
Shinta terlihat begitu panik dengan keadaan saat Maya berkata akan menuntaskan semua penyelidikannya terhadap Windi, perempuan itu pikir jika seandainya dia bergerak dengan lambat dan dia tidak berusaha untuk membebaskan Windi maka dia takut kejahatannya cepat atau lambat akan ketahuan. Satu-satunya cara adalah dia harus membebaskan Windi bagaimanapun caranya, sebab jika dia tidak melakukannya dia takut perempuan tersebut akan membuka mulutnya dan membongkar kedok soal satu persatu keburukan nya dan kejahatan nya pada akhirnya akan diketahui oleh semua orang termasuk Mawangsa.
Dia ingat Mawangsa kemarin telah bersikeras berkata tidak akan membantu Windi untuk bebas dari cengkraman hukum, dia pikir dia harus membujuk memangsa sekali lagi dengan trik dan intriknya, dia harus memastikan untuk bisa membuat memangsa luno dan patuh padanya sehingga laki-laki itu mau untuk menuruti keinginan yang membebaskan Windi dari gerakan payung hukum yang dilakukan oleh Maya.
Perempuan tersebut bergegas langsung digambar kunci mobilnya dengan cepat dia pikir dia harus menemui masa saat ini juga dan membujuk laki-laki itu secepatnya. Tanpa berpikir dua tiga kali perempuan itu langsung bergerak keluar dari arah kamarnya kemudian pergi belanja menuju ke arah bagasi.
"Kamu mu kemana?," nyonya Hertanto bertanya kepada putrinya sembari mengerutkan keningnya, dia pikir ke mana perempuan itu ingin pergi saat ini.
Shinta yang awalnya jelek sangat terburu-buru seketika terkejut saat mendengar suara ibunya, itu ada respon normal yang terjadi pada seseorang yang panik dengan keadaan. Shinta buru-buru menoleh ke arah suara ibunya dan menatap wanita itu untuk beberapa waktu.
"Aku akan pergi ke perusahaan mawangsa untuk menemuinya, bu." Shinta pada akhirnya menjawab pertanyaan dari ibunya tersebut.
"Kamu mungkin akan mengganggu pekerjaannya sayang, ini sepertinya masih terlalu pagi untuk datang ke sana," ucap wanita tersebut dengan cepat.
"Aku dan Mawangsa sudah saling berkirim pesan bu, dia bilang bukan masalah dan dia malah menunggu kedatanganku untuk ke sana." Shinta menjawab dengan penuh percaya diri apa sampai diucapkan oleh ibunya dan meyakinkan diri jika Mawangsa sama sekali tidak keberatan dengan kehadirannya.
Mendengar ucapan putrinya, pada akhirnya membuat wanita itu menganggukkan kepalanya dia menjawab dan berkata.
"Kalau begitu pergilah dan hati-hati di jalan." ucapnya dengan cepat sembari mengembangkan senyumannya.
Shinta hanya menganggukan kepalanya dengan cepat tanda mengerti dan kemudian dia langsung membalikkan tubuhnya lantas melesat pergi menjauhi ibunya menuju ke arah garasi dan buru-buru setelah masuk ke garasi dia langsung naik ke atas mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke arah perusahaan calon suaminya tersebut.
Selama di dalam perjalanan kekhawatiran jelas menghantam dirinya dan dia berharap saat ini memangsa tidak akan menyulitkan keinginannya mengingat beberapa waktu ini Mawangsa seolah-olah mematok batang dan juga garis waspada terhadap dirinya.
Dia pikir dia harus bergerak lebih hati-hati kemudian dia ingin memastikan juga merencanakan sesuatu untuk melenyapkan Maya secepatnya.
Perempuan tersebut menatap lurus kearah depan, memperhatikan setiap kendaraan yang melintas di mana dia mencoba memfokuskan pandangan dengan seksama.
*******
Heri Jaya company,
ruang kerja Mawangsa.
Mawangsa masih terlalu tidak rela soal siaran pers dan juga klarifikasi yang diberikan oleh Maya kepada publik pada khalayak ramai, laki-laki tersebut jelas merasa cukup kesal juga marah serta tidak terima atas apa yang diucapkan oleh Maya, ada satu perasaan kehilangan ketika Maya berkata perempuan itu sudah tidak lagi mencintainya dan menganggapnya seperti butiran debu atau bahkan hanya air ludah yang telah dia buang dan tidak akan pernah dia jilat kembali.
