Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Sedikit insiden


__ADS_3

Restoran xxxxxxxx,


pusat kota.


Maya terlihat senang setidaknya sedikit demi sedikit masalah mulai terselesaikan, meskipun dia tahu tidak sepenuhnya dan seutuhnya tapi setidaknya sudah bisa meringankan persoalan yang menghantam perusahaannya. Baginya Tiara sudah cukup banyak membantu dirinya.


Kerugian perusahaan yang disebabkan oleh grup umbrella cukup membuat dia sesak, dia pikir menarik pinjamannya dan meminta mereka menggunakannya dengan cepat kemudian bank yang diajukan pinjaman membatalkan pengajuannya dan tidak meng'acc nya, Maya yakin perusahaan akan cukup kesulitan saat ini. Para karyawan jelas yang paling kasihan akan dipecat secara langsung dan itu pasti akan sangat menyedihkan juga menyulitkan mereka mengingat rata-rata karyawan jelas telah memiliki keluarga.


dia jelas sangat berterima kasih kepada Tiara, karena gadis itu mau membantunya dengan kerja bahkan tidak mengharapkan imbalan apapun atas bantuan yang telah diberikannya. Hal tersebut bener-bener membuat Maya sangat berterima kasih dan juga sangat senang sekali. Itu artinya persoalan perusahaan yang rumit dan cukup mengganggu sedikit demi sedikit bisa teratasi meskipun sebenarnya belum sepenuhnya bisa teratasi saat ini tapi itu cukup membuatnya lega


"Aku sangat berterima kasih atas apa yang kamu lakukan." Dia bicara pada Tiara dengan cepat saat berterima kasih kepada gadis tersebut atas pertolongan yang kemarin.


"Jangan terlalu sungkan bukankah selain kita berteman, aku melakukannya juga karena Julian menyakinkan aku jika kamu memang orang yang baik, ditambah lagi aku sudah termasuk ke dalam perusahaan ini atas rekomendasi Julian jadi aku pikir aku pantas untuk membantu perusahaan dan bos sendiri dalam banyak situasi." Tiara penuh semangat ke arah Maya jika dia menyumbang pantas membantu gadis baik tersebut apalagi jika yang membuat ulang adalah Shinta dan kawan-kawan nya, dia benar-benar semangat untuk membantu dan memberikan pelajaran pada nya.


"Ditambah lagi soal Ayunda, keluargaku sudah cukup lama ingin membuat keluarga mereka merasakan bagaimana rasanya terjatuh karena kesombongan mereka, jadi aku pikir bos ini adalah waktu yang paling tepat untuk membuat mereka bungkam atas kesombongan mereka." laju gadis itu lagi kemudian sembari menatap dalam bola mata Maya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh gadis dihadapannya tersebut membuat Maya melebarkan senyumannya, dia pikir rupanya persoalan antar keluarga yang terjadi dalam keluarga Ayunda dan juga Tiara cukup menguntungkan untuk dirinya dan perusahaan.


Gadis tersebut jelas merasa lega saat dia tahu Ayunda berhasil untung disingkirkan sebagai penghalang dari perusahaan nya.


"Jangan memanggilku bos jika kita tidak sedang berada di perusahaan, kamu bisa bersikap biasa-biasa saja ketika kita di luar dari perusahaan, Tiara." Maya tertawa kecil kemudian berkata dengan cepat kepada Tiara, agar gadis tersebut tidak terlalu sungkan ketika mereka tidak berada di dalam wilayah perusahaan sendiri sebab di luar mereka bukan bos dan atasan tapi di perusahaan mereka adalah bos dan atasan.


"Yah yah aku sering kebablasan dan lupa." Tiara terlihat terkekeh kecil.


Ditengah obrolan mereka tiba-tiba handphone Tiara berdering, dia buru-buru mengangkatnya dengan cepat. Maya hanya mendengarkan sedikit obrolan yang dilakukan oleh Tiara di balik handphonenya. cukup lama hingga pada akhirnya gadis tersebut berkata.


"Ada apa?"


"Baiklah, aku akan menemui tuan muda."


Tidak tahu siapa orang yang menghubungi Tiara, namun saat mendengar Tiara berkata soal tuan muda dia fikir orang yang menghubungi gadis tersebut jelas bukan orang sembarangan.


