
Weekend,
Vila bagian Arena pemainan kuda.
Maya terlihat masih bersandar di atas kursi sofa mobil yang dia naiki, wajah perempuan tersebut terlihat pucat, dia mabuk mobil.
"Apa kamu baik-baik saja?," tanya Julian dengan tatapan khawatir, dia benar-benar khawatir melihat keadaan Maya.
Tidak biasanya Maya mabuk mobil, padahal dulu di masa masih sekolah dan kuliah, Maya sangat kuat di ajak kemanapun menggunakan mobil, tidak pernah mabuk mobil, tapi kali ini terlihat begitu aneh.
"Kamu tidak pernah mabuk mobil sebelum nya, Maya. Apakah kamu sakit?." Julian kembali bertanya dengan cepat, memberikan minyak angin pada tengkuk perempuan tersebut.
Maya sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari laki-laki tersebut, dia terlalu pusing, beberapa kali mencoba tidur tadi selama perjalanan tapi tidak berhasil. Dia ingin mengkonsumsi obat mual tapi tidak berani melakukan nya, terlalu beresiko besar. Hanya bisa menggunakan minyak angin atau mencoba untuk menahan keadaan.
Perjalanan kali ini terlalu menyiksa.
Bisa dia rasakan Julian meletakkan minyak angin di tengkuk nya, Maya secara perlahan mencoba meletakkan minyak angin di perut nya dan di kedua pelipis nya.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir soal apapun." pada akhirnya Maya bicara dengan cepat.
Dia membiarkan Julian keluar lebih dulu dari dalam mobilnya, kemudian disusul oleh perempuan tersebut secara perlahan.
"aku hanya butuh air hangat dan sedikit istirahat, jangan khawatir soal apapun." lanjut Maya lagi kemudian.
"apa kamu yakin?," mendengar ucapan Maya jelas aja Julian mencoba untuk meyakinkan diri, meyakinkan perempuan tersebut Apakah dia benar baik-baik saja, sebab bisa dilihat betapa pucatnya Maya saat ini, membuat dia ragu untuk turun dan mengabaikan perempuan tersebut.
"Tentu saja aku baik-baik saja, jangan khawatir soal apapun." Maya menjawab sembari mengembangkan senyumannya, meyakinkan laki-laki di sampingnya tersebut jika dia baik-baik saja, tidak ada yang perlu terlalu di khawatirkan.
Julian pada akhirnya turun dari mobilnya kemudian dengan cepat setelah menutup pintu mobilnya Dia berjalan memutar bergerak menuju ke arah pintu mobil Maya, dia membuka pintu mobil tersebut dan membantu Maya untuk turun dari sana. Maya tidak banyak mengeluarkan suaranya menggenggam telapak tangan Julian dan turun dari mobil secara perlahan, dia butuh tempat duduk nyaman, minum air hangat dan mencoba untuk menenangkan diri sejenak.
mereka mereka masuk ke dalam villa arena permainan kuda di mana mereka akan tinggal di sana selama menunggang kuda di week end ini. Begitu tiba di dalam villa bisa melihat bersin kursi sofa di ruang tunggu, perempuan itu secara perlahan bergerak menuju ke arah sana dan memutuskan untuk duduk di salah satu kursi nya, dibantu oleh Julian, Maya sejarah perlahan dirinya duduk di salah satu kursi dengan nyaman.
Julian dengan cepat bergerak menuju ke arah belakang, dia mencoba untuk mencari air hangat dan memberikannya kepada Maya agar perut perempuan tersebut cukup nyaman dengan keadaan.
di tengah kondisi laki-laki tersebut yang berlarian ke belakang dari arah pintu masuk terlihat sepasang kekasih bergerak masuk ke dalam. rupanya itu adalah Mawangsa dan Shinta, kedua orang tersebut awalnya tidak menyadari kehadiran Maya, hingga pada akhirnya ketika Mawangsa tidak sengaja menoloitasi sekarang dan seketika bola mata Mawangsa gunakan sosok Maya yang terlihat berbaring di atas kursi dalam keadaan cukup pucat.
laki-laki itu langsung mengerutkan keningnya, dan dia ingat sesuatu, apakah mungkin Maya sedang tidak enak badan karena kehamilannya?. laki-laki tersebut secara refleks menghentikan langkahnya. Dan hal tersebut membuat Shinta langsung mengerutkan kening nya, dia ikut menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Mawangsa, dan saat dia menonton arah pandangan Mawangsa, bola matanya mengikuti ke manakah kapan laki-laki tersebut tertuju.
