Sejauh Angin Yang Berhembus

Sejauh Angin Yang Berhembus
Kemarahan Mawangsa


__ADS_3

Catatan \= Mak sabar dengan alurnya yah, karena ini skrip di kasih Ntun alias NT Mak author nurut aja dengan jalannya, kalau ditanya bisa ubah ga alurnya? kenapa ga seperti laki-laki rata-rata di novel Mak author lainnya?. Jawaban nya ga bisa di ubah Mak, sudah di tetapkan dari pusat begini dan diriku hanya bisa Elis dada, 100 sekian eps luar biasa belum ada 1 persoalan pun yang terpecahkan bahkan ga ada sisi manis romantis nya. Pengen nangis diriku yang ngikutin skrip, berharap yang baca sabar tapi ternyata aku yang dapat nas_kah pengen nangis di pojokan disini pas baca gimana alurnya dan memperluas percakapan mereka 🤧🤧🤧🤧.


maafkan diri ku yang tidak bisa mengubah sedikit pun nas_kah nya yah Mak sebab sudah dari pusatnya seperti itu 🙏🏻🙏🏻🙏🏻.


******


Mawangsa jelas saja terkejut dah sangat keberatan mendengar apa yang diucapkan oleh ibunya.


"Bu itu jelas bukan keputusan yang baik di mana ibu meminta Shinta tidur bersamaku di kamarku," Mawangsa jelas aja langsung protes kepada wanita paruh baya lebih tersebut, dia langsung menolak mentang-mentang atas apa yang diucapkan oleh ibunya.


"bagaimana bisa ibu meminta Shinta yang belum menjadi siapa-siapa untuk tidur di dalam kamar ku? dia adalah seorang gadis dan aku adalah seorang laki-laki bagaimana bisa kami tinggal bersama di dalam satu kamar yang juga sama? kami bahkan belum terikat antara satu dengan yang lainnya, aku pikir itu jelas bukan ide yang baik." Protes Mawangsa dengan cepat.


Elsa tidak ingin mengeluarkan suaranya sama sekali dia menatap jijik karena ibunya sang ibunya berkata membiarkan perempuan di hadapannya tersebut untuk tidur di kamar kakaknya. Elsa pikir otak ibu nya semakin lama semakin terganggu saat ini, dulu Maya yang notabene nya istri sah kakak nya, ibunya berusaha untuk memisahkan mereka agar tidak tinggal di kamar yang sama, tapi kenapa Shinta yang jelas bukan siapa-siapa kakak nya malah diizinkan untuk tinggal di kamar yang sama.


"Ibu benar-benar gila," batin Elsa.


Dia melirik kearah Shinta dengan tatapan jijik dan tidak suka karena dia fikir bahkan Shinta pun tidak membantah ucapan ibunya, terlihat sangat jelas jika perempuan itu seperti perempuan murahan dia tidak bisa menjaga harga dirinya sendiri. terlalu berbeda dengan kak Maya nya dulu yang selalu menjaga dirinya dengan baik. Seandainya saja kakak Mawangsa nya masih mencintai kak Maya dan meninggalkan Shinta, dia pasti merasa sangat bahagia.


Mendengar ucapan Mawangsa, nyonya Dina berkata.


"aku pikir itu bukan masalah karena kalian akan menikah dalam waktu dekat," Wanita tersebut bicara dengan cepat menatap ke arah Mawangsa dan merasa tidak enak karena putranya tersebut terlihat sangat kesal dengan keputusannya.


"Sayang aku pikir itu tidak-," Shinta ingin berkata tidak apa-apa, dia malah menunggu kesempatan ini.


Tapi siapa sangka Mawangsa langsung memotong ucapan nya.


"Meskipun seperti itu tetap saja itu tidak baik, bagaimana mungkin ibu menganggap kami bisa tidur di kamar yang sama sedangkan kami belum menikah. Itu sama saja ibu mencoba menurunkan harga diri Shinta." Mawangsa agak meninggikan oktaf suaranya.

__ADS_1


Dan Ketika Mawangsa berkata soal harga diri, Shinta langsung terdiam, dia menelan salivanya dan merasa malu, hampir saja dia menurunkan harga dirinya sendiri saat ingin berkata bukan masalah mereka tidur di kamar yang sama. Perempuan tersebut pada akhirnya memilih diam dan menggigit bibir bawahnya.


