Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Rasa yang mengganggu


__ADS_3

setelah berbincang-bincang dengan Dave dari handphone nya, Maya pikir dia akan langsung kembali saat ini juga ke rumah, namun ketika kakinya melangkah untuk naik ke atas mobilnya tiba-tiba saja dia menjadi sempoyongan, kepalanya terasa pusing dan tubuhnya menjadi melemah.


Ada apa?!.


Maya mencoba untuk mencari pegangan, dia benar-benar hampir jatuh saat ini.


Mawangsa yang mendapati Maya terlihat sempoyongan dan nyaris jatuh secepat kilat laki-laki tersebut langsung meraih tubuh Maya dan menahannya agar tidak jatuh ke bawah.


"Kau baik-baik saja?"


Ini pertama kalinya Mawangsa terlihat panik karena seorang perempuan.


Alih-alih mendapatkan jawaban, Maya terlihat benar-benar akan jatuh, seolah-olah kehilangan tenaga nya, Mawangsa buru-buru menyentuh kening Maya, demi apapun tubuh Maya benar-benar panas saat ini, dia yakin gadis itu demam tinggi.


Mawangsa pada akhirnya berusaha mengangkat gadis tersebut, dia membuang payung di tangan nya dengan cepat, langsung mengangkat tubuh Maya agar masuk kedalam mobil tanpa harus berpikir dua tiga kali.


Maya sebenarnya sedikit keberatan saat Mawangsa menggendongnya, bahkan dia tidak ingin laki-laki tersebut mengantar dia pulang.


"Aku bisa pulang sendiri"


Maya mencoba bicara sembari meringis menahan rasa sakit.


"Biarkan aku menyetir sendiri, Mawangsa"


Ucap Maya pelan setelah Mawangsa meletakkan Maya di dalam mobil di sisi samping kemudi.


Mawangsa jelas mengeram marah mendengar ucapan Maya.


"Apa kau sedang berusaha menjadi wonder woman? kau demam tinggi bahkan tidak akan mampu membawa mobil sendiri"


laki-laki tersebut mengeram, dia tampak kesal mendengar ucapan Maya, buru-buru Mawangsa menutup pintu mobil arah Maya, kemudian dia bergerak memutar Kearah depan mobil, dia masuk ke arah sisi kemudi, bayangkan bagaimana ekspresi panik Mawangsa saat ini.


melihat punggung dan seluruh bagian mawangsa yang basah seketika membuat Maya kehilangan kata-katanya untuk meminta laki-laki tersebut tidak mengantarnya atau peduli padanya.


Pada akhirnya Maya memilih diam, mencoba membuang pandangannya sembari menahan sakit dan pusing.


suasana di dalam mobil terasa begitu canggung, tidak ada obrolan yang terjadi di antara mereka, Mawangsa terlihat diam dan cemas, bola mata laki-laki tersebut terus fokus menetap karena depan di mana tangannya terus sibuk dengan setir mobil yang ada di hadapannya.


pada akhirnya Maya tanpa sadar memejamkan bola matanya di antara rasa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya dia merasa dia benar-benar terserang demam tinggi.


mawangsa terlihat melirik ke arah Maya, tangannya mencoba untuk menyentuh kembali kening Maya.


Panas tinggi.

__ADS_1


batin nya.


pada akhirnya saat Maya terlelap di dalam tidurnya mawangsa mencoba untuk mencari apotek 24 jam, begitu bola matanya menemukan apotek 24 jam secepat kilat laki-laki tersebut langsung menghentikan mobilnya dan mencoba berlarian ke arah dalam apotek dalam keadaan hujan yang masih deras.


dia pikir dia meninggalkan payung yang dia bawa tadi.


tidak dia pedulikan berasnya hujan laki-laki tersebut secepat kilat masuk ke dalam apotek dan mencari obat untuk Maya.


setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan laki-laki itu kembali menuju ke arah mobilnya lantas bergerak mengantar Maya menuju ke arah tempat tinggal gadis tersebut.


Tapi...


Sial dimana dia tinggal sekarang?!.


Mawangsa jelas buta soal Maya saat ini.


Mawangsa mencoba untuk membangunkan Maya beberapa kali, dia pikir dia butuh alamat Maya saat ini namun alih-alih terbangun gadis itu malah menggigil kedinginan dan semakin merapatkan tubuhnya.


pada akhirnya karena tidak memiliki pilihan memangsa secara perlahan kembali melajukan mobilnya dia pikir dia terpaksa membawa Maya ke apartemennya.


begitu mereka tiba ke apartemen milik mawangsa laki-laki tersebut secepat kilat menggendong Maya untuk turun dari mobil tersebut dan masuk ke dalam apartemen nya.


Begitu tiba di depan pintu apartemennya laki-laki itu langsung membuka pintu apartemen mendominasi berwarna putih tersebut lantas dengan cepat dia membawa Maya ke dalam kamar nya.


begitu dia telah meletakkan Maya ke atas kasurnya, mawangsa kembali mencoba untuk membangunkan Maya, dia pikir sebelum dia meninggalkan Maya gadis tersebut harus meminum obatnya agar panasnya segera turun dengan cepat.


Oh ****.