Setelah berkata seperti itu Tiara langsung mematikan panggilannya, dia kemudian buru-buru langsung berdiri dari posisinya kemudian membungkukkan tubuhnya.

__ADS_1


Melihat hal tersebut Maya ikut berdiri dan membungkukkan tubuhnya.


"Aku harus pergi sekarang juga karena ada hal mendadak yang harus aku lakukan." ucap gadis di hadapannya tersebut dengan cepat.


Maya tidak banyak mengeluarkan suaranya dia menganggukkan kepalanya dan membiarkan Tiara pergi dari hadapannya.


Dia terlihat menatap punggung Tiara untuk beberapa waktu hingga pada akhirnya gadis tersebut menghilang dari pandangannya. Setelah meyakinkan diri jika Tiara telah pergi pada akhirnya Maya secara perlahan beranjak dari posisinya, dia pikir mungkin sebaiknya dia juga pergi, cukup tidak nyaman berada di sana mengingat posisi dimana dia berada cukup dekat dengan perusahaan Mawangsa.


Maya bergerak menuju ke arah kamar elevator dan dia berniat untuk turun menuju ke lantai atas menuju kearah parkiran atas dan berencana untuk kembali ke perusahaan, namun nyatanya baru dia akan mencapai bagian pintu depan elevator hal mengejutkan terjadi di mana dia tiba-tiba bertemu langsung dengan Mawangsa dan Arif asisten laki-laki tersebut.


"Aihhhh." Maya pikir tidak bisakah dia tidak bertemu laki-laki tersebut meskipun hanya sejenak?, rasanya cukup tidak nyaman dan sangat mengganggu.


Maya langsung mengeluarkan ekspresi wajah tidak sukanya pada memangsa dan dia langsung melebarkan senyumannya kepada Arif.


"Nona." Arif terlihat membungkukkan tubuhnya dengan cepat ketika dia menyadari mantan istri tuannya ada di hadapan mereka.


Maya membalas salam yang diberikan oleh Arif, dia membungkukkan balik tubuhnya secara perlahan.


Mawangsa yang menerima respon dari Maya dimana gadis tersebut sama sekali tidak mau melebarkan senyuman kepadanya tapi hanya melebarkan senyumannya kepada Arif seketika langsung mengeluarkan ekspresi penuh kekesalannya, dia pikir bagaimana bisa gadis yang ada di hadapannya tersebut mengabaikan dirinya dan tidak ingin bicara dengannya. Laki-laki tersebut seketika langsung menatap ke arah asistennya dengan tatapan yang begitu suram, Arif langsung menelan salivanya melihat ekspresi tuannya yang sangat tidak bersahabat.


Seiring suara pintu elevator terbuka, dia dengan perasaan tidak nyaman Maya masuk kedalam kamar elevator lebih dulu disusul oleh Mawangsa dan Arif.


Didalam kamar elevator mereka menjadi tidak nyaman antara satu dengan yang lainnya, rasanya begitu sungkan dan juga membuat mayat terlalu tertekan jika dia ada bersama Mawangsa. Apalagi ketika dia ingat atas kemarahannya pada ibu Mawangsa, membuat dia cukup enggan berhadapan dengan laki-laki tersebut. Dia selalu berharap mereka terputus hubungan setelah perceraian tapi selalu saja mereka terhubung antara satu dengan yang lainnya dengan berbagai cara.


Ditengah pemikiran Maya tiba-tiba saja hal yang cukup mengejutkan terjadi ketika tiba-tiba elevator berhenti dengan cara mendadak, mengejutkan semua orang dan membuat Maya tersentak dan agak terpental ke dinding, dia terjatuh dan,


"Akhhhhh." Gadis tersebut berteriak kecil saat menyadari soal sesuatu.


Akibat hantaman tadi, kaki nya seketika tertekuk dan terlilir.


Dia menahan kakinya karena terkejut, Mawangsa juga Arif ikut terkejut karena keadaan. Mawangsa Masih sempat menoleh ke arah mana dan berusaha untuk membantunya namun tiba-tiba saja lampu elevator mati secara mendadak, hal tersebut membuat semua orang membeku. Tidak lama kemudian lampu kembali menyala normal.


