Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Shinta ambruk


__ADS_3

Setelah Shinta meminum sedikit jus mangga yang ada di hadapannya secepat kilat perempuan tersebut bergerak dari posisinya dan lari menuju ke arah kamar mandi. perempuan itu mencoba untuk memuntahkan seluruh isi perutnya, harus mengeluarkan jus mangga yang dia minum tanpa banyak berpikir.


Dia terpaksa meminumnya untuk meyakinkan melancar dan dia tahu itu jelas cukup berbahaya untuk nya. dia terjebak dalam situasi dan tidak memiliki pilihan lain lagi karena berkali-kali mencoba menolak dia takut Mawangsa mencurigai dirinya.


daripada dicurigai lebih baik dia bergerak dengan cepat untuk meyakinkan laki-laki itu jika dia adalah sahabat nama Mawangsa. meskipun sebenarnya dia harus bertanggung jawab saat meminum jus . mangga.


Shinta begitu tiba di dalam kamar mandi mencoba untuk memuntahkan seluruh isi perutnya dia merasa tubuhnya tidak baik-baik saja di mana seolah-olah lehernya saat ini tercekik oleh sesuatu. dia merasa nafasnya mulai menyempit, yang dia pikirkan apa kah mungkin dia akan jatuh ke tumbang saat ini, mengingat dulu dia pernah meminum jus mangga dan jatuh tumbang.


Perempuan itu mencengkeram sisi kiri dan kanan wastafel, merasa tubuhnya mulai memanas dan bagian lehernya semakin lama semakin terjepit, di depan sana tampak cermin wastafel toilet, Sinta bisa menatap wajahnya sendiri yang mulai memerah dan urat-urat di wajah serta di lehernya mulai mengencang secara perlahan Dia pikir dia juga mulai kehilangan nafasnya sedikit demi sedikit itu reaksi seseorang yang alergi terhadap sesuatu atau makanan dan lain sebagainya dan kini dia sadar alergi itu masuk ke dalam tubuhnya dan saat ini memproses seluruh yang ada didalam sana setelah dia menikmati jus mangga yang dia minum tadi.


Shinta menyentuh lehernya, mencoba sejenak mengundurkan pakaiannya, Dia pikir sepertinya dia benar-benar butuh bantuan dan dia harus meminta tolong pada seseorang.


namun nyatanya saat dia yang berusaha untuk meminta tolong dia tidak bisa mengeluarkan suaranya sama sekali seakan-akan suaranya tercekik dan dihalangi oleh sesuatu, begitu sulit dan berat sekali, dimana dia berusaha untuk terus berpegangan pada pinggiran wastafel. Keringat dingin membasahi kedua pelipis Shinta, dia bahkan merasa tubuhnya mulia kehilangan keseimbangan secara perlahan.


dan siapa sangka dalam hitungan detik tiba-tiba saja dia jatuh pingsan.


Braakkkkk.


******


Disisi lain,


masih di dapur.


"Kakak benar-benar menyukai jus mangga?," Elsa bertanya sambil mengembang kan senyuman nya, menerima gelas jus mangga yang diberikan Maya.


Mantan kakak iparnya meminta 1 gelas lagi jus mangga setelah menghabiskan 2 gelas jus mangga yang dibuatkan oleh nya.


"Begitu menyukainya, mungkin dari seluruh buah-buahan mangga adalah buah-buahan yang paling aku sukai." Maya menjawab dengan siapa pertanyaan dari Elsa kemudian dia membuang pandangannya mencoba membantu menata meja makan yang ada di hadapannya tersebut.


Mawangsa terlihat khawatir saat dia melihat Maya menghabiskan 12 jus mangga yang dibuat oleh adiknya tersebut karena dia cukup takunan itu berpengaruh buruk pada kehamilan Maya. Mungkin buah mangga memang baik untuk wanita hamil jus juga baik tapi jika dikonsumsi secara berlebihan dia takut itu beresiko buruk untuk ibu hamil di trimester pertama.


laki-laki itu tidak punya kalimat yang tepat untuk melarang Maya mengkonsumsi jus mangga secara berlebihan karena pada dasarnya Maya tidak tahu jika dia sudah mengetahui tentang kehamilan Maya, dia tidak mungkin bilang jika ibu hamil dilarang mengkonsumsi minuman jus dingin terlalu berlebihan tapi tidak bisa juga malah seolah menjadi beban untuk dirinya. dia jadi merasa gelisah sejak tadi, benar-benar buruk rasanya.


berkali-kali Mawangsa mencoba menghela nafas nya, menatap Elsa yang kembali menuangkan jus mangga pada gelas milik Maya, ingin sekali rasanya dia memarahi adiknya karena memberikan Maya jus mangga secara berlebihan, tapi kembali lagi tadi, dia tidak mungkin kan memarahi gadis tersebut tanpa alasan yang jelas.