Dan betapa terkejutnya Shinta saat dia menyadari ada Maya di sana, bayangkan bagaimana ekspresi perempuan tersebut saat ini, ketidaksukaan langsung terlihat jelas dibalik wajah nya, apalagi Mawangsa menatap Maya dalam tatapan penuh kelembutan dan kekhawatiran, sangat berbeda sekali dengan cara laki-laki tersebut menatap dirinya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?," Shinta langsung memundurkan langkahnya, menarik lengan Mawangsa dengan cepat.
Suara Shinta yang sedikit tinggi membuat Maya langsung menoleh kearah depan nya, dan perempuan itu menatap kedua orang tersebut untuk beberapa waktu.
Mawangsa yang merasa lengan nya ditarik dengan paksa oleh Shinta merasa tidak nyaman, dia langsung menepis lengan Shinta dan berkata.
"Turunkan suara mu, kau membuat keributan di sini." Mawangsa bicara dengan cepat.
"Naikkan ke atas lebih dulu, aku akan menyusul." lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.
Dan saat Shinta mendapat kan penolakan dan usiran dari Mawangsa bayangkan bagaimana ekspresi Shinta, perempuan itu jelas mengerutkan keningnya.
"Ya?,"
"Kakak ayo ke atas, barang-barang kita sudah tiba lebih dulu." tiba-tiba saja sebuah suara mengejutkan Shinta.
Perempuan itu terbelalak kaget karena menyadari calon adik iparnya ada di sana juga.
"Bagaimana kau?," perempuan itu bertanya terkejut, menatap Elsa yang bergerak mendekati nya dan menarik tangan nya.
Shinta ingin protes dalam kebingungannya, dia pikir kenapa Elsa juga ada disana, bukankah dia sudah bilang pada Mawangsa untuk tidak membawa pengacau tersebut.
Alih-alih bisa mempertahankan hal tersebut, Elsa menarik cepat lengan nya, menyeret Shinta untuk naik ke lantai atas menuju ke kamar mereka.
Maya terlihat menaikkan ujung alisnya, menatap kearah Elsa yang mengedipkan sebelah matanya kearah perempuan tersebut seolah-olah berkata, perempuan gila ini serahkan pada ku.
"Kau tahu kak, aku ini lebih gila dari dia yang memiliki kepribadian ganda."
"Terkadang untuk menghadapi orang gila, kau harus jauh lebih gila, jika tidak pura-pura gila, yah jadilah gila sekalian."
Maya terlihat membuang pandangannya saat Elsa menjauh membawa paksa Shinta, Mawangsa bergerak cemas mendekati dirinya. Maya pikir kenapa harus ada dia lagi ?.
"Apa kamu baik-baik saja?," dan begitu tiba dihadapan Maya, Mawangsa langsung duduk disamping Maya dan bertanya dalam balutan kekhawatiran kearah perempuan tersebut.
Bola mata Mawangsa tertuju pada perut Maya, berpikir apakah bayi didalam sana sengaja membuat ibu nya kesulitan? bisa dia lihat wajah Maya yang memucat, dia menebak Maya pasti mabuk kendaraan, dia mencari tahu di artikel beberapa waktu ini tentang ibu hamil. apa yang buruk, apa yang baik, bagaimana mengidam, bagaimana mood booster dan perasaan mereka. Mawangsa mati-matian mencari informasi agar bisa memahami bagaimana perasaan Maya saat hamil.
Mendengar pertanyaan dengan nada penuh ke khawatiran dari Mawangsa membuat Maya mengerutkan keningnya, dia menoleh kearah Mawangsa kemudian berkata dengan ketus.
