Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Tiba-tiba mual


__ADS_3

Rumah sakit xxxxxxxxx,


pusat kota .


Begitu Maya masuk ke kamar rawat inap dimana nenek berada, dia langsung mengembang kan senyuman nya, menatap wajah tua tersebut dalam jutaan kerinduan.


Nenek yang melihat kehadiran Maya jelas bahagia setengah mati, cucu mantu harapan nya, ah iya dia lupa Maya sudah bercerai dengan Mawangsa, tapi dia masih berharap mereka kembali bersama lagi dan berharap bukan perempuan ular licik yang dinikahi cucu nya Mawangsa nanti.


"Nenek," Maya langsung mendekati nenek begitu dia tiba dihadapan semua orang, memeluk wanita tua itu dengan perasaan rindu.


"Oh sayang nenek benar-benar bahagia kamu ada disini, bagaimana kamu bisa datang ke mari?,"


Maya melepaskan pelukannya, dia langsung menjawab pertanyaan wanita tua tersebut.


"Mawangsa yang memberitahukan ku dan meminta ku untuk datang membesuk nenek," Maya menjawab dengan cepat.


Dan ketika Maya baru saja menduduki pantat nya ke sebuah kursi disamping nenek, pintu kamar tersebut terbuka. Maya cukup terkejut saat melihat sosok nyonya Dina dan Shinta. Dia pikir kenapa ada mantan mertua culas dan perempuan gila yang ikut datang diwaktu bersamaan dengan kunjungan nya pada nenek tua Mawangsa.


Sama hal nya dengan Maya, nyonya Dina ikut terkejut juga saat menyadari kehadiran Maya, apalagi Shinta, perempuan tersebut langsung membulat kan bola matanya.


"Kenapa dia ada di sini, ibu?," Shinta bertanya sedikit berbisik dengan calon ibu mertua nya tersebut.


Nyonya Dina jelas tidak memiliki jawaban yang baik untuk semua nya, memilih menatap tajam kearah Maya dan berjalan semakin mendekati Maya juga nenek tua.

__ADS_1


"Wah ibu aku terkejut saat tahu mantan istri Mawangsa diam-diam berkunjung kemari," mulut tajam nyonya Dina langsung bicara kearah nenek tua, dia menatap tidak suka kearah Maya.


"Memangnya kenapa? dia pernah bersama Mawangsa, punya hak datang dan mengunjungi ku, kau ini benar-benar rumit dalam berpikir," nenek tua jelas saja tidak suka mendengar ucapan nyonya Dina, langsung marah dan menatap kesal kearah wanita tersebut.


"Tapi dia dan Mawangsa-," nyonya Dina protes, dia ingin terus bicara tapi nenek tua langsung memotong nya.


"sebaiknya jangan terlalu sibuk mengurusi urusan orang yang mengunjungi ku, kamu seharusnya menjelaskan Kenapa baru datang saat ini huh?,"


dan nyonya Dina seketika terdiam mendengar ucapan wanita dihadapan nya tersebut.


"Aku cukup sibuk ibu, maaf baru mengunjungi ibu hari ini," nyonya Dina menjawab tidak enak.


"Kau ini pengangguran, tidak bekerja di perusahaan, tidak bekerja dirumah karena ada pembantu, tapi bersikap seolah-olah sibuk, itu terlalu bertele-tele dan tidak masuk akal." wanita tua tersebut terus mengoceh kesal, dia membuang pandangannya dan kembali menatap Maya.


wajah nyonya Dina memerah mendengar ocehan nenek tua, dia pikir bagaimana bisa nenek mempermalukan dirinya didepan Maya.


Dia pikir sebaiknya segera pergi dari sana, sebab cukup enggan berhadapan dengan ibu Mawangsa dan Shinta.


"Jangan dulu, tetaplah disini, ada sesuatu yang ingin nenek berikan pada mu," nenek menghalangi keinginan Maya, dia berkata jika ada sesuatu yang ingin dia berikan pada Maya.


Shinta yang melihat keakraban mereka dan mendengar nenek ingin memberikan sesuatu pada Maya langsung merasa iri mendengar nya.


Melihat reaksi Shinta, nyonya Dina langsung berkata.

__ADS_1


"Ibu jika ingin memberikan sesuatu pada Maya, berlaku lah adil dan berikan juga pada Shinta," protes nya cepat.


"Itu barang milik maya, kau pikir aku ingin memberikan barang milik ku? sejak awal itu milik maya yang tertinggal, kau ini bagaimana bisa serakah dan meminta ku memberikan nya pada Shinta." wanita tua itu menjawab cepat, melirik kearah Shinta dengan tatapan tidak suka.


"Dulu Maya pernah meninggalkan nya dirumah, jadi wajar saja aku ingin mengembalikan nya." lanjut wanita tua itu lagi.


mendengar ucapan nenek tua seketika membuat nyonya Dina merasa malu dan tidak tidak enak, dia akhirnya langsung meletakkan sebuah paper bag bawaan nya ke atas meja lantas berkata.


"Maafkan aku ibu, aku salah paham. hari ini aku membawa ibu makanan favorit ibu, sebagai tanda permintaan maaf, aku harap ibu menyukai nya." dia mengeluarkan sesuatu didalam sana, semangkuk sup ayam kesukaan nenek tua.


Begitu nyonya Dina mengeluarkan sup tersebut dan membukanya, tiba-tiba Maya yang mencium aromanya jadi mual, dia pikir seperti nya dia ingin muntah mencium aroma sup tersebut.


"Hmppp," Maya menutup mulutnya, dia pikir perutnya berputar-putar dan kepala tiba-tiba pening.


Shinta mengerutkan keningnya saat melihat apa yang terjadi pada Maya, tiba-tiba sebuah kekhawatiran menghantam dirinya.


"Ada apa, Maya?," nenek tiba-tiba bertanya khawatir saat menyadari keadaan Maya.


"Aku pikir aku demam, ingin muntah dan perut ku terasa kurang enak." jawab Maya cepat.


"Sebaiknya kamu langsung memeriksakan diri ke dokter, mumpung masih di rumah sakit," nenek tua terlihat cemas, langsung meminta Maya memeriksa kondisinya sendiri.


"Jangan-," tiba-tiba saja Shinta berteriak spontan, dia tidak sengaja berkata seperti itu, membuat semua orang menoleh termasuk Maya.

__ADS_1


"Dia tidak apa-apa," Shinta terlihat gugup.


Maya yang mendengar ucapan Shinta dan respon Shinta jelas saja langsung menaikkan ujung alisnya, dia pikir apa maksud Perempuan tersebut melarang nya untuk pergi memeriksakan keadaan nya.


__ADS_2