Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Terlalu manipulatif


__ADS_3

Elsa terlihat menata ke arah isi surat yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu setelah Mawangsa sudah keluar dari kamarnya, gadis tersebut mencoba untuk membaca isi surat tersebut dan berusaha melihat apa saja yang tertulis di sana juga bagaimana tanpa sebuah lukisan tangan yang dibuat di atas kertas surat tersebut tentang wajah seseorang.


Dia mengernyitkan keningnya untuk beberapa waktu di mana dia pikir jika diperhatikan dengan seksama lukisan yang di gambar di atas kanvas kertas di hadapannya tersebut cukup mirip dengan sang kakak nya, tapi sayangnya nama didalam surat tersebut berbeda dengan nama kakak nya. Mawangsa jelas bukan sahabat pena Maya, disana tertulis dengan jelas nama laki-laki yang berbeda.


Dia juga ingat kakak nya memiliki sahabat pena yang tidak lain adalah Shinta, jadi dia pikir tidak mungkin sekali jika Maya dan Mawangsa adalah sahabat pena. Mereka jelas memiliki karakter yang berbeda. Dan mereka memiliki sahabat pena yang jelas berbeda.


Elsa mencoba untuk menepis pemikiran bodohnya di mana dia berharap jika sahabat pena Maya adalah kakak nya Mawangsa dan begitu juga sebaliknya.


Ditengah pemikiran Elsa tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamarnya sehingga membuat Elsa buru-buru dengan cepat langsung menyimpan kembali surat milik mantan kakak ipar nya terbesar ke dalam lemari yang ada di hadapannya.


"Ya?," dia bicara saat ketukan terjadi kembali di depan sana.


Elsa buru-buru berutup laci meja nya kemudian bergerak menuju ke arah pintu depan kamar nya, membuka pintu dengan cepat kemudian dia melihat siapa yang ada di depan sana dan rupanya itu adalah Shinta.


"Mari pergi makan sekarang juga." Shinta bicara cepat kearah dirinya.


Elsa menatap perempuan dihadapan nya untuk beberapa waktu, tidak tahu kenapa tapi dia merasa sangat tidak menyukai kita saat ini karena baginya perempuan itu seolah-olah menyimpan Aura dia tidak baik menurutnya dan dia tidak punya sisi baik dari sosok Shinta saat ini.


"Aku akan turun sebentar lagi." dia menjawab dengan nada sedikit ketus kemudian langsung membuang pandangannya dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Shinta tampak mengeringkan keningnya saat dia melihat Elsa merespon dirinya dengan cara yang kurang baik. Dia pikir Elsa sepertinya orang menyukai kehadiran yang saat ini sehingga pada akhirnya perempuan itu tanpa bicara apapun langsung membalikkan tubuhnya dan turun menuju kearah lantai bawah dengan cepat.


"Kamu sudah memanggil Elsa?," Mawangsa bertanya kepada Shinta dengan cepat begitu dia melihat perempuan tersebut sudah kembali ke dapur.


Shinta buru-buru mengganggukan kepalanya dengan cepat dan menjawab.


"He em, aku sudah memanggil nya." jawab Shinta pelan.


"Aku pikir seperti nya Elsa kurang menyukai ku." lanjut Shinta lagu kemudian.


Mawangsa terlihat mengerutkan keningnya.


"Ya?,"

__ADS_1


*******


Mereka melewati waktu makan bersama tanpa banyak bicara di awalnya hingga pada akhirnya kembali terdengar ocehan dari nyonya Dina soal ketidaksukaan nya pada basket terhadap Elsa.


"Kamu harus segera memutuskan untuk berhenti bermain basket atau jika tidak ibu akad menghentikan uang jajanmu selama kamu berada di SMA," oceh wanita tersebut cepat ke arah putrinya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh ibunya jelas saja coba buat Elsa sangat tidak suka dia langsung berkata.


"Aku selesai tidak mau berhenti dari kegiatan tersebut ditambah lagi aku akan mengikuti kompetisi kejuaraan dan waktunya sudah semakin dekat." Elsa jelas tidak setuju dan tidak suka dengan keputusan ibunya tersebut bola matanya terlihat berkaca-kaca dan dia melirik ke arah kakak laki-lakinya tersebut.


"Ibu jangan seperti itu, Elsa menyukainya, biarkan saja." Shinta berusaha untuk membela Elsa.