"Anda baik-baik saja, nona?." Arif yang seolah-oleh lebih dulu menyadari kondisi Maya seketika langsung bertanya.

__ADS_1


"Aku pikir kaki ku terkilir." Ucap Maya pelan, dia mencoba untuk memegang kakinya yang terasa begitu ngilu dan sakit.


Mawangsa yang mendengar apa yang diucapkan oleh Maya seketika langsung mendekati gadis tersebut dan berkata.


"Naikkan tanganmu ke bahuku dan aku akan menahan tubuhmu agar tetap tegak." Mawangsa dengan cepat tangan meraih tangan gadis tersebut agar Maya mau membiarkan tangannya naik ke atas bahunya.


Maya awalnya menolak tawaran dari laki-laki tersebut namun Mawangsa berkata.


"kamu tidak dalam keadaan yang cocok untuk menolak bantuan orang lain." ucap laki-laki itu dengan cepat.


"jika kamu terus bertahan pada posisi seperti itu tanpa bantuan aku yakin kakimu akan terus membengkak." Lanjut Mawangsa lagi kemudian.


Maya yang mendengar ucapan laki-laki tersebut sejenak tampak diam, hingga mau tidak mau dia menerima uluran tangan dari laki-laki tersebut dan secara perlahan membiarkan lengannya naik ke dalam rangkulan Mawangsa. Laki-laki tersebut berusaha untuk menahan tubuh Maya agar tidak jatuh dan syukur nya elevator kembali bergerak dengan normal hanya dalam hitungan detik.


begitu pintu elevator terbuka Maya berusaha untuk melepaskan diri dari memangsa dan dia buru-buru mengucapkan terima kasih dan berniat untuk beranjak pergi namun nyatanya kakinya terasa sangat nyeri luar biasa membuat dia berpegangan pada pintu elevator. Hal tersebut membuat memangsa kembali buru-buru mencoba menyambar tubuh Maya. Tapi gadis itu kembali berusaha untuk menolaknya namun Mawangsa langsung tanpa bicara dua tiga kali menggendong Maya keluar dari pintu elevator tersebut sembari berkata.


"jika kamu terus bersikeras maka pintu elevator ini akan kembali tertutup dan turun ke bawah." Ucap laki-laki tersebut cepat.


Maya pada akhirnya terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Mawangsa.


Arif yang melihat interaksi di antara kedua orang tersebut terutama apa yang dilakukan oleh bos yang berpikir jika memang benar seperti nya Mawangsa masih mencintai mantan istrinya dan masih mengharapkan Maya, tapi dia tahu sepertinya Maya berusaha untuk terus menghindar dan tidak menyukai Mawangsa.


Dia pikir Mawangsa benar-benar telant untuk menyadari perasaannya dan juga merasa bersalah atas semua yang dilakukannya pada Maya dulu. Seharusnya sebelum bercerai mawangsa berpikir terlebih dahulu dua tiga kali untuk melepaskan Maya. Karena bagi Arif, Shinta jelas tidak sepadan dengan bosnya tersebut.


Mawangsa mencoba untuk mencari sebuah kursi dan meletakkan Maya di sana dia pikir mungkin dia butuh sesuatu untuk mengompres kaki gadis tersebut saat ini sebelum bisa dilihat kaki Maya sedikit membengkak dan mulai membiru.


"Sudah, aku bisa melakukan nya sendiri," emangnya pada akhirnya menolak kebaikan Mawangsa dia merasa ini cukup tidak pantas dan berpikir bisa melakukannya nanti saat kembali ke perusahaan.


Mendengar penolakan dari gadis tersebut seketika membuat Mawangsa mengerutkan keningnya, dia kemudian menatap gadis itu sembari berkata.


"Berhentilah terus-terusan seperti ini dan kamu tahu seolah-olah kamu sengaja untuk menghindariku dan tidak pernah ingin bicara denganku, itu membuatku kesal juga tidak nyaman." Ucap laki-laki tersebut tiba-tiba.


Mendengar ucapkan oleh mawangsa jelas saja membuat Maya cukup terkejut.

__ADS_1


"Apa?." tanya Maya sembari menaikkan ujung alisnya untuk beberapa waktu.


__ADS_2