"apa perutnya baik-baik saja mengkonsumsi jus mangga sebanyak itu?," pada akhirnya Mawangsa terpaksa bertanya seperti itu kepada Maya.


"maksudku itu cukup tidak baik untuk kesehatan perut jika dikonsumsi terlalu banyak." dia bicara dengan penuh perhatian menatap dalam bola mata Maya, sempat melirik ke arah perut perempuan tersebut, tapi dia tidak berani terlalu lama melihat perut Maya, karena takut Maya akan mencurigai dirinya.


mendengar pertanyaan dari laki-laki di hadapan tersebut membuat Maya menaikkan ujung alisnya. Dan Julian yang mendengar ucapan Mawangsa langsung melotot menatap ke arah laki-laki tersebut, di mana Julian pikir bagaimana bisa mau uang saya tidak mengerti ucapannya kemarin yang melarang laki-laki tersebut kembali memperhatikan Maya dan harusnya saling mengurus kehidupan masing-masing saja dan tidak usah mengurusi hidup orang lain.


Mawangsa sama sekali tidak peduli dengan respon yang diberikan oleh Julian, baginya itu jelas sangat tidak penting dia hanya khawatir dengan kesehatan Maya dan juga bayi di dalam kandungannya.


"aku pikir ini baik-baik saja, aku memang menyukai jus mangga sejak masih anak-anak hingga sekarang, tidak akan bermasalah dengan perutku sama sekali, jadi aku pikir tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Maya menjawab dengan teman tanpa ingin menoleh ke arah mawangsa dia melirik ke arah Julian dimana bisa dia lihat laki-laki tersebut tanpa sangat tidak suka menatap ke arah Mawangsa.


Maya berusaha untuk menjaga perasaan Julian karena itu dia mengurangi interaksinya terhadap Mawangsa.


mendengar ucapan Maya membuat memangsa kembali mengerutkan keningnya dan terlintas sebuah pertanyaan di dalam diri tentang sahabat penanya yang sering mengatakan dia begitu menyukai buah mangga, badan saking sukanya dia rela tidak makan apapun dan lebih memilih buah mangga.


Sayangnya yang menjadi pertanyaan besarnya saat ini adalah sahabat penanya adalah Shinta, lalu bagaimana mungkin perempuan tersabar tidak pernah sekalipun dia lihat mau memakan buah mangga atau bahkan menikmati jus mangga di kala mereka keluar makan bersama.


bahkan beberapa kali tawaran yang dia berikan tidak pernah diterima oleh perempuan tersebut jika berhubungan dengan mangga dan jelas saja hal itu membuat mewawancara bertanya-tanya.


Apakah Shinta benar-benar sahabat penanya di masa lalu?.


dia seolah-olah berusaha untuk berpikir dengan keras sehingga pada akhirnya memang sa menatap kembali ke arah Maya lantas dia berusaha untuk mempertanyakan tentang sesuatu.


"Katakan pada ku,Maya" tiba-tiba saja Mawangsa bicara, terlihat sebuah keseriusan dibalik wajah laki-laki tersebut saat ini, bola matanya sama sekali tidak lepas dari Maya.


Maya yang mendengar namanya disebut oleh Mawangsa seketika langsung menoleh karena laki-laki itu, Dia menanyakan ujung alisnya sembari membiarkan tanda tanya menari-nari di kepalanya.


"Ya?," tanya Maya kemudian.


"Apakah-,"


"Akhhhhh."


Belum sempat Mawangsa bicara dan bertanya, tiba-tiba saja sebuah peringatan panjang memecah keadaan.


Membuat semua orang seketika terkejut mendengar nya, dan Mawangsa terpaksa menggantung tanya di mulutnya.


"Ada apa?," Maya menoleh kearah sisi kanan nya.

__ADS_1


"Aku pikir itu dari kamar mandi."


"Itu suara bibi pembersih kebun belakang.


Dan seketika semua orang beranjak dengan cepat dari posisi mereka masing-masing, berlarian dengan cepat ke arah kamar mandi.


