Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Selembar surat


__ADS_3

"Aku tidak ingin pulang ke rumah"


begitu mereka berada di dalam mobil Maya, tiba-tiba Elsa berkata ia tidak ingin pulang ke rumah.


"Apa?"


Maya jelas saja bertanya dengan keadaan terkejut, dari situ langsung menoleh ke arah Elsa dan nyaris tidak berkonsentrasi menyetir mobilnya.


"Yang benar saja"


Maya mendengar sembari mencoba memegang kening nya dengan salah satu tangannya di mana tangan satunya lagi terlihat sibuk menyetir mobil nya.


"aku benar-benar tidak ingin pulang ke rumah, kakak tahu aku hanya merasa stres setiap kali kembali ke rumah?"


Elsa kembali mengeluh dia membuang pandangannya dan menatap karena sisi kaca mobil dimana dia duduk.


Maya sejenak diam dia memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu kemudian kembali fokus pada jalanan.


dia pikir tumben gadis tersebut memanggilnya dengan kata kakak?!.


apa mungkin Elsa memiliki permasalahan dengan kepalanya saat ini pikirnya.


dia pada akhirnya mencoba menghela nafasnya untuk beberapa waktu, kemudian Maya berkata.


"apa kamu ingin aku antar ke hotel? aku akan memesan sebuah kamar untukmu!."


ucapnya cepat sembari bola mata Maya terus menatap ke arah depan di mana didepan sana lampu merah mulai menyala, secara perlahan Gadis tersebut menghentikan mobilnya.


"Aku tidak mau"


Lagi-lagi Elsa menjawab dengan cepat dia masih memalingkan wajahnya.


"Mari pergi ke rumah kakak, aku janji aku tidak akan membuat kekacauan"


Pintanya kemudian hingga membuat Maya mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Oh apalagi ini?!.


"Begini tidakkah kau bayangkan hari di sudah malam? semua orang mungkin akan mencarimu"


Maya berucap cepat sembari melirik sejenak ke arah Elsa.


"Apa selama pernikahan kakak dengan kak Mawangsa kakak pernah melihatku dicari oleh orang-orang di rumah setiap kali aku pulang terlambat atau tidak pulang sama sekali?"


Elsa menanyakan hal tersebut seketika membuat Maya berlian sedikit banyak ucapan gadis tersebut ada benarnya.


dulu Mawangsa terlalu sibuk dengan perusahaannya dan jarang pulang ke rumah selain itu karena mungkin alasan nya Mawangsa benci melihat dirinya dan enggan bertemu dengan nya di rumah, jadi tidak heran jika Elsa menghilang atau tidak pulang mawangsa sama sekali tidak pernah tahu.


dah ibu mertuanya?!.


Ah lupakan saja, Maya enggan untuk mengingat nya, mungkin wanita itu tidak akan peduli dengan putrinya yang dia pedulikan hanya uang dan juga kesenangan.


pada akhirnya Maya memilih untuk diam, mau tidak mau dia membawa Elsa menuju ke arah tempat tinggal.


di sepanjang perjalanan mereka memilih untuk tidak membuka obrolan sama sekali, kedua gadis tersebut sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.


hal tersebut cukup membuat Maya menjadi sedikit iba.


begitu mereka tiba di tempat kediaman, Maya memilih turun dari mobilnya diikuti oleh gadis tersebut dari arah belakang, mereka masuk ke dalam tempat tinggal Maya, di mana elsanya tetap mengikuti langkah gadis tersebut dan tidak mengeluarkan suaranya sama sekali.


bola mata gadis itu menatap tempat tinggal yang ditempati mantan kakak iparnya tersebut untuk beberapa waktu, dia menelusuri seluruh ruangan secara perlahan.


ketika bola matanya menatap ke arah dapur seketika perutnya mengeluarkan suara keroncongannya, dia dan Maya tanpa saling melirik antara satu dengan yang lainnya.


"Bolehkah kakak membuatkanku makanan?"


gadis itu bertanya sembari mengeluarkan cengar-cengir kudanya, dia menyentuh tengkuknya secara perlahan sembari mencoba untuk menahan malunya karena suara perutnya yang memberontak secara tiba-tiba.