"Ibu aku bisa tidur di kamar lain, itu tidak apa-apa," pada akhirnya Shinta bicara dengan cepat pada nyonya Dina, terlanjur malu atas penolakan Mawangsa.


"Aku bisa tidur di kamar tamu atau gudang juga bukan masalah." Ucap Shinta lagi pada akhirnya.


Ibu Mawangsa hanya bisa diam, tidak berani untuk kembali bicara karena Mawangsa terlihat begitu kesal dan marah.


Shinta sendiri pada akhirnya ikut diam dan tidak berani melanjutkan ucapannya juga, jika Mawangsa sudah keberatan dan marah, membantah nya jelas bukan pilihan yang baik.


"Kak aku punya beberapa tugas sekolah, kakak bisa membantuku untuk mengerjakannya malam ini?," Pada akhirnya Elsa mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, tidak ingin melihat kakaknya semakin marah dan membuat suasana semakin memanas.


Dia tahu Mawangsa telinga cukup kesal dengan apa yang diucapkan oleh ibunya seolah-olah ibunya mencoba untuk merendahkan Shinta.


Mawangsa mungkin bukan orang yang baik, tapi sejak di meja kini dia tidak pernah sembarangan berhubungan dengan perempuan apalagi mengizinkan perempuan hilir mudik di kediamannya hingga harus tidur di kamarnya. Baginya itu seperti menurunkan harga diri seorang perempuan dengan melakukan hal seperti itu, apalagi hubungannya dan Shinta jelas masih sebatas pertunangan yang bahkan pada masa itu digagalkan karena Maya.


Mereka memang akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat, tapi bukan berarti tidak akan ada halangan ke depannya siapa yang pernah tahu tentang takdir dan juga kematian, belum lagi bagaimana bisa orang tidur satu kamar padahal belum menikah.


Mawangsa langsung menoleh ke arah adik perempuan nya itu, laki-laki tersebut mencoba untuk menarik nafas nya beberapa waktu hingga pada akhirnya dia menjawab.


"Baiklah, Mari pergi ke kamar dan kita kerjakan tugas-tugas mau lebih dulu." Mawangsa bicara cepat.


"Tidurlah di kamar ku, aku akan tidur di kamar tamu," Mawangsa bicara pada Shinta, dia pada akhirnya langsung berdiri dari posisi nya, bergerak naik menuju ke kamar Elsa.


Elsa ikut bergerak beranjak dari sana secara perlahan.


"Maafkan ibu, ibu tidak bermaksud untuk merendahkan mu sayang, ibu-,". nyonya Dina jadi merasa tidak enak dengan Shinta.

__ADS_1


"Bukan masalah bu, aku tidak apa-apa." Jawab Shinta cepat.


"Semua orang sudah menyelesaikan makan nya,


Nyonya Dina ingin meminta Shinta untuk membantunya membereskan meja makan namun Shinta dengan cepat berkata.


"Aku akan naik ke kamar ibu, apakah tidak masalah aku naik lebih dulu?," dan Shinta bicara dengan cepat sembari menantang ibu Mawangsa.


Nyonya Dina terlihat diam, dia pada akhirnya menganggukkan kepalanya. membiarkan Shinta naik ke kamar Mawangsa.


"Bukan masalah." Jawab wanita tersebut pelan.


Entah kenapa dia merasa sedikit keberatan, padahal jika Maya tanpa disuruh biasanya langsung membereskan semuanya dan tidak mengizinkan dia untuk melakukan apapun dirumah.


******


The Malaka company,


keesokan paginya.


"Nona," Asisten Maya masuk ke ruangan kerja Maya, dia bergerak mendekati gadis yang ada di hadapannya tersebut dan menyerahkan sesuatu ke atas meja tepat dihadapan Maya.


"Ini apa?," Maya bertanya.


"Seseorang memberikan nya pada security dibawah, katanya ini penting untuk anda, nona." gadis tersebut menjawab dengan cepat.


Maya terlihat diam, menatap surat tersebut untuk beberapa waktu diiringi sang asisten nya yang bergerak menjauh dan keluar dari sana. Maya pada akhirnya mencoba untuk membuka amplop tersebut secara perlahan dan bisa dia lihat apa isi amplop itu saat ini.

__ADS_1


Undangan menonton pertandingan basket Elsa.


Gadis tersebut tidak mengeluarkan suaranya sama sekali, meletakkan amplop coklat tersebut kembali ke atas meja secara perlahan.


__ADS_2