
The Malaka company
Ruang kerja Maya.
Maya menaikkan ujung bibirnya, sangat bahagia saat dia mendengar asistennya berkata, Ayah Shinta datang ke perusahaan untuk menemui dirinya.
"Tuan Hertanto mencari anda sejak pagi tadi"
Laki-laki dihadapan nya berkata dengan cepat, bicara sembari menundukkan kepalanya secara perlahan kemudian laki-laki tersebut terlihat menunggu jawaban dari Maya.
Bisa dilihat bagaimana ekspresi Maya saat ini, gadis tersebut seolah-olah sedang berpikir untuk beberapa waktu, asisten nya tahu nona muda nya terlihat bahagia, menyimpan sebuah rencana dibalik wajah cantik nya, dia kini terlihat jauh lebih pintar dan licik dari sebelum keluar menjadi keluarga Heri jaya.
Asisten nya masih menunggu jawaban Maya.
Dan bolehkah Maya tertawa bahagia?! rencananya pada akhirnya berhasil juga, berbuat laki-laki di umbrella grup tersebut gelagapan dan berusaha untuk mencarinya.
"Biarkan dia masuk, aku cukup terkejut mendengar dia datang ingin menemui ku"
Dan Maya memberikan perintah, Membiarkan laki-laki penuh arogansi dan penuh rasa percaya diri tersebut datang menemui nya, Maya ingin melihat apa yang akan bicarakan oleh laki-laki tersebut dan dia yakin laki-laki itu menginginkan tanah yang telah menjadi milik Maya.
selang beberapa waktu berlalu pada akhirnya tuan Hartanto masuk ke dalam ruangannya dengan cara yang sedikit tergesa-gesa, laki-laki tua itu duduk dengan cara yang begitu angkuh di atas kursi sofa ruangan kerja Maya.
"aku cukup terkejut saat tahu kamu mendapatkan tanah di bagian kota xxxxxxx dari Mawangsa"
laki-laki itu bicara langsung pada poinnya, enggan terlalu berbalit-belit karena dia tahu terlalu berputar-putar dalam pembicaraan hanya akan semakin membuat pembicaraan mereka panjang dan lebar serta memakan waktu jadi terlihat tidak berguna.
"aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian tapi aku cukup terkejut dan juga sedikit kecewa saat kamu tiba-tiba memposting pada status perusahaan jika tanah itu telah berpindah tangan"
laki-laki itu kembali berucap sambil menatap tajam bola mata Maya, seolah-olah dia berusaha untuk mengintimidasi gadis yang ada di hadapannya tersebut, berpikir mungkin Maya akan takut dengan tatapan mengintimidasinya tersebut.
nyatanya alih-alih takut gadis tersebut malah beringsut dari kursi duduk kerjanya, Maya berjalan perlahan mendekati laki-laki tersebut sembari berkata.
"Paman tidak tahu aku mendapatkannya dengan cara yang sedikit ekstrim, Putri kesayangan paman hampir saja membunuhku karena kecerobohannya dan juga ulah bodohnya, aku pikir Mawangsa pasti sudah menjabarkan nya pada paman"
Maya masih bicara dengan mengedepankan sopan santunnya, memanggil laki-laki tersebut dengan sebutan paman. Tapi kata-kata dari Maya jelas saja membuat tuan Hertanto sedikit mengeratkan rahangnya, ucapan dari gadis muda di hadapannya tersebut jelas membuat emosinya serasa ingin meledak saat ini juga, tapi dia berusaha untuk bersikap sebaik mungkin dan menjadi se' berwibawa mungkin dihadapan Maya, tidak ingin menampilkan sisi arogansi atau lemahnya saat ini atau bahkan sisi dia merasa terpojokkan dan juga terlihat bodoh di hadapan Maya.
__ADS_1
dia jelas marah karena tahu cinta melakukan hal yang ada di luar batas pemikirannya dengan tidak hati-hati, untuk melenyapkan seseorang dia jelas saja harus bermain picik dan licin karena jika tidak itu artinya hanya akan membuat diri nya sendiri.
Tuan Hertanto jelas selalu bergerak begitu hati-hati lalu dia pikir bagaimana bisa Shinta melakukan hal secara baik itu hanya untuk menanyakan Maya dan dia melakukannya dengan tangannya sendiri, itu benar-benar tolol.
"kau tahu dia masih begitu muda bahkan dia begitu mencintai Mawangsa, keinginannya untuk mencelakaimu hanya karena dia merasa cemburu padamu, kau menanggapinya sedikit berlebihan"
tuan Hartanto berusaha untuk melunakkan kata-katanya, tidak ingin cinta terlihat terpojok karena kejahatannya tapi berusaha untuk agar Maya memaklumi apa yang dilakukan oleh putrinya.
laki-laki di hadapannya tersebut seketika membuat mayat tiba-tiba tertawa terkekeh, dia sedikit mendengus.
