Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Sosok lainnya yang harus diwaspadai


__ADS_3

Catatan \= sumpah Mak, karakter Mawangsa agak ku belokkan sedikit agar lebih tegas dan cepat tanggap dari di skrip sebenarnya, diriku tidak sanggup menjabarkan karakter oon penuh kebucinan, apalah yang akan dikatakan dunia kalau Mawangsa masih oon hingga ratusan bab, jadi diri ku buat Mawangsa sadar jauh lebih cepat dah Mak, biar mak-mak yang dunia nyata nya sudah berat tidak jadi semakin berat gara-gara Mawangsa 🤧🤧🤣🤣🤣


Dan ini kisah benar-benar ku buat sedikit lebih greget dari skrip nya, jauh lebih nyari plot twist sebenarnya.


****""


The Malaka company.


Maya bergerak dengan cepat menuju ke arah lantai atas dimana ruang kerjanya berada, ucapan sekretaris nya membuat dia cukup terkejut.


"Tuan Hertanto sudah di bebaskan."


Sial, siapa yang melakukan nya?.


Maya benar-benar kesal, dia mengerat kan rahangnya untuk beberapa waktu.


"Kenapa selalu saja ada yang mampu melindungi nya?," begitu tiba di kamar elevator, Maya bicara pada sekretaris nya dan Julian.


Julian yang mendengar ucapan Maya terlihat berpikir dengan keras.


Maya sendiri mencoba memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu, menyandarkan tubuhnya di dinding kamar elevator.


Dia pikir tuan Hertanto sejak dulu selalu menyusahkan dirinya dan bahkan seolah-olah sengaja untuk menghancurkan dia dan perusahaan, gadis tersebut berusaha untuk menyimpulkan ini jelas bukan tentang kemarahan karena tragedi enam tahun yang lalu, di mana Shinta mengalami kecelakaan. Dia yakin laki-laki tua tersebut pasti menyimpan dendam berbeda kepada dirinya, karena saya tidak mungkin hanya karena kecelakaan yang menimpa Shinta yang pelakunya jelas bukan dirinya membuat tuan Hertanto semakin membencinya.


Maya harus mulai menyambung benang kusut antara satu dengan yang lainnya saat ini, dia harus membuka tabir rahasia yang disimpan oleh keluarga Umbrella pada dirinya dan keluarganya. Maya yakin, di balik punggung laki-laki tersebut terdapat seseorang yang lebih besar lagi kekuasaannya dan terlibat dalam segala hal secara diam-diam.


Meskipun pertanyaan besar masih mengambang di atas kepalanya, siapa yang terlibat di belakang tuan Hertanto, siapa yang ingin menghancurkan dirinya, tapi dia berusaha untuk bersikap tenang dan tidak menampilkan sisi lain yang membuat dia curiga pada keadaan.

__ADS_1


Begitu pintu kamar elevator terbuka, Maya buru-buru bergegas bergerak menuju ke arah ruangan kerjanya diikuti Julian dan sekretaris nya. Namun belum dia mencapai ruangan itu ketika saja satu sosok laki-laki melanjutkan dirimu, laki-laki tersebut menundukkan kepalanya ke arah Maya dan berkata.


"Tuan Xabai membuat rapat pemegang saham dadakan di pagi ini, nona." ucap laki-laki yang ada di hadapan Maya dengan cepat.


Dan mendengar nama Xabai membuat Maya menatap kearah laki-laki dihadapan nya itu untuk beberapa waktu, dia sepertinya lupa ada keberadaan laki-laki tersebut.


Xabai.


Dan Maya terlihat mengencangkan genggaman tangannya.


Yah dia hampir melupakan laki-laki tua itu, kenapa dia melepaskan pengawasan nya pada sosok itu selama ini.


Paman Xabai, setelah ayah nya meninggal, seluruh hal yang menyangkut soal keluarga ayah nya di kuasai oleh laki-laki tersebut, tapi dia bekerja di bawah naungan umbrella. bukankah itu cukup mencurigakan?.


Maya langsung menoleh kearah Julian untuk beberapa waktu.


Julian menatap Maya, seolah-olah menyadari apa yang dipikirkan oleh gadis tersebut saat ini.


******


Heri Jaya company,


ruangan kerja Mawangsa.


Laki-laki tersebut mengeratkan rahangnya, mencengkeram erat sesuatu yang ada di hadapannya, bola mata Mawangsa terlihat memerah, dia menatap kearah Arif untuk beberapa waktu.


"Dia membebaskan nya."

__ADS_1


Ucapan Arif mampu membuat emosi Mawangsa meledak-ledak saat ini.


"Xabai," Mawangsa terlihat mengeram.


"Tetap awasi diam-diam dan batasi pergerakan siapapun yang terus mencoba menekan Maya."


"Ya, tuan." Arif menundukkan kepalanya.


"Kirimkan hadiah untuk tuan Hertanto atas kebebasan nya." ucap Mawangsa lagi kemudian.


setelah berkata begitu, Mawangsa bergerak keluar dari ruangan nya, laki-laki tersebut meraih handphone nya dengan cepat dan mencoba untuk menghubungi seseorang diseberang sana.


*****


"Halo?," Maya bicara, mengerutkankan keningnya saat tahu Mawangsa mencoba menghubungi dirinya.


"Ada apa?," dia bergerak menuju ke arah ruangan rapat yang digelar secara dadakan saat ini, mencoba mendengar kan apa yang ingin dikatakan laki-laki di seberang sana.


"Nenek jatuh di kamar mandi dan dalam keadaan yang kurang stabil, aku harap kamu bisa datang untuk melihat nya." Mawangsa bicara dengan cepat pada nya, menyampaikan jika nenek laki-laki tersebut dalam kondisi tidak baik-baik saja.


"Apa?," Maya jelas terkejut, dia panik dan langsung berkata.


"Sore aku akan datang ke kediaman nenek." jawab nya dengan cepat.


setelah berkata begitu, dia menutup panggilannya dengan cepat kemudian begitu melihat pintu ruangan rapat yang terbuka mau yang langsung berbelok menuju ke arah kanannya dan masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa banyak bicara.


Seorang laki-laki yang wajahnya tidak asing terlihat berdiri Kokoh di hadapannya, menatap tajam kearah Maya dalam balutan kekuatan dan kekuasaan nya, Maya hanya menaikkan ujung bibirnya sembari memberikan penghormatan pada laki-laki paruh baya tersebut secara perlahan.

__ADS_1


"Paman."


Xabai, laki-laki tersebut adalah sang pemegang saham tertinggi perusahaan saat ini.


__ADS_2