Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Identitas gadis yang dipertanyakan


__ADS_3

Masih di Malaka company.


Maya terlihat begitu marah dan dia pasti menduga jika ini adalah perbuatan tuan Hertanto. Dia pikir bercerai dengan Mawangsa pasti membuatnya jauh lebih tenang, mampu terlepas dari beban selama 6 tahun dan bisa berhenti untuk terus membantu Shinta. sudah terlalu banyak siksaan yang dia terima udah tanggal dia menikah dengan Mawangsa hingga perceraian mereka, lalu bagaimana bisa sekarang lagi-lagi keluarga itu menyusahkan diri nya, terus-terusan saja ingin membuat masalah dengannya. Maya terlihat marah dan mengeratkan rahangnya.


"Apa yang harus kita lakukan, nona?." sekretarisnya masih terlihat panik bertanya kepada Maya apa yang harus mereka lakukan setelah ini.


"bersikaplah tenang dan jangan terlalu gegabah, aku akan memikirkannya." Maya menjawab secara perlahan kemudian meminta sekretarisnya tersebut untuk beranjak pergi dari sana.


tapi belum perempuan itu beranjak pergi dari sana tiba-tiba saja seseorang masuk dari arah pintu depan. Membuat sang asisten berhenti dari gerakannya dan mengurungkan niatnya untuk pergi karena sosok tersebut menghentikan gerakannya dan meminta dirinya untuk terus bertahan pada posisinya.


"Aku pikir ada sesuatu yang buruk, sejak tadi beberapa pihak meminta kita membayar dana pinjaman jauh lebih cepat dari biasanya, bukankah itu terdengar aneh?." Tiara baru saja masuk ke dalam ruangan kerja Maya, dia bertanya kepada gadis tersebut dengan rasa ingin tahu yang begitu tinggi.


karena dia pikir sejak tadi hal yang aneh terus terjadi di mana beberapa pihak bank dan juga para orang-orang yang menanam saham terlihat memaksa untuk agar mereka membayar cicilan atau bahkan meminta mereka untuk mengembalikan saham yang ditanam oleh Malaka grup secepatnya.


"Apakah ada konspirasi yang terjadi di belakang??" kata gadis itu lagi sembari semakin mengerutkan keningnya.


"kita sepertinya sengaja dipersulit." Maya akhirnya menjawab ucapan dari Tiara.


"aku cukup yakin ini adalah perbuatan tuan Hartanto, dia selalu terus berusaha untuk menyerang perusahaan kita dari berbagai arah," kembali dia bicara pada gadis yang ada di hadapannya itu.


Tiara yang mendengar apa yang diucapkan oleh Maya seketika mendengarkan nafasnya.


"bukankah keluarga calon istri Mawangsa benar-benar gila?, dia seolah sengaja terus menyulitkanmu padahal kalian sudah tidak memiliki hubungan apapun, seolah-olah begitu dendam kesumat dengan dirimu." Tiara jelas bicara dengan perasaan kesal dia pikir bagaimana bisa di dunia ini ada manusia-manusia seperti itu dan ada keluarga-keluarga seperti itu.


"kita harus menyeimbangkan keuangan saat ini karena jika tidak akan berpengaruh pada perusahaan dan itu akan semakin menyulitkan Malaka company,


" Tiara buru-buru duduk tepat di atas kursi yang ada di hadapan Maya.


"beberapa waktu ini perusahaan terus dihantam persoalan tentang uang bahkan pinjaman dana tidak di acc?," lanjut gadis itu lagi kemudian.


"kita akan coba hubungi kembali beberapa pihak bank lainnya," Maya bicara dengan cepat sembari menoleh ke arah sekretarisnya.


"coba lihat apakah ada salah satu diantara mereka yang akan memberikan pinjaman kepada kita dalam tengah waktu yang cepat." gadis tersebut buru-buru memberikan perintahnya dan tidak ingin sekretarisnya menunda-nunda untuk bertanya pada beberapa bank lainnya.


sekretaris Maya menganggukan kepalanya dengan cepat kemudian dia mencoba untuk menghubungi beberapa bank ia telah mereka ajukan pinjaman sebelumnya, tidak dipungkiri ada beberapa bank yang menolak pinjaman mereka dan ada juga yang berkata mereka masih membutuhkan waktu untuk melakukan prosesnya.


