Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Meminta bantuan nya


__ADS_3

Maya buru-buru langsung turun dari mobilnya, dia bergerak menuju ke arah depan pintu rumahnya, bisa dilihat sosok tersebut yang dia lihat dari mobil tadi kini menjongkok kan tubuhnya sembari membiarkan dirinya menatap ke arah lantai.


"apa kamu baik-baik saja?"


Maya bertanya dengan cepat.


Itu adalah Elsa, adik Mawangsa.


tidak tahu apa yang terjadi pada gadis tersebut tapi saat ini kondisinya sangat terlihat kurang baik, bisa dia rasakan sepertinya gadis itu terus menjongkokkan tubuhnya sejak tadi sembari terus memainkan tangannya di atas lantai


Elsa terlihat mendongakkan wajahnya, saat dia melihat Maya gadis tersebut buru-buru langsung berdiri dengan ekspresi wajah yang cukup sulit untuk Maya artikan.


sejenak Maya mengerut kan keningnya saat dia menyadari soal sesuatu.


"apa yang terjadi pada wajah mu hmm?"


meskipun dia telah bercerai dengan Mawangsa, dan juga meskipun Elsa di masa lalu tidak begitu baik padanya, Maya tetaplah Maya yang selalu memiliki perasaan dan tidak pernah kehilangan hati nuraninya, dia melihat wajah gadis di hadapannya tersebut sedikit memar dan memerah, dia pikir apakah gadis itu bertengkar kembali hingga membuat pipi dan bibir Elsa terlihat memerah seperti habis terkena tamparan seseorang.


"apa kamu bertengkar lagi dan dilaporkan ke kantor polisi?"


Maya seketika langsung bertanya dengan cepat, dia sedikit khawatir dengan keadaan gadis di hadapan tersebut.


"aku sudah tidak lagi bertengkar dengan teman-temanku, ini dilakukan oleh ibu"


setelah berkata seperti itu Elsa langsung membuang pandangannya, dia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


"kakak bolehkah aku menginap di sini malam ini? aku sedang tidak baik-baik saja untuk kembali ke rumah."


Cerita gadis itu dengan cepat sembari dia berusaha berjalan untuk masuk ke rumah Maya dan menunggu Maya membuka pintunya.


begitu pintu terbuka Elsa buru-buru langsung masuk ke dalam rumah tersebut lantas segera duduk di kursi ruang tamu.


mendengar ucapan Elsa tadi membuat Maya diam untuk beberapa waktu.


"kenapa ibu memukulmu?"


pada akhirnya Maya melembutkan suaranya, mencoba merayu gadis di hadapannya tersebut agar bercerita.


Elsa tampak diam sejenak, dia mencoba bakalan nafasnya untuk beberapa waktu kemudian mencoba menyandarkan tubuhnya ke atas kursi sofa yang dia duduki tersebut.


"aku belum siap untuk masuk ke perusahaan tapi ibu dan semua orang memaksaku untuk melakukannya, aku sama sekali tidak tertarik untuk mengurus perusahaan seperti kak Mawangsa'

__ADS_1


dia bicara pelan sembari berhatap bola mata Maya untuk beberapa waktu.


"Mereka ingin agar kamu bisa menjadi mandiri dan belajar jadi lebih dewasa"


"tapi aku belum siap sama sekali"


"kamu bisa mencobanya tanpa harus memaksakan diri, mencoba melihat potensi dan dirimu sendiri seiring berjalannya waktu, mungkin saat ini kamu akan berkata jika kamu tidak tertarik tapi percayalah cepat atau lebah kamu akan menikmatinya karena sedikit banyak semua orang pasti berada di fase itu"


Elsa terlihat diam mendengar apa yang diucapkan oleh Maya, lagi dia beneran fase kasar.


"mungkin aku bisa melakukannya tapi tidak dengan cara memaksa ibu cukup keterlaluan memperlakukan diriku"


oceh Elsa kemudian.


