
begitu nyonya Dina mengangkat tangannya dan akan menampar Maya, secepat kilat gadis tersebut menahan tangan wanita tua itu.
"Apa kau sudah gila?"
Maya langsung membentak nyonya Dina sembari mencengkram erat pergelangan tangan wanita tua di hadapannya itu.
Hal tersebut jelas membuat nyonya Dina terkejut, dia pikir bagaimana bisa Maya menghindari tamparannya.
"Berani sekali kau ingin menampar ku? kau pikir siapa kamu, bibi? kita bahkan tidak memiliki hubungan apa-apa, berani sekali kamu ingin menyentuh wajah berharga Ku?"
suara Maya jelas membaca keadaan membuat seluruh orang di perusahaan itu langsung menoleh ke arah mereka.
setelah berkata begitu dia langsung mendorong nyonya Dina dengan gerakan yang begitu kasar hingga membuat wanita tua itu langsung terjatuh ke lantai.
brakkkkkkk
"Akhhhh"
nyonya Dina langsung meringis, bayangkan bagaimana malu nya nyonya Dina saat ini, wajahnya jelas langsung memerah karena malu, bahkan dia nyaris kehilangan mukanya saat ini, dia tidak menyangka jika Maya telah banyak berubah.
dulu sebelum bercerai dengan putranya dia tahu Maya bukanlah orang yang kasar, gadis itu bicara begitu lembut ke arah dirinya bahkan tidak pernah membantah nya apalagi mendorong tubuhnya seperti itu, biasanya dirinyalah yang menjajah dan berlaku seenaknya kepada Maya, apapun yang dia lakukan kepada gadis tersebut dan perbuatan apapun yang dia berikan kepada Maya, mantan menantunya itu selalu diam dan menerima.
dia pikir Maya akan tetap lemah seperti dulu, saat dia akan menamparnya gadis tersebut akan diam dan rela dipermalukan oleh dirinya, tapi lihat apa yang terjadi saat ini semua benar-benar berada di luar ekspektasinya, bahkan Maya berani meninggikan suaranya juga membangkang kata-katanya.
dengan perasaan kesal wanita tua itu langsung berdiri dari posisi jatuh terjengkangnya, dia kembali menghadapi mayas kemudian bicara sambil marah-marah dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Maya.
"kau bagaimana bisa berani sekali kembali menggoda mawangsa, bahkan kau membiarkan putraku menggendong dirimu dengan akting dan kepura-puraanmu"
teriak nyonya Dina dengan perasaan yang menggebu-gebu, tidak dia pedulikan lagi bagaimana semua orang di perusahaan tersebut menatap dirinya dengan tatapan yang tidak dia mengerti.
yang jelas dia sangat tidak bisa menerima ketika cinta berkata dan memberikan bukti foto-foto di mana memangsa semalam menggendong Maya dan memasukkannya ke dalam mobil dengan cara yang begitu menjijikkan.
bisa dia lihat di dalam foto tersebut Maya tampak begitu manja dan juga seolah-olah tidak berdaya di dalam pelukan putranya, di mana mereka masuk ke dalam mobil mewah Sang putra kemudian meluncur menuju ke arah mana yang tidak dia ketahui.
mendengar ucapan nyonya Dina seketika membuat Maya langsung menaikkan ujung alisnya, dia cukup terkejut tapi berusaha untuk menetralisir perasaannya.
dia sedikit lupa jika semalam ada adegan yang seperti itu, banyak pikir itu berarti yang mengantarnya semalam adalah mawangsa.
"jadi kamu mendatangiku hanya untuk berkata soal itu?"
bayangkan bagaimana perasaan wanita tua di hadapan Maya saat mendengar Maya berkata seperti itu seperti tanpa dosa.
"seharusnya Bibi bertanya kepada putra Bibi kenapa dia terus mengejarku ke sana kemari, apakah dia masih mencintaiku dan tidak bahagia dengan calon menantu Bibi yang tidak berguna itu?"