"aku tidak heran putri paman hidup dalam keadaan yang tidak baik, dari arah pembicaraan paman terlihat jelas bagaimana paman mengajarkan nya sejak kecil, paman seolah-olah memaklumi setiap perbuatan nya dalam melakukan kejahatan dengan beranggapan jika Shinta masih muda dan kecil"
kalimat yang diucapkan oleh Maya jelas merupakan kalimat sindiran dan ejekan secara terang-terangan yang menyatakan jika dia telah gagal mendidik putrinya selama ini.
dia ingin sekali memaki gadis yang ada di hadapannya tapi tuan Hartanto berusaha untuk mengontrol seluruh emosinya karena dia tahu dia tidak membutuhkan hal tersebut saat ini.
"anggaplah mungkin aku memang gagal mendidiknya, mari tidak membahas soal Shinta, aku kemari ingin membuat sebuah penawaran khusus"
laki-laki itu berusaha untuk mengalihkan pembicaraan bicara pada intinya kenapa dia datang ke sana saat ini.
"Aku mendengar nya"
Ucap Maya sambil menyilang kan kedua tangan nya pula, posisi duduknya jelas tidak kalah angkuh dengan tuan Hertanto, dia menaikkan ujung alisnya dan menunggu ucapan laki-laki tersebut.
"aku akan memberikan kamu satu miliar dan kamu bisa mengembalikan surat tanah tersebut kepadaku"
Dan laki-laki tersebut langsung bicara, menyebutkan apa keinginan nya dan harga dari tanah yang akan dibayar nya.
Maya sejenak menaikkan ujung alisnya kembali lantas gadis tersebut tertawa kecil.
"Satu milyar?"
Maya kembali terkekeh, dia seolah-olah mengejek harga yang ditawarkan oleh laki-laki di hadapannya tersebut, dia pikir laki-laki itu sungguh menilai nya bodoh, Maya jelas tahu berapa nilai tanah itu, dan tuan Hertanto sudah terlalu lama menginginkan tanah tersebut selama ini untuk dibangun perusahaan, karena itu Maya menyebutkan balik harga nya.
"aku akan mengembalikan tanah itu jika paman mau membayar ku 20 milyar"
__ADS_1
dan bayangkan saja saat Maya menyebutkan berapa nilai yang dia inginkan kontak membuat tuan Hartanto sedikit kesal dan merasa tersinggung. Maya menawarkan harga jauh lebih tinggi dari yang dia pikirkan.
Dan Maya memang sengaja melakukan nya.
"kau menyebutkan harga yang jelas dengan nominal tidak masuk akal, kau sedang berusaha untuk membual dengan ku, Maya"
dia benar-benar kesal langsung berdiri dari posisinya dan ingin sekali rasanya dia membuat gadis di hadapannya tersebut bertekuk lutut dan tidak mampu untuk bicara, namun karena dia ingat di mana posisi dia saat ini membuat laki-laki tersebut berusaha untuk menarik nafas dan menetralisir emosinya yang mulai menggebu.
"kau sengaja menyebutkan harga yang begitu tinggi agar aku tidak mampu untuk membelinya, kau benar-benar menjijikkan, Maya"
Dia bicara dengan intonasi nada yang jelas sedikit meninggi tapi Maya sama sekali tidak takut dan dia langsung mengelak dan berkata.
"tentu saja tidak aku memang benar-benar ingin menjualnya tapi dengan harga 20 miliar, jika paman mau silahkan membelinya jika tidak aku akan membangun sebuah perusahaan ku sendiri disana"
Dan saat Maya mengatakan hal tersebut membuat tuan Hertanto kehilangan kesabaran nya, dia langsung berdiri, meninggikan suaranya dan menaikkan ujung jemari telunjuk nya sembari mengancam Maya .
"jika kau berani melakukan hal tersebut, membangun perusahaan di sana, aku akan pastikan akan menghancurkan kamu dan kau tidak akan bisa melihat matahari di keesokan harinya nya"
ancaman tuan Hartanto sangat mengerikan membuat Maya langsung mengerutkan keningnya.
"jangan kau mencoba untuk bermain-main denganku Maya, aku bisa berlaku melampaui batasan apa yang kau pikirkan, melebihi apa yang pernah aku lakukan untuk menggagalkan semua rencana masa depan mu diperusahaan milik mu kemarin"
setelah berkata seperti itu laki-laki paruh baya lebih tersebut langsung bergerak pergi dari ruangan Maya, menutup pintu ruang kerja Maya dengan cara yang begitu mengerikan.
Maya terlihat cukup terkejut mendengar ucapan terakhir tuan Hertanto, dia tahu sekarang siapa yang bermain-main mengacaukan proyek pembangunan terbaru nya, itu adalah Ayah Shinta, tuan Hertanto.
Gadis tersebut kini bergerak mendekati meja kerja nya dan dia menggeser sesuatu di atas meja, dia mengembangkan senyuman nya.
"Kau mendengar kan nya? aku hanya butuh seseorang yang menyimpan bukti atas ancaman dari direktur umbrella"
Ucap Maya di balik handphone nya, dan disana jelas tertera nama.
Bebek.
Telpon nya ternyata telah tersambung sejak tadi dengan laki-laki tersebut, sengaja melakukan antisipasi agar dia baik-baik saja dan menyimpan bukti atas kelicikan tuan Hertanto pada nya dan perusahaan nya.
__ADS_1
Di ujung sana Mawangsa terlihat diam, dia memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu, karena mendengar dengan seksama semua percakapan yang terjadi pada Maya dan ayah Shinta.