Cukup lama waktu berlalu hingga pada akhirnya bisa dilihat sang sekretaris tampak menganggukkan kepalanya pada panggilan terakhirnya kemudian dia menutupnya secara perlahan. gadis tersebut terlihat menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Maya memijat-mikir kepalanya untuk beberapa waktu rasa sakit di kepalanya tiba-tiba menghantam.


"Mari lupakan semuanya sejenak ini memasuki waktu makan siang, kita bisa pergi makan siang bersama bertiga sembari membicarakan hal ini setelah makan siang nanti." Ucap Maya cepat.


Gadis tersebut berusaha untuk bijaksana melupakan kesulitan yang mereka alami saat ini, dalam keadaan apa-apa orang-orang yang belum menikmati makan siang mereka mungkin akan stres menghadapi tekanan seperti ini, ada yang bilang semakin lapar perut seseorang akan semakin sulit untuk berpikir dengan jernih. karena itu Maya pikir lebih baik dia memilih untuk mendapatkan makan siang bersama sekretarisnya dan juga Tiara.


Kedua gadis itu setuju dan menganggukan kepala mereka mengikuti kemanapun yang diinginkan oleh Maya.


********


Restoran xxxxxxxx,


Pusat kota.


Setelah mereka menikmati makan siang mereka, seketika obrolan kembali terjadi soal keadaan yang menimpa perusahaan saat ini.


"Aku akan mencoba untuk menghubungi pihak bank terakhir," saat sekretaris Maya berkata seperti itu, Tiara pada akhirnya mengambil inisiatif untuk melakukan panggilannya dan bertanya pada pihak bank yang terhubung kepada mereka.


Gadis itu ingin tahu soal satu hal apa alasannya dan juga kenapa mereka menolak pinjaman yang diajukan oleh Malaka company.


Tiara terlihat bicara dari handphonenya untuk beberapa waktu, sesekali dia tertawa sesekali dia mengagukan kepalanya dan sekali juga dia menggelengkan kepalanya dengan cepat, obrolan terus terjadi di mana gadis itu dengan pandai dan cakapan mencoba untuk mengorek informasi yang ada saat ini hingga pada akhirnya dia menyampaikan salam dan mematikan panggilannya.


"Mereka bilang seseorang memerintahkan untuk membatalkan pinjaman yang diajukan oleh Malaka company dengan sengaja." dan tiba-tiba Tiara langsung membuka suaranya.


"aku sudah menduganya dengan baik." sembari mengeluarkan ekspresi cukup kecewa dan sedihnya.


"kau tidak akan percaya siapa yang mencoba untuk menghentikan semuanya." lanjut Tiara lagi kemudian.


hal tersebut jelas saja membuat Maya langsung menaikkan ujung alisnya.


"Siapa?." gadis itu bertanya ingin tahu.


"Ayunda, putra dari jenderal xxxxxxx. Aku harap kamu tidak lupa dengan wajahnya, kita pernah bertemu dengannya pada acara ulang tahun Julian ketika kamu bertarung untuk menghapus tato di punggungmu, teman Shinta."


dan saat dia mendengar apa yang diucapkan oleh Tiara membuat Maya seketika membuang kasar nafasnya.


"Apa?."

__ADS_1


"bukankah ini sangat kebetulan sekali?," tiba-tiba saja Tiara mengeluarkan ekspresi anehnya, gadis tersebut terlihat mengembangkan senyumannya dan itu membuat Maya seketika mengernyitkan keningnya.


"Keluarga ku sudah cukup lama yang memikirkan keluarga mereka aku fikir ini akan menjadi kesempatan emas untuk kami mendepaknya dari posisinya," Dan tatapan bola mata Tiara terlihat sangat mengerikan saat ini.


"bukankah kita tahu belakangan beberapa pejabat tinggi tengah diincar oleh orang-orang atas untuk diselidiki harta-harta mereka?." dia ingat beberapa hal viral saat ini ketika para pejabat menggunakan barang-barang import berlebih dan bergaya hedon tengah menjadi incaran pemerintah lainnya. Tiara pikir ini akan menjadi kesempatan untuknya menjatuhkan keluarga tersebut.