"ya aku sudah tahu betul bagaimana karakter ibu"


jawab Maya kemudian.


"aku bisa menebak nya, kamu pasti membantah dan membuat ibu marah besar?"


"ya aku menjambak rambut ibu, jadi sedikit hilang hingga akhirnya aku melarikan diri dari rumah"


ekspresi wajah yang ditampilkan oleh Elsa terlihat cukup lucu sehingga membuat maya tertawa terkekeh, bisa dia bayangkan apa yang terjadi ketika Elsa mencoba menjambak rambut mantan mertuanya itu.


protes Elsa cepat, dia terlihat cemberut. meskipun sebenarnya dia juga ingin tertawa saat mengingat apa yang dia lakukan pada ibunya tadi tapi dia mencoba untuk menahannya.


"aku hanya sedang berusaha untuk membayangkan apa yang terjadi tadinya"


Maya mencoba untuk menghentikan tawanya.


"lupakan saja aku membawakan kakak sesuatu"


Elsa tiba-tiba menaikkan sebuah paper bag mendominasi berwarna putih dan gold, paper bag tersebut terlihat cukup mewah.


"ini adalah skin care paket lengkap ya sangat booming belakangan ini dan digunakan oleh artis-artis terkenal"


ucap Elsa dengan cepat.


mendengar ucapan mantan adik ipar nya tersebut, sontak membuat Maya menaikkan ujung alisnya.


"kau berlaku seperti ini pasti ada maunya bukan? aku sudah cukup hapal kebiasaan mu"

__ADS_1


Ucap Maya cepat.


mendengar ucapan mantan kakak ipar yang tersebut seketika membuat Elsa tampak malu-malu kucing.


"Aihhh aku lebih suka kakak yang jadi kakak ipar ku dari pada Shinta, kakak sangat cekatan dan pintar, bukan licik dan tidak berperasaan"


ucap Elsa kemudian.


"Kakak mau bukan datang ke sekolahanku dan membantu diriku? aku butuh kakak datang di hari Sabtu ini ke sekolah"


lanjut Elsa dengan cepat sembari menatap dalam bola mata Maya.


mendengar ucapan mantan adik iparnya seketika membuatnya menggelengkan kepalanya.


"kamu bisa meminta Mawangsa untuk melakukannya, aku tidak lagi bisa untuk melakukan hal tersebut sekarang, memangsa jelas lebih bertanggung jawab soal kamu saat ini"


"tapi ya bisa kuandalkan hanya kakak"


Elsa memohon.


"meskipun kamu berharap bisa mengandalkan diriku apa kau lupa aku dan keluarga Heri jaya sudah tidak memiliki hubungan apapun, jika kamu terus memaksa dan mendesak ku untuk membantu mu dan mengurusi mu, ini malah akan semakin mempersulit keadaanku, Elsa"


Maya jelas menolak mentah-mentah permintaan mantan adik iparnya itu, baginya dia dan mawangsa juga seluruh keluarga Heri jaya sudah memutuskan hubungan setelah perceraian mereka.


dia mana mau berurusan lagi dengan keluarga Mawangsa hingga membuat dirimu akan kesulitan dengan keadaan.


"pulanglah ke rumah sekarang dan carilah orang lain untuk membantumu nanti"


"kak."


"bahkan kamu bisa meminta Mawangsa sendiri untuk melakukannya"


di tengah keadaan di mana Elsa terus mendesak dan Maya terus menolak tiba-tiba memangsa menghubungi handphone Elsa, dia berkata jika dia ada di depan rumah Maya.


"Apa? kakak ada didepan?"


Elsa jelas saja terkejut setengah mati mendengar nya.


Maya jelas langsung mengerutkan keningnya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Elsa.


Oh god.

__ADS_1


Maya menghela kasar nafasnya untuk beberapa waktu.


__ADS_2