
Maya terlihat menatap dokter di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu, dia terlihat membulatkan bola matanya di mana perempuan itu terlihat sedikit bergetar saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh dokter di hadapannya tersebut.
"Anda hamil, selamat."
Bayangkan bagaimana terkejutnya perempuan tersebut saat mendengar jika dia benar-benar tengah hamil saat ini, dia pikir habis sudah dia saat ini mengingat Maya sama sekali tidak memiliki pasangan Dan dia bahkan tidak bisa menebak siapa ayah dari bayi yang dikandungnya. apakah itu benar-benar bebek di malam hari itu ataukah mungkin Mawangsa.
"Apa anda yakin jika aku hamil, dok?," Maya mencoba untuk meyakinkan laki-laki di hadapannya tersebut jika diagnosanya mungkin salah.
Tapi sayangnya harapan tinggal harapan karena apa yang diinginkan nya sama sekali tidak terkabulkan, dokter di hadapannya tersebut kembali berkata.
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa dielakkan lagi, anda bener-bener hamil nona Maya, dan ini masih di trimester pertama juga masih cukup lumayan kecil," ucap laki-laki tersebut meyakinkan.
"Anda sepertinya cukup khawatir dengan keadaan, di usia semuda ini seandainya anda tidak menginginkan bayi tersebut maka kita masih bisa untuk melakukan aborsi," dan tiba-tiba saja dokter tersebut menawarkan sebuah jasa yang berbeda.
Mungkin tepatnya dia hanya memberikan sedikit solusi, karena yang dia tahu Maya adalah mantan menantu Heri jaya. yang dia tahu perempuan itu telah berpisah dengan putra Heri jaya jadi dia pikir siapa tahu Maya tidak menginginkan anak tersebut dan berharap mendapatkan solusi terbaik atas kehamilan yang tidak diinginkan saat ini.
"Sejauh ini aku belum pernah memikirkannya," Maya pada akhirnya menjawab dengan cepat sembari terus menutup perutnya dengan kedua belah telapak tangannya dalam penuh keyakinan.
melihat ekspresi Maya dokter laki-laki itu mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
"Jangan terlalu dibawa serius, nona Maya." dokter itu bicara dengan cepat sembari menutup pembicaraan mereka.
Maya hanya mampu menghela nafasnya, kini dia berpamitan dan menundukkan kepalanya secara perlahan. perempuan itu memilih untuk segera pergi dari sana dalam langkah gontai. kata hamil membuatnya seolah-olah menanggung beban baru di dalam hidupnya. dan dia tidak tahu rencana apa yang harus dia jalankan setelah ini. bahkan dia tidak tahu apakah kehamilannya ini akan merepotkan dirinya, menyulitkan dirinya atau akan membuat dia mendapatkan sebuah kebahagiaan baru nantinya.
Maya pada akhirnya memilih untuk bergerak menuju ke arah perusahaannya, dia pikir mungkin dia butuh waktu untuk berpikir dengan matang rencana apa yang harus dia lakukan berikutnya. tapi siapa sangka di tengah langkah kakinya yang gontai tiba-tiba saja dia menabrak seseorang. dan berkas yang ada di tangannya dalam pemeriksaan miliknya tadi langsung jatuh berhamburan ke lantai, hal tersebut membuat Maya langsung terkejut dan dengan buru-buru meminta maaf kepada orang yang dia tabrak di mana dia pada akhirnya mencoba untuk menatap sosok di hadapannya tersebut yang dia tabrak tadi.
Namun rupanya sosok yang ditabrak seketika langsung menundukkan tubuhnya dan mengumpulkan berkas yang berhamburan di lantai, Maya yang melihat hal tersebut mencoba untuk memperhatikan sang pemilik sosok itu. dan bayangkan betapa terkejutnya dia ketika dia menyadari siapa sosok yang ditabrak saat ini.
"Hah?," dan Maya jelas saja gelagapan, dia langsung menundukkan tubuhnya dengan cepat dan menyambar berkas-berkas yang akan diraih oleh sosok itu dengan gerakan yang jauh lebih cepat.
__ADS_1