Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Shinta menghilang


__ADS_3

tentu saja gadis itu berkata dia tidak melihat Shinta, tapi dia berpikir terlalu banyak berbohong juga tidak baik untuk dirinya, jika setelah buruk terjadi pada cinta Shinta takut dia yang akan disalahkan.


"aku hanya melihat nya berpapasan di kamar mandi tidak lebih, kau bisa mencarinya di sana"


Ucap gadis tersebut dengan cepat ke arah mawangsa.


"atau kamu bisa melihat kamera CCTV untuk melihat keberadaannya saat ini"


gadis itu memberikan sebuah solusi, sebenarnya agak-enggak untuk mengatakan hal tersebut dia cukup jijik karena melihat Mawangsa begitu mengkhawatirkan Shinta.


"Cinta benar-benar membutakan mata hati"


Maya bicara di dalam hatinya dengan perasaan sedikit mencibir dan mengejek.


mendengar saran dari Maya membuat mawangsa tampak mengganggukan kepalanya, melihat para CCTV dan mengeceknya jelas saja merupakan ide yang baik.


laki-laki itu khawatir karena Shinta belum juga terlihat batang hidungnya, seharusnya mereka pulang saat ini juga dan Shinta membuatnya tiba-tiba khawatir.


nyatanya dikala laki-laki tersebut terlihat panik dan khawatir, Maya mengabaikan memangsa dan melengos pergi dari hadapan laki-laki tersebut, dia pikir sangat tidak penting jika dia juga ada di sana dan harus khawatir soal Shinta.


Maya mengabaikan memangsa dan bergerak mendekati Julian dan membawa laki-laki itu untuk segera keluar dari restoran tersebut.


"sesuatu yang buruk terjadi?"


Julian bertanya pada maya saat mereka telah keluar dari restoran itu.


alih-alih menjawab gadis tersebut hanya menaikkan kedua belah bahunya.


"aku tidak tahu dan aku tidak ingin peduli"


jawab Maya dengan tenang.


Didalam sana Mawangsa tidak kunjung mendapatkan Shinta, dia berusaha untuk menghubungi nomor handphone perempuan tersebut, namun nyatanya dia sama sekali tidak bisa menghubunginya ke handphone Shinta dimatikan oleh perempuan tersebut.


"coba susuri tempat ini dan lihat ke mana dia pergi"


pada akhirnya laki-laki itu memerintahkan pada sang sekretaris yang untuk mencari Shinta, rono wajah panik dan khawatir terlihat jelas dibalik wajah laki-laki tersebut.


cukup lama mereka mencari namun pada akhirnya mereka sama sekali tidak menemukan perempuan itu, hingga pada akhirnya mawangsa mencoba untuk menghubungi nyonya Hertanto, berpikir bisa jadi Shinta telah kembali lebih dulu ke kediaman Hertanto.

__ADS_1


dan seketika kepanikan terjadi karena nyatanya Shinta sama sekali belum pulang ke rumah setelah pamit pergi bersama mawangsa.


******


Kediaman utama keluarga Hertanto.


"Bagaimana bisa Shinta menghilang?"


Tuan Hertanto terlihat cukup marah menatap ke arah mawangsa, dia pikir bagaimana bisa laki-laki itu melepaskan pengawasan pada putrinya.


"Aku yakin hal yang buruk pasti terjadi pada putriku, oh...ya Tuhan apa yang harus kita lakukan?"


wanita paruh baya lebih tersembuy jelas saja panik setengah mati, kecemasan menghantam dirinya di mana bola matanya saat ini terlihat berkaca-kaca , dia tidak siap untuk kehilangan kembali Putri setelah dia kehilangan Putri pertamanya dulu.


dan percayalah saking paniknya wanita itu, seketika dia kehilangan kesadarannya dan jatuh pingsan tanpa diduga.


Brakkkkkkk.


"Ibu..."


Mawangsa jelas tercekat, dia sangat terkejut saat sadar calon ibu mertua nya jatuh pingsan karena keadaan. dan malam ini keadaan benar-benar kacau balau, keluarga Hertanto jelas menjadi tidak baik-baik saja.


"seharusnya aku mengawasi Shinta jauh lebih baik lagi"


laki-laki itu terlihat menyesal sembari ke arah calon ayah mertuanya.


"tidak usah terlalu merasa bersalah, aku yakin Shinta baik-baik saja, kita hanya perlu untuk mencari keberadaannya dan coba untuk kembali lagi ke restoran tersebut serta memeriksa kamera CCTV yang ada di beberapa bagian sudut restoran itu"


Ucap tuan Hertanto dengan cepat, dia pikir mungkin sebaiknya mereka kembali ke restoran di mana mawangsa dan Shinta pergi untuk makan malam.


"itu ide yang bagus, ayah. kita bisa pergi ke restoran tersebut kembali dan memeriksa cctv-nya"


Mawangsa menyetujui usulan calon ayah mertuanya, mereka baru akan beranjak dari sana namun tiba-tiba saja handphone mawangsa berdering keras, laki-laki itu langsung mengambil handphonenya di saku celananya dengan cepat dan mengangkat panggilan tersebut dengan terburu-buru.


Itu adalah Arif sang asistennya.


"katakan padaku apakah kamu dapatkan informasi soal Shinta?"


Mawangsa langsung bicara pada intinya tanpa membawa waktu dan ingin tahu apakah Arif mendapatkan informasi tentang keberadaan perempuan tersebut.

__ADS_1


dia masih ingin melanjutkan ucapannya nyatanya sang mertuanya meminta dia menyalahkan loudspeaker agar mereka juga mendengar apa yang diucapkan oleh sekretaris Mawangsa, laki-laki itu pada akhirnya menurutinya dan menyalakan speaker handphonenya.


"ini cukup celaka tuan"


tiba-tiba saja suara Arif terdengar tidak baik-baik saja di seberang sana, membuat mewangsa langsung saja mengerutkan keningnya.


"katakan padaku ada apa?"


Semburat kekhawatiran menghiasi wajahnya, laki-laki itu ingin tahu apa yang akan dikatakan Arif berikutnya.


"pria bertopeng membawa nona Shinta"


dan percayalah seketika Mawangsa langsung membulatkan bola matanya, tuan Hertanto tidak kalah terkejut dengan mawangsa saat dia mendengarkan apa yang diucapkan oleh Arif di seberang sana.


"Apa?"


laki-laki paruh baya tersebut terkejut.


"Sial"


Mawangsa mengumpat.


"Aku akan menghubungi polisi"


ucap laki-laki itu dengan cepat dan dia berusaha untuk mematikan handphonenya kemudian dia ingin menghubungi polisi.


"No..."


dan satu tangan menghentikan gerakan nya dan membuat Mawangsa terkejut setengah mati, laki-laki tersebut langsung menoleh ke arah sisi kanan belakangnya dengan cepat.


Nyonya Hertanto rupanya bangun dari posisi pingsan nya, dengan wajah Pucat dan tubuh tidak baik-baik saja, wanita tersebut langsung menggelengkan kepalanya.


"Jangan hubungi polisi"


Ulang Wanita tersebut lagi kemudian dan didetik berikut nya wanita tersebut kembali kehilangan keseimbangannya.


"Ibu..."


seketika mawangsa langsung meraih tubuh wanita tersebut dengan keadaan panik

__ADS_1


__ADS_2