*******


Catatan \= ada yang tanya kok banyak amat pro'mo kisah lain? diri ku mau libur panjang dulu Mak, mau cuti di sini karena cukup sibuk di tempat lain.


Insyaallah baru pulang ke rumah lagi setelah yakin memang harus pulang, mungkin ini jahat, tapi ini pilihan yang berat yang sudah diri ku putuskan Mak.


Karena itu aku masukkan kisah yang lain, siapa tahu ada yang belum tahu dan belum pernah mampir ke sana selagi menunggu diri ku pulang.


Diri ku pasti merindukan kalian di rumah ini Mak, untuk Embun dan Bara juga cerita Badai dan pelangi sebenarnya sudah 2 bulan itu rumah mereka tidak bisa dibuka, diri ku sempat membuat beberapa laporan dan minta dikembalikan cara akses nya Mak, cuma karena kemarin agak rumit akhirnya masih terkunci begitu lama Mak. Alhamdulillah akhirnya baru bisa terbuka di Minggu kemarin. mau niat diri ku lanjutkan soal mereka Mak, cuma saja permainan le-vel mereka membuat diri ku cukup takut Mak. Kadang diri ku kerja dengan benar dan baik, tiba-tiba di awal bulan impian kita di terjun bebas kan dengan le-vel yang luar bisa mencekik leher. Tapi di kala diri ku malas-malasan, tidak serius dan asal-asal ketak ketik eee le-vel sungguh luar biasa, jadi cantik, secantik gepokan uang merah Mak hikksss tapi target ga sampai dan cuma bisa gigit jari.


Jadi di buku mereka meragukan untuk maju jalan, andaikan saja penjual dan pembeli sama-sama paham dengan perasaan masing-masing mungkin tidak akan ada kecura'ngan dan.... ah sudahlah ga mau panjang lebar, dijelaskan juga ga mungkin ada yang ngerti wkwkwk.


*******


1 lagi jangan lupa mampir kemari yah Mak, kalau ada yang tanya ini siapa? ini kisah Nyx zaighum dan Egalita,duda mafia arogansi dan guru cantik yang begitu dingin dan punya kehidupan masa lalu nya penuh rahasia.


Ada yang tanya dimana rumah mereka? silahkan chate-chat' aja Mak, sudah sangat banyakkkkk sekali chap mereka berjalan sejauh ini.


******


...Penggalan kisah...


...******...


"Apa?," Nyx terlihat menaikkan ujung alisnya, menatap tidak percaya ke arah gadis yang ada di hadapannya tersebut di mana gadis itu berani beraninya mencengkeram lengannya dan mencegah dia untuk mendapatkan putranya sendiri.


"Berlaku lah dengan baik pada anak kecil meskipun kau adalah ayah nya, sir." Egalita bicara dengan penuh penekanan, menatap laki-laki dihadapan dengan tatapan tidak suka.


'Kau tahu undang-undang perlindungan anak sir? Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap Anak, jika melakukan nya akan mendapatkan ancaman pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72 juta. Aku tahu kau orang kaya sir, tapi aku bisa menuntut mu agar kehilangan hak asuh jika berlaku kasar pada putra mu," dan Egalita menekan setiap kalimatnya pada laki-laki di hadapannya tersebut, tidak tahu kenapa ya saya melihat laki-laki itu dia menjadi sangat benci dan mual seolah-olah wajah di hadapannya itu merupakan wajah tidak asing yang membuatnya sangat membencinya apalagi ketika laki-laki tersebut memperlakukan seorang bocah laki-laki yang katanya adalah anaknya dengan cara yang begitu buruk.


Egalita langsung menoleh kearah bocah laki-laki yang terus menempel di kakinya, dia berusaha untuk meraih bocah tersebut. Bisa dia lihat wajah tampan mendominasi tersebut menatap nya dengan bola mata berkaca-kaca. Entahlah kenapa tapi Egalita merasa gelisah menatap pandangan bocah laki-laki tersebut.


"Apa kau sedang bercanda dengan ku?," dan Nyx bertanya tidak suka pada Egalita, tidak percaya jika gadis kehidupannya itu bisa bicara begitu kasar dan juga penuh tantangan menghadapi dirinya ditambah lagi tatapan gadis itu memberikan tatapan tidak bersahabat kepada dirinya sama sekali, seolah-olah dia merupakan musuh besar untuk dirinya.