"kau terdengar penuh perhatian, itu membuat ku sedikit risih, tidak kah kau lihat? calon istri mu membutuhkan mu saat ini." Maya mendengus, bicara dengan nada sedikit kasar.
"Aku membawa buah segar, aku akan mengeluarkan nya dari mobil dan meminta Elsa mengupasnya dan membuatkan salad buah atau sedikit campuran pedas manis untuk mu." alih-alih mendengar kan ocehan Maya, dia langsung bicara, menawarkan sesuatu yang segar termasuk rujak asam manis, sengaja tidak bilang langsung itu rujak, dia takut Maya curiga dengan ucapan nya.
Dia tahu wanita hamil suka makan-makan'an seperti itu, rujak dari buah segar adalah pilihan terbaik dan bisa mengatasi pusing dan mual.
Mendengar ucapan Mawangsa soal kata buah membuat Maya diam, dia tiba-tiba kehilangan rasa mual nya, entahlah seakan-akan dia menginginkan nya.
Mawangsa mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya, memberikan nya secara perlahan pada Maya. membuat perempuan itu terus mengerutkan keningnya.
"minyak aromaterapi juga baik untuk mengatasi mual karena mabuk perjalanan." suara laki-laki tersebut terdengar lembut dan hangat, dia menyerahkan minyak angin aromatherapy, memberikan nya pada Maya sambil mengembangkan senyumannya.
Bayangkan bagaimana ekspresi Maya saat ini, ketika dia melihat cara Mawangsa yang memperhatikan dirinya.
"Kau, ada apa dengan mu?," dan Maya jelas saja bertanya-tanya, dia pikir perlakuan dan perhatian Mawangsa agak berlebihan pada dirinya.
"apakah ini sogokan atas permintaan maaf karena aku tidak berhasil menjebloskan calon istri mu ke penjara?," Maya langsung berspekulasi, dia pikir apakah ini permintaan maaf Mawangsa.
"Tentu saja tidak." Mawangsa jelas tidak ingin Maya berprasangka buruk.
"Itu tidak seperti itu-," Mawangsa ingin melanjutkan kata-katanya tapi tiba-tiba saja hal tidak terduga terjadi, seseorang menarik kerah baju nya tiba-tiba, menarik tubuh nya agar menjauh dari Maya dan,
bugggggg.
Sebuah hantaman mengenai pipi nya.
"Akhhhh." Maya jelas terkejut, dia berteriak dan bangun dari posisi nya dengan cepat.
*******
Catatan \=
Yang tahu Keluarga Hillatop bisa ke mari yah Mak,
Ini masih belajar awal corat-coret jadi maafkanlah kalau belum enak yah Mak🙏🏻🙏🏻🙏🏻.
******
Petikan kisah mommy Ayana dan daddy Gao.
GADIS PILIHAN TUAN PENGUASA
*********
Terdengar suara dentuman music di dalam klub malam paling besar di kota jakarta, ratusan pasang mata tampak asik menari dan meliukkan tubuh mereka di bawah tamaram lampu dan juga sinar kelap kelip yang menambah semakin panas suasana didalam klub malam tersebut.
Belum lagi hingar bingar suara orang-orang yang saling sahut menyahut, dentingan gelas minuman dan sesapan-sesapan menjijikkan di sekitar ruangan, aksi saling sentuh dan menautkan bibir di beberapa sudut bahkan juga suara-suara cekikikan para perempuan yang merayu lawan jenisnya.
Di sebuah sudut kursi sofa tampak seorang laki-laki dengan gerakan Santai menyesap habis minumannya, di kelilingi oleh banyak perempuan cantik dari berbagai ras di samping nya. Bagi nya dikelilingi oleh para perempuan semacam itu sudah tidak mengherankan. bahkan tidur dengan mereka pun bukan menjadi konsumsi yang tidak lazim, bagi dirinya itu adalah hal yang biasa, biasa karena tidak dia yang meminta tapi mereka yang merapat menawarkan diri dengan sendirinya kepada nya.
Wajah unik perpaduan aksen wajah Asia,timur tengah dan Eropa terukir jelas disana, sempurna bahkan terlalu sempurna untuk ukuran seorang perempuan zaman sekarang, dia benar-benar masuk kategori laki-laki Dengan bintang paling bersinar bagi seorang perempuan dijaman kini.
