
"Kau terlalu aneh dan mencurigakan saat meminta ku untuk tidak memeriksakan diri," dan Maya jelas saja bertanya sambil terus menaikkan ujung alisnya, dia menatap curiga kearah Shinta seolah-olah perempuan tersebut mengetahui sesuatu soal dirinya.
Shinta agak gelagapan mendengar pertanyaan Maya, dia terlihat bergetar dan menjawab.
"Kau terlalu berlebihan, aku, maksud ku kamu tidak terlihat sakit jadi tidak perlu ke dokter." dia berkilah, mencoba untuk membuat Maya tidak mencurigai dirinya.
"Kau ini lucu sekali, yang merasakan baik tidak baiknya tubuh seseorang itu yah sang pemilik tubuh nya, memangnya kau yang memiliki tubuh ku? bisa-bisanya berpikir aku tidak butuh ke dokter dan baik-baik saja!," Maya jelas marah, dia bicara penuh penekanan pada Shinta.
Hal tersebut membuat Shinta semakin gelagapan.
"Ah susah-susah kau ini terlalu melebih-lebihkan," nyonya Dina mencoba membela Shinta, dia pada akhirnya menarik Shinta untuk segera keluar dari sana dan pura-pura ingin membeli sesuatu kedepan.
"Bukankah nenek ingin memberikan kamu barang yang tertinggal? ambillah, aku dan Shinta akan keluar untuk membeli sesuatu," ucap wanita tersebut kemudian, menarik Shinta agar segera keluar dari sana.
Shinta merasa terselamatkan, dia yang panik seketika merasa lega.
Nenek tua terlihat mendengus menatap kepergian nyonya Dina dan Shinta.
"Aku heran apa bagus nya dia hingga Mawangsa menyukainya, tidak kah kamu lihat dia pandai berbohong?," wanita tua itu mengoceh, dia berusaha menggerakkan tangannya dan mencari sesuatu didalam sebuah tas yang ada di sisi kanan nya di atas meja.
"Nenek butuh bantuan?," Maya tidak menjawab ucapan nenek tua, lebih tertarik untuk membantu wanita tersebut meraih tas nya.
"iya bantu ambilkan tas nya," nenek tua menjawab cepat.
Maya buru-buru meraih tas tersebut dan memberikan nya pada nenek tua.
wanita tua tersebut secara perlahan mulai mengambil sesuatu yang ada di dalam tasnya, hingga pada akhirnya dia memberikan sesuatu kepada Maya dan membuat gadis itu mengerutkan keningnya.
"ini adalah barang peninggalan ayahmu," tiba-tiba saja nenek mengeluarkan sebuah kunci dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Maya.
Maya jelas saja mengerut kan kening nya dan menatap kunci tersebut untuk beberapa waktu, dia menerima kunci tersebut secara perlahan dan menatapnya dengan seksama.
"kunci ini diberikan oleh ayahmu 6 tahun yang lalu, aku hampir saja melupakan ya dan nyaris tidak memberikan padamu, jika bukan karena membereskan kamar mungkin aku tidak akan ingat untuk memberikannya padamu, Maya." nenek bicara dengan nada penuh penyesalan, dia nyari saja lupa memberikan kunci penting tersebut yang dititipkan oleh ayah Maya kepada Maya.
Maya memperhatikan kunci tersebut dengan seksama kemudian dia menatap karena nenek tua.
"Heri jaya dan ayah mu adalah rekan bisnis yang terus bekerjasama dalam waktu yang lama, ayah Mawangsa dan ayah mu benar-benar teman yang baik juga relasi yang baik, kemudian dia menitipkan kunci ini pada Heri jaya dan berpesan untuk memberikan nya pada mu saat jadi menantu Heri jaya, tapi nenek benar-benar lupa memberikan nya pada mu selama kamu menikah dengan Mawangsa," nenek kembali menjelaskan kepada Maya tentang kelupaannya Dan juga bagaimana hubungan ayah gadis tersebut dengan ayah Mawangsa, putranya.
"Entahlah apa yang terjadi, ayah mu orang yang baik hingga-," nenek menghentikan kata-katanya.
__ADS_1
Maya jelas saja kehilangan kata-katanya Dan dia tampak gemetaran menggenggam kunci tersebut di mana bola mata gadis tersebut terlihat berkaca-kaca. seketika saja Maya ingat tentang kiasan masa lalu, dia pikir seandainya saja hari itu dia bersama ayahnya mungkin kejadian bunuh diri melompat dari lantai gedung atas pada hari itu tidak akan terjadi. dia tidak tahu kenapa ayahnya bisa bunuh diri tapi alasan perusahaan yang bangkrut ia menjadi pemicu ayahnya melakukan hal tersebut meskipun sebenarnya tidak ada saksi mata atas peristiwa yang terjadi pada kematian ayahnya di masa lalu.
Dia jelas sedih tiap kali mengingat kejadian pada masa itu, dimana sejak saat itu kehidupan nya berubah, tuan Hertanto mengambil alih seluruh saham perusahaan dan dia menjadi istri Mawangsa yang tidak pernah di anggap.