Egalita, usia nya mungkin baru menginjak angka 23 tahun bisa kurang bisa lebih, gadis cantik yang memiliki bola mata yang begitu indah dengan bulu mata lentik nya, kulit seputih batu pualam yang membuat laki-laki begitu ingin menyentuh nya. Dia  memiliki tubuh yang tidak terlalu pendek juga tidak begitu tinggi,memiliki senyuman mahal namun begitu menawan, jarang menampilkan sisi penuh keramahan nya pada kaum laki-laki yang dia anggap sebagai parasit paling mematikan dalam hidup nya, bagi nya laki-laki itu hanya beban besar untuk dirinya.


Dalam pandangan Egalita, perempuan adalah budak untuk kaum laki-laki menurut nya, dimulai bangun tidur hingga tidur kembali kaum mereka diperlakukan dengan tidak adil, tidak sedikit pada kaum perempuan kehilangan masa depan mereka setelah menikah, mengabdi pada laki-laki yang bernamakan suami, bahkan mereka tidak sempat untuk memperhatikan diri sendiri. namun dibalik itu semua laki-laki selalu menyalahkan perempuan, berkata jika mereka merupakan kaum yang merepotkan, terlalu menuntut untuk diperhatikan untuk dicintai, terlalu cengeng dan dianggap tidak sanggup untuk berdiri di atas kaki sendiri. Perempuan seperti pengemis yang meminta jatah bulanan hanya untuk sebuah lipstik atau sebuah make up yang harganya hanya puluhan, bahkan untuk membeli sesuatu buat diri mereka sendiri pun 75% dari 100% perempuan diperlakukan seperti pengemis dan tidak memiliki harga diri.


Nyatanya laki-laki lah yang tidak sadarkan diri bukan mereka merupakan sebuah beban paling berat untuk kaum perempuan, dimulai dari bangun tidur hingga kembali tidur, terlalu banyak beban laki-laki yang harus dipikul perempuan, dari urusan kopi, sarapan pagi, makan siang,makan malam, urusan pakaian belum lagi minta diperhatikan, dibalik urusan yang tidak berkesudahan, selain harus mati-matian mengurus anak yang sebenarnya dibuat bersama, mereka dibebankan pada tugas rumah yang tidak pernah ada habisnya, bahkan perempuan harus melayani laki-laki dikala malam diwaktu mereka lelah, belum lagi mereka dipaksa untuk ikut bekerja jadi sapi perah. Lebih parahnya, dalam jutaan perjuangan perempuan terhadap laki-laki terkadang mereka tidak dihargai atau bahkan tidak jarang dikhianati.


Dia benar-benar membenci para kaum laki-laki, mereka rata-rata sama saja, seperti ayah nya yang tidak tahu diri, penipu kelas teri, yang menyengsarakan seluruh kehidupannya dan juga ibunya hingga hari ini.


"Kau benar-benar berani menantang ku rupanya, huh," dan Nyx jelas saja mendengus kesal, tidak percaya ada perempuan model begitu yang dia kenal.


Egalita kembali menatap kearah laki-laki dihadapan nya tersebut sambil berusaha melindungi bocah kecil yang posisinya sudah memeluk kaki depan gadis tersebut.


Laki-laki itu tiba-tiba memajukan langkahnya, mendekati gadis di hadapannya tersebut di mana Nyx sengaja membuat Egalita agar memundurkan posisi tubuhnya.


Dan benar saja, Egalita langsung memundurkan posisi tubuhnya, dia tidak banyak bergerak karena cukup sulit terus mundur, membiarkan punggung nya agak mundur kebelakang sedangkan kakinya bertahan pada posisi nya sambil tangan perempuan itu mencoba terus melindungi bocah laki-laki yang ada dibawah nya tersebut.


"Apa kau tahu? kau sedang menantang seorang mafia, gadis muda." dan Nyx bicara dengan nada tidak kalah dingin dan datar nya.


Egalita yang mendengar kan ucapan Nyx seketika mengubah ekspresi nya.


'Apa?,"


******


Kata mafia membuat Egalita memicingkan matanya, menatap dalam wajah dihadapan nya tersebut untuk beberapa waktu namun didetik berikutnya hal tidak terduga terjadi, Egalita tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha mafia?," Gadis tersebut bicara mengejek, kali ini dia memajukan tubuhnya, mendekat Nyx dimana dia membiarkan bocah kecil yang memegang kaki nya agar mundur kebelakang.