Sesekali laki-laki itu menghembuskan asap rokoknya, kembali meneguk minuman yang ada ditangannya lantas dengan santai mencium gadis yang ada disamping kanan Di mana dia duduk, kemudian menoleh ke sebelah kirinya,tampak seorang gadis cantik dengan perpaduan sempurna seperti wajah milik nya tampak sibuk memainkan hape nya sesekali laki-laki itu berbisik ke arah gadis itu entah soal apa, gadis itu pun balik membisikkan sesuatu kemudian dengan cueknya membuang pandangannya.
Seketika matanya memandang 2 orang kepercayaan nya yang berjalan dari ujung menuju tepat ke hadapan nya, Dia menaikkan alisnya dengan wajah garang, dia menebak siapa yang akan ditemui nya pasti menolah untuk datang.
"Maafkan kami tuan, Dia menolak untuk melakukan pertemuan disini"
setelah menundukkan kepala mereka, salah satu berbisik karena dentuman suara musik terlalu memekakkan telinga jadi tidak memungkinkan untuk nya bicara dari arah depan laki-laki berkuasa itu.
Laki-laki itu dalam seumur hidup nya belum pernah ditolak oleh siapapun, bahkan dia bisa melakukan apa saja sesuai dengan kemauan nya, soal apapun itu selalu ada digenggaman nya.
__ADS_1
mendengar penjelasan sang asisten pribadi nya jelas saja dia mengerat kan giginya, rahangnya mengeras Seketika dan bola matanya menggelap
Berani sekali dia
Mereka akan melakukan kerja sama untuk proyek pembangunan sebuah apartemen hunian di laut Jawa, kesepakatan itu telah di buat sejak bulan lalu antara Hillatop konstruksion company dan Abimayu angkasa konstruksi group tinggal menunggu tanda tangan kedua belah pihak untuk kerja sama nya sambil membicarakan soal kapan jadwal kesepatan pembangunan serta pemasangan batu pertama.
Seluruh urusan awal sang asisten yang mengurusnya, tapi menuju kesepakatan akhir tentu saja para pemimpin yang bergerak sendiri, bertemu muka dan menandatangani kesepakatan kontrak kerja sama nya.
Tapi baginya, berani sekali anak dari Abimayu group itu menolak tempat pertemuan yang telah ditentukan oleh nya.
pria dihadapannya itu adalah sang asisten pribadi nya, tampak mengeluarkan sebuah kertas kecil dan memberikannya pada laki-laki itu
"Assalamualaikum ya tuan gaohan Hillatop, tidak bermaksud mengurangi rasa hormat karena saya telah lancang menolak untuk menemui anda di tempat seperti itu, tapi saya seorang gadis yang memegang prinsip agama, yang seumur hidup tidak pernah menjajakan kaki di tempat yang terlarang bagi Agama saya bahkan paling di benci oleh Allah dan orang tua saya. Kiranya tuan bersedia, tentukan lah tempat yang cukup layak untuk bertemu seorang gadis seperti saya,atau jika tidak saya yang InsyaAllah akan menentukan tempat mana yang pantas untuk kita berbicara 4 mata soal kerjasama kita. Kiranya anda berkenan bisa menghubungi saya di nomor ini 0852xxxxxxx
wassalamu'alaikum
salam hangat
Ayana Abimayu."
seketika amarah itu tiba-tiba menyurut, rahang itu melembut dan mata gelap itu membulat bingung, dia fikir manusia macam apa yang menulis kalimat selembut ini padanya dan dia belum pernah bertemu manusia seperti itu didunia ini kecuali mommy nya Nadya
Dengan gerakan cepat dia melesat pergi meninggalkan semua orang disana, sang gadis cantik disebelah kirinya tadi mengerutkan dahinya, ikut berdiri dari duduknya sambil mencoba mengetik pesan untuk seseorang
"Brother melesat pergi dari klub malam, aku akan pulang sekarang mom, usahakan jangan aku lagi yang memantau buaya berhati es, aku benar-benar lelah mengikuti dia"
******
Dia melesat pergi ke depan sambil melirik ke arah jam di pergelangan tangannya, tapi sejurus kemudian mengerutkan dahinya karena gadis disamping kirinya tadi Yang adalah sang adik mengikuti dia sambil sibuk mengetik sesuatu di ponselnya
"Membuat laporan sayang?"
