Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Terlambat memberikan perhatian


__ADS_3

The Malaka company,


Ruang kerja Maya.


Gadis tersebut mengernyitkan keningnya saat dia menerima sebuah paket yang di bungkus rapi dengan paper bag 🛍️ dihadapan nya. Maya menatap paper bag tersebut sambil terus berpikir apa isinya, kemudian bola mata gadis tersebut pada akhirnya beralih ke arah laki-laki dihadapan nya tersebut yang mengantarkan paper bag 🛍️ itu untuk dirinya.


"Aku sedikit tidak mengerti dengan hadiah ini." Maya bicara dengan cepat ke arah laki-laki yang ada di hadapannya tersebut yang tidak lain adalah Arif, asisten Mawangsa.


"Itu adalah kiriman yang diberikan oleh tuan kepada anda, nona." Arif menjawab sambil perlahan menundukkan kepalanya berharap Maya tidak mempersulit dirinya.


Demi apapun belakangan menghadapi Mawangsa sudah hampir membuatnya gila, dia pikir laki-laki itu seringkali bergerak di luar kapasitas pemikirannya, terlalu aneh dan tidak masuk akal menurutnya. Bahkan dia hanya bisa menghela nafasnya untuk beberapa waktu dan berpikir semua akan indah pada waktunya.


Mawangsa selalu bergerak di luar akan warasnya saat ini dan dia tidak tahu kenapa laki-laki tersebut bisa seperti itu belakangan, dia pikir tuannya cukup plin plan menghadapi kehidupan saat ini dan dia berharap hal tersebut tidak bertahan-tahanan karena jika tidak mungkin dia akan mati muda dan tidak akan sempat untuk menikah.


Mendengar ucapan Arif seketika membuat gadis tersebut tidak percaya dia pada akhirnya berkata.


"Ada apa dengan tuan mu?," tanya Maya dengan perasaan kesal.


"Kalau begitu saya permisi, nona." Dan Arif tidak ingin terlalu lama berada di sana karena dia tahu tidak lama lagi urusannya pasti akan berubah.


Daripada dia mendapatkan kisah drama panjang balik membalik obat vitamin, kirim balik kesana-kemari, lebih baik dia kabur secepat dari sana. Laki-laki tersebut buru-buru membalikkan tubuhnya dan mencoba untuk mengabaikan Maya yang seakan-akan ingin kembali bicara pada dirinya.


Maya baru saja ingin bicara pada laki-laki tersebut, tapi dengan gerakan tergesa-gesa Arif segera pergi dari sana meninggalkan dirinya. Melihat hal tersebut seketika membuat Maya tertawa sedikit mengejek pada dirinya sendiri, pada akhirnya di detik berikutnya gadis itu langsung menyambar handphonenya kemudian dengan cepat dia mencoba untuk menghubungi Mawangsa. Cukup lama dia mencoba untuk menghubungi laki-laki tersebut sehingga pada akhirnya bisa dirinya jawaban dari seberang sana.


"Halo?," Mawangsa bicara.


"Aku tidak suka bertele-tele, mari langsung bicara pada poinnya. Apa maksudmu mengirimkanku vitamin dan obat herbal seperti ini?," Maya langsung bicara pada intinya begitu dia mendengar suara Mawangsa di seberang sana, tidak peduli laki-laki itu tersinggung atau tidak saat dia bicara dengan nada agak kasar tapi Maya merasa dia mulai kehilangan atau warasnya saat menghadapi laki-laki tersebut saat ini.


"Berhentilah mengirimi aku hal yang aneh dan memberikan aku perhatikan yang tidak masuk akal." Ucap Maya lagi kemudian.


"Aku tidak berniat membuat kamu kesal dan tersinggung Maya, kemarin kejadian nya tidak jauh dari wilayah perusahaan ku, aku berinisiatif memberikan vitamin dan obat-obatan karena merasa kamu pantas mendapat kan nya." Mawangsa terdengar menyahut di ujung sana.


"Hello sir, please. Kamu benar-benar tersesat saat ini, Mawangsa aku beritahukan pada mu, perhatian mu saat ini memuakkan untuk ku, seharusnya perhatian dan tanggung jawab seperti ini aku dapatkan saat aku menjadi nyonya Mawangsa dan aku membutuhkan nya saat ini, tapi kini aku sana sekali tidak lagi membutuhkan nya. Dan kau seharusnya sadar dengan status kita saat ini," Maya benar-benar kesal mendengar ucapan Mawangsa, dia meninggikan suaranya dengan naik beberapa oktaf, cukup terganggu dengan cara gila laki-laki tersebut.

__ADS_1


Dulu dia sangat membutuhkan perhatian seperti itu, tapi kini dia benar-benar merasa jijik dan terganggu. 6 tahun dia menahan nya, berharap Mawangsa memperhatikan nya dan memberikan sedikit saja perasaan nya pada Maya, tapi yang dia dapatkan hanya hinaan, cacian, perlakukan buruk dan lain sebagainya.