Begitu Egalita memajukan tubuhnya, Nyx langsung menatap tajam kearah Egalita, dia pikir apa yang ingin dilakukan oleh gadis tersebut pada dirinya saat ini, Egalita tiba-tiba saja membiarkan telapak tangan kanannya menekan dada laki-laki tersebut dengan gerakan yang begitu kasar kemudian dia membiarkan jemari-jemari telunjuknya menekan-nekan bagian dada laki-laki itu untuk beberapa waktu.


"Jika kau mafia maka aku psikopat pembunuh berantai," kali ini gadis tersebut bicara seperti itu membuat Nyx langsung mengeluarkan ekspresi anehnya.


"Apa?," laki-laki tersebut mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Psikopat pembunuh berantai," tanya laki-laki tersebut lagi.


"Kau pikir aku takut pada mu tuan mafia?," dan Egalita bicara dengan nada penuh penekanan.


"Bahkan jika kau adalah psikopat dan pembunuh berantai pun aku sama sekali tidak takut padamu," lanjut gadis tersebut lagi kemudian sembari dia terus menekan dada laki-laki dihadapan nya itu.


"Aku sama sekali tidak takut pada mu, selama yang kau makan sama dengan yang aku makan. Kecuali jika yang kamu makan adalah batu, paku atau bahkan badak bercula satu, aku mungkin baru takut pada mu." lanjut gadis tersebut lagi, kali ini dia bicara sembari berkacak pinggang, menatap laki-laki yang ada di hadapannya tersebut dengan penuh kebencian.


Nyx jelas saja cukup tidak percaya dengan apa yang didengar barusan dari balik bibir gadis yang ada di hadapannya tersebut.


"Kau bilang apa?," laki-laki itu terlihat mengeram, cukup tidak percaya dengan jawaban dari gadis yang ada di hadapan yaitu ditambah lagi cara bicara garis tersebut terlihat begitu dingin dan juga datar juga menatapnya dengan penuh kebencian.


"sebelum kau ingin menakuti seseorang kau harus melihat terlebih dahulu kriterianya, apakah dia seorang penakut atau dia bahkan tidak takut mati sekalipun. Bertemu dengan orang-orang semacam kamu bukan lagi hal yang asing untuk ku, kau pikir aku tidak pernah berkelahi dengan seorang preman sekalipun, huh?," dan setelah berkata seperti itu jadi tersebut menaikkan kedua jari tangan nya, dia seolah-olah mengeluarkan jurus ingin mencolok mata laki-laki itu dengan kedua jari telunjuk dan tengah nya.


"Ishhhhh kau benar-benar laki-laki yang membuat ku muak melihat type model begini," Egalita terlihat geram dan benar-benar ingin sekali menonjok laki-laki di hadapannya tersebut, tapi dia berusaha untuk menahan perasaannya karena baginya meladeni laki-laki arogasi dan mengerikan seperti laki-laki yang ada di hadapannya itu jelas hanya akan merugikan dirinya.


"Bersikap baiklah pada putra mu, karena jika tidak aku benar-benar akan menghajar mu," setelah berkata seperti itu Egalita langsung memundurkan langkah kakinya, dia menetap ke arah pelayan dan juga perempuan yang bernama Magdalena yang menatap nya dengan tatapan mengangah di samping nya untuk beberapa waktu.


"Benar-benar ayah yang tidak tahu diri," Dan kemudian Egalita langsung menatap kearah bocah kecil yang menatap dirinya dengan mendongakkan kepalanya sejak tadi.


Egalita berusaha untuk bicara pada bocah laki-laki tersebut.


Nyx masih menatap kearah Egalita untuk beberapa waktu, dia terlihat tidak percaya jika ada seorang gadis yang berani-berani bicara dengan ada yang begitu putus ditambah katakan penuh kebencian dan sama sekali tidak takut melihat dirinya.


"Kau benar-benar ingin cari mati," Ucap Nyx sambil mengeratkan rahangnya.


*******


Satu hari setelah kejadian itu,


Sekolah taman kanak-kanak xxxxxxxxx,


pusat kota.


Egalita menatap cukup terkejut bocah laki-laki yang ada di hadapan nya itu ketika dia baru saja masuk ke gerbang sekolah dan berniat bergerak kedalam sekolah untuk mengajar anak-anak taman kanak-kanak dimana dia bekerja.


"Peri baik hati," begitu suara tersebut mengejutkan dirinya, Egalita langsung menoleh ke asal suara yang ternyata terdapat seorang bocah laki-laki yang jelas wajahnya cukup tidak asing untuk dirinya.