"Aku cukup tidak mengerti apa maksudmu." Maya jelas aja bertanya sedikit terkejut dengan apa yang dimaksud oleh Tiara.


Gadis tersebut masuk ke dalam perusahaannya karena Julian dan Julia tidak pernah memberitahukan tentang identitas gadis itu sama sekali kepada dirinya, siapa orang tuanya apakah berpengaruh atau tidak apakah Tiara anak orang kaya atau dari kalangan biasa. Tapi setiap kali dia melihat cara berpakaian Tiara dan juga merek-merek pakaian, tas, sepatu serta semua yang digunakannya terkadang mah yang berpikir itu merupakan barang-barang yang limit edition dan juga sulit untuk didapatkan. Dia pikir Tiara pasti bukan sembarangan gadis dan pasti memiliki keluarga yang cukup berpengaruh, terpandang juga pastinya kaya raya.


Alih-alih bisa mendapatkan jawaban dari Tiara tiba-tiba gadis itu berkata dia akan menghubungi seseorang. Hal tersebut membuat Maya seketika terdiam dan tidak lagi membuka mulutnya, mencoba menahan jutaan pertanyaan di dalam dirinya.


Gadis tersebut terlihat mulai mencoba untuk menghubungi seseorang.


"Aku ingin Kakek bisa membantuku saat ini juga, kami membutuhkan dana untuk perusahaan dan aku ingin pakai menyingkirkan keluarga dari Ayunda," terlalu pasti gadis itu bicara seolah-olah yakin orang yang dipanggil kakek akan mampu membantu dirinya.


bisa didengar gelak tawa di ujung sana.


"tentu saja kakak bisa melakukannya tapi seperti saran yang dipakai ajukan kemarin temuilah dia, dia sudah cukup kritis dan sekarat Tiara. waktunya sudah tidak banyak lagi." dan kali ini sang Kakek bicara dengan sangat serius, tidak ada lagi gelak tawa yang terdengar. Hal tersebut membuat Tiara terdiam.


"Kakek akan membantu kalian untuk meringankan waktu pelunasan pinjaman pertama, dan meminta pihak bank lain untuk bisa mencairkan pinjaman." kembali terdengar sahutan di seberang sana.


Tiara tiba-tiba mengubah ekspresi wajah, bisa dilihat kesedihan dan juga ekspresi kusut tampak dibalik wajah cantiknya.


"Baiklah, aku menyetujui untuk pulang dan bertemu dengan nya, kakek." Tiara menyetujui persyaratan yang diberikan oleh laki-laki tua di seberang sana hingga pada akhirnya dia menutup panggilannya secara perlahan.


Maya tidak ingin membuka suaranya lebih dulu karena dia takut hal yang buruk terjadi melihat ekspresi Tiara yang tiba-tiba berubah.


"aku berhasil membuat mereka memberikan waktu luang untuk perusahaan membayar sisa hutangnya selama 3 hari, dan meminta beberapa pihak bank mau menyetujui pinjaman nya," Tiara bicara kepada Maya dengan cepat kemudian dia berdiri dari posisi duduknya secara perlahan.


Maya langsung ikut berdiri melihat ekspresi Tiara.


"aku mungkin akan izin tidak masuk ke perusahaan beberapa hari, padahal yang harus aku lakukan karena keluargaku mendapatkan sedikit musibah." lanjut nanya lagi kemudian dia berpamitan untuk pergi dari hadapan Maya juga sekretaris Maya.


Gadis itu membungkukkan tubuhnya secara perlahan kemudian dia pamit dengan ekspresi yang sangat rumit juga tanpa mengeluarkan kembali kata-katanya.


Maya hanya mampu mengagukan kepalanya dan ikut membungkukkan tubuhnya, dia membiarkan Tiara pergi dari sana. Tiba-tiba dia yakin jika Tiara bukan sembarang orang, dia yakin keluarga gadis itu merupakan keluarga orang yang sangat berpengaruh sehingga gadis itu bisa melakukan apapun dengan cara yang cukup cepat.

__ADS_1


Setidaknya kali ini dia cukup lega, persoalan yang nyaris membuat nya tercekik terselesaikan dengan cepat.


__ADS_2