungi pihak kepolisian"


Dan Maya tiba-tiba berkata begitu, dia enggan berdamai karena bagi nya berdamai dengan Shinta akan mengakibatkan kerugian untuk dirinya, dia merasa seharusnya memberikan sedikit pelajaran untuk Shinta agar perempuan tersebut menjadi jera.


Mawangsa pikir Maya ternyata tidak semudah itu untuk di hadapi, gadis tersebut jelas sulit untuk di ajak berkompromi.


"Aku pikir..."


Dia baru akan bicara namun tiba-tiba Shinta langsung memotong ucapan Mawangsa.


"Bukan masalah, kamu bisa memanggil polisi jika memang menginginkan nya"


Shinta bicara terlalu percaya diri, dia pikir saat Maya menghubungi polisi dia pasti bisa mengatasi semua nya, apa yang tidak bisa dia lakukan selama ini.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Shinta seketika Maya menaikkan ujung bibirnya. Dia tahu betul jika Shinta pandai dalam banyak hal termasuk menipu semua orang,dia tahu kemana jalan pikiran perempuan tersebut.


"Julian seperti permintaan Shinta, kamu bisa menghubungi polisi untuk memeriksa semuanya dan juga termasuk menghubungi ahli hipnotis agar dia bisa menghipnotis Shinta dan membiarkan polisi mengorek informasi serta bertanya pada Shinta dengan detail soal apa yang terjadi sebenarnya"


Ucap Maya sambil menoleh kearah Julian, kemudian dia melirik kearah Shinta.


"Apa?"


Dan saat Maya berkata begitu seketika membuat Shinta ketakutan dan memucat, reaksi wajahnya jadi terlihat sedikit aneh.


Ahli hipnotis?!.


"Maksud mu apa?"


"Aku ingin ahli hipnotis langsung bertanya pada mu tidak dalam keadaan sadar, jika hanya mengandalkan polisi aku justru meragukan keterangan kamu Shinta, Karena aku tahu betul bagaimana sifat mu"


Dan Maya langsung bicara dengan cepat, dia mengintimidasi Shinta dan sengaja mencoba untuk menyudutkan Shinta.


"Kau..."

__ADS_1


Shinta jelas jadi berang mendengar penuturan Maya.


"kau ini Bicara apa?"


Dia masih saja berusaha untuk membela diri nya.


Melihat reaksi Mawangsa yang tidak menampilkan sedikitpun emosi nya, Julian tiba-tiba berkata.


"Aku pikir kau tahu soal kebohongan Shinta, tapi berusaha untuk pura-pura tuli juga buta, Mawangsa?"


Julian langsung bicara dan menyindir, menatap jijik ke arah Mawangsa, dia pikir terbuat dari apa hati dan otak laki-laki tersebut, hingga membuat nya buta karena cinta.


Benar-benar laki-laki tolol.


Batin nya.


Mawangsa yang mendengar ucapan Julian terlihat diam untuk beberapa waktu, dia tahu soal Shinta dan seperti kata Julian dia pura-pura buta dan tuli, dia takut jika Shinta akan di jebloskan ke penjara.


"Aku tahu dia bersalah, karena itu aku datang secara langsung untuk meminta maaf"


Mendengar jawaban Mawangsa seketika Maya membulatkan bola matanya, dia cukup kecewa dan sakit hati mendengar jawaban Mawangsa, bagaimana dia bisa mencintai laki-laki seperti itu selama ini?!.


Hanya demi seorang perempuan, Mawangsa jadi bodoh dan tolol, cinta benar-benar bisa membutakan seseorang.


Shinta yang mendengar ucapan Mawangsa jelas merasa bangga, sangat senang laki-laki tersebut mencoba untuk menutupi kesalahannya dan meminta maaf demi dirinya, dia benar-benar merasa sangat di cintai.


"Mari tidak membuat rumit persolan ini, apalagi kita berada di negara orang asing, kita bisa membuat kesepakatan dan aku akan membayar semua kesalahan Shinta"


Ucap Mawangsa lagi.


Maya langsung tersenyum sinis menatap kearah Mawangsa.


Julian jelas keberatan.

__ADS_1


"Kau... bagaimana kau..."


Dia ingin bicara tapi Maya langsung memotong ucapan nya.


"Baik itu bukan masalah, aku akan menyetujui untuk melupakan semuanya namun dengan syarat"


gadis tersebut bicara dengan cepat membuat Julian langsung menoleh ke arah Maya.


Shinta jelas langsung menaikkan ujung alisnya.


"berikan aku sebidang tanah xxxxxxx milik kamu sebagai hadiah pernikahan kalian, maka aku akan melupakan segalanya"


dia sengaja meminta tanah tersebut pada Mawangsa.


mendengar hal itu jelas saja Shinta keberatan.


"Bagaimana kau..."


"Baik, aku menyetujui nya"


Saat Shinta ingin bicara namun Mawangsa buru-buru menyela ucapan nya.


"Sayang..."


Shinta jelas tercekat.


"Itu bagus, aku ingin surat-surat nya di buat dengan segera"


Jawab Maya dengan penuh kepuasan, dia melirik kearah Shinta dan menatap jijik ke arah Shinta.


Kau pikir hanya kau yang bisa membuat sebuah permainan?!.


Batin Maya kemudian dia langsung mendengus dan membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


"aku ingin segera pergi beristirahat dan kalian bisa segera pergi dari sini secepat nya"


Ucap Maya kemudian.


__ADS_2