"Hahh," Egalita jelas saja terkejut.


"Kelinci manis?," dan dia memiliki panggilan tersendiri pada bocah yang dilihatnya saat ini, kelinci manis terdengar begitu indah dan tampan.


Yah itu adalah bocah kecil laki-laki yang dia coba perjuangkan dan dia ajak berdebat ayahnya kemarin. Rupanya bocah itu bersekolah di tempat nya mengajar. Egalita belum begitu hapal pada wajah-wajah para murid tahun ajaran baru mengingat mereka baru saja masuk dalam beberapa hari ini. Siapa sangka dunia ini begitu sempit sekali, bisa bertemu lagi pada bocah laki-laki tersebut yang ternyata adalah salah satu murid didikan nya.


Egalita jelas terkejut setengah mati, langsung mendekati bocah itu kemudian dia membiarkan kedua kakinya menopang tubuhnya di mana dia mencoba untuk duduk di atas bagian punggung kaki membiarkan diri nya mensejajar diri pada bocah laki-laki tersebut, kini kedua belah telapak tangan Egalita kedua belah pipi bocah tersebut.


"Ibu cukup terkejut jika ternyata kamu ada di sekolah ini dan menjadi salah satu murid ibu, hmmm," Egalita bicara dengan nada yang lembut dan hangat, membiarkan bola matanya menatap dalam bola mata bocah laki-laki itu.


"Ini benar-benar mengejutkan ibu hmm." lanjut gadis tersebut lagi kemudian.


"Katakan pada ibu siapa nama kamu kemarin? ibu akan mengingat nya dengan seksama dan tidak akan melupakan nya,"


Bocah itu sejenak menatap kearah Egalita, seolah-olah dia tengah memikirkan soal sesuatu.


"Yufraj Jervis Zaighum, mereka memanggil ku Nyx J but I hate setiap kali ada nama daddy di depan nama ku, aku lebih suka mereka memanggilku J, untie." bocah laki-laki tersebut bicara dengan cepat menjawab pertanyaan dari Egalita.


Bisa dilihat bagaimana rona kebahagiaan yang diberikan dari bocah laki-laki tersebut kepada Egalita, bocah laki-laki itu seolah-olah melihat Egalita seperti melihat seorang peri baik hati yang diinginkan dirinya, meskipun cukup minim ekspresi dan tidak melebarkan senyuman nya, mungkin karena kehidupan keras yang diterima bocah itu, tapi Egalita bisa melihat rona kebahagiaan di balik bocah laki-laki tersebut saat menatap dirinya.


"Itu nama yang begitu indah hmmm," egalita langsung memuji nama bocah laki-laki tersebut.


"Memang sebaiknya tidak menggunakan nama daddy mu didepan nya, itu terdengar sedikit jelek, kata J jauh lebih keren, memang simple tapi terdengar unik.' bisa-bisa nya gadis tersebut bicara seperti itu dan setuju jika bocah laki-laki dihadapan nya itu tidak menggunakan nama daddy nya yang menyebalkan tersebut.


Baginya J cukup tidak pantas menggunakan nama laki-laki arogansi kemarin, dia setuju atas apa yang diucapkan J kecil.


Mendengar apa yang diucapkan oleh gadis cantik dihadapan nya itu membuat J kecil mengangguk-anggukkan kepalanya, dia terlihat tersenyum sangat tipis dan nyaris tidak terlihat.


"Ok katakan pada untie kelinci manis, siapa yang mengantar kamu barusan sayang? kenapa tidak menunggu kamu masuk ke dalam gerbang dan meninggalkan kamu cepat? apakah mommy terburu-buru mengantar kamu tadi?," Egalita menatap ke arah sekitar nya, melihat jika J kecil seperti nya ditinggal lebih cepat sebelum bocah laki-laki tersebut masuk kedalam gerbang sekolah.


J kecil terlihat menatap dalam bola mata Egalita, secara perlahan dia menggelengkan kepalanya.


"Mommy tidak pernah bisa mengantar ku seperti mommy teman-teman karena dia sudah lama pergi ke bulan dan itu kata daddy," jawab J kecil kemudian.


Dan mendengar apa yang diucapkan oleh J kecil membuat Egalita cukup terkejut.

__ADS_1


"Apa?," Egalita terkejut, dia pikir apakah kelinci kecil seorang anak yatim tanpa ibu?.


__ADS_2