Maya bicara dengan begitu tenang sembari menatap tajam bola mata wanita tua yang menatapnya penuh kemarahan, bisa dilihat nyonya Dina mengeram begitu kesal dan menggenggam telapak tangan kanannya dengan perasaan yang jelas dia sangat ketahui penuh dengan emosi yang membara ketika mendengarkan kata-katanya barusan.
"Apa? kau bagaimana begitu pedenya berkata seperti itu, kau pikir putraku masih menyukaimu? kau saja yang terlalu gatal untuk kembali menggodanya!"
dia jelas tidak mau kalah berdebat dengan Maya saat ini.
mendengar ucapan sang mantan mertuanya seketika membuat Maya mendengus.
"itu lucu sekali aku tidak mendatangi putramu tapi putramu yang mendatangiku, apa itu bisa dikatakan aku yang menggodanya?"
jelas saja perdebatan sengit terjadi di antara mereka berdua, Maya sengaja membuat nyonya Dina agar tersulit emosi yang membara, mungkin lebih tepatnya dia berharap wanita tua di hadapannya tersebut terkena serangan jantung mendadak, dan jika hal itu benar-benar terjadi itu jelas bukan lagi urusannya.
__ADS_1
dia mengingat 5 tahun pernikahannya yang terlalu mendapat campur tangan wanita tua tersebut, di mana nyonya Dina selalu menghina dan mengatai nya, bahkan kata an..Jing sering tersumbat dari bibir tua yang akan mati tersebut membuat dia merasa jika inilah saatnya dia meluapkan seluruh emosinya.
"oh ya Tuhan kalau begitu percaya diri sekali menjadi seorang perempuan, apa kau tidak sadar kau adalah pelacur murahan ia mencoba untuk menggoda putraku yang adalah tunangan orang lain?"
nyonya Dina jelas tidak mau mengalah bicara kepada Maya.
"bener apa yang aku ucapkan kepada mawangsa dulu, sekalinya seekor an..jing dia tetaplah seekor an..jing"
teriaknya dengan penuh kemarahan.
mendengar ucapan wanita tua itu jelas saja membuat Adams ikut kesal dan marah, laki-laki itu jelas langsung membela Maya, dia pikir bagaimana bisa ibu mawangsa berkata seperti itu.
"Bibi aku pikir ucapan anda sedikit keterlaluan, dia bukan lagi menantumu bibi dan kata-kata pe..lacur serta an.jing terdengar sangat mengerikan, Anda bisa ditonton untuk perkara yang begitu berat saat mengatakan hal tersebut di muka umum kepada orang asing yang tidak memiliki hubungan apa-apa terhadap keluarga anda"
Bams jelas langsung membela Maya, dia mencoba memperingati nyonya Dina atas ucapannya yang sangat keterlaluan tersebut.
"kau pikir aku peduli antara hal itu? jika pelacur ini tidak menggoda putraku aku tidak mungkin semarah ini dan datang kemari"
dan ucapan dari nyonya Dina melampaui batasan nya menurut Maya, kata pe..lacur dan an..jing jelas terdengar begitu mengerikan, kini tanpa berpikir dua tiga kali gadis tersebut langsung menyambar sebuah gelas kopi yang dia lihat disisi kanan nya di atas meja resepsionis.
Maya langsung mengambil gelas berisi kopi tersebut dan....
Byurrrr...
dia langsung menumpahkan seluruh isi kopi itu tepat di wajahnya Dina hingga membuat wanita tua itu yang sejak tadi mengoceh tidak jelas karena langsung terdiam dan terkejut dengan tindakan Maya.
"Hahhhh?"
dia tampak begitu shok sembari menaikkan kedua tangannya dan menatap Maya dengan tatapan tidak percaya.
demi apapun meskipun telah dipermalukan nyonya Dina tetap saja memaki dan menjadi semakin tidak tahu malu.
Maya langsung meminta para security untuk menyeret keluar wanita tua tersebut, dia Jelas tidak memandang lagi jika Dina dulu pernah menjadi ibu mertuanya.
karena baginya wanita itu berani ingin mencoba mempermalukannya hari ini dan membuatnya begitu sangat marah.