Mawangsa jelas gelagapan, pada akhirnya ya karena dia tidak memiliki cara untuk memberikan obat kepada garis tersebut, anggaplah laki-laki tersebut gila.


dia mencoba mengambil obat yang ada di hadapannya, memasukkannya ke dalam mulutnya kemudian secara perlahan dia mulai meraih air minum, setelah itu dia mencoba memasukkan sedikit air minum ke dalam mulutnya dan dalam detik berikutnya dia merapatkan bibirnya ke arah bibir Maya.


keheningan terjadi di antara mereka, gimana laki-laki tersebut mulai memindahkan obat dari mulutnya ke dalam mulut Sang mantan istrinya.


dalam 5 tahun pernikahan mereka, ini pertama kalinya bibir mereka bersentuhan dan membuat jantung memangsa seketika berdetak begitu kencang tidak beraturan.


di dalam rasa yang tidak dia mengerti Mawangsa tampak membeku untuk mengetahui cukup lama, dia melepaskan pernyataan bibir mereka secara perlahan.


kini bola mata laki-laki tersebut menatap ke arah Maya yang terlelap.


Ditengah keheningan yang terjadi tiba-tiba handphone memangsa berdering dengan kencang, rupanya Shinta yang menghubungi dirinya, dia pikir dia lupa memiliki janji dengan perempuan tersebut.


Oh ****.

__ADS_1


mawangsa meletakkan jemarinya ke keningnya, laki-laki tersebut secepat kilat menghubungi sang asistennya dan meminta asistennya itu untuk mengantar Maya ke salah satu hotel di pusat kota yang letaknya tidak jauh dari apartemennya.


Dan Mawangsa pada akhirnya mau tidak mau mengejar Shinta yang rupanya menunggu Dirinya Sejak tadi di Mall xxxxxxx.


sinyalnya di sepanjang perjalanan Mawangsa terus mengingat bibir lembut milik Maya, ciuman untuk memberikan obat tadi sangat mengganggu dirinya,dia pikir ada apa dengan dirinya saat ini.


Oh come on Mawangsa, kalian sudah bercerai, Shinta adalah masa depan mu saat ini.


Batin nya sembari memukul stir mobil nya.


laki-laki tersebut terus melajukan mobilnya menuju ke arah Mall, begitu tiba di depan mall bisa dilihat Shinta bersama ibu nya telah menunggunya sejak tadi, bisa dilihat kedua perempuan tersebut membawa belanjaan di kiri dan kanan tangan mereka.


pada akhirnya laki-laki tersebut langsung menepikan mobilnya, bola matanya mencari jasa penyewa payung dengan cepat, setelah mendapatkannya mawangsa dengan cepat menjemput Shinta terlebih dahulu, membiarkan perempuan tersebut naik ke atas mobil dan memastikannya tidak basah, kemudian bergantian dia menjemput ibunya.


"Oh ya Tuhan, lihatlah betapa mawangsa mencintaimu Shinta? bahkan dia menjemputmu dan tidak ingin tubuhmu sedikitpun basah jarang sekali laki-laki yang memperhatikan calon istrinya seperti itu di zaman sekarang"


Nyonya Dina tiba-tiba bicara memecah keheningan di dalam mobil mereka.


wanita tua itu memuji putranya di hadapan calon menantunya, dia benar-benar bermulut manis dan sangat pandai merayu.


mendengar ucapan calon ibu mertuanya seketika membuat Shinta mengulum senyumannya, hatinya jelas berbunga-bunga.


bayangkan bagaimana perasaannya saat ini, dia melirik karena memangsa sambil tersenyum dengan perasaan yang tidak menentu.


"Kamu tidak membawa desert nya?"


tiba-tiba ibu memangsa bertanya atas desert titipan Shinta.


Oh sial.


Mawangsa ingat tadi karena melihat Maya dan mencoba untuk melindunginya, dia melupakan untuk membeli pesanan Shinta.


"Maaf, aku sangat sibuk tadi jadi melupakan untuk membelikan desert nya, aku akan membelinya besok untukmu sayang"


Mawangsa bicara sembari menyentuh puncak kepala Shinta, dia mengelus lembut rambut sang calon istrinya tersebut.


mendengar ucapan mawangsa dan cara mawangsa yang begitu hangat dan penuh cinta kepada dirinya jelas saja perihal desert bukan permasalahan yang besar, dia mengembangkan senyuman selebar mungkin diiringi hatinya yang terus berbunga-bunga mendapatkan perlakuan penuh cinta dan laki-laki di sampingnya.


namun di titik berikutnya tiba-tiba handphonenya berbunyi, masih dalam keadaan wajah penuh senyuman Shinta mencoba membuka pesan yang dikirimkan oleh seseorang kepada dirinya.


Itu adalah beberapa foto yang dikirim oleh temannya dan sebuah pesan singkat.


seketika bola mata Shinta membulat dengan sempurna ketika dia melihat foto yang ada di dalam handphonenya tersebut, senyum yang merekah tadi seketika menghilang berganti dengan semburat penuh kemarahan.

__ADS_1


Kau...!.


Shinta langsung menoleh ke arah mawangsa yang tengah fokus menyetir tanpa melihat ke arah nya sama sekali.


__ADS_2