Dia jelas cukup tersinggung juga merasa sangat sedih, entah kenapa tiba-tiba saja merasa sangat menyesali perbuatannya kepada gadis tersebut pada masa lalu.
Mawangsa terlihat berusaha untuk memijat-mijat kepalanya beberapa waktu dan berusaha untuk menetralisir rasa pening yang tiba-tiba menghantam dirinya. Di tengah berbagai macam perasaan yang menghantamnya tiba-tiba saja dari arah pintu depan terdengar sebuah ketukan untuk beberapa waktu dan detik kemudian pintu ruang kerjanya terbuka dengan cepat membuat Mawangsa mengernyitkan keningnya kemudian langsung menatap ke arah depan.
__ADS_1
Bisa dia lihat Shinta menyeruak masuk ke dalam ruangannya, membuat laki-laki tersebut mengernyitkan keningnya untuk beberapa waktu.
"Kamu datang tidak menghubungiku lebih dulu?," laki-laki tersebut bertanya sembari menatap ke arah perempuan yang ada di hadapannya itu di mana Sinta kini melangkah bergerak mendekati dirinya.
Mendengar pertanyaan dari mawangsa seketika membuat raut wajah cinta berubah, dia pikir seolah-olah Mawangsa tidak menyukai kehadirannya saat ini.
"Pertanyaanmu membuatku sedikit tersinggung, apa kamu merasa aku seperti beban berat untukmu saat ini?," Shinta jadi merajuk, dia langsung cemburu dan pura-pura marah juga kesal terhadap laki-laki tersebut saat.
Melihat ekspresi Shinta hanya bisa membuat Mawangsa menghela pelan nafasnya.
"Lupakan saja." Mawangsa bukan tipe orang yang suka berdebat dengan perempuan dia lebih memilih untuk diam dan tidak memperpanjang urusan.
Melihat Mawangsa yang berusaha mengalah kepada dirinya seketika membuat Shinta menggulum senyumannya penuh kemenangan, dia mendapatkan dirinya pada memangsa dan mencoba untuk bicara kepada laki-laki itu.
"Sayang ini soal-," dia baru akan bicara namun tiba-tiba saja memangsa mengeluarkan rokoknya dan laki-laki itu secara perlahan berusaha menjulurkan api di rokok yang kini telah berpindah pada bibirnya.
Shinta jelas langsung terlihat kesal.
"Sayang bisakah matikan rokoknya? aku benci pada bau rokok." ucap Perempuan tersebut dengan cepat.
Melihat ekspresi wajah Shinta dan apa yang diucapkan oleh Shinta seketika membuat Mawangsa menaiki ujung alisnya.
"Tentu saja, rokok mengganggu kesehatan sayang."
"Bukankah dulu saat kita berkirim surat kamu bilang tidak pernah mempermasalahkan soal rokok sebab di rumah kakek, ayah dan beberapa keluarga terbiasa merokok?," Mawangsa jelas saja langsung mencecar Shinta dengan berbagai macam pertanyaan.
"Bagaimana sekarang jadi tidak suka pada bau rokok?," kembali dia melesatkan tanya seperti itu kepada perempuan yang ada di hadapannya tersebut, menatap Shinta dengan jutaan pemikiran.
Mendengar apa yang diucapkan oleh memangsa seketika membuat Shinta terkejut dan gelagapan.
"Apa?," perempuan tersebut terlihat gugup.
"Itu...aku...sayang aku koma selama 6 tahun, jadi bukankah wajar saja jika aku sudah tidak terbiasa lagi dengan aroma rokok." wajah perempuan tersebut seketika memerah, dia cukup takut dengan keadaan dan takut ketahuan.
Beberapa hal tentang hubungan sahabat Pena memangsa dan Maya cukup tidak dia ketahui sehingga dia selalu kecolongan dan terus-terusan saja seperti orang bodoh karena harus merasa pura-pura lupa atau menyangkut pautkan tentang komanya demi untuk menyelamatkan harga diri dalam alasan tidak jelas nya.
Pada akhirnya setelah mendengarkan apa yang diucapkan oleh Shinta membuat laki-laki itu menghela pelan nafasnya, dia memilih untuk mengalah dan mengurungkan niatnya untuk merokok. melihat hal tersebut, membuat perempuan itu jelas sangat senang dan dia merasa memangsa memang benar-benar selalu mengalah kepada dirinya. Seulas senyuman penuh kelicikan dan penuh kemenangan bertengger di balik bibirnya.