sang adik berhenti, kemudian menaikkan bahunya
"Kamu tahu bukan? siapa lagi yang memberi perintah?"
gadis itu bicara enteng sambil menepuk-nepuk dada kanannya
"Mommy khawatir kamu akan bermain perempuan lagi sayang"
gadis itu berniat beranjak pergi, namun tiba-tiba dia berkata
"I know like father like son, but please... ingat jangan terlalu sering memainkan perasaan perempuan, dan hati-hati something kakak sendiri yang akan terbawa permainan"
setelah berkata begitu sang adik terkekeh, sejenak menatap ke arah belakang menatap sang asisten pribadi kakaknya
"Aku fikir sebaiknya tidak ada perempuan malam ini"
dia bicara menatap tajam ke arah laki-laki yang usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan kakak nya itu
"Come sayang, jangan terlalu galak pada Zoe"
Gao bicara sambil menarik tubuh adiknya, mencium keningnya pelan kemudian berkata
"Kamu pasti lelah,pulang dan istirahat lah"
"Ckckck masih memikirkan kondisi adik mu ini?"
dia mengejek, Setelah berkata begitu lantas memutar tubuhnya, berjalan kedepan Kemudian segera naik ke atas mobil yang baru saja berhenti tepat di depan mereka
Gao menyeringai, dia fikir makin hari adik nya yang satu ini kalau bicara semakin menyebalkan saja, berbeda dengan si adik satunya yang begitu lembut dan santai sama seperti mommy nya
Kemudian dia mengeluarkan ponselnya, mencoba mengetik no yang ada di kertas itu dan menghubungi nya
Fuckk you
umpat Gao, Berkali-kali dia menghubungi nomor perempuan itu sama sekali tidak ada jawabnya.
dia kembali melirik ke arah jam tangannya, pukul 22.40 malam
Jangan katakan ada manusia yang sudah tidur tenang di jam begini, karena waktu ini baginya masih terlalu dini
dia kembali menghubungi nomor itu tapi tetap sama sekali tidak di angkat, Seperti kebiasaan nya Gao jelas mengeratkan gigi grahamnya, wajahnya kembali mengeras dengan mata mulai menggelap
dia berteriak kesal ke arah belakang
Sang asisten pribadi yang wajahnya tidak kalah dinginnya Seperti dia melangkah mendekat
"ya Gao??"
suara nya Terdengar berat, berdiri tegap seakan siap mendengar kan perintah dari sang tuan, bahkan perintah tersulit pun siap dia dengarkan dan lakukan
"Kembali ke apartemen sekarang, dan bawakan aku seorang perempuan"
Zoe menundukkan kepalanya
"Baik"
Dan perintah mutlak yang pastinya dengan tanda titik yang ditekan tidak akan bisa diubah bagaimana pun caranya.
24 tahun lebih mengabdi pada keluarga hillatop dan 10 tahun mengekor serta mengikuti Gao sang pewaris takhta hillatop tentu saja tidak muda, tapi kebaikan madam Nadya dan tuan All serta miss hessa membuat dirinya tidak pernah bisa meninggalkan keluarga hillatop, apalagi tangan pertama yang menyambut hangat diri nya dari keterpurukan dan jatuh luar biasa adalah madam Nadya, wanita luar biasa itu bagaikan ibu kandung untuk nya. tidak ada perbedaan yang terjadi dalam membesarkan dirinya antara memperlakukan Gao, Fry, zeline dan Dirinya.