"Nenek bisa jelaskan pada ku apa kegunaan kunci ini?," pada akhirnya Maya mencoba untuk tidak menumpahkan air mata nya, dia berusaha menghela kasar nafas nya dan bertanya pada nenek tua.
"Nenek tidak begitu paham, ayah mu bilang di rumah tua kamu akan mendapatkan jawaban nya, ada sebuah rahasia besar yang tersimpan di sana dan kamu bisa membuka nya dan mencari tahu tentang semuanya," nenek menjawab dengan cepat.
dia tidak paham apa maksud kunci tersebut, tapi seingat nya ayah Maya berpesan jika gudang tua menyimpan jawaban atas segala-galanya.
Maya jelas mengerutkan keningnya mendengar penjelasan nenek tua.
"Ya, gudang tua?," tanya nya dalam kebingungan yang mendalam.
******
Maya melangkah keluar dari rumah sakit secara perlahan, kunci yang diberikan nenek cukup mengganggu nya, kata rahasia jelas membuat dia berpikir dengan keras.
"Apa yang disembunyikan ayah nya dimasa lalu?," itu batin nya.
Ditengah pemikirannya yang berkacamuk menjadi satu, tiba-tiba saja Shinta berdiri dihadapannya dan mengejutkan Maya.
"Mari bicara," ucap Shinta kemudian.
Bicara?.
"Aku pikir tidak ada yang harus kita bicarakan, aku cukup dalam keadaan terburu-buru," Maya berusaha menolaknya, menaruh kecurigaan besar atas perlakuan Shinta pada nya sejak tadi.
Shinta terlihat mengeram saat Maya menolak ajakannya bicara. Dia tahu Maya pasti hamil dan itu pasti anak Mawangsa tapi dia juga takut ada laki-laki lain yang meniduri Maya dan Maya hamil kemudian memaksa Mawangsa untuk bertanggung jawab.
Shinta pikir dia harus membuat perhitungan dan memperingati Maya secepatnya.
"Kau seperti takut bicara dengan ku disini, mari bicara ditempat lain dan aku ingin kita bicara hal yang cukup penting." dia memaksa Maya untuk ikut dengan nya, mencoba mencengkeram Maya dan membawa Maya ke arah belakang.
Maya tiba-tiba saja menaikkan ujung bibirnya, dia menepis tangan Shinta dan berkata.
"Baik mari bicara ditempat lain," ucapnya kemudian.
Maya secara perlahan menggenggam handphone nya, dia berusaha menghubungi seseorang di ujung sana, dia pikir sepertinya dia harus membuat perhitungan pada Shinta kali ini.
__ADS_1
Shinta jelas saja senang, dia menganggukkan kepalanya dan dengan cepat membawa Maya untuk pergi ketempat yang cukup sepi tanpa ada CCTV pengaman nya.
"So, katakan apa yang kamu inginkan Shinta?," begitu mereka tiba ditempat yang diinginkan Shinta, Maya bertanya dan sengaja menekan nama Shinta dibelakang nya.
Shinta yang masih memunggungi nya tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan berkata.
"Apa kau tahu kenapa aku membenci mu selama ini Maya?," Shinta bicara sambil menatap tajam bola mata Maya.
Maya terlihat balik menatap Shinta tanpa rasa takutnya.
"aku cukup terkejut mendengar nya." jawab Maya pelan.
"Yah seharusnya kau memang terkejut, aku benar-benar membenci mu, jijik melihat mu bahkan aku selalu berpikir untuk melenyapkan mu sejak kau kecil hingga hari ini," tiba-tiba saja Shinta berkata begitu dalam tatapan penuh kebencian.
"Sejak kau lahir ke dunia ini kebencian ku sudah mengakar bahkan aku pikir aku ingin sekali melenyapkan mu saat ini juga,"
Dan di ujung sana Mawangsa yang mengangkat panggilan Maya mencoba bicara, dia terkejut mendengar kata-kata Maya.
"So, katakan apa yang kamu inginkan Shinta?,"
Mawangsa mengerutkan keningnya.
"Apa kau tahu kenapa aku membenci mu selama ini Maya?,"
dan dia tahu itu adalah suara Shinta.
"aku cukup terkejut mendengar nya."
"Yah seharusnya kau memang terkejut, aku benar-benar membenci mu, jijik melihat mu bahkan aku selalu berpikir untuk melenyapkan mu sejak kau kecil hingga hari ini,"
Mawangsa seketika menegang, dia mempercepat langkahnya dan berkata.
"Maya kau dimana?,"
"Sejak kau lahir ke dunia ini kebencian ku sudah mengakar bahkan aku pikir aku ingin sekali melenyapkan mu saat ini juga,"
"Kau berencana untuk membunuh ku sekarang juga?,"
"yah aku ingin melenyapkan mu sekarang juga,"
__ADS_1
"Oh shi-t,"
Mawangsa mengumpat, dia secepat kilat berlarian dari posisinya dan bergerak dengan cepat ke sisi bagian kirinya tanpa berpikir dua tiga kali.