Adams terlihat menggelengkan kepalanya melihat kelakuan ibu mawangsa,dia tahu betul Maya adalah mantan istri memangsa, di masa lalu dia pernah singgah ke rumah tinggal memangsa dan melihat bagaimana buruknya perlakuan ibu mertua Maya terhadap gadis tersebut.
dia ingat Maya selalu berusaha mengalah dan menuruti ucapan dari mertuanya itu selama dia singgah di sana, tidak ada seorang menantu sesabar gadis itu.
dia yakin, Maya mencoba berlaku baik juga karena berharap Mawangsa akan mencintai dirinya, tapi rupanya harapannya sia-sia.
"Duli dia benar-benar mertua yang buruk, bahkan setelah kalian bercerai pun ternyata masih sama"
Ucap Adams cepat.
"bahkan sekarang sifat nya malah lebih buruk lagi"
tambah laki-laki itu Sembari menarik pelan nafasnya, dia menatap iba ke arah Maya.
"Kau tahu?"
seketika ucapan dari Adams cukup membuat Maya terkejut, dia bertanya sembari mengerutkan keningnya.
"yah dulu aku pernah mampir beberapa kali ke kediaman mawangsa dan melihat kelakuannya padamu Secara langsung"
__ADS_1
cerita laki-laki itu kemudian.
mendengar hal tersebut membuat Maya terdiam, dia pikir itu sudah cukup jika Adams tahu keadaan yang sebenarnya, tapi dia tidak perlu bercerita lebih lanjut karena dia juga berpikir mereka bukanlah teman dekat.
"Aku sudah melupakan semua masa lalu"
sana Maya mengucapkan kalimat tersebut seketika membuat Adams diam, dia pikir mungkin benar gosip yang dia dengar Maya telah melupakan masa lalu, melupakan Mawangsa dan kini benar-benar ingin membuka lembaran baru dengan menjalin hubungan percintaan dengan Dave.
berita itu belakangan sangat senter terdengar.
pada akhirnya tiba-tiba handphone laki-laki tersebut berdering, Adams buru-buru mengangkat nya.
"Halo?"
Adams terlihat diam, mencoba mendengar kan jawaban dari seberang sana.
"Itu kau rupanya? kebetulan sekali, aku akan datang sekarang"
setelah berkata seperti itu Adams buru-buru mematikan panggilannya, dia menatap Maya kemudian berkata.
"bisakah kita membuat janji temu di lain kali untuk makan bersama karena saat ini aku harus menemui seseorang?"
mendengar ucapan adzan Maya buru-buru langsung menganggukan kepalanya, dia pikir suasana hatinya pun sedang tidak baik-baik saja dan dia benar-benar tidak mohon atau berselera untuk menelan makanan.
"ya itu terdengar bagus"
jawab Maya cepat.
******
Disisi lain
Restauran xxxxxxx
Adams terlihat menatap laki-laki yang ada di hadapannya saat ini untuk beberapa waktu, setelah selesai menyantap makan siang mereka bisa Adams lihat mawangsa tampak mulai menghabiskan coffee mocca miliknya.
laki-laki tersebut menunggu Mawangsa meletakkan gelas coffee nya untuk beberapa waktu, setelah itu dia berkata.
"Tidak kah kau tahu kawan?"
Ucap Adam kemudian, membuat memangsa langsung mengalihkan pandangannya ke arah Adams.
"Ada apa?"
"Apa kamu tidak mendapat berita nya? aku pikir bibi Dina cukup keterlaluan hari ini, dia datang ke perusahaan Maya dan tiba-tiba menyerangnya dengan cara yang sangat brutal, dia melakukannya di hadapanku dengan cara yang sangat mengerikan"
Adams bicara dengan nada yang begitu santai, laki-laki tersebut menatap wajah teman nya itu dalam, dia sengaja membicarakan hal tersebut agar ibu mawangsa tidak lagi melakukan hal yang keterlaluan kepada Maya.
mendengar ucapan dari temannya seketika membuat memangsa membulatkan bola matanya.
"Apa?"
laki-laki tersebut jelas terlihat begitu marah sembari mengeratkan rahangnya.
"Kau bilang apa?"
__ADS_1
Tanya nya sekali lagi dengan ekspresi yang terlihat begitu mengerikan.