Bahkan diam-diam allzigra menanamkan modal saham untuk nya, mempersiapkan masa depan untuk dirinya, memberikannya 1 perusahaan anak cabang di uni emirat Arab untuk dirinya dan boleh kapanpun dia ambil ketika dia siap memutuskan tali untuk mengekor mengikuti Gao. Tapi dia belum bisa menerima 1 pun kebaikan itu, baginya di perlakukan bagaikan anak kandung, di sekolahkan setara dengan putra putri mereka itu sudah sangat luar biasa, karena dia hanya perlu mengabdi saat ini dan sisanya akan dia fikirkan nanti.
Gao menghela nafasnya berkali-kali, mood nya yang baik tiba-tiba menghilang karena secarik kertas tidak berguna dan pertemuan yang dibatalkan. Dia memejamkan matanya sejenak di atas mobil, duduk bersandar sambil memijat kepalanya yang sedikit sakit
"Berhenti di Indomaret terdekat, aku butuh minuman dingin"
ucap Gao cepat pada Zoe
kemudian Zoe dengan cepat menepi berniat turun untuk membeli apa yang diminta Gao tadi, namun ternyata Gao dengan gerakan cepat mendahului Dirinya
"Kau tunggu saja disini"
setelah berkata begitu dia melesat turun dari mobil
Jelas saja sosok Gao menarik perhatian semua orang terutama perempuan, melirik sambil berbisik melihat kedatangan laki-laki dengan wajah yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain, bahkan wajah asing untuk ukuran gadis Indonesia.
Beberapa teriakan histeris dan bisikan seakan tidak mau berhenti mengelilingi dirinya
Gao seolah menutup telinga, baginya hal seperti itu terlalu lumrah dan sering terjadi setiap kali dia berbaur di dunia luar sejak dulu hingga kini.
"Mbak bisa lebih cepat? teman saya menunggu di mobil, kami mesti buru-buru ke rumah sakit"
terdengar suara lembut namun dengan nada sedikit tergesa-gesa dari arah kasir ketika Gao selesai mengambil minumannya, dia mulai berjalan berlahan ke arah kasir untuk membayar
"Kembaliannya berikan pada antrian berikutnya"
kembali terdengar suara lembut itu
Gao melirik melihat sosok seorang gadis dari arah belakang, sosok itu menggunakan pakaian bertutup rapi menutupi semua lekuk tubuhnya, juga menggunakan penutup kepala yang entahlah apa namanya, biasanya orang-orang muslim menggunakannya fikir Gao, tubuhnya kecil, bahkan untuk ukuran tubuhnya mungkin gadis itu hanya sebatas dadanya, terlihat jelas dari jemari kaki dan tangan nya jika gadis itu pasti punya kulit yang begitu putih terawat, dia cukup penasaran dengan wajahnya, sesaat gadis itu berbalik dia hanya melihat bola mata indahnya dengan bulu mata lentik yang beberapa kali mengerjap membuat dirinya tergoda
Damn it
masker di wajahnya menghalangi Pemandangan
umpat Gao
dia penasaran bagaimana rupa gadis itu fikirnya
tanpa sengaja gadis itu menabraknya, Gao diam terus menatap gadis itu, entah barang apa yang di pegang gadis itu langsung berserakan begitu saja dilantai, dengan hati-hati gadis itu memungutnya, berdiri kemudian gadis itu mendongak kepalanya, menunduk pelan sambil berkata
"Maaf tuan, saya sedikit terburu-buru"
suaranya terdengar mengalun syahdu
"Ayana, cepat"
suara dari arah pintu masuk memekik nyaring
"Darahnya banyak banget, kita harus buru-buru menekan darahnya dan menuju kerumah sakit "
__ADS_1
suara itu kembali berteriak melengking
gadis itu refleks menoleh, berlarian kecil meninggalkan dirinya
Ayana? Ayana?
dia fikir pernah mendengar nama itu, dimana?
dan saat dia akan membayar minumannya, sang kasir berkata
"Sudah dibayar mister, oleh gadis sebelumnya"
Gao jelas mengernyitkan dahinya
What ??