"aku rindu dengan masakan kakak, selama kakak berpisah dengan kak mawangsa ibu memang menyewa koki terkenal untuk masak di rumah, tapi rasa makanannya sama sekali tidak persis seperti kakak, makanannya terasa begitu buruk di lidahku"


mungkin kalimat yang dilontarkan oleh Elsa terdengar seperti sebuah rayuan agar Maya mau membuatkannya makanan, tapi tidak dipungkiri dia bicara dengan jujur soal apa yang dirasakan dari masakan orang asing yang tidak pernah dia makan sebelumnya.

__ADS_1


gadis itu cukup merindukan masakan dari mantan kakak iparnya.


Maya sama sekali tidak menjawab gadis itu meletakkan tas yang dibawa nya secara perlahan ke atas meja tamu yang ada di depan, pada akhirnya gadis itu berkata.


"kamu bebas menunggu selagi aku menyiapkan makanan"


ucap Maya kemudian langsung membuang pandangannya, dia bergerak menuju ke arah dapur dan mulai melakukan aksinya untuk membuat makanan selain untuk Elsa dan juga untuk dirinya.


realitanya Maya memang ahli dalam soal memasak, dia bisa membuat makanan apapun dengan sulap dari tangannya, bahkan sejak kecil dia menyukai kegiatan memasak, bajunya ya pekerjaan itu sangat mudah dan simple serta cukup membuatnya betah untuk berlama-lama berada di dapur.


dia dulu sering memasak berbagai macam menu untuk mawangsa namun sayangnya selama pernikahan mereka laki-laki tersebut tidak pernah menyentuh makanan yang dibuatnya, orang yang suka memakan masakannya hanya adik iparnya dan juga ibu mertuanya yang lebih tepatnya adalah mantan ipar dan juga mantan ibu mertuanya.


Maya terlihat menghela nafasnya secara perlahan kemudian gadis itu mulai menyiapkan berbagai macam bahan dan juga peralatan memasak, dia mulai melakukan kegiatannya tersebut.


Selagi Maya sibuk berkutat di dapurnya, tanpa dia sadari Elsa terlihat menjelajahi setiap sudut rumahnya satu persatu, gadis itu beranjak dari satu tempat menuju ke tempat yang lainnya memperhatikan berbagai macam isi tempat tinggalnya.


Elsa melihat beberapa macam foto dan juga memperhatikan tempat tinggal itu, dia pikir Maya sepertinya memang tidak pernah membawa laki-laki ke tempat itu, sebab dia sama sekali tidak melihat asbak rokok ataupun beberapa barang laki-laki yang tertinggal di rumah itu.


bahkan dia tidak mencium aroma parfum laki-laki di sepanjang ruangan tersebut, entah kenapa Elsa berpikir apa yang diucapkan oleh ibunya jadi tidak masuk akal soal Maya yang katanya sering mondar-mandir membawa laki-laki dan juga berselingkuh di belakang kak Mawangsa nya.


hingga akhirnya gadis tersebut melangkah menuju ke arah kamar Maya, dia menyembul kan kepalanya dan mengintip ke dalam sama secara perlahan, tidak tahu kenapa rasa penasaran menyeruak di dalam dirinya, dia ingin memastikan jika tidak ada laki-laki yang pernah masuk ke sana.


dan sesuai dugaan dia pikir memang tidak pernah ada laki-laki yang masuk ke kamar gadis tersebut, hingga akhirnya Elsa tanpa sengaja mengintip sesuatu yang berada di atas meja di samping kasur milih Maya, bola matanya terjun pada beberapa lembar kertas yang ada di atas meja tersebut.


gadis itu mengintip dan memperhatikan tulisannya, Elsa mengerutkan keningnya.


Sepertinya kak Maya berkirim surat dengan seseorang laki-laki?!.


Dia bergumam didalam hati.


Tidak tahu kenapa tiba-tiba saja gadis tersebut mengambil satu lembar kertas yang ada di atas sana.


dia pikir bolehkah dia memberitahukannya kepada kak Mawangsa nya soal hal tersebut?.


"Elsa?"

__ADS_1


Begitu teriakan keamanannya terdengar dari arah belakang sana, Elsa dengan buru-buru memasukkan kertas tersebut kedalam kantong seragam sekolah nya.


__ADS_2