Sebenarnya dia hanya sedang mencari muka tidak sungguh-sungguh ingin berkata seperti itu tapi dia berharap seolah-olah Mawangsa melihat betapa penuh perhatian nya dia pada Elsa.


"Apa kamu sudah belajar untuk membela dirinya juga? basket tidak memiliki masa depan untuk apa mendukungnya?," Nyonya Dina terus mengoceh, dia terlihat menghabiskan sisa terakhir makanannya, memilih untuk berdiri dari sana dan mengabaikan semua orang.


"Ibu bukan seperti itu," Shinta pura-pura bersedih saat bicara seperti itu dia menoleh ke arah Mawangsa meminta perhatian dari laki-laki tersebut.


"Jangan diteruskan, biarkan ibu memikirkan semua nya lagi," Mawangsa bicara, Mencoba menghibur Shinta dan menyentuh lembut punggung tangan nya.


Elsa jelas mengernyitkan keningnya, dia pikir kapan dia bicara begitu pada Shinta? dia tidak pernah meminta bantuan nya.


"Tindakan mu menyusahkan calon kakak iparmu saja dan itu hanya akan memperburuk keadaan ketika ibu malah akan memarahi Shinta." Mawangsa jadi memarahi dirinya.


Elsa jelas saja terkejut, dia pikir bagaimana bisa dia jadi yang disalahkan?.


"Aku tidak bicara dengan kak Shinta."


"Sayang ini inisiatif ku sendiri." Shinta buru-buru memotong.


"Minta maaf dengan Shinta."


bayangkan bagaimana perasaan Elsa, bagaimana bisa kakaknya jadi salah paham seperti itu dan cinta tidak menjelaskan karena dia tidak pernah meminta bantuan dari perempuan tersebut sebelumnya untuk membujuk ibunya. Dia boleh disalahkan Mawangsa atas segalanya saat ini.

__ADS_1


"Tapi kak."


"Minta maaf lah."


Elsa jelas sangat tersinggung dan kesal, bagaimana bisa Shinta terlihat bermuka dua belas?, dia jadi benci pada perempuan tersebut.


"Aku minta maaf, kak." Dia terpaksa mengatakan nya, menatap kearah Shinta duit tatapan penuh kekesalan dan juga rasa tidak suka.


"kamu mengeluarkan ekspresi wajah tidak tulus itu terlihat sangat buruk, Elsa." Mawangsa bicara dengan cepat radio adikku tersebut dan tidak suka melihat ekspresi seperti itu.


Elsa jelas saja terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh kakak nya.


"Sayang jangan terlalu keras dengan Elsa."


Elsa tidak habis pikirnya apa ya diucapkan oleh Sinta dan kenapa tidak meralat jika dia, dengan perasaan kesal gadis tersebut menyelesaikan makan nya dan berencana untuk pergi dari sana.


Mawangsa buru-buru meraih sebuah mangga, dia memberikan nya pada Shinta secara perlahan dan berusaha untuk menyuapi perempuan tersebut.


Melihat mangga Shinta jelas terkejut, dia tidak siap untuk memakannya, dia itu alergi mangga bagaimana bisa dia memakannya.


"Tidak Mawangsa, aku saat ini sedang tidak suka memakan mangga ditambah lagi aku sedang kedatangan tamu jadi tidak bisa mengkonsumsinya saat ini." perempuan itu bicara dengan cepat dan berusaha untuk menolak nya.


Mendengar ucapan perempuan di hadapan yang membuat Mawangsa dia dia kemudian menyingkirkan mangga tersebut , dia sama sekali tidak menyimpan kecurigaan mengganggukan kepalanya kemudian melupakan hal tersebut dengan cepat.


"jadi kamu akan tidur di sini?," tiba-tiba suara nyonya Dina mengejutkan mereka hingga membuat Shinta langsung menoleh karang wanita tersebut.


mendapatkan pertanyaan seperti itu seketika membuat Shinta langsung menoleh ke acara calon ibu mertua tersebut kemudian menjawab.


"jika ibu bersikeras aku akan tidur di sini." jawab perempuan itu dengan cepat.


"itu bagus kamu bisa menginap di kamar Mawangsa hmm,"


dan mendengar ucapan dari ibunya seketika membuat Mawangsa mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Apa," kata tidur sekamar benar-benar sangat mengganggu dirinya


__ADS_2