******
The ritz Carlton
Mega Kuningan Jakarta
Gao duduk bersantai menyandarkan punggungnya di kursi sofa, dengan tangan kirinya menjulur sempurna disepanjang sofa, tangan kanannya tampak bersandar menyentuh pelipis kanannya, sedang kan kaki kanannya naik di atas kaki kiri sambil menggoyangkan-goyangkan kaki nya secara santai.
sebenarnya fikiran piciknya ingin menemui perempuan itu didalam kamar hotel, tapi negosiasi yang terjadi begitu sulit, perempuan itu punya segudang aturan berat, ditambah lagi bukankah dia selalu bermain halus untuk mendapatkan sesuatu yang dia anggap menarik? jadi kenapa dia mesti terlalu terburu-buru kali ini? bahkan dia saja belum melihat sosok asli perempuan itu, jadi kenapa dia mesti tergesa-gesa untuk hal yang seperti ini? fikirnya.
Dia tiba 15 menit dari jadwal yang mereka sepakati, cukup penasaran bagaimana rupa perempuan yang ada ditelpon itu. Sang asisten nya Zoe duduk tepat dihadapan nya sambil menghirup kopi secara berlahan.
Tidak beberapa Seorang perempuan yang usia sekitar 26 tahunan mendekati mereka, Gao menaikkan alisnya memandangi perempuan itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, dia fikir apakah Perempuan ini? cukup cantik dengan aksen wajah Indonesia asli, tapi anehnya tidak terlalu membuat nya tertarik.
tinggi badan nya cukup proposional, wajah nya cukup cantik, tapi suaranya tidak selembut di telpon, terlihat jelas perempuan ini bukan type Orang yang lembut.
"Maafkan saya tuan, saya asisten pribadi Nona Ayana, saya rasa beliau akan sedikit terlambat karena terjebak macet"
O.. gao hanya menatap perempuan itu beberapa waktu kemudian membuang pandangannya
Rupanya bukan dia
"Kami akan menunggu Miss "
ucap Zoe pelan sambil berdiri dan meminta perempuan itu duduk disamping
tapi perempuan itu hanya menundukkan kepalanya, lantas menoleh ke arah pintu masuk depan.
"Saya rasa nona Ayana sudah tiba"
perempuan itu berkata cepat.
sejenak Gao menoleh mencoba menatap kearah pandangan mata sang asisten perempuan yang dimaksud.Masih cukup jauh dari jangkauan, Tampak seorang perempuan berjalan kearah mereka, sangat lembut dan santai, dia menggunakan masker diwajahnya, Beberapa pelayan hotel memberi salam, gadis itu hanya menunduk sambil merapatkan kedua telapak tangannya, penampilan perempuan itu begitu sederhana namun terlihat elegan dengan caranya berjalan serta pembawaan nya, seluruh tubuhnya tertutupi pakaian panjang yang rapi, dan kepala nya ditutupi dengan kain yang di bentuk sedemikian rupa dengan sagat indah dan Gao fikir jika dia tidak salah namanya adalah hijab mungkin.
May be, yeah may be
sejenak langkah perempuan itu terhenti ketika dari arah samping kanannya muncul pria tua seumuran daddynya, ditemani beberapa orang disamping kiri kanannya berjalan semakin mendekati gadis itu. sejenak gadis itu berbalik sambil membuka maskernya, tapi sayang Gao masih tidak bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu.
Tidak lama sang pria tua merentangkan tangannya, perempuan itu dengan lembut masuk ke dalam. pelukannya
What the hell?
simpanan nya?
sugar Daddy?
atau bagaimana?
fikiran buruk sedikit mencemooh muncul dalam kepala Gao, dia mendengus kemudian membuang pandangannya.
"Itu adalah tuan ardhan, pemilik Abimanyu group, ayah nona Ayana"
sang asisten mencoba menjelaskan dengan cepat ke arah Gao dan Zoe, takut terjadi kesalahpahaman pemikiran
Oh God
dia telah salah beranggapan fikirnya
"Apakah tuan juga membuat janji temu dengan tuan ardhan?"
perempuan itu bertanya sambil mengerutkan dahinya
"Nope, kami tidak membuat janji temu sebelumnya"
Gao bicara cepat kemudian kembali menatap sosok perempuan itu
sial lagi-lagi perempuan itu menutup wajahnya dengan masker, setelah pria tua yang katanya ayahnya itu pergi, perempuan itu beranjak kembali melangkah mendekati mereka, mungkin sekitar 5 meteran lagi perempuan itu benar-benar akan menghampiri mereka
tapi tiba-tiba seorang ibu-ibu menabrak langkahnya
Bugg
praangggg
tampak barang yang dibawah ibu-ibu itu berhamburan ke lantai, dapat dilihat ekspresi kaget dari bola mata gadis itu.