"Sudah terlalu terlambat melakukan hal tersebut Mawangsa, buka mata mu lebar-lebar dan Ingat lah jika kamu dan aku sudah bercerai Mawangsa dan kita bukan lagi siapa-siapa." Ucap Maya lagi.


"Ketimbang kamu memberikan perhatian tidak berguna seperti ini untuk ku, kau sebaiknya memperhatikan dengan baik calon istri mu, kemungkinan besar dia jauh lebih membutuhkan nya dari ku mengingat betapa stress nya dia belakangan ini." Lanjut Maya lagi.


Yeah betapa tidak waras nya Maya saat ini. Batin gadis tersebut didalam hati nya.


"Maya aku-," Mawangsa di ujung sana tercekat mendengar kemarahan Maya, dia ingin bicara tapi.


Klikkkk.


Tuttttttttt.


tuttttttttt.


tuttttttttt.


"Sial, dia melakukan nya lagi." Umpat Mawangsa, cukup tersinggung karena Maya selalu menolak dan mengabaikan nya.


"Masuk kedalam," ucap Maya cepat pada sekretaris nya.


Dia mematikan panggilan nya dengan cepat, mencoba menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya sambil berpikir dengan keras sembari menatap paper bag berisi vitamin dan obat. Cukup lama hingga akhirnya seseorang menyeruak masuk kedalam ruangan nya.


"Nona?,"


"Lempar mereka ke kotak sampah." Perintah Maya kemudian. Dia menyerahkan paper bag tersebut pada gadis dihadapan nya.


Mendengar ucapan Maya sekretaris tersebut menerimanya sambil mengernyitkan keningnya, sebelum melakukan nya memilih membuka paper bag tersebut secara perlahan.


"Oh my god." Dia bicara tertahan.


"Nona ini obat herbal dan vitamin termahal dengan kwalitas import, membuang nya? Anda tidak akan menyesal?." dia bertanya untuk memastikan, mencari tahu siapa yang memberikan nya tadi.

__ADS_1


Sekretaris Arif, Mawangsa? dia ingat laki-laki tersebut tadi yang terakhir datang menemui Maya.


"Tuan Mawangsa benar-benar gila." lanjut gadis tersebut lagi kemudian.


"Akan lebih menyesal jika aku menerimanya." Maya bicara dengan cepat, malas membahas soal Mawangsa.


"Tapi ini sangat mahal, nona." gadis tersebut kembali bicara.


"Membuang uang sebanyak ini bukan pilihan yang baik."


"Kembalikan ke Heri Jaya company." dan Maya memberikan perintah selanjutnya.


Sekretaris nya hanya bisa menghela pelan nafasnya, dia pikir sayang juga karena harga nya mahal dan produk nya sangat sulit didapat. Biasanya harus pesan khusus untuk bisa mendapatkan vitamin dan obat herbal seperti itu. Meskipun tidak dipungkiri sangat aneh saat tuan Mawangsa memberikan perhatian yang sedikit berlebihan pada nona nya di masa yang tidak masuk akal.


"Aku akan mengembalikan nya." Ucap gadis tersebut pelan, memilih meraih paper bag 🛍️ tersebut kemudian beranjak dari ruangan Maya.


Dia melangkah menuju ke lantai bawah dan berniat untuk mengantarkan kembali barang tersebut.


"Apa yang kamu bawa?," tiba di lantai bawah dibagian resepsionis dia bertemu Tiara.


"Bentuk perhatian tuan Mawangsa untuk nona Maya." dia menjawab dengan cepat.


"Sayang nya nona ingin aku mengembalikan nya ke Heri Jaya company saat ini juga."


Percayalah Tiara langsung menaikkan ujung alisnya mendengar apa yang di ucapkan oleh gadis dihadapannya itu, dengan penasaran dia mengintip isi paper bag yang ada di tangan sekretaris Maya.


"Daebak, bukankah ini import? mereka sangat sulit untuk didapatkan?," ucap Tiara kemudian.


"Sesulit menata hati yang sudah hancur berkeping-keping." dan gadis dihadapannya Tiara bicara begitu dramatis, membuat Tiara dan beberapa karyawan di bagian resepsionis langsung mengeluarkan ekspresi yang sangat miris.


Salah satu ber'akting seolah-olah menyentuh jantung hati mereka dan mengeluarkan ekspresi yang sangat terluka.


"Ckckckck itu dramatis, tapi memang benar-benar sudah terlambat memberikan perhatian pada mantan saat ini, karena mantan terlihat keren dan berkelas setelah jadi mantan, terlihat cantik setelah jadi rebutan, benar-benar terlambat, aku cukup kasihan dengan Mawangsa." Tiara menggelengkan kepalanya, menatap iba pada paper bag ditangan nya, menyerahkan kembali paper bag itu pada gadis dihadapannya itu.

__ADS_1


"Kamu benar nona Tiara, aku pikir ini sudah terlalu terlambat." setelah berkata seperti itu gadis tersebut langsung pergi meninggalkan Tiara dan orang-orang yang ada di meja resepsionis.


Tiara bergegas pergi dari sana sedangkan para karyawan di meja resepsionis mulai bergosip tentang kebodohan Mawangsa.


__ADS_2