
Mansion Utama taun Hertanto
Kamar Utama Nyonya dan tuan Hertanto.
Shinta dan ibu nya bernostalgia menatap satu persatu foto didalam album lawas di kamar nyonya Hertanto, sesekali terdengar obrolan di antara mereka berdua di mana bisa mereka lihat beberapa foto anak bayi dan anak perempuan.
"Ini siapa Bu?"
"Kakak mu, ini saat dia masih bayi"
Ibu nya menjawab cepat atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Shinta.
mendengar jawaban dari ibunya membuat Shinta ingat soal kakak perempuan tersebut.
"Ini saat kakak mu berusia 5 tahun"
dan seketika bola mata nyonya Hertanto berkaca-kaca saat mengingat soal putri nya di masa itu.
Melihat reaksi yang diberikan ibu nya membuat Shinta menatap dalam wajah ibu nya untuk beberapa waktu, dia mengeluarkan ekspresi rumit dan sulit nya pada saat ini.
"Dan kakak menghilang karena ayah Maya, dia menculik nya di masa lalu dan ...."
Oh seketika nyonya Hertanto menangis, dia bingung harus melanjutkan kata-katanya, hal itu membuat Shinta secara perlahan memeluk ibu nya.
"Bu..."
"Ini sangat melukai aku"
Ucap wanita paruh baya tersebut pelan, memilih untuk menyeka air matanya dengan cepat. Mereka larut dalam keadaan, di mana nyonya Hertanto larut dalam kesedihan dan Shinta memilih untuk diam.
Ditengah suasana yang sedikit rumit tiba-tiba tuan Hertanto pulang ke rumah, laki-laki tersebut masuk ke kamar dengan gerakan tergesa-gesa, ekspresi wajah nya terlihat tidak baik-baik saja.
"Sayang?"
Nyonya Hertanto terkejut, langsung membereskan semua album foto dengan terburu-buru, berdiri dari posisi nya dan menyambut suami nya datang.
__ADS_1
"Ayah...?"
Dan Shinta terlihat gelisah, dia pikir raut wajah ayah nya terlihat begitu buruk, bahkan dia menatap kearah Shinta dengan wajah penuh kekesalan.
*Katakan padaku, kekacauan apa yang kamu buat terhadap Maya?"
laki-laki tersebut bertanya dengan cepat, hal tersebut sontak membuat Shinta cukup terkejut.
"Ya?'
Shinta terlihat ketakutan, dia mundur beberapa langkah, berpikir apakah seseorang mengadu pada ayah nya.
"Sayang ada apa? kenapa datang dan langsung marah-marah?"
nyonya Hertanto mencoba menjadi pelindung putri nya, bertanya panik pada suaminya tersebut. Dia pikir sepertinya ada hal buruk yang terjadi hingga membuat suaminya suara itu saat ini.
"kamu seharusnya menanyakan pada putrimu apa yang telah dia lakukan beberapa waktu ini, dia menciptakan kerugian sangat besar untuk ku tanpa menggunakan kepalanya dengan baik dan benar"
laki-laki tersebut berteriak kesal, bicara dengan istri nya penuh dengan nada membara, dia menatap kearah Shinta karena ketakutan menatap dirinya.
Ini benar-benar sial.
Perempuan tersebut gusar.
Dia sadar dia telah bertindak terlalu ceroboh.
"Jangan semarah itu, bukankah kita bisa bicara dengan baik dan mencoba mencari solusi nya?"
Istri Hertanto berusaha untuk menahan kemarahan suaminya, dia tahu saat marah sang suami sangat sulit untuk dikendalikan.
"kau pikir ini ada solusinya? dia membuat tanah yang aku inginkan selama bertahun-tahun berpindah tangan pada Maya, aku pergi Shinta anak mu itu perempuan yang cerdas, bagaimana bisa dia bertindak sebodoh itu dan juga seceroboh itu?"
bola mata tuan Hartanto benar-benar terlihat memerah penuh dengan kemarahan, dia mencoba melangkah ke depan dan bicara ke arah Shinta.
"seharusnya ketika kau ingin melakukan sesuatu kau berpikir dua tiga kali apakah itu akan menguntungkan atau merugikan"
__ADS_1
Dia membentak dengan kesal.
"Ayah maafkan aku...aku...hanya merasa kesal dan.."
"kau hanya mengandalkan rasa kesal mu, seharusnya kau bergerak lebih pintar, tidak Heran Jika kau menggunakan dengkul ku saat memutuskan sesuatu, kau benar-benar bukan put...."
"Ayah...."
Nyonya Hertanto langsung berteriak panik, dia pikir suaminya hampir saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dikatakan.
Dan seolah-olah sadar atas kemarahan nya juga Ucapan nya yang nyaris keluar semua nya, tuan Hertanto langsung terdiam, dia seketika menatap istrinya untuk beberapa waktu, mencoba menetralisir kemarahan nya yang berubah keterkejutan.
Laki-laki tersebut tidak bicara, dia pada akhirnya berbalik dengan cepat dan keluar dari kamar tersebut.
Shinta yang mendengar ucapan ayah nya yang menggantung seketika mengerutkan keningnya, dia pikir apa yang diucapkan ayah nya tadi?!.
Bukan put...ri nya?!.
Itu kalimat paling tepat jika di lanjutkan kata-kata ayah nya.
"Bu?"
Perempuan tersebut menatap ke arah ibunya kemudian berusaha untuk bertanya apa yang dimaksud ayahnya.
"Apa maksud ayah tadi?''
tanya perempuan tersebut kemudian.
Alih-alih menjawab apa yang dipertanyakan oleh putrinya seketika wanita paruh baya tersebut berkata.
"Ayah mu sedang kesal dan asal bicara, bereskan semua ini dan mari pergi mencari angin segar setelah ini"
Wanita tersebut menjawab dan berusaha untuk mengabaikan kebingungan Shinta.
hal tersebut seketika membuat Shinta diam untuk beberapa waktu, dia menatap punggung wanita dihadapan nya untuk beberapa waktu, berbagai macam rasa menghantam dirinya, timbul keinginan untuk mencari tahu tentang apa yang diucapkan oleh ayah nya.
__ADS_1