Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
mendapatkan proyek nya


__ADS_3

The Malaka company,


ruang kerja Maya.


Seulas senyuman mengembang dibalik bibir Maya ketika menyadari dia mendapatkan proyek kerjasama yang dia inginkan, itu artinya dia bisa mendapatkan sebagian sahabat dan kekuatan serta kekuasaan untuk mengatur perusahaan tanpa tekanan dari paman Xa Bai.


"Itu bagus." Maya bicara dengan cepat dalam penuh kepuasan, dia menatap para sekretaris untuk beberapa waktu kemudian melirik ke arah Julian.


"Aku cukup terkejut kita mendapatkan proyek tersebut di mana aku berpikir mungkin perusahaan kita tidak akan mendapatkannya kesempatan mengingat paman Xa Bai dan tuan Hertanto seolah sangat berusaha agar kita gagal mendapatkan proyek tersebut, Maya." dan Julian berkata dengan cepat ke arah Maya, ekspresi wajahnya jelas sangat senang tapi perasaannya sedikit gelisah.


Dia sebenarnya agak heran, bagaimana bisa Maya bisa mendapatkan proyek nya dengan cepat, mengingat bagaimana musuh-musuh Maya saat ini yang terus bergerak seolah-olah mencoba untuk menekan Maya dan mencegah keberhasilan terjadi pada perusahaan Malaka.


Dia pikir apakah mungkin ini kebetulan atau ada seseorang yang membantu Maya diam-diam di belakang semua orang.

__ADS_1


Mendengar apa yang diucapkan oleh Julian membuat Maya sejenak diam, Dia menatap laki-laki di hadapan nya tersebut untuk beberapa waktu. Meskipun tidak dipungkiri apa yang diucapkan oleh Julian benar tapi dia pikir bukankah kepada Tuhan memiliki rencana lain dan manusia tidak pernah tahu bagaimana cara Tuhan mengatur semuanya.


Tapi karena dia pikir tidak ada yang mampu membantunya kemarin untuk mendapatkan proyek tersebut, ucapan Julian memang ada benar nya, apakah mungkin ada seseorang yang bergerak diam-diam membantu mereka di belakangnya semua orang tanpa sepengetahuan siapapun saat ini termasuk dirinya. tapi jika itu benar yang menjadi pertanyaan adalah siapa.


di antara pertanyaan yang menggantung dan menarik-nari di atas kepalanya, pada akhirnya kemudian dia berkata kepada Julian dan sekretaris nya.


"lupakan semuanya mari kita menikmati kemenangan ini Mungkin kita bisa merayakannya dengan pergi makan siang bersama." ucapan perempuan tersebut kemudian sembari mengembangkan senyumannya.


mendengar apa yang di ucapkan Maya, sang sekretaris nya menganggukkan kepalanya secara perlahan tanda mengerti, dia langsung berdiri dari posisinya kemudian menundukkan kepalanya terhadap Maya juga Julian lantas beranjak pergi dari sana secara perlahan.


Maya yang menatap ke arah Julian dimana bisa dia lihat laki-laki tersebut sepertinya masih merasa gelisah dan mempertanyakan banyak hal di atas kepalanya, pada akhirnya membuat perempuan itu berkata.


"ayolah jangan terlalu memikirkan hal tersebut, kita akan melewati makan siang bersama dan lupakan segalanya." perempuan itu bicara dengan cepat kemudian kali ini pandangan bola matanya tertuju kepada handphone yang ada di atas meja di mana handphonenya terlihat berkedap-kedip sejak tadi tanpa mengeluarkan suaranya mengingat Dia menggunakan mode silent di sana.

__ADS_1


Maya terlihat mengerutkan keningnya saat dia menyadari siapa yang menghubunginya saat ini.


Julian yang juga tidak sengaja melihat nama sang penelepon di bagian layar depan handphone Maya seketika menaikkan ujung alisnya.


"Aku yakin dia pasti tidak menerima saat kamu mendapatkan proyeknya," Julian bicara dengan cepat kemudian menetap ke arah Maya.


mendengar apa yang diucapkan oleh laki-laki dihadapannya tersebut, membuat Maya hanya diam sembari mereka kedua belah bahunya.


"Mungkin dia menghubungiku karena merasa sedikit kalah sabar dia pikir aku berhasil mendapatkan kekuasaan atas sahamku sendiri," dan Maya bicara dengan cepat ke arah Julian.


setelah berkata seperti itu dia langsung mengambil handphonenya dan mengangkat panggilannya.


"Halo." jawaban yang diberikan Maya atas panggilan di seberang sana terdengar begitu datar dan juga dingin.

__ADS_1


__ADS_2