Gao membenahi posisinya, meletakkan kedua telapak tangannya di bawah dagunya.
Let's we see apa yang terjadi berikutnya.
ucap Gao dalam hati.
semua orang tampak kaget, perempuan itu dengan cepat membuka masker di wajahnya.
seketika bola mata Gao membulat.
Oh sial...umpat dia dalam hati.
inikah gadis bernama Ayana Abimayu?.
makhluk tuhan paling indah yang pernah dia lihat selama ini.
wajah cantik nya begitu khas, sangat unik dan menarik,dengan kulit wajah putih mulus, senyum yang merekah benar-benar indah, begitu ramah dan... entahlah, usianya mungkin seumuran free atau zeline adik perempuan nya bahkan bisa jadi lebih muda lagi, bagaiamana dia menyebutkan nya? seorang gadis tepatnya, bukan seorang perempuan. Wajahnya memiliki pesona tersendiri, berbeda dari kebanyakan Perempuan yang dia temui, dia akui terlalu banyak perempuan yang cantik-cantik yang sudah dia tiduri tapi yang ini begitu unik dan menarik, yang dia yakini belum tersentuh tangan-tangan liar.
"Ya Allah astagfirullahhul'adzim"
si ibu-ibu bicara kaget, menatap bingung dengan semua makanannya yang berserakan kemana-mana.
"Ibu tidak apa-apa?" gadis itu bicara dengan lembut, meraih tisu di tasnya kemudian membantu membersihkan tumpahan makanan yang terkena pakaian ibu-ibu itu.
"mbak bisa di bantu?" dia bertanya lembut ke arah 2 pegawai perempuan, meminta mereka membantu membersihkan semua kekacuan, membisikkan sesuatu secara berlahan ke arah 2 pegawai tadi , mereka mengangguk-angguk kan kepala mereka kemudian dengan cekatan membersihkan semua kekacauan. gadis itu membawa ibu-ibu tadi ke arah meja dan kursi kosong yang ada disamping mereka, sambil tersenyum dengan sangat manis berkata.
"Semuanya akan di ganti yang baru Bu, tunggu saja"
"Semuanya sudah di urus, ibu tidak usah khawatir soal bon nya"
"Subhanallah Alhamdulillah"
ibu-ibu itu entah bicara apa sedikit pun Gao tidak paham bahasanya.
kemudian dalam hitungan detik gadis itu sudah berdiri di depan Gao, mata laki-laki itu terus menelisi sosok itu dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya.
sosok itu benar-benar menggoda.
bola mata indah itu beberapa kali berkedip, dengan bulu mata lentik hitam legam disapu eyeliner tipis di atas dan bawah matanya dan alis alami yang lebat serta hitam, bibir indah yang berisi apabila di sesap oleh dirinya jelas akan terasa nikmat, serta hidung yang mancung juga pipinya sedikit chubby,dan yang semakin menambah pesona gadis itu adalah barisan gigi putih Serta lesung pipi yang begitu manis disaat dia tersenyum.
Oh ayolah apakah dia harus kehilangan kendali sekarang?.
ini benar-benar membuat dia gila, berhasrat dan ber gelo.ra tanpa sebab.
ingin sekali dia menyambar tubuh gadis itu saat ini juga, menarik nya kedalam kamar hotel dan memaksa nya untuk ber cinta, membuat gadis itu terbang ke awang-awang, memberikan nya kenikmatan tiada Tara dan membiarkan gadis itu menjerit bahkan berteriak nik mat atas permainan nya.
"Mister? permisi tuan?"
tiba-tiba suara lembut Gadis itu membuyarkan semua imajinasi nya.
__ADS_1
Breng..sek.
umpatnya dalam hati.