Mawangsa kemudian menatap kearah Shinta, laki-laki tersebut tiba-tiba kembali melesatkan semua tanya kepada Shinta.
__ADS_1
"katakan padaku," ucap Mawangsa kemudian.
Hal tersebut membuat Shinta mengernyitkan keningnya.
"Soal?,"
"Kenapa kamu berkata pada Maya jika kamu hanya menganggap ku sebagai kakak laki-laki?,"
Dan sekali lagi perempuan tersebut terlihat bergetar dan gugup saat memangsa mempertanyakan hal seperti itu pada dirinya.
"Itu.... karena aku... takut...," Shinta sedikit kehilangan akal untuk mencari alasan.
Mawangsa jelas menunggu jawaban dari perempuan di hadapannya itu sembari melipat kedua belah tangan.
"Aku masih kecil dan tidak boleh pacaran saat itu, ibu bilang jika aku pacaran maka aku akan diberhentikan dari sekolah karena itu aku terpaksa melakukannya, berbohong agar tidak ada yang tahu jika aku pacaran denganmu," pada akhirnya perempuan itu menjawab dengan cepat atas pertanyaan dari Mawangsa.
Dia bener-bener pandai mencari alasan padahal saat itu sebenarnya dia sengaja mengelabui Maya agar Maya menjadi cinta mati terhadap mangsa dan mempermalukan dirinya sendiri menyatakan perasaan cintanya di hadapan khalayak ramai dan muka umum di kampus mereka, dia ingat betul bagaimana kalau itu Maya mengungkapkan cintanya pada Mawangsa dan kehilangan sedikit harga dirinya saat Mawangsa menatapnya dengan penuh kebencian di masa kuliah mereka.
"Maafkan aku karena melakukan hal itu, sayang." Shinta langsung menyandarkan dirinya pada Mawangsa, merayu laki-laki itu agar mempercayai setiap ucapannya.
Mawangsa sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, dia hanya memilih diam dan tidak membuka mulutnya sama sekali.
"Sayang, aku kemari bukan untuk membahas hal seperti itu. Aku kemari untuk bicara soal Windi, aku mohon bantu cari pengacara untuk Windi, dan mari membebaskan dia dari jeratan hukum yang akan mencekik dirinya, aku bener-bener kasihan kepada teman baikku itu." Shinta masih berusaha untuk membujuk Mawangsa, berharap laki-laki itu mengubah keputusannya dan membantu Windi bagaimanapun caranya.
"Tidak akan pernah, aku tidak akan pernah membantu temanmu untuk keluar dari jeratan hukum sedikitpun, Shinta." dan Mawangsa menjawab dengan cepat permintaan dari perempuan di hadapannya tersebut sembari menatap tajam bola mata Shinta di mana dia menyatakan dengan tegas dia tidak akan pernah membantu teman baik tunangannya tersebut.
dan mendengar apa yang diucapkan Mawangsa juga ekspresi Mawangsa yang cukup mengerikan, menbuat Maya menelan air ludahnya secara perlahan.
"Sayang."
********
"Aku mohon bantu aku Shinta," Windi terlihat merengek meminta bantuan Shinta agar dia tidak terjerat kasus hukum karena ulah bodoh ini.
"Maafkan aku Windi, aku sudah cukup berusaha dengan sekeras tenaga tapi aku tidak berhasil untuk membuatmu keluar dari keadaan ini," Shinta menata perempuan yang ada di hadapannya itu dengan rasa bersalah yang begitu tinggi.
"Lalu katakan padaku bagaimana nasibku setelah ini Shinta, aku akan kehilangan masa depanku, aku mohon cari-cari yang lain untuk menyelamatkanku," di tengah kepanikan yang menerjang perempuan tersebut dua orang polisi membawa tubuhnya dengan cepat untuk segera keluar dari kediamannya dan menangkapnya saat ini juga.
"Shinta...no... Shinta." Windi jelas berteriak histeris saat dua orang polisi menyeret tubuhnya dengan paksa untuk naik ke mobil polisi.
__ADS_1
Shinta hanya bisa menatap punggung dari Windy dan para polisi yang menyeret perempuan tersebut saat ini di mana wajahnya terlihat pucat dan dia hanya bisa meremas telapak tangannya dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.